
“Nyonya, ada apa lagi?” tanya Bu Ida. Ia duduk di sebelah Asmira.
Asmira mengusap air matanya. Ia menggelengkan kepalanya. “Aku tidak apa-apa, Bu. Mana Vano?”
“Sudah tidur, Nya.”
“Bu, stop panggil saya Nyonya. Saya bukan lagi majikan Ibu. Sekarang malah saya yang menumpang tinggal di rumah Ibu.”
“Sudah kebiasaan, Nak,” sahut Bu Ida sembari tersenyum.
Kemarin Bu Ida mengajak Asmira ke rumahnya karena Asmira kebingungan hendak ke mana. Bu Ida tak sampai hati melihat mantan majikannya itu linglung tak tahu ingin ke mana. Oleh sebab itu ia putuskan mengajak Asmira ke kampung halamannya.
Saat Bu Ida sedang menghibur Asmira dengan guyonannya. Pak Yun pulang, ia menjinjing dua plastik di tangannya berisikan bahan makan. “Maaf lama, Bu,” ucapnya saat menyerahkan semua barang bawaannya kepada Bu Ida.
Pak Yun duduk di sebelah Asmira. Keduanya sama-sama terdiam, Asmira merasa malu. Sekarang ia menjadi beban bagi keduanya, sebenarnya ia keberatan dengan keputusan mereka. Tapi ia tidak tahu harus ke mana. Ia tak mungkin ke rumah Rose. Darwin dengan mudah akan menemukannya.
“Mira,” panggil Pak Yun.
“Ya, Pak,” sahut Asmira, ia tersadar dari lamunannya.
“Panggil Yun saja. Saya tidak setua itu,” pinta Pak Yun pada Asmira, istri Darwin itu hanya mengangguk sambil tersenyum.
“Untuk sementara waktu, mungkin ... aku akan jarang berkunjung. Tapi aku tetap akan menjaga kalian bertiga,” ucap Pak Yun kemudian. Wajahnya sangat serius. Entah kenapa, Asmira merasa aneh dengan sikap Pak Yun hari ini.
“Tidak usah repot-repot, Mas Yun. Aku baik-baik saja bersama Bu Ida.”
“Tidak perlu sungkan. Kalau ada apa-apa hubungi saja. Aku harus kembali bekerja, aku tidak bisa menemani kalian di sini.”
Asmira terdiam, ia tidak tahu harus berkata apa. Ia beruntung memiliki orang-orang yang masih menyayanginya. Sejenak ia melupakan sakit hatinya karena sikap suaminya yang tak punya hati.
__ADS_1
Sedang asyik mereka mengobrol, Evano bangun dari tidurnya. Dengan sempoyongan ia mencari keberadaan Asmira. Begitu melihat Maminya, ia peluk erat. Asmira kaget.
“Sayang, putra Mami sudah bangun, ya?” tanya Asmira. Evano hanya mengangguk dengan mata masih terpejam.
Kemudian Bu Ida keluar, ia baru saja selesai masak. Ia mengajak mereka makan. Lalu mereka berempat makan bersama siang itu. Asmira menyuapi Evano. Sejak kepergian mereka dari rumah kemarin, Evano sangat manja, seolah-olah ia mengerti kegundahan hati Asmira. Namun ia tak tahu bagaimana cara mengungkapkan rasa prihatinnya.
“Oya, untuk beberapa hari ini. Evano di rumah saja dulu. Aku sedang mendaftar dia di sekolah yang baru,” ucap Pak Yun, ia masih asyik dengan santapan siangnya.
Asmira melihat tajam ke arahnya. Namun sayang, Pak Yun sama sekali tidak mengangkat kepalanya. Bu Ida menyentuh pundak Asmira, lalu ia belai pelan.
“Sudah, kau tenang saja, Nak. Biar semuanya Yun yang atur,” bisik Bu Ida. Asmira hanya mengangguk sambil menahan semua kata-kata yang ingin ia ungkapkan untuk menolak semua kebaikan yang sudah Pak Yun berikan.
•
Sementara di rumah Jessica. Istri Valen itu duduk seorang diri di tepi kolam renang, dengan kaki menjuntai ke dalam kolam. Pandangannya lurus ke depan. Valen mendekat, lalu ia duduk di samping istrinya.
“Mas,” panggilnya, ia rebahkan kepalanya di bahu kekar suaminya.
“Aku hanya tidak ingin mama papa tahu semuanya, Mas. Sekarang ia mereka percaya dengan alasan yang kita berikan, untuk besok, lusa?”
“Kau tenanglah, besok Darwin akan pulang. Kita lihat apa yang akan ia lakukan. Ia sudah melakukannya, berarti ia juga sudah siap bertanggung jawab atas segala sesuatu ke depannya.”
Jessica benar-benar geram. Jika bukan karena Valen melarangnya untuk pergi ke pulau B. Mungkin saja ia sudah tiba di sana. Rasanya ia ingin mengubur Darwin hidup-hidup. Jessica lagi-lagi mengepalkan tangannya setiap kali ia mengingat kelakuan Darwin yang memalukan.
“Kau tahu kenapa aku melarang kau terbang ke pulau B. Aku ingin Darwin benar-benar menikmati liburannya, agar ia juga benar-benar menyesal telah melakukan itu!”
Jessica membenamkan wajahnya di pelukan Valen, ia tak sanggup membayangkan bagaimana jika ia berada di posisi Asmira. Mungkin ia sudah gila. Untungnya ia dulu tidak hamil saat bersama Hardi. Rasa sakitnya tidak separah dengan yang Asmira derita.
•
__ADS_1
Mentari bersinar cerah hari itu, namun itu tidak membuat Yunita beranjak dari tepi pantai. Ia asyik berjemur, Darwin menemaninya, ia duduk di sebelah wanita cantik itu. Pandangannya tak berkedip dari Yunita.
Yunita benar-benar memegang omongannya, ia sama sekali tidak mengganggu Darwin, apalagi merayunya. Malam pun ia tidur di ranjang terpisah.
“Kau selalu saja melihatku seperti itu,” ucap Yunita. Ia bangun dari tidurnya. Darwin salah tingkah karena ia ketahuan telah menatap Yunita terus menerus.
“Kau cantik,” ucapnya spontan. Kata-kata itu lolos begitu saja dari mulutnya.
“Lebih cantik mana dari istrimu?” tanya Yunita, ia menatap Darwin tak berkedip. Lalu ia tertawa terbahak-bahak setelah melihat Darwin kebingungan tidak tahu harus menjawab apa.
“Sudah, aku hanya bercanda,” ucapnya kemudian.
Darwin baru teringat istri dan anaknya di rumah. Setelah dua hari belakangan tanpa kabar. Sudah dua hari ini ia tidak melihat ponselnya, kemarin saat dalam pesawat ia mematikan ponselnya.
“Kita kembali ke hotel, yuk?” ajak Darwin. Yunita memeluk lengan Darwin dengan manja saat mereka melangkah meninggalkan pantai.
Darwin membuka ponselnya. Ia mencoba menghubungi Asmira, tapi tidak tersambung. Berulang kali ia coba, namun lagi-lagi gagal. Yunita keluar dari kamar mandi, dengan handuk yang melekat di tubuhnya, membuat pandangan Darwin teralih kan. Ia menatap Yunita tanpa berkedip, Darwin menelan ludahnya. Yunita dengan santai berjalan lenggak-lenggok di hadapan Darwin.
“Bagaimana kabar istrimu?” tanya Yunita, ia mengambil pakaian di kopernya. Lalu melangkah masuk ke kamar mandi.
“Nomornya tidak tersambung,” sahut Darwin.
“Loh, kenapa?” tanya Yunita, ia kembali keluar dari kamar mandi, kini sudah ada pakaian yang melekat di tubuhnya. Ia menyibakkan rambutnya ke depan, ia membelakangi Darwin, ia menyuruh suami Asmira itu menarik resleting bajunya.
Darwin lagi-lagi dibuat terpana oleh Yunita. Kulit putihnya dengan pinggul bak gitar Spanyol itu selalu membuat jakun Darwin naik turun.
“Win, nafas kau dingin sekali, aku geli,” lirih Yunita, ia pejamkan matanya.
Darwin mendekatkan wajahnya ke tubuh Yunita, perlahan ia mulai mencium tengkuk perempuan cantik itu. Aroma wangi tubuh Yunita membuat nafsu Darwin tidak terkontrol. Yunita tak bergerak, ia memejamkan matanya menikmati setiap sentuhan yang di berikan oleh suami Asmira itu.
__ADS_1
Jangan lupa like ya...