Eternal Promise

Eternal Promise
Part 64


__ADS_3

Seminggu kemudian.


Pagi-pagi, Asmira terbangun dari tidurnya. Satu pesan masuk dari santi. Lokasi pernikahan di kirim oleh adik Nindy itu. Pernikahan yang digadang-gadang akan sangat megah itu akan berlangsung esok hari.


Asmira mondar-mandir di kamarnya. Hatinya sangat gelisah. Haruskah aku datang? Apa aku sanggup melihat pria sebaik Yun bersama wanita lain? Ah, bukankah kau sendiri yang menjodohkan mereka Asmira? Berbagai pertanyaan mencuat di pikiran Asmira.


Tok ... tok.


“Mira, sayang. Yuk, sarapan dulu,” ajak Bu Ida mengetuk pintu kamar Asmira.


“Ya, Bu. Sebentar lagi Mira turun,” sahut Asmira setengah berteriak.


Setelah mandi dan berpakaian rapi, Asmira turun ke bawah. Yun ada di sana, ia sedang sarapan bersama Bu Ida dan Evano. Asmira menampakkan ke tidak sukaannya dengan kehadiran Yun di sana.


“Pasti mau berpamitan,” gumam Asmira dalam hati.


Seminggu belakangan, ia juga mengacuhkan Yun. Namun Yun tidak menggubrisnya, ia tetap datang ke sana walau Asmira marah padanya tanpa sebab yang jelas, Yun berpikir positif, mungkin saja pengaruh kehamilan.


Setelah makan, Yun berpamitan, ia akan mengantar Evano sekolah lalu berangkat kerja.


Asmira bangkit dari duduknya seraya berkata, “Selamat ya, Mas.” Lalu ia berlalu meninggalkan Yun yang masih terpaku dengan wajah bingung.


“Selamat untuk, apa?” tanya Yun pada diri sendiri.


Asmira sangat gelisah, semua yang ia lakukan terasa salah, ia mondar-mandir ke sana kemari. Bu Ida pusing melihat Asmira seperti itu. Semua aktivitas yang ia lakukan tidak berhasil membuat pikirannya tenang, ia tidak berhenti memikirkan tentang pernikahan Santi esok hari.


Hingga malam datang pun, Asmira sama sekali tidak bisa memejamkan matanya, ia sangat merindukan kehadiran Yun di sana. Minyak wangi yang diberikan Yun terus ia genggam di tangannya.


Asmira turun ke bawah, ia menyalakan televisi, tapi tidak ada saluran Chanel yang membuatnya merasa terhibur. Bu Ida yang baru saja merebahkan tubuhnya di ranjang terkejut mendengar suara televisi, ia bangkit dari tidurnya.


“Mira, kenapa belum tidur, ini sudah larut,” ujar Bu Ida duduk di samping Asmira.


“Aku tidak bisa tidur, Bu.”


“Ada apa sebenarnya? Ibu perhatikan kau sangat gelisah?” tanya Bu Ida.


Asmira terdiam, ia belum mengumpulkan keberanian untuk mengakui semuanya.

__ADS_1


“Ikuti kata hatimu, Nak. Terkadang, kita harus lebih berani untuk mengedepankan kepentingan hati daripada ego, atau kau akan menyesal seumur hidupmu!”


Asmira terdiam, haruskah aku mengatakan padanya aku tidak ingin ia bersama wanita lain? Batin Asmira.


Lalu ia kembali ke kamarnya, ia coba pejamkan matanya. Asmira telah memutuskan, apa pun yang terjadi, ia akan mengatakan kalau ia mulai menyukai pria itu, kalaupun Yun nantinya sah menjadi suami Santi, Asmira telah mengatakan yang sebenarnya.


Keesokan harinya, pagi-pagi Asmira bangun dan mandi, lalu ia segera turun untuk sarapan. Yun juga telah hadir di sana, pagi ini ia tampil gagah dengan balutan jas, Asmira tertegun melihat ketampanan pria itu. Yun salah tingkah diperhatikan seperti itu oleh Asmira.


“Setelah sarapan, bisa kita bicara sebentar?” tanya Asmira ragu-ragu.


“Boleh,” sahut Yun singkat.


Lalu, mereka meneruskan sarapan pagi itu. Suasana sangat hening, yang terdengar hanya suara sendok dan piring yang menciptakan suara khas.


Yun menyudahi sarapannya, lalu ia duduk di teras menunggu Asmira. Tidak lama kemudian, Asmira keluar, ia duduk berhadapan dengan Yun.


“Kau ingin bicara apa?” tanya Yun.


Asmira menarik nafasnya dalam-dalam, ia meyakinkan dirinya lagi, sudah siapkah ia untuk mengatakan itu semua.


“Jika aku meminta sesuatu padamu, apa kau akan menuruti kemauanku?” tanya Asmira kemudian.


“Maksudmu, kemauan apa?” tanya Yun.


“Bukankah selama ini aku sudah menuruti semuanya?” lanjut Yun.


“Bisakah kau tetap tinggal di sini, bersamaku dan Evano?” tanya Asmira, ia menatap Yun tak berkedip, jantungnya berdegup kencang.


Yun tidak mengerti kenapa tiba-tiba Asmira mengatakan seperti itu, apa ia merasa terganggu dengan kehadiran Darwin?


“Aku tidak akan ke mana-mana, aku akan di sini bersama kalian, aku akan ke sini setiap hari, apa ada orang yang mengganggumu?” tanya Yun belum mengerti ke mana arah pembicaraan Asmira. Namun Asmira menggelengkan kepalanya.


“Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu,” lalu Yun bangkit dari duduknya, namun Asmira menarik Yun lalu mendekapnya erat.


“Mas jangan pergi, aku mohon jangan tinggalkan aku,” ucap Asmira. Yun terhenti, ia tak mengerti apa yang terjadi dengan Asmira pagi ini.


Tiba-tiba, secarik kertas terjatuh, di samping kaki Asmira. Asmira jongkok, lalu ia meraih kertas tersebut.

__ADS_1


“Apa ini, Mas?” tanya Asmira.


Kemudian Asmira membukanya, ternyata itu undangan pernikahan Santi, Asmira terbelalak melihatnya. Nama mempelai prianya bukan nama Yun. Seketika wajah Asmira memerah, ia ingin melangkah masuk ke dalam. Namun Yun menarik tangannya serta memeluknya dari belakang.


“Bisa kau katakan sekali lagi permintaanmu tadi?” bisik Yun di telinga Asmira. Pipi Asmira terasa panas, ia sangat malu.


“Kenapa kau tidak bilang kalau bukan kau mempelai prianya, kenapa tidak mengatakan jika kau sudah tak berhubungan lagi dengan Santi?” tanya Asmira.


“Apa itu penting?” tanya Yun. Asmira terdiam.


“Kau tahu, aku tidak akan ke mana-mana, aku akan menjaga kau dan Evano sampai kapan pun,” lanjut Yun kemudian.


Asmira terdiam. Bu Ida benar, terkadang, mengesampingkan ego itu lebih baik.


“Ayolah, bersiap-siap, kita akan berangkat ke acara Santi, sebentar lagi dimulai,” pinta Yun.


Asmira melangkah masuk, namun baru saja beberapa langkah Yun memanggilnya.


“Mira, aku menyayangimu,” ucap Yun.


Asmira tersenyum, tanpa menoleh, ia berlari kecil masuk ke dalam rumahnya. Yun tersenyum lega, kata-kata yang selama ini ia pendam akhirnya hari ini terucap jua dari mulutnya.


“Aku bersumpah, aku akan membahagiakan kau,” gumam Yun dalam hati.


Jam menunjukkan pukul 10:00 pagi, acara akad pun di mulai, Santi sangat cantik, dengan balutan gaun putihnya. Suaminya juga tampan, jika diperhatikan sekilas, pria itu mirip dengan Yun, namun suami Santi lebih muda.


Semua berkumpul di sana, Asmira tampak bahagia menemani Nindy di sana. Tawa tak pernah surut dari wajahnya, sementara Yun, pandangannya tak berkedip sedikit pun dari wajah Asmira. Semua tampak berbahagia menikmati hari raja dan ratu sehari untuk Santi dan suaminya.


“Mami, Adel cantik, ya?” ujar Evano.


“Iya, sayang,” sahut Asmira.


“Bisakah Mami membeli adik yang secantik Adel untuk Vano?” tanya Evano.


Sontak saja membuat mereka tertawa. Evano sangat menyukai Adel sepertinya, ia tak melepaskan genggaman tangannya dari Adel. Adel sudah berusia 1 tahun lebih, ia baru bisa berjalan, Evano sangat gemas padanya.


Jangan lupa like ya.

__ADS_1


__ADS_2