Eternal Promise

Eternal Promise
Part 7


__ADS_3

Hari ini Darwin kembali melakukan pertemuan dengan Yunita di sebuah Cafe. Tadinya ia berangkat bersama Pratiwi, namun karena ada sedikit masalah di kantor menyebabkan Pratiwi harus kembali ke sana segera.


Darwin duduk berhadapan dengan Yunita, di hadapannya telah ada segelas Capuccino dingin yang telah di pesankan oleh gadis berambut hitam di depannya.


Darwin menyipitkan matanya melihat minuman segar di hadapannya, dari mana ia tahu jika aku menyukai minuman segar itu. Pikir Darwin.


“Silakan di minum, Win,” ujar Yunita.


Darwin memutar bola matanya cepat, ia menyorot Yunita tajam dengan manik mata coklatnya.


“Usahakan untuk lebih profesional, kita sedang di jam kerja,” ujar Darwin dingin. Aura khas direktur keluar dari tatapan dan ucapannya.


“Maaf, Pak,” jawab Yunita menundukkan kepalanya.


Darwin menyeruput pelan minuman di hadapannya sembari ia membuka laptopnya serta beberapa file yang telah dipersiapkan Pratiwi.


“Bisa kita mulai meetingnya?” tanya Darwin tanpa menoleh pada Yunita yang terus menatapnya lekat.


Proyek yang Yunita tawarkan sangat menggairahkan dengan keuntungan yang fantastis, Pratiwi telah menyiapkan berkas lengkap. Yunita berdecak kagum dengan hasil kerja asisten Darwin yang tak perlu diragukan lagi itu.


“Baiklah, Pak. Untuk pertemuan kita yang kedua kalinya ini sudah beres, jika nantinya ada kendala saya akan menghubungi Anda.” Yunita menjabat tangan Darwin.


Darwin menutup laptopnya dan membereskan semua berkas presentasinya barusan, ia berdiri dan hendak segera pergi karena urusannya telah selesai. Namun langkahnya terhenti saat Yunita kembali menegurnya.


“Kamu benar-benar lupa siapa aku?” tanya Yunita.


“Maaf?” Darwin mengerutkan keningnya sembari mencerna pertanyaan Yunita.


Yunita mendekati Darwin, ia menatap sang direktur sebuah perusahaan yang cukup besar itu.


“Aku Ayu Nita Sari, temanmu dulu di bangku SMA, anak kepala sekolah.”


Ingatan Darwin kembali flashback ke masa SMA dulu, sekarang ia baru teringat siapa gadis yang berdiri tepat di depan matanya kini.


Yunita adalah anak pemilik yayasan sekolahnya dulu di SMA N 1 kota A. Namun Darwin kembali menyipitkan matanya, ada rasa ragu di hatinya mengenai pengakuan Yunita sendiri.


Yunita mengetahui gelagat Darwin yang kebingungan. “Kenapa? Kamu merasa enggak mengenaliku dengan perubahan ku yang drastis?” tanya Yunita melirik tubuhnya dari ujung kaki serta mengangkat kedua tangannya.

__ADS_1


Darwin mengangguk pelan dengan rasa tidak enak. Yunita dulu berbadan gemuk dengan pipi yang tembam, jika ia tersenyum matanya hampir menghilang di balik pipinya yang besar itu.


Darwin merupakan salah satu pria yang mau berteman dengannya kala itu, yang lainnya hanya takut karena orang tua Yunita merupakan kepala sekolah.


“Aku benar-benar enggak mengenalimu, Ayu,” ujar Darwin tersenyum.


“Aku juga kaget awalnya mengetahui kamu menjadi direktur di sebuah perusahaan yang cukup berkembang pesat.”


Yunita mengungkapkan keterkejutannya. Dari dulu, Darwin tidak pernah mau mengakui jika ia berada dari keluarga berada. Hal itu yang membuat Yunita kaget. Darwin hanya tersenyum simpul mendengar ucapan Yunita.


“Kamu pasti pekerja keras, aku salut,” ujar Yunita menepuk bahu Darwin.


Tiba-tiba ponsel Darwin berdering, membuat obrolan mereka terputus, Darwin segera mengangkat panggilan dari Pratiwi.


Yunita masih menunggu di tempat yang sama ia setia menanti sampai Darwin selesai bicara. Setelah panggilan berakhir Darwin mengatakan ia harus segera kembali ke kantor ada urusan yang harus ia bereskan segera.


“Baiklah Ayu, kita bertemu lain kali jika ada kerja sama lainnya,” ujar Darwin.


Yunita mengangguk pelan. Berarti jika tidak ada kerja sama, aku tidak boleh bertemu denganmu. Pikir Yunita. Ia lambaikan tangannya ketika mobil Darwin keluar dari area Cafe tersebut.


Darwin tiba di rumah berselisih waktu 10 menit dengan kepulangan Jessica dari rumahnya. Evano dan Asmira menyambut kepulangan suami tercinta.


“Papi ...” panggil Evano berlari ke pelukan Darwin. Sebuah ciuman mendarat di pipi sang putra yang sangat tampan itu.


Asmira mengambil tas dari tangan Darwin dan mengajak mereka masuk, namun saat Evano asik bercerita tentang Elia, Darwin menyempatkan mencium kening Asmira tanpa sepengetahuan Evano. Asmira senyum-senyum dengan sikap sang suaminya yang takut kena amukan Vano.


“Jadi Elia tadi kemari?” tanya Darwin.


“Iya Pi, baru saja dia pulang,” sahut Evano.


“Wah, sayang sekali Papi enggak bertemu Elia,” ujar Darwin memonyongkan bibirnya mengikuti gaya bicara Vano.


“Papi sih, harusnya tadi aku suruh Mami hubungi Papi biar pulang lebih awal, ya?” ujar Evano serius.


“Ya sudah, nanti lagi mengobrolnya, sekarang Mas mandi, setelah itu kita makan malam,” ujar Asmira menyela obrolan bapak dan anak yang sedang serius.


Malamnya, Darwin sedang menunggu Asmira meninabobokan Evano. Tiba-tiba mata Darwin terhenti di sebuah buku yang terletak di atas nakas. Darwin bangun ia ingin melihat buku tersebut, namun Asmira yang baru masuk segera meraih buku tersebut dan menyembunyikan di balik punggungnya.

__ADS_1


“Buku apa itu sayang?” tanya Darwin.


Asmira menggelengkan kepalanya. “Bukan apa-apa kok, Mas.”


Darwin menyipitkan matanya seraya berkata, “Jika memang bukan apa-apa kenapa harus takut?” tanya Darwin.


“Enggak, siapa yang takut,” sangkal Asmira cepat.


“Tuh, buktinya kamu sembunyikan di balik punggungmu,” ujar Darwin.


Asmira terdiam. Rasa penasaran Darwin semakin menjadi ia mencoba merebut buku tersebut yang di sembunyikan istrinya di balik punggungnya. Asmira terus mengelak namun Darwin punya cara jitu agar ia berhasil merebut buku itu, ia menggelitik pinggang Asmira membuat ia tertawa cekikikan hingga lemas.


“Mas, aku capek,” ujar Asmira di sela tawanya karena menahan rasa geli.


Darwin menarik buku dari tangan Asmira yang sudah tak berdaya, mata Darwin membulat sempurna lalu ia tertawa terbahak-bahak karena mengetahui isi buku tersebut.


“Mengapa pria berbohong,” ujar Darwin membaca judul buku tersebut.


Asmira menutup wajahnya dengan selimut ia benar-benar malu karena ketahuan membaca buku tersebut. Darwin menarik selimut yang menutupi wajah istrinya itu.


Darwin mendekatkan wajahnya lalu ia kecup pelan pipi sang istri yang selalu membuat moodnya membaik walau seharian ia stres dengan kerjaan yang menumpuk.


“Kamu merasa belum kenal sepenuhnya dengan suamimu sendiri?” bisik Darwin di telinga Asmira.


“Bukan begitu ....”


“Lalu kenapa?” tanya Darwin menyela ucapan Asmira.


“Aku sebenarnya mau cari buku buat aku sendiri, tapi mataku menangkap buku yang ini.” Asmira menunjukkan buku tersebut dengan ujung matanya.


“Memangnya kamu mau mencari buku apa?” tanya Darwin.


“Aku mau cari buku panduan biar jadi istri yang lebih baik lagi di atas ranjang.” Tanpa sadar Asmira telah menyebutkan semuanya secara detail. Sontak membuat Darwin kembali tertawa pecah dan mengacak-acak rambutnya gemas.


Darwin merengkuh tubuh Asmira ia peluk erat ia benamkan wajah sang istri di dadanya. “Aku selalu puas dengan pelayananmu sayang,” bisik Darwin ditelinga Asmira.


Jangan lupa like.

__ADS_1


__ADS_2