
Asmira menatap keluar jendela mobil, ia masih belum sepenuhnya sadar. Dalam perjalanan tadi ia hampir 3 jam tertidur.
Rintik-rintik hujan turun membasahi kaca jendela mobil, Asmira kembali menguap.
“Sayang,” panggil Darwin.
“Ya Mas, jam berapa sekarang? Kenapa kita ke puncak?”
Darwin mengelus pipi Asmira, ia usap lembut kepala istrinya lalu ia cium pelan keningnya. Asmira memejamkan matanya, ia menikmati sentuhan lembut suaminya itu.
“Happy Anniversary yang ke 7, sayang ...” ucap Darwin ia mencium lembut pipi Asmira.
Asmira kaget bukan kepalang, ia menatap sendu wajah Darwin. Perlahan-lahan air mata jatuh membasahi pipinya. Bagaimana bisa ia lupa dengan hari ulang tahun pernikahannya sendiri?
“Sayang, kenapa bersedih?” tanya Darwin, ia menyeka air mata yang berlinang di pipi Asmira dengan ibu jarinya.
“Mas, maafkan aku ....”
Asmira mengucapkannya dengan lirih namun Darwin mendengarnya dengan jelas. Ia tahu istrinya melupakan hari ulang tahun pernikahan mereka, tapi ia tidak mempermasalahkan hal itu. Toh, dokter sudah mengatakan jika Asmira tidak boleh banyak pikiran.
“Sudah, yang penting aku enggak lupa, kan?” tanya Darwin, ia menarik dagu Asmira lalu ia kecup bibirnya sejenak.
“Tetap saja aku salah, Mas. Harusnya aku tidak melupakan hari penting kita ...”
“Sayang, lihat aku,” pinta Darwin. Ia menangkup kedua pipi Asmira.
Asmira menatap kedua bola mata Darwin dengan manik coklatnya. Hatinya terasa sangat tenteram dan nyaman, pandangan itu begitu tulus, tidak ada sedikit pun kepalsuan di dalamnya.
“Tidak masalah, lupa itu hal yang lumrah,” ujar Darwin sembari tersenyum.
Kemudian Darwin mengajak Asmira turun, ia jadikan jasnya pengganti payung, rintik hujan semakin deras. Darwin memapah sang istri turun dari mobil dan masuk ke dalam Villa.
Mereka di sambut oleh seorang wanita paruh baya, dengan sedikit tergopoh-gopoh wanita penjaga Villa itu menghampiri mereka, lalu dengan sedikit berteriak ia memanggil suaminya.
“Mari masuk, Nak,” ajak wanita tua itu.
Setelah beberapa kali wanita tersebut memanggil suaminya akhirnya sang suami keluar dari belakang, dengan sedikit tergopoh-gopoh ia menghampiri mereka.
“Ini Nak Darwin, kan?” tanya Pak tua. Darwin mengangguk pelan, ia tersenyum ramah lalu menjabat tangan Pak tua itu.
“Perkenalkan, saya Bayu, ini istri saya Rahmi,” ujar Pak Bayu mengenalkan dirinya.
__ADS_1
Pak Bayu melirik Asmira yang tampak menggigil, bibirnya sudah membiru ia segera menyuruh istrinya membuatkan teh hangat dan memanaskan air agar Asmira merendamkan kakinya.
“Nak Darwin, sini peluk istrimu,” pinta Bu Rahmi ketika ia mendudukkan Asmira di sofa ruang tamu.
Darwin segera melakukan apa yang dipinta Bu Rahmi, ia rangkul tubuh mungil Asmira lalu ia benamkan di dada bidangnya. Bu Rahmi segera mengajak serta Pak Bayu ke dapur untuk membuatkan teh untuk mereka.
“Mas, bagaimana dengan Vano?” tanya Asmira, ia tarik tubuhnya dari pelukan suaminya.
Darwin mengelus-elus rambut Asmira dengan lembut. “Tenang sayang, aku sudah menyuruh Bu Ida menjemputnya dan pulang ke rumah papa.”
“Kamu sudah merencanakannya, ya?” tanya Asmira memonyongkan bibirnya. Darwin hanya tersenyum melihat istrinya seperti itu.
Tangan Darwin masih merangkul tubuh mungil Asmira, lalu ia menarik dagu istrinya lebih dekat, pandangan keduanya beradu. Darwin ingin mengecup pelan bibir sang istri, namun belum terwujud niatnya itu Bu Rahmi datang membawa nampan berisi teh hangat dan beberapa camilan siap saji.
“Silakan, Nak,” pinta Bu Rahmi, ia ikut bergabung bersama mereka di ruang tamu.
“Mas, aku mau Indomie,” bisik Asmira.
“Sayang, jangan itu, yang lain saja, mau?” tanya Darwin.
“Mas, anakmu maunya Indomie,” ujar Asmira mengelus perutnya.
Beberapa menit kemudian Bu Rahmi kembali ke ruang tamu dengan dua mangkuk Indomie di tangannya.
“Hati-hati, masih panas,” ujarnya.
Tanpa basa-basi Asmira segera melahap Indomie tersebut, Darwin mengerutkan keningnya melihat istrinya makan dengan tergesa-gesa.
Hanya butuh waktu 3 menit, Asmira menghabiskan satu mangkuk Indomie panas. Kemudian ia melirik mangkuk milik suaminya yang masih penuh, ia gigit sendoknya sembari tersenyum manis.
“Mau lagi, Nak?” tanya Bu Rahmi.
“Sudah, tidak usah lagi Bu,” sahut Darwin, ia menyodorkan mangkuknya untuk sang istri.
Sebenarnya ia juga menikmati Indomie itu, suasana dingin ditambah satu mangkuk Indomie rebus bukankah cukup nikmat? Namun ia rela mengalah demi sang anak yang masih dalam kandungan bundanya.
Tanpa menunggu waktu lama, Asmira kembali menghabiskan satu mangkuk Indomie rebus itu lagi.
“Sudah kenyang?” tanya Darwin. Asmira hanya mengangguk sambil tersenyum puas.
Pak Bayu turun dari lantai dua, ia baru saja selesai membersihkan kamar untuk keduanya. “Nak Darwin, kalau mau istirahat kamar sudah siap, ya?”
__ADS_1
Asmira bangkit dari duduknya, ia langsung melangkah menuju lantai dua tanpa menunggu Darwin.
Darwin memeluk erat pinggang Asmira dari belakang ketika mereka sudah berada di kamar, ia benamkan wajahnya di leher Asmira. Ia hembuskan nafasnya perlahan di tengkuk sang istri sehingga membuatnya menggelinjang kegelian.
“Sayang, aku hanya ingin berdua denganmu, jika malam ini kamu tidak menginginkannya aku tidak akan memaksa,” bisik Darwin.
“Mas, bagaimana kalau besok pagi saja?” pinta Asmira. Darwin mengangguk sambil tersenyum, ia kecup sekali lagi leher istrinya itu.
Jam menunjukkan pukul 19:00, mereka berdua segera mandi, kemudian turun untuk makan malam, Bu Rahmi sudah menyiapkan banyak masakan di bawah.
Asmira mencari ponselnya, ia juga mencari ponsel suaminya, namun tak satu pun ia temui. Darwin hanya tersenyum melihat kebingungan istrinya.
“Mas, ponsel kita berdua, mana?” tanya ia kemudian.
“Mas simpan di rumah,” sahut Darwin santai.
“Hah? Di rumah? Kenapa?” tanya Asmira kaget mendengar jawaban suaminya yang begitu santai.
“Biar tidak ada yang mengganggu kita berdua, sayang,” ujar Darwin tersenyum.
“Aku ingin menghubungi mama, ingin menanyakan kabar Vano, Mas,” rengek Asmira.
“Tidak perlu sayang, sudah, pakai bajumu kita turun sekarang,” sahut Darwin membuat Asmira semakin kesal.
Asmira mengikuti kemauan suaminya, meski tidak tenang ia berusaha menyembunyikannya agar tidak diketahui Darwin, bagaimanapun juga ini hari penting mereka.
Setelah makan malam, mereka duduk di teras berempat. Setelah hujan sore tadi, malam ini cuacanya sangat cerah, ribuan bintang menghiasi langit lengkap pula dengan rembulan yang bersinar terang.
“Mas, aku lapar lagi?”
“Sayang, kita baru saja makan,”
“Pas sekali, di dekat sini ada yang jual jagung bakar, kalau kalian mau biar saya belikan,” ujar pak Bayu.
“Tidak usah, Pak ~”
“Boleh, Pak,” ujar Asmira tersenyum lebar, ia menyela ucapan Darwin.
Bu Rahmi tersenyum melihat tingkah keduanya, Darwin ingin menyampaikan agar ia saja yang pergi agar pak Bayu tidak kecapaian jalan kaki. Namun begitu Asmira mengatakan boleh, tanpa menunggu lagi pak Bayu segera pergi.
Jangan lupa like ya ....
__ADS_1