Eternal Promise

Eternal Promise
Part 22


__ADS_3

Pagi-pagi setelah Darwin berangkat kerja, Asmira siap-siap untuk pergi ke Mall. Sembari menunggu pak Yun pulang mengantar Evano sekolah, ia sarapan pagi. Bu Ida tersenyum melihat majikannya pagi-pagi sudah rapi dan cantik.


“Mau ke mana, Nya?”


“Mau ke Mall sebentar, Bu,” sahut Asmira tersenyum semringah. “Bu Ida ikut?” tanya Asmira kemudian.


“Tidak, Nya. Masih banyak pekerjaan di rumah,” sahut Bu Ida.


Bu Ida kembali melanjutkan pekerjaannya tanpa menghiraukan lagi majikannya yang sedang sarapan.


Setelah sarapan, Asmira menunggu pak Yun di teras rumah. “Pak, ayo kita ke Mall,” ajak Asmira begitu melihat pak Yun tiba di rumah.


Dalam perjalanan Asmira sibuk dengan ponselnya, pak Yun melihat dibalik spion tanpa berani berkomentar apa pun.


Setelah puas bermain-main dengan ponselnya, Asmira melirik keluar jendela mobil.


“Pak, kenapa lama sekali, ya?”


“Macet, Bu,” sahut pak Yun.


Asmira menatap pak Yun dalam-dalam, sudah beberapa hari beliau bekerja di rumahnya tapi ia tak begitu memperhatikan beliau. Wajahnya tampan dan masih muda.


”Pak Yun sudah berkeluarga?”


Pak Yun tersenyum mendapat pertanyaan yang begitu privasi dari majikan barunya. Menyadari hal itu Asmira segera menyanggahnya agar tak ada kesalahpahaman.


“Saya lihat pak Yun masih muda, makanya saya enggak bisa membendung rasa penasaran saya, Pak.”


“Belum, Nyonya. Saya masih sendiri,” sahut pak Yun kemudian setelah melihat Asmira merasa tidak enakkan.


Asmira tersenyum mendengar jawaban pak Yun. Pikirannya merencanakan sesuatu yang menarik. Pak Yun menggelengkan kepalanya melihat Nyonya yang lebih muda darinya itu.


Tiba di Mall, Asmira segera menuju tempat penjualan makeup yang cukup terkenal dan lengkap dengan berbagai merk dalam maupun luar negeri. Asmira sudah mensearching di google saat ia dalam perjalanan tadi. Sehingga dengan mudah ia mengetahui barang apa saja yang akan ia beli.


Saat pembayaran, Asmira memberikan kartu ATM yang cukup mengejutkan penjaga toko makeup tersebut. Kartu unlimited yang diberikan Darwin sudah sejak lama itu, baru kali ini terpakai olehnya.


“Terima kasih sudah berbelanja di tempat kami Nyonya Darwin,” ucap pegawai tersebut. Asmira mengerutkan keningnya lalu memaksakan sebuah senyuman di bibirnya.


Setelah selesai ia segera mengajak pak Yun pulang, dalam perjalanan pulang ia mengutarakan tujuan yang ia pikirkan tadi mengenai pak Yun yang masih menjomblo.


“Pak Yun,” panggil Asmira.


“Ya, Nya ....”

__ADS_1


“Pak Yun benar-benar menjomblo?”


Lagi-lagi pak Yun terkejut dibuat Asmira dengan berbagai pertanyaan yang cukup membuat wajah pak Yun memerah. Pak Yun hanya membalas dengan sebuah anggukan malu-malu.


“Saya kenali dengan adik teman saya, Mau?” tanya Asmira tersenyum manis sembari melirik pak Yun.


Pak Yun terdiam, ia tak menjawab sepatah kata pun, Asmira menepuk pundak pak Yun dengan gaya sok akrab, sang sopir hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan majikannya itu.


“Pak Yun jawab saja, enggak usah malu-malu,” ujar Asmira lagi karena tidak mendapat jawaban dari sopirnya.


“Memangnya ada yang mau, Nya. Saya cuma sopir pribadi saja, wanita sekarang kan maunya yang kaya raya,” sahut pak Yun.


“Eits, enggak semua begitu, nanti saya kenali adik teman saya. Dia wanita yang sangat sederhana sekali,” sanggah Asmira.


Pak Yun hanya mengiyakan saja, walau dalam lubuk hatinya tidak ada keyakinan untuk berkenalan dengan wanita yang di maksud Asmira itu.


•••••••


Malam harinya setelah makan malam, Asmira melakukan rutinitas biasanya sebagai orang tua. Ia mempersiapkan semua keperluan Evano sekolah dan menidurkan putra kesayangannya itu.


“Evano sudah tidur, Nya?” tanya Bu Ida saat ia berpapasan dengan Asmira keluar dari kamar Evano.


“Sudah, Bu. Kenapa belum tidur?”


“Oh, ya sudah. Saya istirahat dulu ya, Bu.” Asmira berlalu ke kamarnya.


Setelah cuci kaki dan muka, Asmira menggunakan piama tidurnya, ia raih bag yang berisikan makeup tadi siang yang ia beli.


Ia mulai menggunakan satu persatu di wajahnya dengan melihat tutorial dari ponselnya yang ia putarkan sebuah video beauty Vlogger yang telah ia unduh tadi sebagai pedoman.


“Aku enggak sabar tunggu kamu pulang, Mas,” gumam Asmira setelah selesai merias wajahnya. Ia berputar-putar di depan cermin.


“Baju ini kurang seksi sepertinya.”


Kemudian ia memilih baju tidur yang sedikit terbuka dengan warna merah menyala. Setelah memakai baju tersebut, ia merasa risi dan berubah pikiran.


“Enggak ah, yang tadi saja.” Kemudian ia menggunakan baju yang pertama ia pakai tadi.


Setengah jam kemudian terdengar suara mobil Darwin memasuki pekarangan rumah. Asmira segera siap-siap menyambut kepulangan suaminya.


Tuk ... tuk ... tuk ... terdengar suara langkah kaki Darwin masuk dan menaiki tangga.


Ceklek ... Darwin membukakan pintu kamar.

__ADS_1


“Selamat malam, sayang,” sapa Asmira menyambut kepulangan suaminya.


Darwin tersenyum, dengan wajah bingung ia mencoba berpikir berulang-ulang. "Apa aku melupakan janji dinner malam ini?” pikir Darwin.


Darwin menyentuh kening dan leher Asmira. Tidak demam, lalu kenapa dia? Lagi-lagi Darwin merasa aneh.


“Tunggu sebentar aku mau mandi lalu kita segera berangkat ya, sayang?” pinta Darwin melepaskan pelukan sang istri.


“Pergi ke mana?”


“Dinner, kan?” tanya balik Darwin. Asmira menggeleng, ia melirik jam di nakas meja kamarnya. Jam sudah menunjukkan pukul 10:00 malam.


Darwin melangkah masuk, ia letakkan tas kerjanya dan melonggarkan dasinya, ia duduk di tepi ranjang.


“Lalu kenapa dandan malam-malam begini, sayang?”


Asmira menunduk kepalanya, sepertinya memang benar. Ia tidak cantik, buktinya saja Darwin tidak pangling dengan dandanannya malam ini. Padahal ia mengambil tutorial dari beauty Vlogger terkenal di tanah air. Perlahan air mata menetes di pipinya.


Darwin menarik dagu Asmira. “Sayang kenapa?” tanya Darwin semakin bingung melihat Asmira menangis. Asmira hanya menggeleng, ia bangkit dari duduknya ia ingin membersihkan makeup yang melekat di wajahnya.


Darwin menarik tangan Asmira, sehingga membuat Asmira jatuh di pangkuan Darwin.


“Ceritakan, ada apa?” Darwin melingkarkan tangannya di perut Asmira.


“Aku ingin tampil cantik di depanmu, Mas.”


“Kenapa harus dandan, tanpa makeup kamu sudah sangat cantik, sayang.”


“Bohong! Kamu bohong, Mas!” Asmira melepaskan pelukan dengan paksa. Mengingat istrinya sedang mengandung Darwin membiarkannya.


“Buktinya kemarin saat kamu melihat hasil gambar Evano jelek, kamu bilang sangat bagus. Padahal dengan jelas di gambar itu aku seperti orang gila!” Asmira menangis tersedu-sedu.


Ia ingin mengatakan juga bahwa teman Darwin yang berkunjung ke rumah juga menyangka bahwa ia pembantu. Namun Asmira mengurungkan niatnya.


“Sayang, kamu lupa Evano baru kelas satu sekolah sadar, sayang. Untuk anak seusianya itu mungkin hasil gambar yang sangat bagus, harusnya kamu bangga, barangkali ia menurunkan bakat dari mbak Jessica.”


Darwin menenangkan istrinya, ia ciumi pipi dan keningnya berulang kali. Darwin mencoba sehalus mungkin dalam berbicara dengan Asmira, ia harus banyak sabar dalam menghadapi masa kehamilan istrinya dengan mood yang masih naik turun.


Darwin menidurkan Asmira, ia selimuti tubuhnya. Lalu ia ambilkan alkohol dan kapas, ia bersihkan wajah sang istri tercinta. Darwin menarik nafas lega ketika melihat Asmira sudah terlelap dalam tidurnya.


“Hal sepele menjadi besar. Nak ... jangan nakal, kasihan Mamimu," ujar Darwin mengelus-elus perut Asmira dengan lembut.


Jangan lupa untuk like ya...

__ADS_1


__ADS_2