Eternal Promise

Eternal Promise
Part 37


__ADS_3

Setelah berkemas dan tampil gagah. Darwin meneguk segelas air putih yang terletak di nakas. Tiba-tiba pandangannya terhenti di kalender. Tanggal 20 di kolom merah oleh Asmira menggunakan spidol. Tertulis di sana bahwa pada tanggal tersebut waktunya Asmira memeriksa kandungan.


“Sayang, aku tunda saja kepergian ku, ya?”


“Loh, kenapa?” tanya Asmira, ia merapikan kerah baju suaminya.


“Hari ini tanggal kau periksa kandungan ~”


Belum selesai ia bicara, Asmira menyela perkataannya itu. “Sudah, Mas berangkat saja. Aku bisa berangkat dengan Bu Ida. Ini urusan penting, kan?” tanya Asmira.


Darwin terdiam, ia merasa tidak sampai hati mengiyakan pertanyaan istrinya itu. Asmira merangkul lengan suaminya lalu mengajaknya turun. Asmira menyangka Darwin tidak sampai hati membiarkan ia harus ke dokter sendirian. Ia tidak tahu saja Darwin sedang bersandiwara di belakangnya.


“Kau baik-baik di rumah, ya?” Darwin mencium kening Asmira. Ia belai perut Asmira yang mulai membuncit. Lalu ia segera berangkat di antar oleh Pak Yun menuju bandara.


Pratiwi berangkat pagi sekali, ia mempunyai tanggung jawab besar yang di berikan oleh Darwin untuknya. Namun baru beberapa menit ia tiba di kantor. Suaminya menghubungi ia. Pratiwi mengerutkan keningnya, tidak biasanya suaminya mengganggu ia di jam kerja seperti itu.


“Ada apa, Mas?”


“Kau cepat ke rumah sakit. Aku mendapat telepon dari pihak sekolah, Qisya pingsan dan telah di bawa ke rumah sakit terdekat. Aku dalam perjalanan.”


Tanpa pikir panjang, Pratiwi segera bergegas ke rumah sakit. Ia memutuskan telepon sebelah pihak. Sebelum pergi, ia sempatkan menitip pesan kepada bawahannya ia pergi sebentar karena ada urusan mendadak.


Setelah mengantar majikannya ke bandara. Pak Yun segera kembali, ia juga harus mengantar Asmira ke dokter. Namun langkah mereka semua terhenti saat Asmira mendapatkan panggilan dari pihak sekolah.


“Baik, Pak. Saya segera ke rumah sakit.” Seketika wajah Asmira berubah, ia tak bisa memendam kegelisahannya. Harapannya semoga tidak terjadi sesuatu dengan putra semata wayangnya.


Mengetahui situasi sangat genting, Pak Yun mengendarai mobil dengan kecepatan penuh. Mereka segera menuju rumah sakit yang telah di sebutkan alamat oleh pihak sekolah tadi.


“Apa yang terjadi, Pak?” tanya Asmira kepada kepala sekolah begitu ia tiba di rumah sakit.


“Bu, tenang dulu, ya?” pinta kepala sekolah.


Asmira menarik nafasnya dalam-dalam, ia mencoba setenang mungkin. Bulir air mata membanjiri pipinya ketika ia mengetahui bahwa Evano merupakan salah satu di antara murid lainnya yang keracunan makanan di kantin sekolah.

__ADS_1


“Bagaimana ini bisa terjadi, Pak?” tanya Asmira, tangisannya kembali pecah. Bu Ida merangkulnya dan mengajaknya duduk, ia memberikan air mineral untuk majikannya itu.


“Maafkan pihak sekolah yang kelalaian dalam ~”


“Pihak sekolah harus bertanggung jawab jika terjadi apa-apa dengan putra saya!” teriak Asmira menyela perkataan kepala sekolah.


“Tenang dulu, Bu. Pemilik kantin telah di amankan polisi, sisa makanan yang di duga mengandung racun juga telah di bawa sebagai barang bukti.”


“Bu, aku enggak mau Vano kenapa-kenapa,” lirih Asmira.


“Ssttttt!” Bu Ida meletakkan jari telunjuk di bibirnya.


“Evano pasti baik-baik saja Nyonya, Anda tidak perlu berpikir aneh-aneh,” ujar Pak Yun ikut memberi komentar.


Evano dan beberapa temannya yang lain sedang di periksa dokter, Asmira tidak di perbolehkan bertemu terlebih dahulu. Asmira mondar-mandir di depan ruang pemeriksaan, ia tidak bisa tenang sebelum mengetahui kondisi Evano.


Tidak lama kemudian Jessica tiba di rumah sakit. Asmira memeluk erat kakaknya itu, tangisnya terdengar sangat pilu. Pembawaannya yang sedang hamil, menyebabkan ia sangat sensitif, emosinya menjadi tidak terkontrol.


“Kau tenanglah. Vano pasti baik-baik saja,” ujar Jessica, ia usap lembut kepala adiknya itu.


“Mas, bagaimana kondisi Qisya?”


“Dokter sedang memeriksa kondisinya,” sahut suami Pratiwi.


“Bagaimana kejadiannya, kenapa bisa seperti ini, sih?” gumam Pratiwi dalam hati. Ia pendam segala kepanikannya.


Tiba-tiba ia melihat Asmira, istri bosnya berada di tempat yang sama dengannya. Asmira menangis tanpa henti, karena penasaran ia melihat lebih dekat.


“Bu Asmira,” sapa Pratiwi ragu-ragu.


Asmira mendongakkan kepalanya, ia seka air mata di pipinya. Ia mencoba tersenyum pada Pratiwi.


“Pak Darwin mana, Bu? Keberangkatan ke pulau B di tunda, ya?” tanya Pratiwi spontan. Ia memutar pandangannya ke seluruh ruangan. Tidak ada Darwin di sana, jika memang keberangkatan di tunda karena insiden di sekolah, pasti ada bosnya juga di rumah sakit. Tapi tidak ada Darwin di sana.

__ADS_1


“Mas Darwin sudah berangkat, Mbak. Tunggu dulu, Pulau B?” tanya Asmira, ia bangkit dari duduknya.


Pratiwi merasa gelisah, setelah ia pertanyakan itu pada istri bosnya ia merasa takut. Pikirannya tidak enak, ia menutup mulut dengan tangannya.


“Mas Darwin ke pulau B?” tanya Asmira. Ia menggoyangkan lengan Pratiwi meminta jawabannya. Baru saja beberapa jam lalu kepergian suaminya, setahu ia Darwin keluar kota karena ada kunjungan kerja, bukan ke pulau B.


“Ada apa ini?” tanya Jessica yang baru kembali dari toilet.


“Tidak ada apa-apa, Mbak,” sahut Pratiwi mencoba mengalihkan pembicaraan.


“Katakan, Mbak. Jangan bohongi saya, jika Anda di posisi saya bagaimana perasaan Anda. Saya sedang mengandung, anak saya musibah, ditambah suami yang membohongi saya, bagaimana Mbak!”


Jessica yang tidak mengerti perkataan Asmira, ia menarik tangan Pratiwi menjauh, dan menyuruh Bu Ida menenangkan Asmira. Ia bertanya secara lebih dalam kepada Pratiwi, apa yang di maksud adik iparnya barusan.


“Saya tidak tahu-menahu, Bu. Saya hanya menjalankan tugas, Pak Darwin menyuruh saya mengatur jadwal untuk berlibur, saya pikir beliau berlibur dengan Ibu Asmira. Hanya itu saja.”


Baru saja Jessica membuka mulutnya untuk menanggapi perkataan Pratiwi. Dokter keluar dari ruang gawat darurat. Ia segera menghampiri dokter untuk mengetahui kondisi Evano.


“Dok, bagaimana keadaan anak saya?” tanya Asmira.


“Alhamdulillah, Evano dan lainnya baik-baik saja. Kalian sudah boleh menemuinya. Hasil lab juga sudah keluar, mari salah satu keluarga pasien ikut ke ruangan saya.”


Asmira segera menemui Evano, air matanya kembali tumpah kala ia melihat cairan infus yang bergantung di lengan Evano. Ia usap lembut kepala anaknya itu, ia cium keningnya bertubi-tubi.


“Maafkan Mami, Nak,” lirihnya pelan.


“Bagaimana hasilnya, Dok?” tanya Jessica.


“Evano makan makanan siap saji yang sudah kadaluwarsa, di tambah dengan minuman yang ia minum memacu kerja lambung sehingga mempercepat proses menjalar racun itu ke seluruh tubuhnya. Untung saja, ia memuntahkan semua makanan tersebut sebelum memperparah kondisinya.”


“Syukurlah saya lega mendengar tidak ada yang parah dengan kondisi Evano, Dok. Tapi tetap saja semua ini sudah di proses oleh polisi.”


“Tentu saja, semoga ke depannya tidak terulang lagi kejadian seperti ini.”

__ADS_1


Jangan lupa like ya..


__ADS_2