
“Aku hamil, Win ...” lirih Yunita di pelukan Darwin, ia masih tak hentinya menangis.
“Kau jangan gila!” teriak Darwin, ia mendorong tubuh Yunita pelan, lalu ia menjauh dari wanita itu.
“Bohong kau bilang? Aku tidak berbohong, Win. Aku hamil, aku positif hamil!”
Yunita semakin terisak dalam tangisnya, ia tak menyangka akan mendapatkan perlakuan seperti itu dari Darwin, dengan keras ia pukul dada bidang pria di hadapannya itu yang masih terpaku dan tak percaya.
“Kebohongan apa lagi yang sedang kau rencanakan? Katakan!” ucap Darwin lagi.
“Sumpah demi apa pun aku tidak berbohong Darwin. Aku benar-benar hamil, dan ini anakmu!”
Darwin berkali-kali menggelengkan kepalanya, seraya tersenyum sinis. “Cuihh ... gampang sekali kau menyimpulkan bahwa itu adalah anakku, aku hanya tidur semalam denganmu!”
Yunita menutup mulut dengan tangannya, ia tak percaya dengan apa yang menimpanya. Setelah seharian ia mendapat perlakuan kasar dari Haris, kini ia juga mendapatkan tamparan keras dari Darwin, pria itu dengan jelas-jelas membantah bahwa ia ayah dari anak yang dikandung Yunita.
“Haris mandul, Win!” teriak Yunita kemudian setelah ia cukup lama terisak dalam tangisnya.
Ting! Suara pesan ponsel Darwin.
Jessica.
[Asmira telah kembali ke kota A bersama Yun]
Darwin menggaruk kepalanya lalu ia teriak kencang karena frustrasi. Di saat istrinya telah kembali kini malah wanita lain mengaku hamil padanya.
“Tidak Ayu, aku tidak akan lagi percaya padamu setelah semua kebohongan yang telah kau perbuat padaku. Tidak, tidak akan,” ujar Darwin masih dengan pendirian.
Plakkk!!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Darwin. Lalu Yunita mendorong keras tubuh Darwin. “Dasar pria! Kau mau enaknya saja, giliran tanggung jawab kau mau lepas tangan begitu saja. Kau tidak bisa buat aku seperti ini Darwin, kalau kau tidak mau tanggung jawab, akan aku pastikan Asmira tak akan hidup tenang!” Lalu wanita itu berlari kencang menjauh dari Darwin sembari terus menangisi nasibnya.
“Kau jangan coba-coba mengancamku!” teriak Darwin.
Darwin masih terpaku di sana, ia menyangga lututnya yang lemas, lalu ia duduk di bangku taman. Pikirannya semakin kacau. Masalah yang datang silih berganti, belum sempat ia menghirup udara segar karena telah mengetahui keberadaan Asmira dan terlebih ibu dari anak-anaknya itu telah kembali ke kota A. Kini malah cobaan lain datang menghampiri.
“Lalu bagaimana jika Yunita benar hamil anakku dan Haris benar mandul lalu Asmira tahu?”
Darwin menjambak rambutnya. Lau ia kembali teriak kencang kala membayangkan itu semua akan terjadi. Rasanya ia akan benar-benar gila.
__ADS_1
“Tidak! Aku tidak akan membiarkan Asmira tahu semua ini! Aku harus menutup mulut Yunita!”
Lalu ia bergegas mengejar Yunita, wanita itu pasti belum jauh dari sana. Jalanan lumayan sepi, Darwin melaju kencang menerobos kota A.
Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, akhirnya Darwin melihat Yunita dengan mobil mewahnya, ia segera menghadangnya.
“Kau turun dulu, ayo turun!” teriak Darwin memepet mobil Yunita.
“Untuk apa? Aku tidak mau kau hina-hina lagi,” sahut Yunita.
Ciittttt!!
Suara Yunita menginjak rem mobilnya. Lalu ia turun dengan wajah penuh amarah.
“Ada apa lagi? Kau sudah gila? Kau mau mencelakai aku!” teriak Yunita, ia membanting pintu mobilnya dengan keras.
“Aku cuma minta kau tutup mulutmu jangan sampai Asmira mengetahui ini semua! Bila perlu kau gugurkan saja kandunganmu itu!”
Mulut Yunita terbuka sempurna mendengar ucapan Darwin, ia tak menyangka pria itu akan sekejam itu padanya.
“Kau benar-benar tega, Win! Terbuat dari apa hatimu sebenarnya?” Suara Yunita semakin pelan, ia tak bisa menahan tangisnya. Lalu ia jatuh pingsan.
Tidak lama kemudian, dokter keluar dengan senyuman di wajahnya.
“Tidak perlu khawatir berlebihan, pengaruh awal kehamilan saja,” ucap dokter tersebut.
“Apa yang terjadi dengan anakku?” tanya Ferry yang baru tiba.
Dokter tersenyum sembari menjawab, “Tidak ada Tuan, hanya pengaruh awal kehamilan saja.”
“Apa!? Hamil?” Ferry terkejut bukan main. Mulutnya terbuka sempurna.
“Bagaimana bisa hamil, suaminya mandul!” ucap Ferry spontan. Dokter tersebut merasa tidak enak, ia segera mohon izin pamit setelah memberikan resep obat untuk Yunita.
Ferry terus mondar-mandir di ruang rawat Yunita. Hatinya gelisah tak tenang, ia ingin mengetahui segera jawaban anaknya.
Yunita akhirnya siuman, ia mengerjapkan matanya. Begitu melihat Ferry di depannya, ia kembali memejamkan matanya.
“Sudah, cepat bangun dan katakan ada apa ini semua!” bentak Ferry. Darwin terdiam.
__ADS_1
“Maafkan aku, Pa!”
“Katakan anak siapa?”
Yunita tidak menjawab, ia melirik Darwin. Ferry melihat gerak gerik keduanya.
“Jangan bilang ini hasil liburan kalian kemarin?” tanya Ferry dengan nada tinggi.
“Pa, sudah ... jangan teriak-teriak, ini rumah sakit,” ucap Yunita.
“Kau menyalahgunakan kepercayaanku Darwin,” ucap Ferry, ia menatap tajam pada Darwin. Namun lagi-lagi Darwin hanya terdiam.
“ Aku akan mengurus perceraian kau dengan Haris, atur pernikahan kalian,” sambung Ferry.
“Tapi, Pak. Aku punya istri dan anak ~”
“Kau jangan coba lari dari tanggung jawab, atau kau akan tahu akibatnya!” Ferry menyela ucapan Darwin.
Darwin menelan ludahnya, sudah ia bayangkan, semuanya tak mudah, ia mendengus pelan. Lalu ia bangkit dari duduknya, menghampiri Yunita.
“Kau istirahatlah, aku harus pulang dulu,” ucap Darwin melemah. Namun Yunita membuang pandangannya. Darwin segera berlalu.
Setelah Darwin menghilang. Ferry kembali meluapkan kekesalannya, ia tak ingin memiliki cucu dari musuhnya sendiri. Dari awal ia merencanakan untuk menjatuhkan pria itu, lalu sekarang, anaknya mengandung bayi dari pria itu dengan hasil hubungan gelap mereka berdua.
“Bukankah bagus, Pa? Kita tidak perlu bersusah payah menjatuhkan Darwin lagi, sekarang aku punya kartu As di rahimku ini?” tanya Yunita. Ferry pun terdiam.
Sementara Darwin pulang dengan pikirannya yang semakin berkecamuk. Pikirannya bergerilya ke mana-mana, rindunya kepada putra dan istrinya semakin menjadi. Di saat seperti itu, cuma Asmira tempat pelipur laranya. Hanya wanita itu yang mengerti perasaannya.
“Aku berjanji, tidak lama lagi kita akan kembali bersama-sama,” gumam Darwin.
Malam itu ia habiskan dengan tenang. Walau pikirannya kacau, tapi ia menyimpan tenaganya untuk esok. Darwin akan mencari keberadaan Yun, ia akan membawa Asmira pulang bersamanya.
Jangan lupa like ya...
Happy reading and jangan lupa votenya juga ya, kasi koin juga boleh. Hehe.
Satu lagi, Minal Aidin wal Faidzin semua.
Untuk ke depannya, kita usahakan up tiap hari ya, berhubung kontraknya sudah di terima, jadinya author makin semangat deh up nya, buat kalian terus dukung novel ini ya. Thank u....
__ADS_1