
Setelah mengurus semua berkas pencabutan atas kasus Fenita. Hari ini, Asmira mewakili Rose mendatangi kantor polisi di temani Darwin sang suami.
Tiba di sana, Kelvin sudah menunggu bersama pengacaranya. Pengacara Kelvin langsung mengambil alih dan menyelesaikan semua dengan cepat.
Setelah semua selesai, Fenita dinyatakan bebas bersyarat. Setiap seminggu sekali Fenita harus melapor ke kantor polisi.
“Terima kasih, Nak.” Air matanya berlinang ketika ia memeluk Asmira.
“Bukan aku yang membebaskan Tante, tapi mbak Rose,” ujar Asmira melepaskan pelukan Fenita.
Ada rasa terkejut di wajah Fenita saat nama Rose terucap oleh Asmira. Fenita tak menyangka Rose yang membebaskan dirinya.
“Ayo antar pulang Mama, Vin. Mama udah enggak sabar ingin ketemu GrandMa.”
Kelvin terdiam mendengar permintaan Fenita. Asmira dan Darwin saling melempar pandangan, apa yang harus Kelvin katakan pada Fenita. Fenita pasti akan syok mengetahui ibunya telah meninggal setahun yang lalu.
“Baik, Ma. Ayo?”
Kelvin segera pulang bersama Fenita, sementara Darwin mengantar Asmira pulang ia akan segera menuju kantor setelah itu.
“Mas, ini kan bukan arah rumah kita?”
“Memang benar,” sahut Darwin tersenyum.
“Jadi?” Asmira mengerutkan keningnya.
“Udah tenang, bentar lagi sampai.”
Asmira memonyongkan bibirnya karena tidak mendapat jawaban yang tepat dari Darwin.
15 menit kemudian mereka tiba di sebuah dealer mobil yang cukup mewah dengan gedung yang megah. Asmira tersenyum melihat Darwin membawanya ke sebuah showroom mobil.
“Kenapa senyum-senyum?” tanya Darwin.
“Enggak, siapa yang senyum,” sangkal Asmira.
“Halah, bilang saja senang Mas ajak kemari.”
Asmira tidak menjawab, ia menggandeng tangan Darwin melangkah masuk ke dalam.
“Selamat siang, selamat datang,” sapa karyawan dealer.
Darwin ingin melihat mobil keluaran terbaru tahun 2020 yang cocok dikendarai oleh wanita. Karyawan tersebut menunjukkan berbagai jenis mobil mewah serta menjelaskan semua secara detail mengenai mesin dan sebagainya mengenai mobil yang di minta oleh Darwin.
“Mas, aku enggak suka warna itu,” bisik Asmira ketika karyawan sedang menjelaskan pada Darwin.
Sebelum memutuskan akan membeli yang mana, Darwin terus menanyakan kualitas terbaik agar tidak salah pilih.
“Soal harga gimana ya, Pak?” tanya Asmira.
__ADS_1
“Kalau yang kuning 1,1 M yang putih ini 1,2 M sementara yang Biru tersebut 900 juta sekian.”
Mulut Asmira terbuka lebar mendengar harga fantastis untuk sebuah mobil. Darwin tersenyum melihat Asmira sekaget itu.
“Udah biasa saja, maunya warna yang mana dan type apa?” tanya Darwin. Sang karyawan pun ikut tersenyum dengan tingkah Asmira.
“Mas, yang lain aja yuk? Yang harga 50 jutaan gitu, ada Pak?” tanya Asmira pada karyawan itu yang membuat sang karyawan menahan tawanya.
“Kamu ini.” Darwin mencubit lengan Asmira pelan.
“Sakit Mas.” Asmira memonyongkan bibirnya.
“Pilih sekarang, jangan banyak bicara. Kamu ini ada-ada saja.”
Setelah Darwin membayar dan test Drive mereka segera pulang. Sementara mobil akan di antar oleh karyawan dealer nantinya ke rumah.
“Mas, kan kita udah beli mobilnya, kenapa enggak kita bawa pulang, nanti kalau di ambil orang lain gimana?”
Darwin tersenyum mendengar pertanyaan bodoh Asmira. Ia mengacak-acak rambut istrinya itu.
“Untung Cuma kita berdua, coba ada Vano. Habis kamu jadi bahan ejekan dia.” Darwin kembali tertawa pecah.
“Coba saja, aku jewer dia.” Asmira menyilang kan kedua tangan di dadanya.
“Hey, enggak boleh begitu,” ujar Darwin.
“Enggak Mas, aku Cuma bercanda.” Asmira tersenyum manis pada Darwin. Darwin mencubit hidung mungil Asmira dengan gemas.
“Mas, aku naik taksi saja.”
“Sudah, lagian masih setengah jam lagi.”
“Tapi kan Mas harus cek dulu semua berkasnya, udah turunin di halte depan saja. Buruan Mas ke kantor.”
“Tapi sayang ....”
“Udah, berhenti,” ujar Asmira.
Dengan berat hati, ia turunkan Asmira di halte. Sebelum turun ia sempatkan mencium kedua pipi dan kening Asmira. Kemudian ia segera menuju kantornya.
Asmira dan Vano tiba di rumah berbarengan dengan tibanya mobil baru di rumah. Yang di antar oleh pihak dealernya sendiri.
Evano menatap tajam pada mobil baru itu dan saat serah terima kunci ia diam saja dengan kedua tangan di saku celananya dengan pandangan tanpa berkedip. Setelah driver dan karyawan tersebut menghilang dari rumahnya ia mengitari mobil baru tersebut.
“Buat Mami?” selidik Evano.
“Iya, bagus, kan?” tanya balik Asmira.
“Kebagusan kalau buat Mami.”
__ADS_1
“Kamu ini, memangnya enggak boleh yang bagus-bagus buat Mami?”
“Boleh, cuma sayang duit, ngapain Papi beli mobil semewah ini buat Mami. Harusnya itu yang harga di bawah 500 JT.”
“Kamu masih kelas 1 SD, sok tahu.”
“Ya memang tahu.” Evano menaiki tangga dan masuk ke dalam.
Asmira masih terbengong melihat tingkah putranya. “Terus apa maksudnya ini kebagusan buat aku?” Asmira berkacak pinggang kemudian ia mengikuti Evano masuk.
Setelah masak, Asmira mandi, kemudian ia makan bersama Evano. Setelah makan Asmira membantu Evano mengerjakan tugas sekolah.
Namun saat Asmira melihat Evano mengerjakan semua tugas-tugasnya Asmira terheran-heran, tidak ada satu pun yang Evano tanyakan padanya.
“Kalau kamu bisa sendiri, ngapain ajak Mami?” tanya Asmira kemudian.
Evano memutar bola matanya menatap Asmira. “Mami gimana sih? Aku menghargai Mami sebagai orang tuaku lah. Sekalipun aku bisa,” sahut Evano.
“Kamu ini, tiap hari berdebat dengan Mami. Bisa enggak kalau sekali Mami ngomong enggak usah di tanggapi?” tanya Asmira.
Evano tidak menjawab, ia terus menulis tugasnya bahkan tanpa menoleh Asmira yang sedang ambekan dengannya.
“Tuh kan diam,” ujar Asmira kemudian.
“Mami maunya gimana, sih? Tadi katanya suruh aku jangan tanggapi omongan Mami, ya sekarang aku diam.”
Asmira benar-benar kehabisan kata-kata dengan putra kecilnya itu. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jika ia semakin hari semakin pintar dan selalu menggodanya setiap hari seperti yang ayahnya lakukan.
Ponsel Asmira berdering. Jessica menghubungi Asmira. Asmira menarik nafas lega.
“Halo, kenapa, Dek?” tanya Jessica mendengar Asmira menghembuskan nafasnya kasar.
“Aku kesal Mbak. Kesel banget ...” ujar Asmira. Sekilas Evano melirik Asmira lalu ia tertawa kecil.
“Kesal kenapa? Mbak mengganggu, ya?”
“Bukan, bukan Mbak. Tuh, ponakanmu Mbak setiap hari ia menggodaku.”
Jessica tertawa mendengar omongan Asmira. “Aku mau ke rumah Nindy, kamu mau ikut enggak?” tanya Jessica kemudian.
“Aku udah pergi sama mas Darwin kemarin, Mbak.”
“Oh, ya sudah. Nanti sepulang dari sana aku mampir ke rumahmu, ya?”
“Oke deh Mbak.”
Setelah panggilannya dengan Jessica berakhir Asmira kaget karena Evano memeluknya erat serta menciumi pipinya bertubi-tubi.
“Maafkan Vano, Mi?” ujar Evano memeluk leher Asmira. Asmira mengacak-acak rambut anaknya ia tersenyum lalu mencium pucuk kepala anaknya.
__ADS_1
“Udah, Mami cuma bercanda saja.”
“Elia mau ke sini ya, Mi?” tanya Evano, Asmira mengangguk sambil tersenyum. “Yeaayy!” teriak Evano girang.