
Darwin kembali ke kantor setelah melakukan pertemuan dengan Yunita. Pratiwi segera menemui Darwin, ada rasa penasaran kenapa bosnya melarang ia untuk ikut bersamanya meeting dengan Yunita.
Darwin menyerahkan file pada Pratiwi serta menyuruhnya untuk menunggu jika ada informasi terkini mengenai proyek itu.
“Oya, ada informasi tentang Lestari?”
“Ada, Pak. Saya hampir lupa.”
“Ceritakan!”
“Ini rekaman Cctv rumah tetangga Anda, Pak.” Pratiwi memberikan sebuah flashdisk.
Sekitar jam 08:00 Jessica bersama Valen datang ke rumah Asmira dengan wajah panik. 5 menit kemudian mereka keluar membawa Asmira seperti dalam keadaan pingsan naik mobil, lalu kemudian mereka pergi.
Darwin menatap layar laptopnya tanpa berkedip, jam kejadian tersebut merupakan beberapa menit setelah kepergiannya menemui Yunita pada hari Minggu itu.
Hari itu ia ingat, saat bangun tidur ia tidak menemui sang istri di kamarnya ia mengira Asmira sedang memasak di dapur. Darwin meraup wajahnya dengan kedua tangannya kala mengingat tingkah bodohnya sendiri.
“Saya bersalah, Tiwi. Saya salah,” lirih Darwin.
“Anda tenang saja, Pak. Kabar baiknya, nyonya Asmira berada di rumah nyonya Jessica.” Pratiwi tersenyum melihat Darwin benar-benar terpukul.
Bagaimana mungkin? Tapi kemarin Jessica seperti syok mendengar kabar Asmira menghilang. Darwin bergegas pergi, ia raih kunci mobilnya kemudian segera pergi menuju rumah Jessica. Berharap, sang istri benar-benar ada di sana.
Di rumah Jessica.
Hari ini Asmira sudah mendingan, wajahnya kembali berseri, tidak pucat lagi. Ia menemani Jessica masak sementara Elia dan Evano asyik bermain, Vano baru saja pulang sekolah di jemput oleh Jessica.
Darwin tiba di sana. Tanpa permisi ia langsung masuk ke rumah kakaknya itu. Jantung Darwin berdegup kencang, ia berharap Asmira benar-benar ada di sana. begitu melihat Evano dan Elia sedang bermain ia tersenyum senang.
“Syukurlah kalian di sini,” gumam Darwin.
Ia segera mencari keberadaan Asmira tanpa mengganggu Vano yang asyik bermain. Darwin benar-benar lega ketika ia lihat sang istri baik-baik saja di sana. Ia menghampirinya, kemudian memeluknya erat.
“Sayang, kamu kenapa pergi enggak bilang-bilang?” tanya Darwin mencium pucuk kepala Asmira bertubi-tubi.
Jessica kaget, Darwin mengetahuinya begitu cepat. Padahal Ia ingin memberi pelajaran beberapa hari lagi untuk adiknya itu. Ia menghentikan masaknya, ia menyilang kedua tangan di dadanya.
“Pergi enggak bilang-bilang? Ya, kamu merasa kebingungan mencari keberadaan Asmira? Benar?”
Pertanyaan Jessica cukup membuat Darwin merasa kena tamparan yang cukup keras. Darwin terdiam, ia mengaku salah. Ia bagaikan terhipnotis dua Minggu belakangan ini, entah bagaimana bisa ia ke labui oleh Yunita.
“Aku minta maaf sayang, aku benar-benar minta maaf.” Darwin menggenggam tangan Asmira erat.
Asmira menepis tangan Darwin perlahan, ia bangkit dari duduknya kemudian melangkah pergi dari sana. Ketika Darwin ingin mengejar Asmira, Jessica memanggilnya.
__ADS_1
“Mau ke mana kamu?” tanya Jessica geram.
“Mbak, aku tahu aku salah, tapi aku mau bicara dengannya.” Darwin segera melangkah, namun baru beberapa langkah Jessica kembali memanggilnya.
“Marcell Darwin!”
Darwin menghentikan langkahnya dan mendekat pada Jessica.
“Lebih baik kamu pergi, Lestarimu sedang drop, ia enggak bisa di ganggu, kalau kamu mau dia baik-baik saja harusnya kamu ikuti kata-kata, Mbak.”
“Tapi, Mbak.”
“Apa perlu Mbak ulangi lagi?” tanya Jessica merapatkan kedua bibirnya.
Darwin kehabisan akal, ia ingin sekali meminta maaf pada istrinya. Tapi benar kata Jessica, jika sesuatu terjadi pada Asmira ia yang akan menyesal.
“Nanti malam aku akan datang lagi, Mbak jaga dia baik-baik,” ujar Darwin akhirnya.
“Setidaknya, Mbak bisa lebih baik dari kamu!”
Gleg. Kata-kata itu cukup tajam, mengena di hati Darwin. Darwin melangkah pergi dari hadapan sang kakak yang sedang dilanda amarah.
“Sayang,” panggil Darwin.
“Papi ....” Evano berlari memeluk Ayahnya.
“Jagai Mami, ya?” pinta Darwin. Evano mengangguk berkali-kali.
Kemudian ia pergi, Evano lambaikan tangannya ketika Darwin menghilang dengan mobilnya. Evano berlari mencari Jessica.
“Jeje ....”
“Ya, sayang. Ada apa?” Jessica jongkok ketika Evano menyentuh lututnya.
“Papi ngapain ke sini? Kenapa papi enggak ajak mami pulang?”
“Kamu enggak betah di rumah Jeje? Main bareng Elia?”
“Bukan ...” sahut Evano pelan.
“Ya sudah, sekarang kalian main lagi. Nanti malam papi datang lagi, ya?”
Evano mengangguk ia kembali bermain lagi bersama Elia.
Jessica menemui Asmira di kamar, Jessica mengetuk pintu beberapa kali sebelum masuk. Kemudian terdengar suara Asmira menyuruhnya masuk.
__ADS_1
“Mira,” panggil Jessica mengusap kepala Asmira.
Asmira mendongakkan kepalanya, air mata berlinang membasahi pipinya. Jessica menyeka air mata itu dengan ibu jemarinya.
“Menangislah. luapkan semuanya.” Jessica memeluk tubuh mungil Asmira.
“Aku hanya ingin semuanya baik-baik saja, Mbak.”
Jessica paham betul dengan apa yang Asmira alami. Bahkan saat ini Darwin belum mengetahui jika Asmira sedang hamil muda. Mood Asmira sedang naik turun, ia sangat mudah sensitif terhadap sesuatu.
Setelah kelelahan menangis Asmira pun tertidur, Jessica menyelimutinya kemudian ia kembali ke dapur meneruskan pekerjaannya yang sempat tertunda.
Satu jam kemudian Darwin tiba di kantor, Pratiwi melihat keadaan bosnya masih dalam keadaan tak karuan. Pratiwi tidak berani mendekat walau hanya sekedar meminta tanda tangan saja.
“Arghhh!” teriak Darwin.
Pikirannya buntu, ia tidak bisa melakukan aktivitas apa pun. Ia memandang langit-langit ruangannya. Untuk apa semua ini jika bukan untuk kunikmati bersama istri dan anak. Pikir Darwin.
Darwin melirik kalender di mejanya, 10 hari lagi merupakan hari ulang tahun pernikahannya yang ketujuh. Tapi semuanya runyam.
Tiba-tiba Pratiwi mengetuk pintu. Darwin menyuruhnya masuk.
“Maaf, Pak mengganggu.”
Pratiwi memberikan file balasan yang di kirim melalui email dari Yunita. Darwin tersenyum, pikirannya yang sedang kacau sedikit mereda.
“Baik, kirim syarat dan ketentuan kerja. Buat serumit mungkin, atur jadwal yang membuatnya semakin bertambah kesal.”
“Baik, Pak.”
Di tempat lain, Yunita menarik nafasnya kasar ketika membaca email yang di kirim asisten Darwin. Ia meraih ponselnya menghubungi seseorang tempat ia meluapkan segala emosinya.
“Kamu jangan coba-coba menipu saya, ya?”
“Apa maksudmu?” tanya seseorang di balik telepon.
“Klien yang ingin kita jebak bukan orang sembarangan, saya tidak bisa berkutik lagi.” Yunita
“Cari cara lebih jitu dong! Kita kalah dulu enggak apa-apa deh.”
“Maksud Anda, apa?” tanya Yunita lagi.
“Atur pertemuan biar kita bicarakan empat mata.”
Yunita mengakhiri panggilan itu. Ia masih bertanya-tanya, cara jitu apa yang harus ia gunakan untuk membuat perusahaan Darwin jatuh.
__ADS_1
Jangan lupa like ya ....