
Darwin telah memikirkan matang-matang, ia tidak mau membuat Asmira terjebak di antara dua pilihan. Darwin begitu menyayangi istrinya itu, ia tahu bahwa ia pernah melakukan kesalahan, namun tidak bisa dipungkiri juga, hati Asmira telah ia luka dan tidak mudah untuk mengubah keadaan menjadi seperti semula. Selama ini, ia telah mencoba berbagai cara, agar Asmira kembali ke pelukannya. Namun, ia juga tidak bisa menjamin sepenuhnya bahwa usahanya telah maksimal untuk meluluhkan hati Asmira.
Kini ia telah pasrah, seminggu setelah pertemuannya dengan Jessica, ia telah menimang-nimang dan ia sudah mengambil satu kesimpulan. Jika memang, Asmira telah berpaling darinya, ia akan mempermudah wanita yang ia cintai itu untuk mengambil keputusan. Sore itu ia mengajak Asmira bertemu di taman, ia akan mengatakan semuanya.
Pulang dari kantor, Darwin segera meluncur pergi ke taman dekat apartemen. Asmira telah menunggunya di sana. Jantung Darwin berdegup kencang, ia tak percaya hubungan ia dan Asmira akan berakhir dengan cara seperti itu. Jika di katakan tak berjuang, itu salah besar, berbagai usaha telah ia lakukan agar Asmira kembali bersamanya, namun apa boleh buat, untuk meluluhkan hati Asmira tidaklah segampang itu. Darwin ingat betul, bagaimana aktifnya Asmira dulu, hingga mampu mengubah dinginnya sikap Darwin. Namun sebaliknya, kini ia terasa begitu susah menggapainya, Asmira bukan lagi wanita polos dan lugu seperti dulu.
Darwin mengusap wajah dengan kedua tangannya, hatinya berkata, "Tuhan, jika memang ini jalan terbaik, aku rela."
Darwin melangkah menuju sebuah bangku yang terletak di bawah pohon rindang, Asmira telah duduk di sana, ia menatap lurus ke depan.
“Maaf membuatmu lama menunggu,” ujar Darwin. Asmira tersenyum manis.
“Tidak apa-apa, Mas,” sahut Asmira.
Lalu keduanya cukup lama terdiam, yang terdengar hanya suara burung yang berkicau merdu. Darwin menarik nafasnya dalam-dalam, lalu ia hembuskan perlahan, ia sedang meyakinkan dirinya untuk mengatakan satu hal yang ia rasa cukup berat di hatinya.
“Mas, mau bilang apa. Kenapa tiba-tiba ajak aku kemari?” tanya Asmira.
“Kau benar-benar mencintainya?” tanya Darwin kemudian yang membuat Asmira cukup terkejut.
“Maksudmu, Mas?” tanya Asmira ragu dengan arah pembicaraan Darwin.
“Jika kau memang benar-benar mencintainya, dan sudah tidak ada lagi harapan untuk kita kembali bersama. Aku persilahkan kau datang ke Pengadilan Agama. Karena bagaimanapun, aku tidak akan menceraikanmu,” ujar Darwin tanpa menatap Asmira.
Mulut Asmira terbuka sempurna ketika semua itu terucap dari bibir Darwin. Tidak sampai di situ saja Darwin meneruskan lagi kata-katanya, yang cukup lama ia pendam selama ini. Hatinya cukup panas kala melihat istrinya terlihat bahagia bersama pria lain.
__ADS_1
“Kau masih menjadi wanita satu-satunya di hatiku, dan tak akan tergantikan, sampai kapan pun. Aku bersumpah tidak akan menikah lagi,” lanjut Darwin.
Asmira masih tetap diam seribu bahasa. Pikirannya melayang ke mana-mana, ia sendiri tidak mengerti dengan perasaannya. Namun mendengar semua ucapan Darwin, entah kenapa ulu hatinya terasa ngilu. Masihkah aku mencintai suamiku? Batin Asmira.
Darwin bangkit dari duduknya, ia rasa sudah cukup untuk meyakinkan Asmira untuk melepaskan ikatan yang telah mereka bina bersama. 2 bulan lagi, genap 8 tahun sudah mereka menikah.
“Maafkan aku yang sudah menodai janji kita berdua, aku pantas menerima ini semua, aku doakan kau bahagia bersamanya,” ujar Darwin untuk yang terakhir kalinya. Tanpa menoleh, ia melangkahkan kakinya pergi meninggalkan taman.
Asmira masih di sana, ia terkejut sekaligus tak percaya dengan semua yang ia dengar. Setelah cukup lama terpaku, ia bangkit dari duduknya, lalu ia melangkah pergi dari taman. Asmira melangkah masuk ke apartemennya, pikirannya masih saja belum menemukan titik temu, ia bingung dengan apa yang barusan ia dengar.
“Mira, kau kenapa?” tanya Bu Ida.
Asmira menggelengkan kepalanya, ia segera masuk ke kamar, si kembar masih tertidur pulas, ia belai lembut pipi mereka berdua. Asmira membayangkan bagaimana nasib mereka nantinya, si kembar tidak akan lagi mendapatkan kasih sayang yang sempurna dari ayahnya jika Asmira menikah lagi, tentu akan ada jarak di antara mereka nantinya.
Asmira memalingkan wajahnya, ia mencoba tersenyum ketika mengetahui siapa yang datang, ia menganggukkan kepalanya mengiyakan.
Yun melangkah masuk, ia menggendong salah satu dari si kembar, ia belai dengan lembut pipi dan ia kecup kening bayi tersebut. Seolah-olah Yun ingin mengatakan, Asmira tidak perlu ragu, si kembar akan ia anggap seperti anaknya sendiri. Si kembar tidak akan kehilangan kasih sayang orang tuanya.
“Aku lihat Darwin keluar dari sini, apa ia baru saja kemarin?” tanya Yun lagi.
Asmira menganggukkan kepalanya, pandangannya lurus ke depan. Hatinya masih gelisah, ia masih teringat dengan kata-kata Darwin, terlihat dari matanya, ia serius dengan setiap ucapannya. Benarkah suaminya telah rela melepaskannya untuk pria lain?
“Mira, Mira ...” panggil Yun.
“Ya, Mas. Ada apa?” tanya Asmira terkejut dari lamunannya.
__ADS_1
Yun menidurkan kembali si kembar, ia duduk di samping Asmira, ia usap kepala Asmira dengan lembut seraya menanyakan ada apa hal yang bersarang di pikirannya.
Asmira menceritakan semua pada Yun. Apa yang ia dengar dari Darwin, ia ceritakan satu persatu.
Yun menggenggam tangan Asmira, ia mencoba membuat Asmira tenang, ia tahu Asmira syok dengan setiap ucapan Darwin.
“Ikuti kata hatimu, Mira. Aku siap berada di sampingmu kapan saja kau butuh kan,” ujar Yun menatap Asmira tanpa berkedip.
Asmira merebahkan kepalanya di pundak Yun. Hatinya sudah terlalu lelah, ia tidak mengerti lagi dengan semuanya. Dulu, saat ia sedang mengandung, ia ingin segera melahirkan agar bisa terlepas dari Darwin. Tapi sekarang, saat Darwin mengatakan sendiri, ia telah melepaskannya untuk selamanya, Asmira merasa bukan itu yang ia mau.
“Aku akan membantumu, seperti janjiku dulu. Setelah kau melahirkan, kita akan mengurus perceraian kalian berdua,” ujar Yun.
Asmira juga masih ingat bagaimana ia dulu memohon pada Yun agar pria itu mau membantunya mengurus perceraian ia dan suaminya.
“Mira, kau ini kenapa, bukankah ini yang kau mau?” tanya Yun, ia mengelus pipi Asmira dengan jemarinya.
“Kau tidak sendiri, aku selalu bersamamu, setelah semuanya selesai, aku berjanji akan menghalalkan hubungan kita, Asmira,” lanjut Yun lagi.
Asmira menatap Yun, ia mencoba tersenyum. Hati dan pikirannya masih belum sekata, namun ia buang semua pikiran yang terus membuatnya merasa pusing tujuh keliling.
“Kalau aku sudah siap, aku akan meminta Mas untuk membantuku,” ucap Asmira tersenyum.
Yun mengangguk sambil bangkit dari duduknya, ia harus kembali ke kantor. Yun datang karena ia mengetahui Darwin ke sana, jika bukan karena itu, ia masih sibuk bekerja.
Jangan lupa like, ya...
__ADS_1