
Seminggu berlalu, setelah kepulangan mereka dari puncak. Kini aktivitas seperti biasanya terus berlanjut, Darwin dengan segala kesibukannya dan Asmira kembali hanya berdiam diri di rumah di temani Bu Ida.
Seminggu ini Darwin semakin sering bertemu dengan Haris. Proyek kerja sama mereka telah berjalan 20 persen pembangunan. Perlahan-lahan sikap arogan Haris berubah menjadi lebih ramah dan komunikasi antara keduanya semakin membaik.
“Santai dulu, Pak. Mari kita ngopi-ngopi dulu,” ajak Haris.
“Saya tidak minum kopi, Pak Haris.”
“Ayolah ...” ajak Haris lagi.
Setelah minum-minum kopi, Darwin kembali ke kantor bersama Pratiwi. Ia segera memeriksa laporan kerja kemarin dan hari ini, sejauh ini kerja Haris cukup bagus, tidak ada tanda-tanda ia akan memanfaatkan Darwin. Namun ia tidak boleh anggap remeh rivalnya itu, mungkin saja ia sedang menunggu Darwin lengah.
“Kita harus hati-hati, Pak,” ujar Pratiwi.
“Kamu benar Tiwi, saya tidak ingin mereka mendapatkan kesempatan secuil pun,” jawab Darwin.
• • • • •
“Kalian hati-hati!”
Bu Ida pergi di antar oleh sopir baru mereka, Darwin merasa kasihan jika Bu Ida harus naik taksi pulang pergi antar jemput Evano. Karena itu ia menyuruh asistennya mencarikan seorang sopir untuknya. Kemarin juga seorang sopir pilihan Pratiwi itu mulai bekerja. 10 menit setelah kepergian mereka dari rumah. Tiba-tiba terdengar ketukan pintu.
“Cari siapa ya, Mbak?” tanya Asmira pada seorang wanita cantik yang sedang berdiri di depan teras rumahnya dengan pandangan yang mengarah ke seluruh pekarangan rumah.
“Oh, hai ...” sapa wanita itu dengan ramah, ia menaiki tangga teras rumah Asmira.
Asmira tersenyum manis. “Cari siapa ya?” Asmira mengulangi pertanyaannya.
“Perkenalkan saya Yunita,” ujar Yunita bersalaman dengan Asmira, sekilas ia melirik perut Asmira yang mulai membuncit.
“Asmira ...” sahut sang empunya rumah. “Silakan duduk,” ajak Asmira.
Yunita duduk di samping Asmira dengan rok mininya, melihat pakaian yang dikenakan Yunita ia sedikit risi. Asmira ingin sekali menanyakan siapa dan apa tujuan wanita di sampingnya kini berkunjung ke rumahnya.
“Lagi hamil muda ya, Mbak?” tanya Yunita, Asmira hanya mengangguk sambil tersenyum.
“Oya, Darwin mana?” tanya Yunita tanpa merasa canggung.
__ADS_1
Asmira menyipitkan matanya tanpa menjawab pada Yunita. Wanita itu langsung menyadari tatapan aneh Asmira.
“Aku teman dekatnya waktu SMA, aku baru pulang dari luar negeri,” ujar Yunita tersenyum dengan pandangan yang melekat pada Asmira.
“Oh ya, aku istrinya. Mas Darwin lagi ke kantor sekarang,” sahut Asmira.
“Oh istri ... maaf ya Mbak, aku kira tadi pembantu atau istri sopir begitu,” ujar Yunita sedikit terkejut.
Wajah Asmira seketika berubah dengan pernyataan yang Yunita ungkapkan. Asmira melihat pakaiannya sendiri mulai ujung kakinya, tidak ada yang salah. Biasa saja.
“Kalau begitu aku permisi ya, Mbak. Bisa minta tolong?” tanya Yunita saat ia berdiri ingin menuruni tangga.
“Iya, bisa,” sahut Asmira masih dengan wajah datar.
“Tolong jangan beritahu Darwin aku datang, ya? Aku ingin memberikan kejutan langsung untuknya,” ujar Yunita tersenyum.
Tanpa menjawab, Asmira hanya mematung saat Yunita mulai turun dan berjalan keluar dari halaman rumahnya.
Asmira benar-benar kesal dengan Yunita, ia masih duduk di teras dengan pandangan kosong, pikirannya masih belum bisa hilang dari kata-kata Yunita tadi.
Selang 10 menit kemudian Pak Yun pulang bersama Bu Ida dan Evano. Begitu turun dari mobil, Evano segera berhamburan ke pelukan Asmira.
Asmira terkejut dari lamunannya, ia mencium kening Vano. “Mmm ... berapa, ya?”
“Nilai terbaik, Mi. Horeeee!!!” Evano menjingkrak-jingkrak saking senangnya. Asmira mengusap pelan lembut kepala anaknya.
Setelah ganti pakaian, Evano langsung melanjutkan main game di depan televisi seorang diri. Sudah biasa, ia menghabiskan hari-harinya tanpa teman.
Bu Ida memperhatikan wajah murung majikannya. Bu Ida sedang masak siang, ia memperhatikan wajah Asmira yang tampak lesu dan bersedih, wajahnya sendu dan tatapannya kosong.
“Nyonya, ada apa?” tanya Bu Ida kemudian.
“Enggak apa-apa, Bu.”
Bu Ida mendekati Asmira dan duduk di hadapannya. “Enggak kenapa-kenapa kok murung begini, ya enggak mungkin dong!”
Asmira terdiam, ia tidak bisa menutupi sakit hatinya atas perkataan Yunita. Asmira mulai bercerita pada Bu Ida tentang wanita tadi. Bu Ida sedikit emosi begitu mendengar Asmira bercerita.
__ADS_1
“Kok bisa ya ada orang jahat begitu, enggak pikir perasaan orang,” ujar Bu Ida.
“Sudahlah Bu,” sahut Asmira.
“Kasih tahu tuan Darwin saja,” saran Bu Ida.
“Wanita itu enggak ingin Mas Marcell mengetahui ia berkunjung kemari.”
“Loh, kenapa?” tanya Bu Ida lagi.
Tanpa menjawab Asmira bangun dari duduknya ia segera menuju kamarnya yang terletak di lantai dua. Bu Ida geleng-geleng dengan sikap bumil tersebut. Sebenarnya ia ingin sekali ada saat wanita jahat itu datang. Ia tahu sikap lemah lembut Asmira, pasti majikannya hanya bisa diam ketika ada orang yang menghinanya, persis seperti saat ia periksa kandungan, ia hanya diam saat ada orang yang memandangnya aneh karena tidak datang bersama suami. Untung saja kali kedua Darwin mendampingi dan cukup membungkam mulut mereka yang suka menghinanya.
Malam harinya Asmira tidak menunggu Darwin makan malam, ia makan bersama Evano. Setelah makan ia menonton televisi dan membantu Evano mengerjakan PR, kemudian ia temani Evano tidur.
Setelah baca doa tidur, Evano meminta Asmira membacakan sebuah dongeng untuknya. Baru beberapa paragraf Asmira membaca, Evano sudah terlelap dalam tidurnya. Asmira mencium kening putranya sebentar kemudian ia menyiapkan keperluan sekolahnya besok.
Asmira mengeluarkan buku pelajaran hari ini, ia ganti dengan buku pelajaran untuk esok hari. Ia melihat buku menggambar Evano, Asmira membukanya, Vano mengatakan ia mendapat nilai terbaik hari ini.
Wajah Asmira seketika berubah saat melihat hasil kerajinan tangan anaknya, Evano menggambarkan Asmira dan Darwin dengan dirinya diapit oleh kedua orang tuanya.
“Apa aku sejelek ini? Guru memberi nilai terbaik dengan hasil wajah dan pakaianku yang tidak semenarik ini?”
Asmira keluar kamar Evano dengan buku gambar itu di tangannya, ia melangkah masuk ke kamarnya. Ia sandarkan kepalanya di ranjang, ia pejamkan matanya.
Darwin baru pulang, Bu Ida membukakan pintu untuknya. Darwin masuk, ia menanyakan keberadaan istri dan anaknya pada Bu Ida. Setelah mendapatkan jawaban ia segera masuk ke kamar.
“Selamat malam, sayang?” sapa Darwin, ia kecup kening Asmira.
“Malam, Mas,” sahut Asmira pelan dengan wajah lesu.
Darwin menyentuh kening Asmira. “Kamu demam sayang?” tanya Darwin.
“Enggak, Mas.” Asmira menggeleng kepalanya.
Darwin melihat buku Evano di tangannya, ia meraih buku tersebut dan membukanya. Darwin tersenyum melihat anaknya mendapatkan nilai terbaik.
“Sayang, ada yang terlihat aneh dari gambar Vano?” tanya Asmira.
__ADS_1
“Enggak sayang, bagus ya hasil gambarnya?” jawab Darwin. Asmira semakin bersedih dengan jawaban suaminya.
Jangan lupa like ya...