
Kelvin mendengar baik-baik tanpa menyela setiap kata yang Darwin ucapkan, ia mencoba menangkap semua isi pembicaraan tersebut. Sekali-kali terlihat ekspresinya tampak ia menyipitkan matanya kadang pula ia menggaruk tengkuknya.
“Sumpah aku kesal banget!”
“Bentar, bentar ... terus tujuan dia itu apa? Sorry aku masih enggak paham,” sahut Kelvin masih bingung.
“Itu dia, aku benar-benar enggak tahu, apa maksud terselubung dia mendekatiku.”
“Saran aku, mending kamu ikuti saja permainannya dulu. Sabar saja dulu.”
“Kamu yakin Vin itu cara yang terbaik?" tanya Darwin. Kelvin mengangguk.
Darwin mempertimbangkan saran Kelvin. Jika ia tidak berpura-pura mengikuti kemauan Yunita bagaimana ia bisa mengetahui rencana busuk wanita itu. Lagi pun itu semua salah ia sendiri, mengapa ia terlalu mudah mempercayai orang baru.
“Jika butuh apa-apa segera hubungi,” pinta Kelvin. Darwin mengangguk pelan dengan tatapan nanar.
“Udah, aku percaya ini hal mudah bagi kamu.” Kelvin menepuk bahu sahabatnya itu.
Setelah merasa sedikit lega, akhirnya mereka memutuskan untuk sama-sama kembali dan istirahat. Hari esok telah menanti dengan segudang aktivitas yang harus di jalani.
Keesokan harinya pagi-pagi Darwin telah siap-siap berangkat ke kantor. Hari ini ia sedikit lebih semangat dari kemarin, karena ia sudah mendapat lampu hijau dari ibu anaknya itu. Kemarin malam Asmira sudah sedikit reda amarahnya, nanti sore sepulangnya dari kantor ia akan menjemput mereka kembali ke rumah.
“Pagi, Pak,” ssapa Pratiwi.
“Ya Tiwi, pagi.” Darwin menyunggingkan senyumnya, Tiwi mengerutkan keningnya melihat sikap bosnya kembali ceria.
Saat Darwin ingin masuk ke ruangannya ia kembali mundur beberapa langkah tepat berhadapan dengan ruangan Tiwi.
“Apa Yunita sudah membalas emailnya?” tanya Darwin.
“Belum saya cek, Pak.”
“Segera beri saya informasi tentang proyek itu.” Kemudian Darwin kembali melanjutkan langkah masuk ke ruangannya.
Siang harinya Tiwi menemani Darwin meeting di hotel milik keluarganya. Ada beberapa kamar yang perlu di renovasi dan rencananya bangunan tersebut akan semakin di perluas.
Mereka tiba di sana sedikit terlambat karena jalanan lumayan padat. Pratiwi memberi file serta identitas sang desainer yang memenangkan proyek pembangunan tersebut.
Darwin sedikit terkejut, bagaimana tidak, orang tersebut adalah Ryuichi suaminya Rose. Keduanya sama-sama terkejut begitu mereka bertatap muka.
“Aku tidak tahu perusahaanmu juga bergerak di bidang perhotelan,” ucap Ryu dengan logat masih kurang jelas.
“Silakan duduk,” pinta Darwin sembari tersenyum ramah.
__ADS_1
Mereka memulai meeting dengan sangat lancar, komunikasi dia antara mereka cukup bagus. Darwin menyukai desain yang Ryu ajukan, bahan dan lahan juga tidak terbuang percuma. Darwin berdecak kagum dengan kemampuan Ryu.
“Ini akan terlihat sangat memukau dengan View kota yang sangat indah di malam hari,” jelas Ryu panjang lebar. Darwin hanya mangut-mangut saja mendengar setiap penjelasan Ryu.
Setelah meeting selesai dan kontrak kerja sama pun di tanda tangani, mereka makan siang bersama dengan santai.
“Brandon apa kabar?" tanya Darwin.
“Baik, sangat baik,” sahut Ryu tersenyum. “Rose akan berlibur ke tempatmu saat Brandon libur akhir semester nanti,” sambung Ryu lagi.
“Oh, ini kabar yang cukup menggembirakan untuk Lestari,” sahut Darwin.
“Senang bekerja sama denganmu Win,” ujar Ryu ketika mereka selesai makan.
“Ya, semoga hasilnya juga memuaskan,” sahut Darwin, ia menjabat tangan Ryu erat.
“Aku hampir lupa, selamat ya, kamu hebat.” Ryu menepuk-nepuk bahu kekar Darwin.
Darwin mengerutkan keningnya. “Ini kan desainmu?” tanya Darwin.
Ryu tertawa kecil. “Bukan, bukan tentang pekerjaan.”
“Lalu tentang apa?” tanya Darwin.
Deg.
Jantung Darwin berdegup kencang, pasti Ryu mengetahuinya dari Rose. Tapi apa benar Asmira sedang hamil? Lalu kenapa ia tidak memberitahukan suaminya? Darwin terpaku mendengar ucapan Ryu.
“Aku harus segera pergi, aku permisi ya. Titip salam untuk Evano.”
Darwin hanya mengangguk, ia menatap kepergian Ryu dari hadapannya. Hatinya tak tenang setelah mendengar kabar gembira itu. Bibirnya tersenyum, hatinya menjerit.
“Apa mungkin aku telah kehilangan momen-momen bahagia awal kehamilan istriku?” gumam Darwin pelan.
Ia sudah tak sabar ingin mendengarkan langsung dari Asmira tentang berita bahagia itu. Rasanya waktu cukup lama berputar, terlalu banyak kerjaan yang tak bisa ia tinggalkan sekarang.
Tepat jam 17:00 sore, ia segera meluncurkan mobilnya menuju rumah Jessica untuk menjemput Evano dan Asmira.
“Papi,” panggil Evano memeluk sang ayahandanya.
“Hai sayang, Mami mana?” tanya Darwin mencubit gemas hidung Vano.
“Bentar ya Pi, aku panggilkan.” Evano segera berlari masuk ke dalam di ikuti Elia di belakangnya.
__ADS_1
Asmira keluar bersama Jessica, ia menuntun adiknya ketika menuruni tangga dengan hati-hati. Kemudian ia berpamitan pada kakaknya, dua hari belakangan ia sudah banyak merepotkannya.
“Sudah, lupakan,” sahut Jessica.
Mereka berangkat pulang, Evano berteriak girang ia bersenandung kecil dengan lagunya sendiri dengan lirik asal-asalan.
“Senang banget anak Papi” ujar Darwin tersenyum. Evano hanya tersenyum, ia kembali berjoget girang.
“Sayang, istirahatlah di kamar, biar aku yang menyiapkan makan malam dan menemani Evano mandi,” ujar Darwin begitu perhatian ketika mereka tiba di rumah
Asmira menatap Darwin dengan tatapan sayu. Namun Darwin mengabaikannya, ia memapah tubuh istrinya menaiki tangga perlahan-lahan.
Darwin menyelimuti tubuh Asmira dan mengambil beberapa buku untuk ia baca. Sebelum turun ia kecup pelan kening Asmira.
“Ada apa denganmu, Mas,” gumam Asmira merasa aneh.
Darwin segera masak di dapur serta menyiapkan baju untuk Evano. Untung saja ia sudah bisa mandi sendiri. Pikir Darwin.
Malam harinya setelah makan bersama serta meninabobokan Evano, Darwin kembali ke kamarnya, ia melirik Asmira asyik membalikkan halaman per halaman.
“Sayang,” panggil Darwin pelan.
“Mmm,” sahut Asmira dingin.
Darwin meraih buku di tangan sang istri, kemudian ia menyibakkan selimut yang menutupi tubuh Asmira, ia rebahkan kepalanya di pangkuannya serta menciumi pelan perutnya.
“Kenapa kamu enggak bilang kalau kamu lagi hamil, sayang?” tanya Darwin.
“Kamu terlalu sibuk, Mas.” Asmira menatap ke depan dengan tatapan sayu.
“Maafkan aku, sayang.” Kata-kata itu kembali terucap di bibirnya.
“Aku berjanji demi bayi yang di kandungan mu, aku akan menemanimu ke mana dan kapan saja kamu ingin pergi,” ujar Darwin.
“Aku tak ingin ke mana-mana, Mas. Aku hanya ingin selalu di sampingmu bersama Evano.”
Darwin mengelus-elus perut Asmira yang masih rata, ia cium berkali-kali ia hembuskan nafasnya perlahan di perut istrinya itu. Asmira sangat geli, ia tertawa cekikikan.
“Mas, jangan. Aku geli,” ujar Asmira di sela tawanya.
Darwin menghentikan aksinya saat ia melihat Asmira sangat kelelahan. Ia kecup mesra keningnya.
“Syukurlah kamu sudah tidak marah lagi, sayang,” gumam Darwin dalam hati.
__ADS_1
Jangan lupa like yaaaa