
“Mami, aku ingin bertemu Nany ...” rengek Evano. Sejak hari pertama mereka kembali ke kota A. Hanya itu saja permintaan Evano, Asmira dibuat pusing oleh putranya itu.
“Besok saja, ya?” sahut Asmira mencoba menolak secara halus, sebenarnya ia bukan ingin memisahkan Evano dari neneknya. Asmira hanya tidak ingin bertemu dengan mereka lagi.
“Dari kemarin, begitu terus jawaban Mami!” gerutu Evano, ia entakkan kakinya lalu berlari ke dapur mencari Bu Ida. Evano selalu meluapkan segalanya pada Bu Ida jika ia sedang marah dengan Maminya.
Lalu Asmira menghubungi Yun. Barangkali pria itu bersedia mengantar Evano bertemu kakek neneknya. Asmira tak tega melihat Evano tersiksa seperti itu, ia sudah cukup lama memendam rindu terhadap mereka. Asmira tahu betul bagaimana perasaan Evano kini.
“Ada apa, Mira?” sahut Yun di seberang.
“Mas, lagi sibuk enggak? Maaf ya mengganggu.” Asmira merasa tidak enak, apalagi di waktu jam kerja seperti itu.
“Tidak, katakan ada apa?” balas Yun.
“Begini, Mas. Evano minta pergi ke rumah neneknya, cuma ~”
“Nanti siang aku jemput, ya?” Yun menyela pembicaraan Asmira. Wanita itu pasti ingin memintanya mengantarkan Evano.
“Terima kasih ya, Mas. Evano pasti gembira mendengarnya. Kalau begitu selamat bekerja kembali,” ucap Asmira.
“Oya, kau jangan terlalu asyik menonton ya, apalagi Youtube, mending baca buku-buku saja,” pinta Yun.
Asmira mengerutkan keningnya, lalu ia tertawa kecil sembari berkata, “Kau aneh, Mas. Sejak kapan memangnya aku suka melakukan semua aktivitas yang kau sebut barusan?”
Terdengar suara tawa Yun di seberang. Lalu panggilan singkat itu pun berakhir. Tanpa rasa curiga Asmira mengikuti semua permintaan Yun. Padahal pria itu sengaja meminta ia agar tidak menonton berita yang sedang beredar mengenai desas-desus perselingkuhan suaminya dengan wanita lain, Yun tak ingin semua itu berpengaruh pada kehamilan Asmira. Jika saja Asmira tak hamil, Yun ingin sekali perceraian mereka segera berlangsung, Yun ingin membebaskan Asmira dari suaminya. Tapi, apa boleh buat. Secara agama saja tidak di benarkan itu terjadi. Asmira harus bersabar hingga masa persalinannya kelak tiba.
“Sayang, kau siap-siap, ya?” pinta Asmira.
“Aku tidak mau jalan-jalan, aku mau ke rumah Grandpa!”
__ADS_1
Asmira mengusap lembut kepala Evano sembari tersenyum. “Iya, kita ke rumah Nany, tapi Mami tidak ikut, ya?”
“Mami tidak rindu Nany?” tanya Evano polos dengan wajah yang menggemaskan.
“Rindu, Mami titip salam ya buat Nany dan Grandpa?”
Evano terdiam, lalu ia menganggukkan kepalanya mengiyakan permintaan Maminya. Lalu ia pun segera bersiap-siap dengan Bu Ida. Sebentar lagi ia akan di jemput Yun.
Siang harinya. Yun tiba di rumah yang Asmira tempati kini, rumah megah itu merupakan salah satu milik keluarganya yang sudah lama tak di tempati. Dulu, ia lebih memilih tinggal di apartemen. Dan sekarang, rumah yang lama terbengkalai itu akhirnya ada juga yang menghuninya.
“Mas, makan dulu, belum makan, kan?” tanya Asmira saat Yun tiba di sana.
“Kebetulan belum,” sahut ia mengiyakan, kebetulan ia juga sangat lapar.
“Om!” teriak Evano yang baru keluar dari kamar bersama Bu Ida, ia sudah tampil rapi.
“Hei bos!” sahut Yun sembari melambaikan tangannya pada Evano.
Lalu mereka makan bertiga siang itu. Sementara Bu Ida sedang membereskan mainan Evano yang berserakan di ruang tamu. Beliau iseng menyalakan televisi, sembari membersihkan lantai beliau asyik mendengarkan musik. Kemudian tiba-tiba acara musik dangdut yang beliau suka sudah selesai. Di ganti dengan lagu luar negeri.
“Ganti Channel ah, aku juga tidak mengerti apa yang mereka nyanyikan,” gumam Bu Ida sendiri. Kemudian ia mengganti Channel. Lalu ia meneruskan pekerjaannya tersebut.
Lalu acara Infotainment siang pun mulai. Bu Ida tidak memperhatikan televisi, ia sibuk meneruskan pekerjaannya. Lalu tiba-tiba saat pembawa acara menyebutkan nama Marcell Darwin Antonio, Bu Ida terdiam, ia memperhatikan berita tersebut.
Hari ini Handika Riski suami Ayu Nita terlihat mendatangi pengadilan agama, pria yang akrab di sapa Haris itu menggugat cerai istrinya yang ternyata sedang hamil muda. Usut punya usut ternyata bayi yang di kandung wanita yang masih sah istrinya itu bukanlah darah dagingnya. Kami mendapatkan informasi bahwa Haris mandul. Lalu siapakah ayah dari anak yang di kandung Yunita?
Lalu beberapa potret yang menampakkan kemesraan Yunita dan Darwin pun di perlihatkan. Serta isu-isu kedekatan keduanya pun di beritakan jua. Bu Ida terkejut bukan main, ternyata wanita yang sedang di beritakan itu adalah selingkuhan Darwin, wanita itu yang menyebabkan rumah tangga keduanya hancur. Bu Ida sedang menggenggam gelas di tangannya tanpa sadar, gelas itu terjatuh lalu hancur berkeping-keping. Bu Ida menutup mulut dengannya karena syok dengan pemberitaan yang sedang beredar.
Pringgg!!!
__ADS_1
Yun dan Asmira mendengar suara gelas pecah, mereka sedang asyik menyantap makan siang di meja makan. Keduanya sontak berlari menuju ruang tamu mencari penyebab sumber suara tersebut.
“Bu, ada apa?” tanya Asmira saat mereka tiba di ruang tengah.
Bu Ida terkejut, ia menyeka air matanya. Lalu ia menghalangi pandangan Asmira dari layar televisi dengan badannya, ia menutupinya agar Asmira tidak melihat pemberitaan yang cukup menyayat hati itu.
Namun tetap saja, walau Asmira tidak bisa melihat layar televisi, tapi ia tidak tuli, ia bisa mendengar semua pemberitaan itu. Lalu Asmira tersenyum kecut, ia mundur beberapa langkah ke belakang lalu ia terjatuh di sofa. Perlahan air mata berlinang di pipinya.
“Aku tidak tahu apa lagi yang aku tangisi ...” lirih Asmira pelan. Lalu Yun mematikan televisi.
“Maafkan Ibu Yun, maafkan Ibu,” ucap Bu Ida berkali-kali, ia merasa bersalah.
“Sudahlah, Bu. Bawa Evano keluar,” pinta Yun.
Yun duduk di sebelah Asmira, ia terdiam tak tahu harus berbuat apa. Yun sadar, walau bagaimanapun ia mencoba menyembunyikan itu dari Asmira, tetap saja hal buruk akan terungkap dengan sendirinya.
“Ini alasanmu memintaku untuk tidak menonton?” tanya Asmira kemudian.
Yun mendengus pelan sembari menjawab, “Aku hanya tidak ingin kau kenapa-kenapa.”
“Kau kira selama ini aku baik-baik saja, Mas!” teriak Asmira.
“Tidak! Aku tidak baik-baik saja, Mas!” lanjutnya lagi.
Yun memeluk tubuh Asmira, ia dekap erat wanita itu. Yun menahan tangisnya, ia menengadah ke langit-langit. Tak sanggup ia bayangkan betapa kuatnya Asmira menahan sakit hatinya yang terus menerus di sakiti Darwin. Yun tidak tahu harus bagaimana, ia ingin membuat Asmira bahagia, tapi bagaimana caranya?
“Kau tahu, Mas. Saat memutuskan untuk kembali ke kota A. Aku telah memikirkan matang-matang, aku akan memaafkan Darwin, demi anak-anakku! Tapi kini, aku kembali menutup pintu hatiku, untuk yang terakhir kalinya, aku berubah pikiran untuk kembali bersama ayah dari anak-anakku, Mas!!”
Asmira menangis tersedu-sedu di pelukan Yun. Asmira telah mengambil keputusan yang salah untuk kembali ke kota A. Harusnya ia pergi jauh, tempat di mana ia tidak akan mendengar berita sesakit itu. Kini hatinya benar-benar tidak bisa bersahabat lagi, rasa bencinya semakin menjadi.
__ADS_1
“Aku akan memaafkanmu, Mas. Andai saja kau tidak tidur dengan wanita itu!” gumam Asmira dalam hati. Yun terus mengusap lembut kepala Asmira dan berusaha menenangkannya.
Jangan lupa like ya ..