Eternal Promise

Eternal Promise
Part 42


__ADS_3

Darwin tiba di bandara bersama Yunita menjelang siang. Setelah melakukan penerbangan beberapa jam lamanya, kini mereka tiba di kota A. Darwin kaget bukan main ketika melihat Pak Ferry menunggu mereka di sana. Ia menyipitkan matanya.


“Kenapa Pak Ferry di sini?”


“Ya jemput kita dong!” sahut Yunita serius, dengan santainya ia peluk ayahnya erat seakan-akan tidak terjadi apa-apa.


“Bagaimana liburanmu, sayang?” tanya Pak Ferry. Yunita hanya membalas dengan senyuman dan mempererat pelukannya.


Berarti Pak Ferry tahu dong, aku berlibur dengan Yunita? Pikir Darwin. Ia menundukkan kepalanya ketika bersalaman dengan Pak Ferry. Namun ayahanda Yunita tersebut bersikap cuek, ia seolah-olah tidak tahu apa-apa.


Sebelum Pak Ferry mengantar Darwin pulang, ia mengajak pria yang di cintai anaknya itu makan siang terlebih dahulu. Setelah acara makan siang selesai akhirnya Darwin pulang ke rumahnya. Darwin membeli banyak oleh-oleh untuk Asmira dan Evano. Ia tak sabar bertemu dengan mereka, dari kemarin ia hubungi tapi tidak tersambung.


“Terima kasih untuk waktunya, Win,” bisik Yunita. Darwin hanya membalas dengan senyuman.


Darwin menarik nafasnya dalam-dalam sebelum ia memantapkan langkahnya masuk ke rumahnya. Darwin mengetuk pintu, ia menggigit bibir bawahnya, jantungnya berdegup kencang. Sudah beberapa kali ia ketuk tiba-tiba terdengar langkah kaki dari dalam mendekat lalu pintu terbuka.


“Cari siapa, ya?”


“Anda siapa!?”


Darwin terkejut melihat orang tak ia kenal berada di rumahnya. Sama halnya dengan pemilik baru rumah itu, ia bingung siapa yang bertamu siang-siang hari.


“Istri saya mana?” tanya Darwin, ia mendongakkan kepalanya melihat ke dalam rumah.


“Istri siapa? Saya pemilik baru rumah ini, Anda siapa?” tanya wanita tua itu.


“Apa? Pemilik baru? Jangan bercanda Nyonya! Ini rumah saya, mana istri saya?”


Darwin memaksakan diri untuk masuk, namun tetap saja wanita tua itu menghalanginya. “Anda jangan sembarangan kalau tidak saya hubungi polisi!” teriak wanita itu kesal.


“Sayang! Asmira! Aku pulang!” teriak Darwin, ia tak ingin berbuat kasar dengan wanita tua di hadapannya.


Mendengar nama Asmira disebut, wanita tua itu menghentikan aksinya. “Jadi kau suami dari wanita pemilik rumah ini?”

__ADS_1


Darwin menganggukkan kepalanya, lalu wanita itu pun bercerita bahwa Asmira telah menjual rumah itu padanya 2 hari yang lalu. Ia mengambil sertifikat rumah tersebut ia tunjukkan pada Darwin.


Darwin mundur sembari menggelengkan kepalanya tak percaya. Ia menutup wajah dengan kedua tangannya. “Tidak mungkin, Bu. Ini tidak mungkin! Tidak!” teriak ia kencang. Lututnya terasa lemas, ia jatuh di lantai rumah yang kini telah berpindah ke lain tangan.


“Sayang, apa yang terjadi selama aku pergi, kau ke mana?” Lalu ia bangkit dari duduknya ia bertanya ke mana istrinya pindah namun wanita itu tidak tahu menahu. Ia juga mengatakan bahwa semua barang-barang dan mobil di rumah tersebut telah di kirim ke alamat yang di berikan Asmira.


Darwin tersenyum, ia menyangka Asmira pindah ke rumah baru mereka. Ia mengusap matanya yang mulai berkaca-kaca. “Ibu tahu alamat tersebut?” tanya ia kemudian.


“Kalau tidak salah jalan Melati lorong Anggrek,” sahut wanita itu.


Darwin tersenyum lega, ia melangkah keluar. Lalu ia cegat sebuah taksi kemudian ia bergegas menuju rumah barunya yang terletak di jalan di sebutkan wanita itu, yang merupakan juga jalan menuju rumah Marco.


Setelah menempuh perjalanan sekitar beberapa menit, ia tiba di rumah barunya. Namun tidak ada tanda-tanda adanya kehidupan di sana. Rumah yang menjulang tinggi itu terlihat sepi dan tak terurus. Darwin mulai panik, ia melangkah masuk masih dengan koper di tangannya.


“Sayang!” panggil Darwin keras, ia ketuk pintu berulang-ulang.


Namun tidak ada satu penghuni pun di rumah itu. Darwin mulai frustrasi, ia mengambil ponselnya. Tapi tetap saja nomor Asmira tidak bisa dihubungi.


Ia keluar mencari taksi lalu menuju rumah Marco yang hanya jarak beberapa ratus meter saja. Tiba di sana, ia ragu. Ia hentikan langkahnya di pintu gerbang rumah orang tuanya. Darwin benar-benar linglung. Tiba-tiba sebuah taksi berhenti di depannya. Bu Marni keluar dengan banyak belanjaan di tangannya.


“Tuan Muda!” Bu Marni terkejut melihat Darwin dengan koper di tangannya.


“Bu, apa Asmira di sini?” tanya Darwin.


“Tidak, nyonya Asmira tidak di sini. Itu yang saya penasaran, kenapa semua barang-barang Anda di pindahkan kemari Tuan?”


Deg.


Jantung Darwin berdegup kencang. Matanya terbelalak, ia tak menemukan Asmira di sana. Ia tak mungkin masuk ke dalam. Ia tak mau seribu pertanyaan timbul di pikiran orang tuanya. Ia memutuskan untuk pergi ke rumah Jessica.


“Bu, saya permisi dulu ya, jangan bilang mama kalau saya ke sini!”


Ia berlalu pergi dengan sebuah taksi menuju rumah Jessica. Bu Marni masih tidak mengerti apa yang terjadi, dengan wajah bingung ia melangkah masuk ke dalam.

__ADS_1


Darwin seperti orang gila, ia tampak kebingungan. Jam sudah menunjukkan pukul 16:00 ia masih saja belum menemukan keberadaan Asmira. Ia masih belum tahu apa penyebab istrinya pergi dan menjual rumah pemberiannya.


Pembantu rumah Jessica membukakan pintu untuk Darwin. Jessica keluar dari kamarnya, ia baru saja menidurkan Elia, putrinya itu sedang tidak sehat. Mata Jessica terbuka sempurna ketika ia mengetahui siapa tamu sore itu, amarahnya seketika kembali memuncak kala melihat satu koper di tangan Darwin.


“Mbak, apa Asmira di sini?” tanya Darwin begitu melihat Jessica mendekat padanya.


Namun di luar dugaan Darwin, bukan jawaban yang ia dapati setelah cukup pusing mencari keberadaan Asmira tapi sebuah tamparan cukup keras mendarat di pipinya. Darwin meringis kesakitan. Ia membelai pipinya yang terasa panas.


Nafas Jessica memburu, wajahnya memerah, perlahan air mata berlinang di pipinya. “Gila kau! Aku benci punya adik jahat seperti kau! Keluar kau dari rumahku!” teriak Jessica memukul Darwin dengan keras di bahunya.


“Mbak! tenang!” teriak Darwin, ia peluk Jessica erat, namun Jessica mampu melepaskan eratnya pelukan Darwin.


“Apa yang terjadi?” tanya Darwin lagi.


“Tenang kau bilang? Apa kau bisa tenang setelah pulang tidak menemukan istri dan anakmu bahkan rumah telah terjual!” teriak Jessica lagi.


Darwin terdiam, ia menghembuskan nafasnya kasar. Ia tidak tahu apa yang telah terjadi selama ia pergi beberapa hari yang lalu.


“Asmira ke mana, Mbak?” lirih Darwin.


“Untuk apa kau tanyakan istrimu? Bukankah kau senang baru pulang berlibur dengan perempuan lain!” teriak Jessica.


Darwin menatap wajah kakaknya itu. Jantungnya berdegup kencang, lalu ia buang pandangannya, ia tak sanggup melihat tajamnya pandangan Jessica.


“Apa? Kenapa kau diam! Apa kau kira aku tidak tahu tingkah bejatmu! Kau sudah gila! Sekarang tanggung jawab atas semua perbuatanmu. Kau cari istri dan anakmu sebelum mama papa tahu. Kalau sesuatu terjadi dengan orang tua kita, kau yang aku salahkan!” pekik Jessica lagi. Darwin terdiam ia tidak tahu harus berkata apa. Matanya berkunang-kunang pandangannya buram, perlahan air mata jatuh di pipinya. Ia tidak tahu kapan terakhir kali ia menangis.


Jangan lupa like ya.


Untuk yang belum klik ikuti mending di pencet dulu deh, masuk grup juga ya..


Satu lagi, Votenya di tunggu ya.


Thank you. Happy reading reader ku semua!!

__ADS_1


__ADS_2