
“Pagi, Pak,” sapa karyawan yang berpapasan dengan Darwin. Sang direktur baru saja tiba di kantor setelah mengantar anaknya sekolah.
“Pagi ...” balas Darwin tersenyum ramah.
Darwin melangkah masuk ke ruangannya, ia melewati ruangan Pratiwi, asistennya itu selalu tiba tepat waktu, soal kedisiplinan Pratiwi tidak diragukan lagi oleh Darwin.
Akhir-akhir ini, beban kerja Pratiwi semakin besar. Pasalnya Darwin sedang fokus mengerjakan proyek bersama Haris, semua kerjaan lainnya ia limpahkan pada asistennya yang merupakan orang kepercayaannya selama ini.
“Permisi, Pak.”
Suara seorang wanita di luar, yang tak lain adalah Pratiwi. Darwin mempersilahkan wanita itu masuk.
“Ada apa?” tanya Darwin.
Pratiwi menghampiri Darwin, aura wajahnya menampakkan bukan berita bagus yang akan ia sampaikan, ia tersenyum kecut lalu duduk di hadapan Darwin.
“Ada sedikit masalah, Pak.”
“Katakanlah ....”
“Pak Haris mengirimkan email baru saja, beliau mengajak bertemu siang ini di Cafe biasa.”
“Ada masalah apa lagi, bukankah kemarin sudah beres. Baru saja 3 hari yang lalu kita bertemu dengannya?”
“Maaf Pak, saya tidak tahu. Hanya itu yang pak Haris katakan,” ujar Tiwi, ia lirik bosnya itu.
Darwin menatap keluar jendela dengan kedua tangan yang ia masukkan ke dalam sakunya. Terlihat ia sedikit khawatir mendapatkan email dari Haris, pikirannya tidak enak.
“Baiklah, persiapkan file kita akan segera berangkat, hari ini kau ikut.”
Darwin masih menatap keluar, entah apa yang ia pikirkan masih menjadi tanda tanya asistennya itu. Tanpa berani bertanya lagi, Pratiwi segera keluar.
Satu jam kemudian mereka segera berangkat, namun Tiwi tampak panik, ia mondar-mandir di tempat parkir, Darwin keluar menuju arah Tiwi yang sudah menunggunya sedari tadi.
“Pak, file pertemuan kemarin sudah Anda periksa lagi?” tanya Tiwi hati-hati dengan suara pelan.
__ADS_1
“Sudah beres, pak Haris juga sudah menyetujui semuanya.”
“Tapi, Pak. Berkas yang Anda berikan kemarin tidak lengkap, ada data yang hilang. Saya minta maaf, kemarin waktu Anda berikan tidak langsung saya cek,” ucap Tiwi menundukkan kepalanya.
Pratiwi menyerahkan map hasil pertemuan kemarin, mata Darwin terbelalak sempurna melihat file itu, ada bagian yang menghilang, Ia mendengus kasar.
“Tunggu di sini.”
Darwin kembali ke ruangannya, ia teringat kemarin sebelum pertemuan ia sudah menyimpan duplikat di flashdisk. Tiba di ruangannya, Darwin kembali harus menelan ludah, flashdisk tersebut tidak ada. Ia kelabakan, setiap laci ia buka tapi tetap saja ia tidak menemukan flashdisk tersebut.
“Bagaimana, Pak?” tanya Tiwi.
“Tidak ada Tiwi.” Darwin menggaruk kepalanya.
Pratiwi berpikiran lain, ia menyipitkan matanya. “Apa ada sesuatu yang terjadi di hari pertemuan itu, Pak?”
Darwin mencoba mengingat kejadian hari itu, ia memutar cepat bola matanya pada Tiwi. “Ada seorang wanita menabrak saya di pintu keluar,” ujar Darwin.
“Sudah saya duga, itu sebabnya dari awal saya selalu mengatakan kita harus ekstra hati-hati, Pak.”
Darwin mengajak Pratiwi segera berangkat. Ia punya rencana untuk menghadapi masalah yang menjeratnya kini. Dalam perjalanan ia mengatakan rencananya pada Pratiwi, sang asisten tersenyum lega setelah mendengar semua jalan keluar dari bosnya.
Mereka tiba di Cafe tempat pertemuan kemarin. Haris sudah menunggu, ia menjabat tangan Darwin sembari tersenyum. Sebelum meeting di mulai, seperti biasa, karena bertepatan dengan jam makan siang, mereka menyantap makan siang terlebih dahulu.
“Pak, saya permisi ke toilet sebentar?” pinta Pratiwi.
Darwin mengangguk pelan, sejurus kemudian Pratiwi menghilang dari pandangan mereka. Darwin mengalihkan suasana, ia berbincang-bincang hangat dengan Haris. Meski terlihat seperti bukan Darwin yang biasanya, ia tetap mencoba memberi kesan seperti tidak terjadi apa-apa.
Pratiwi menemui manajer Cafe tersebut. Ia ingin melihat hasil Cctv tiga hari yang lalu. Perdebatan sempat terjadi, setelah menjelaskan panjang lebar, akhirnya Pratiwi mendapatkan lampu hijau, dengan iming-iming Darwin akan memberikan modal untuk Cafe tersebut.
Cctv tiga hari yang lalu pun di putar, namun kembali ada kejanggalan dalam rekaman tersebut, tepat jam 14:00 ada bagian yang menghilang selama 4 menit.
Pratiwi mendesak sang manajer dengan tuduhan telah bekerja sama dengan Haris. Dengan sedikit gemetar dan kelabakan sang manajer membantah tuduhan Pratiwi, ia tidak tahu menahu persoalan tersebut.
Kemudian manajer itu menghubungi asistennya ia menanyakan siapa yang bertugas menjaga monitor Cctv tiga hari yang lalu.
__ADS_1
Setelah mendapatkan informasi mengenai pelaku yang sudah bekerja sama dengan Haris, Pratiwi menghubungi orang suruhan perusahaan untuk mendatangi alamat wanita yang merupakan pelaku itu.
Pratiwi cukup lama meninggalkan meja makan, ia segera kembali ke sana setelah semuanya usai. Namun sebelum bergabung dengan mereka, ia mengambil segelas air lalu ia percikkan ke bajunya. Sang manajer yang masih mengikuti Pratiwi menyipitkan matanya melihat kelakuan wanita di hadapannya itu.
“Lama sekali, Wi?” tanya Darwin sembari tersenyum.
“Maaf, Pak.Tadi ada sedikit masalah di toilet,” sahut Pratiwi sembari mengibaskan tangannya menyapu baju yang sedikit basah.
Tiba-tiba ponsel Haris berdering, ia menyipitkan matanya ketika melihat layar ponselnya yang masih nyaring bunyinya. Lalu ia sedikit menjauh ketika ia sudah menjawab panggilan tersebut.
“Bagaimana?” tanya Darwin dengan suara pelan. Pratiwi hanya mengacungkan jempolnya.
Sesaat kemudian Haris kembali bergabung dengan Darwin, namun ia terlihat panik. “Maaf, Pak Darwin. Sebaiknya meeting kita tunda dulu, saya harus kembali ke kantor, ada sedikit masalah.”
Haris masih berdiri, ia menjabat tangan Darwin, namun suami Asmira itu hanya tersenyum ketika ia menyambut tangan Haris yang terasa dingin. Belum sempat mereka meeting Haris meninggalkan Cafe tersebut.
“Saya sudah menyuruh orang kantor mengikuti pak Haris,” ucap Tiwi ketika Haris mulai menghilang dari pandangannya.
“Saya masih tidak habis pikir, siapa dalang di balik ini semua, apa tujuan mereka sebenarnya.” Darwin menatap lurus ke depan.
“Siapa pun itu, Anda tetap harus waspada, Pak. Bisa saja orang yang di masa lalu Anda yang sudah lama membaca gerak-gerik Anda, hingga dengan mudah mereka melancarkan semua rencananya.”
Setelah mengantar Tiwi kembali ke kantor, Darwin segera pulang ke rumah. Dalam perjalanan ia kembali terngiang-ngiang akan kata-kata yang diucap Pratiwi.
“Siapa musuhku di masa lalu, selama ini aku selalu bersaing secara sehat. Ya Tuhan ... lindungi aku dan keluargaku,” gumam Darwin.
Asmira sedang menyiram tanaman di temani Bu Ida dan Vano yang sedang bermain kejar-kejaran dengan Pak Yun. Ia menyipitkan matanya ketika melihat mobil suaminya memasuki pekarangan rumah.
“Papi ....” Evano berlari ke pelukan Darwin.
“Mas, apa Mas baik-baik saja?” tanya Asmira.
“Ya, apa aku terlihat buruk?”
“Enggak, cuma enggak biasanya Mas pulang jam begini,” sahut Asmira. Lalu mereka sama-sama masuk ke dalam.
__ADS_1
Jangan lupa like ya...