Eternal Promise

Eternal Promise
Part 78


__ADS_3

"Pak, ada informasi tentang keberadaan anak saya?" tanya Asmira di telepon. Tangannya gemetar. Ia menggigit kuku sembari terus mondar-mandir di ruangan Yunita.


“Mohon maaf, Bu. Kami belum mendapatkan informasi apa pun.”


Asmira menggenggam erat ponsel di tangannya. Air mata kembali menyeruak berjatuhan di pipinya. Darwin mendekapnya erat, ia terus menyemangati sang istri. Walau sebenarnya, ia pun hancur dengan semua yang berlaku atas rumah tangganya.


“Maafkan aku. Ini semua salahku. Patutnya aku layak mendapatkan ini semua, tapi kenapa kalian menyelamatkan nyawaku?”


Yunita terisak dalam tangisnya. Penyesalan yang sangat besar ia rasakan kini. Saat ia sadar, ia mendapati seorang wanita yang berhati besar yang telah menyelamatkannya. Padahal, banyak hal yang telah ia lakukan agar wanita tersebut berpisah dengan suaminya. Namun, apa daya, Tuhan tak rela kedua insan tersebut terpisah. Yunita hancur, semua karma kembali padanya. Semua rencana jahatnya gagal.


“Yunita, kau jangan berkata seperti itu. Aku bahagia kau selamat. Dokter bilang, sedikit saja kita terlambat, nyawa kau tidak tertolong.” Asmira menggenggam kedua tangan Yunita.


“Assalamualaikum ....” Terdengar suara seorang wanita memberi salam. Suara tersebut cukup familiar di telinga Asmira.


“Bu Ida,” gumam Asmira dalam hati. Ia bangkit dari duduknya. Asmira menarik gagang pintu sembari menjawab salam wanita tersebut.


Betapa bahagia dirinya mendapati si kembar dan Evano bersama Bu Ida. Seketika, tanpa menunggu permisi, air matanya kembali berjatuhan di pipinya. Ia memeluk Evano dan mengecup kedua pipinya.


“Nak, kau baik-baik saja, kan? Maafkan Mami.”


Asmira menggendong si kembar. Kedua putra-putrinya itu sedang tertidur lelap. Dari sejak lahir, mereka sudah terbiasa bersama Bu Ida. Tak heran, bersama dengan beliau mereka tenang-tenang saja.


“Bu, terima kasih,” ucap Asmira dingin. Ia tak tahu harus berkata apa. Ibu dari pria yang telah melakukan kejahatan kriminal telah menyelamatkan ketiga anaknya.

__ADS_1


Bu Ida menganggukkan kepalanya. Ia mengusap kepala si kembar penuh kasih sayang. Air mata berlinang di pipinya. Ia menyesali perbuatan anaknya. Semuanya terjadi di luar kendalinya.


“Sayang, jaga Mami untuk Bibi, ya?” pinta Bu Ida pada Evano. Ia berlutut di hadapan putra Asmira.


“Bibi jangan pergi ...” lirih Evano. Bu Ida tersenyum, sekali lagi, ia mengusap kepala Evano dengan lembut lalu ia cium pucuk kepalanya. Kemudian, ia berjalan keluar dari ruangan Yunita.


“Bu, Ibu mau ke mana?” tanya Asmira. “Jangan pergi,” lanjutnya lagi.


“Ibu akan ke kantor polisi, Ibu akan menyerahkan diri dan mengakui semua perbuatan Yun,” sahut Bu Ida terbata-bata karena ia menahan isak tangisnya.


Asmira menggelengkan kepalanya berkali-kali seraya berkata, “Jangan lakukan itu, Bu. Aku mohon ....”


Asmira menarik kedua tangan Bu Ida, ia dekap di dadanya. “Bu, aku mohon ....”


“Walau bagaimanapun, dia tetap anak Ibu, Mira. Maafkan semua kesalahannya, hukumlah Ibu.” Bu Ida mengusap dadanya. Satu bulir air mata berjatuhan di pipinya, ia buru-buru menyeka dengan punggung tangannya.


“Biarkan Ibu lakukan ini demi seorang anak. Kelak, kau juga akan melakukan hal yang sama denganku. Seorang ibu rela mati demi anaknya,” ujar Bu Ida, ia menatap Asmira, lalu membelai pipinya. Bu Ida melangkah keluar, ia menarik gagang pintu.


“Aku akan mencabut perkara ini, Bu. Jangan pergi, jangan lakukan semua itu,” ujar Yunita tiba-tiba.


Bu Ida menghentikan langkahnya. Gagang pintu terlepas dari tangannya. Ia menutup mulutnya. Asmira mendekati Yunita serta menanyakan keseriusannya. Ia tak setuju dengan keputusan Yunita.


“Kau jangan bercanda, Yunita. Bagaimana kalau dia kembali lalu melakukan hal yang sama lagi?” tanya Asmira.

__ADS_1


“Dia tak akan melakukan itu lagi, Mira,” sahut Yunita tersenyum.


“Bagaimana kau bisa yakin, sekarang saja kita tidak mengetahui keberadaannya. Bisa saja ia sedang merencanakan sesuatu yang lain?” tanya Asmira lagi.


“Aku yakin dengan keputusanku, Asmira. Aku tahu bagaimana perasaan Bu Ida. 10 tahun menikah, aku tidak memiliki keturunan. Aku sangat menginginkan seorang anak. Jika ada, aku juga pasti akan melakukan hal yang sama dengan beliau.”


Yunita bangun dari tidurnya. Asmira membantunya. Ia menatap Asmira dengan manik matanya, tatapannya tak berkedip. Seolah ia ingin berkata. Percayalah padaku. Asmira membuang pandangannya ke samping. Bu Ida memeluk Yunita, tangisannya pecah. Ternyata, seorang penjahat telah menjelma menjadi seorang malaikat. Ia tak percaya, dulu ia sangat membenci Yunita.


“Terima kasih, Nak,” ucap Bu Ida. Yunita mengangguk lalu membalas pelukan Bu Ida.


“Sayang ...” panggil Darwin. Ia baru kembali dari kantin terkejut melihat ketiga anaknya kembali utuh.


“Papi ....”


“Bagaimana ceritanya mereka bersamamu, Bu?” tanya Darwin setelah suasana cukup lama hening.


Bu Ida menarik nafasnya dalam-dalam sebelum menceritakan semuanya. Malam itu, saat Asmira dijemput Darwin, ia juga bersiap-siap untuk pergi. Karena ia tahu Yun tidak bermain-main dengan kata-katanya. Ia segera membawa si kembar dan Evano ke tempat yang aman yang tak akan ditemui Yun. Karena Bu Ida tahu, setelah melakukan aksinya Yun pasti akan mencarinya. Ia tak mungkin membiarkan ketiga anak kecil itu di rumah. Sedangkan ia sendiri tak ingin bertemu dengan Yun. Dari kemarin, ia telah mencegah anaknya membalas dendam. Namun, Yun tak mengindahkan peringatannya. Dari matanya, terlihat jelas, Bu Ida kecewa dengan sikap Yun. Anak semata wayang telah melukai hatinya.


“Maafkan Yun yang telah membuat semua kekacauan ini,” ucap Bu Ida kembali berlinang air mata.


“Sudahlah, Bu. Lupakan, semuanya sudah terjadi.” Asmira mendekati Bu Ida, ia mengusap pundak beliau.


Jangan lupa like, ya ...

__ADS_1


__ADS_2