
Setelah kejadian sore tadi. Yunita tidak berani menatap Darwin, ia memilih tidur di ranjang yang berbeda setelah membasuh tubuhnya dengan air. Mereka telah melakukan aktivitas tak yang seharusnya di lakukan. Darwin terdiam, ia menatap langit-langit kamar hotelnya.
“Apa yang telah aku lakukan,” gumamnya dalam hati.
Darwin telah menodai janji sucinya bersama Asmira. Perasaannya semakin bersalah ketika ia berkali-kali mencoba menghubungi Asmira namun tidak tersambung. Sejak sore tadi ia mencoba menghubungi anak dan istrinya namun lagi-lagi di luar jangkauan.
“Ke mana kau sayang,” gumam ia lagi.
Perlahan ia bangkit dari tidurnya, ia kenakan semua pakaiannya lalu ia keluar kamar untuk mencari makanan, ia lirik sebentar Yunita sebelum beranjak keluar.
Tidak lama kemudian ia kembali dengan membawa camilan kesukaan Yunita dan 2 gelas kopi di tangannya.
“Ayu, bangunlah, aku bawakan makanan kesukaanmu,” panggil Darwin. Namun tetap saja wanita itu tidak bergeming dari tidurnya. Darwin mendekatinya.
“Kau marah padaku?” tanya Darwin.
Darwin menarik bahu Yunita agar mengubah posisi tidurnya, namun wanita cantik itu enggan menatap Darwin. Suami Asmira itu memeluk Yunita serta mencium keningnya seraya berkata, “Maafkan aku Ayu, aku tidak bermaksud ~”
Belum sempat Darwin meneruskan kata-katanya, Yunita mencium bibir Darwin dengan ganas. Ia lingkarkan tangannya di leher Darwin. Ia membungkam mulut Darwin.
“Aku tidak marah padamu, hanya saja aku takut dengan kejadian sore tadi akan membuatku semakin sulit melupakanmu,” ucap ia setelah ciuman keduanya terlepas.
“Jangan pikirkan hari esok, yang penting sekarang kau bahagia, kan?” tanya Darwin, ia belai lembut pipi Yunita, ia cubit pelan dagunya. Yunita menganggukkan kepalanya sembari bergelayut manja di pelukan Darwin.
“Aku bahagia sekali, Win,” sahut Yunita.
“Ayo bangunlah, kau pasti lapar, kan?”
Yunita menganggukkan kepalanya dengan manja. Lalu mereka menyantap makanan di balkon kamar hotel itu, dinginnya udara malam semakin membuat keduanya lengket seakan tak ingin terlepas walau hanya sedetik pun. Sekali-kali Yunita mencium bibir Darwin dengan berani, suami Asmira itu pun tak menolaknya.
Hingga malam semakin larut, keduanya memutuskan untuk tidur. Akhirnya malam terakhir mereka berada di pulau itu, untuk pertama kalinya, Yunita mewujudkan impiannya untuk tidur bersama pria yang sangat ia cintai itu.
“Win, Haris terus menghubungiku.”
“Matikan saja ponselmu,” sahut Darwin tanpa membuka matanya. Lalu keduanya terlelap dalam keadaan masih berpelukan.
__ADS_1
••
Di saat Darwin sedang asyik-asyiknya bercumbu mesra dengan perempuan lain di pulau nan jauh di sana. Asmira menghabiskan malamnya dengan tangisan yang seakan tiada habisnya. Ia berbaring di sebelah putranya yang sudah terlelap, sementara ia masih dengan hatinya yang semakin sakit ketika ia mengingat semua kenangan indah bersama suaminya.
“Begitu mudah kau melupakan semua janji kita, Mas,” gumam ia dalam hati. Bantal tempat ia rebahkan kepalanya basah kuyup dengan air matanya yang mengalir tanpa henti.
Bu Ida yang tidur di kamar yang berbeda. mendengar sayup-sayup suara isak tangis Asmira di tengah heningnya malam. Ia mendengus pelan, ia bangkit dari tidurnya, perlahan ia melangkahkan kakinya menuju kamar Asmira. Ia intip perlahan di balik pintu. Ia mengelus-elus dadanya kala melihat wanita yang sedang mengandung itu sedang meratap pilu, Bu Ida tak dapat membendung air matanya. Ia berlari kecil kembali ke kamarnya.
“Tuhan, tenangkan hati dan pikiran Asmira, aku tak sanggup melihat ia terus berlarut-larut dalam kesedihannya,” lirih Bu Ida pelan dalam munajatnya.
Tiba-tiba ponsel Bu Ida berdering, ponsel itu merupakan hadiah dari Asmira untuknya saat pertama kali ia bekerja di sana. Pak Yun menghubunginya, ia angkat panggilan tersebut.
“Bu, maaf mengganggu malam-malam begini,” ucap Pak Yun di seberang telepon.
“Ada apa, Yun. Tengah malam begini kau telepon?” tanya Bu Ida.
“Aku khawatir dengan keadaan Asmira, aku tidak bisa tidur, Bu. Bagaimana kondisinya?”
“Sangat kacau, Yun. Dari tadi ia menangis, Ibu kasihan ....”
“Kau benar, tidak mudah melupakan ayah dari anak-anaknya, Yun.”
Kemudian panggilan singkat mereka berakhir. Pak Yun tak sabar menunggu pagi ia ingin segera bertemu dengan Asmira dan Evano.
•
Pagi harinya Asmira bangun dari tidurnya, ia mencium aroma masakan Bu Ida sangat harum, membuat ia merasa lapar. Ia mengerjapkan matanya yang terkena pancaran sinar mentari pagi yang menerpa wajah cantiknya.
Asmira terperanjat ketika ia tidak menemukan Evano di sebelahnya. Ia duduk sejenak dengan merebahkan tubuhnya di sandaran ranjang. Asmira merasakan kepalanya sangat pusing. Bagaimana tidak, semalaman suntuk ia menangis tersedu-sedu menjelang subuh ia baru tertidur.
Lalu ia bangun berjalan keluar kamar mencari keberadaan Evano. “Nak, Vano, di mana kau?” panggil ia sembari berjalan sempoyongan.
“Mami!” teriak Evano di halaman depan. Ia sedang membantu Pak Yun memetik mangga, ia naik di pundak Pak Yun.
Asmira turun lalu mendekati keduanya. “Mas Yun, katanya tidak datang kemari hari ini?” tanya Asmira, ia mengambil mangga yang berikan Evano.
__ADS_1
Pak Yun menurunkan Evano, ia tersenyum pada Asmira. “Aku khawatir keadaan kalian berdua,” ucapnya kemudian.
“Maafkan kami yang selalu merepotkan Mas Yun,” ucap Asmira, ia menundukkan kepalanya.
“Hei, jangan sekali-kali kau ucapkan kata-kata itu lagi,” ujar Pak Yun ia menarik dagu Asmira hingga pandangan keduanya beradu.
Pak Yun segera membuang pandangannya, ia tak sanggup melihat wajah sendu itu. Ia mengajak Evano memetik lagi mangga yang sudah matang itu.
“Mami, mandi sana, bau!” teriak Evano begitu ia naik ke pundak Pak Yun.
“Apa kau bilang!?”
Pipi Asmira merah merona, ia sangat malu dengan ucapan Evano barusan. Ia berlari kecil masuk ke dalam rumah. Bu Ida menggelengkan kepalanya melihat ibu dan anak itu. Evano selalu saja mengganggu Asmira, dan dengan polosnya Asmira pun selalu menjadi bulan-bulanan anaknya.
Setelah sarapan pagi, kemudian Pak Yun mengajak Asmira ke suatu tempat yang tidak terlalu jauh dari rumah Bu Ida. Evano tidak ikut, Bu Ida mengajaknya bermain di halaman rumah.
“Kita mau ke mana, Mas?” tanya Asmira.
“Kau pasti suka, ayolah,” ajak Pak Yun menggandeng tangan Asmira.
Mereka tiba di perkebunan teh yang cukup luas. Pemandangan yang indah membuat suasana hati Asmira sedikit lebih tenang. Ia pejamkan matanya serta menarik nafasnya dalam-dalam ia lepaskan perlahan-lahan. Angin bertiup sepoi-sepoi menerpa wajah cantiknya. Pak Yun menatap Asmira tanpa berkedip, ia merasa iba dengan wanita di hadapannya itu. Asmira tipikal wanita ceria, tapi 3 hari belakangan ini tidak terlihat lagi senyuman itu dari bibirnya.
Perlahan air mata Asmira kembali berderai membasahi pipinya. Ia menyeka dengan punggung tangannya, namun Pak Yun mencegahnya.
“Jangan, menangislah. Luapkan segala emosi yang kau pendam, teriak sekencang-kencangnya agar kau merasa lega.”
“Mas!!! Aku benci kau!! Mana janjimu dulu!?” teriak Asmira kencang, ia tak peduli lagi dengan kehadiran Pak Yun di sana. Ia menangis sekencang-kencangnya ia keluarkan semua sumpah serapahnya kepada Darwin.
Lalu ia belai lembut perutnya. Pikirannya kembali bergejolak kala mengingat bahwa dirinya sedang mengandung anak dari pria
yang kini menyakitinya. “Bagaimana nasibmu kelak, Nak?” ucapnya di sela tangisnya. Lututnya tak mampu menyangga tubuhnya yang lemah, ia terjerembap ke tanah.
Pak Yun mengangkat tubuh Asmira lalu Asmira memeluk erat pria di hadapannya itu, ia benamkan wajahnya di sana. Dada bidang Pak Yun menjadi sasarannya, ia pukul-pukul dengan keras, Pak Yun hanya diam saja membiarkan Asmira meluapkan segala emosinya. Ia usap lembut kepala Asmira.
“Jangan pernah merasa sendiri, aku selalu ada kapan saja kau membutuhkannya,” gumam Pak Yun dalam hati.
__ADS_1
Jangan lupa like ya...