Eternal Promise

Eternal Promise
Part 30


__ADS_3

“Lepaskan! Siapa kalian?”


“Kau ikut saja.” Mereka membawa wanita itu bertemu dengan Pratiwi di sebuah hotel.


“Siapa yang menyuruhmu menghapus video Cctv Cafe!” Bentak Pratiwi. Ia siap dengan alat rekaman di tangannya.


“Bukan aku, Anda salah orang.”


“Seret dia ke kantor polisi jika masih mengelak bukan dia pelakunya!” Ancam Pratiwi geram.


“Tu ~ tunggu ... jangan bawa saya ke kantor polisi, tolong.” Wanita itu memelas, terlihat penutup matanya basah karena air mata wanita malang itu.


“Katakan!”


“Siang harinya saat aku bertugas menjaga monitor, aku mendapat telepon dari seorang pria, ia mengirimkan amplop berisikan uang 10 juta untukku, ia menyuruhku menghapus video tepat di menit tersebut.”


Pratiwi tidak memotong pembicaraan wanita itu, ia menyimaknya sembari alat rekaman di genggamannya terus menyala.


“Ibuku sakit keras di kampung. Aku gelap mata, tanpa pikir panjang aku lakukan saja apa yang pria itu pinta. Aku tidak tahu akan begini jadinya,” ungkap wanita itu, tangisannya mulai terdengar sendu.


Pratiwi menghela nafasnya, antara percaya atau tidak, ia bangkit dari duduknya. Ia berjalan memutari wanita itu yang berada di tengah ruangan.


“Lalu bagaimana bisa kau berada di rumah, pak Haris?”


“Esok harinya, aku mendapat telepon dari pria itu lagi, ia menyuruhku segera keluar rumah. Tepat di persimpangan jalan akan ada mobil hitam yang menjemputku orang tersebut bernama Haris.”


Pratiwi berpikir keras, apakah mungkin ada orang di balik Haris. Ia menggaruk keningnya, masalah itu semakin rumit dengan tujuan mereka yang masih abu-abu.


"Apa pria yang menghubungimu menyebutkan namanya?"


Wanita itu menggelengkan kepalanya berkali-kali, terlihat ia gemetar, keringatnya bercucur deras. “Tolong lepaskan saya, saya hanya ingin hidup seperti orang merantau pada umumnya. Saya cuma mencari nafkah di ibu kota.”


Pratiwi terenyuh mendengar ratapan wanita itu. Untuk sementara ia menyuruh mereka mengamankan wanita itu di rumahnya. Sebelum wanita itu di antar oleh anak buahnya ia sempatkan mengambil ponselnya.


“Beli dia Hp terbaru!” titah Pratiwi.


Pratiwi segera kembali ke kantor. Ia masih belum bertemu dengan Darwin, ia tidak ingin membawa berita yang masih simpang-siur itu untuk bosnya. Ia menyuruh seseorang meretas ponsel wanita itu. Barang kali ia akan mengetahui siapa pemilik nomor yang menghubungi wanita tersebut.


2 jam kemudian Pratiwi menerima panggilan dari orang yang ia suruh retas ponsel wanita yang bernama Dini tersebut.


“Katakan ada apa!”

__ADS_1


“Ponselnya sudah saya retas, dan nomor yang menghubungi mbak dini adalah Tuan Kelvin, Buk.”


“Apa kau yakin?” tanya Pratiwi ragu, ia masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


“Yakin, Bu. Beliau menghubungi dengan dua nomor yang berbeda, nomor kantor dan nomor pribadi.”


“Apa ada hal lain yang mencurigakan?” tanya Pratiwi lagi. Namun tidak ada kata pria yang keahliannya dalam mengotak-atik komputer tersebut.


Pratiwi melangkah keluar menuju ruangan bosnya. Kemudian ia kembali ke ruangannya, ia bolak-balik di depan ruangannya. Ia tidak bisa bayangkan bagaimana kecewanya Darwin mengetahui sahabatnya sendiri di balik semua kekacauan yang sedang terjadi.


“Tiwi, apa yang kau lakukan?” tanya Darwin.


Pratiwi terkejut, orang yang ingin ia temui ada di depannya. “Saya ingin ke ruangan Anda, Pak.”


“Oke, masuklah!”


“Baik, Pak.” Angguk Pratiwi.


“Katakan ada apa?”


“Begini, Pak. Saya sudah melakukan semua tugas-tugasnya.”


“Bukan itu, Pak. Ini mengenai video yang saya kirim semalam.”


“Ya, itu yang ingin saya tanyakan, siapa wanita itu?”


Pratiwi mulai bercerita siapa Nandini itu, hingga ia sudah membawanya ke rumah untuk sementara waktu. Kemudian ia memberikan rekaman hasil pembicaraan dengan Dini kepada Darwin.


“Ini, Pak.” Pratiwi menyodorkan alat rekaman tersebut.


Darwin menggaruk tengkuknya, selesai ia mendengar rekaman tersebut. “Saya rasa wanita ini tidak berbohong.”


Kemudian Pratiwi kembali melanjutkan ceritanya hingga selesai. Hingga titik pembicaraan yang ditakuti oleh Pratiwi akhirnya di pertanyakan oleh Darwin.


“Lalu apa kata mereka, siapa pemilik nomor tersebut?”


“Tuan Kelvin.”


“Kelvin? Kau tidak salah Tiwi?” tanya Darwin berulang-ulang kali. “Ini tidak mungkin Tiwi, tidak!”


Setelah mendapatkan jawaban berupa anggukan dari Pratiwi. Darwin meraih kunci mobilnya ia melangkah keluar dengan tergesa-gesa. Nafasnya memburu, wajahnya memerah. Semua yang berpapasan dengannya tidak berani menegurnya.

__ADS_1


Ia meluncur dengan kecepatan tinggi menuju kantor Kelvin yang lumayan jauh darinya. Pikirannya sangat kacau, bagaimana bisa sahabatnya sendiri tega melakukan itu semua. Bukankah selama ini ia sudah berbuat banyak untuk pria itu? Lalu beginikah bentuk balas budi yang ia tunjukkan? Sejuta tanda tanya bersarang di pikiran Darwin.


Brakkk!!!


Suara gebrakan pintu cukup keras, Kelvin terperanjat melihat siapa yang datang. Ia melihat api kemarahan menggebu-gebu di wajah Darwin.


“Ada apa, kau tenanglah dulu. Katakan?” tanya Kelvin.


“Sudahlah, Vin. Kau tidak usah bertele-tele lagi, katakan apa maumu?”


“Maksudmu apa, Win?” tanya Kelvin tidak mengerti dengan kemarahan Darwin.


“Kau tidak usah menyangkalnya lagi. Aku punya bukti kuat yang menyudutkan mu!”


“Aku tidak menyangkalnya. Hanya saja aku tidak mengerti apa yang kau katakan, bukti apa?”


Darwin menyerahkan rekaman suara yang Pratiwi berikan padanya untuk Kelvin dengan kasar. “Kau dengar!”


Kelvin berulang kali menggelengkan kepalanya saat mendengar suara wanita dalam rekaman tersebut. “Ini tidak mungkin,” ucapnya.


“Katakan, apa lagi alasanmu?” tanya Darwin.


“Bukannya ini wanita yang bekerja di Cafe Kejora? Aku di minta oleh Haris untuk menghubungi wanita ini karena ia ada masalah ketika bertemu dengan kliennya di Cafe tersebut,” ujar Kelvin memberi penjelasan.


“Jangan berbohong kau, Vin!” teriak Darwin geram dengan semua permainan yang sedang mereka pertontonkan.


“Sumpah demi apapun, Win. Aku tidak berbohong, yang kedua kalinya aku sedang berada di luar kantor tiba-tiba Haris memintaku untuk menghubungi lagi wanita itu karena ponselnya mati, apa aku salah membantu sepupuku sendiri?”


“Salah! Tentu salah! Karena klien yang ia maksud adalah aku!”


“Tapi aku tidak tahu-menahu bahwa itu kau!” teriak Kelvin akhirnya setelah ia merasa tidak melakukan apa pun.


Darwin menggaruk kepalanya yang terasa ingin pecah. Ia hempaskan tubuhnya di sofa ruang kerja Kelvin.


“Ayo kita bertemu Haris, aku ingin dengar apa alasan yang ia punya kenapa menjebak ku seperti ini?” ajak Kelvin.


Darwin hanya terdiam saja ketika mereka satu mobil menuju kantor Haris. Ia tidak tahu siapa yang harus ia percaya kini, semuanya bisa saja menjadi pelakunya.


“Aku heran apa motif mereka di balik semua ini?” ucap Darwin kemudian. Kelvin tidak tahu harus berkata apa, ia hanya terdiam saja.


Jangan lupa like ya...

__ADS_1


__ADS_2