
“Dok, biarkan saya menemani istrinya saya?” pinta Darwin pada dokter saat semua administrasi telah beres.
“Mohon maaf, Pak. Demi kenyamanan kita bersama kami melarang Anda masuk. Kita menjaga agar ruangan operasi tetap steril, mohon pengertiannya,” ujar dokter, lalu beliau berlalu meninggalkan Darwin yang masih meneteskan air mata di depan ruang operasi.
“Sayang, aku percaya kau kuat, demi anak kita,” gumam Darwin.
Darwin mondar-mandir di depan ruang operasi. Keluarganya telah berkumpul semua di sana. Hatinya sangat gelisah dengan kondisi dua orang yang sangat ia cintai yang masih belum ia ketahui keadaannya.
“Mami enggak kenapa-kenapa kan, Pi?” tanya Evano, ia menatap Darwin dalam.
Darwin mengusap lembut kepala Evano sembari menganggukkan kepalanya, ia menatap tajam Yun. Pria itu menundukkan kepalanya, ia merasa bersalah karena telah membuat Asmira terjatuh dari eskalator.
Asmira siuman, ia sedikit syok saat mendapati dirinya berada di rumah sakit. Dokter mulai menenangkannya serta mengatakan mereka harus segera melakukan operasi Caesar.
“Dok, suami saya mana?” tanya Asmira kemudian.
“Semua keluarga Anda telah berkumpul di luar, Bu,” sahut dokter. Dokter mulai menyuntikkan obat penenang untuk Asmira. Dan kemudian operasi pun segera di laksanakan.
Setelah 30 menit kemudian, saat Darwin sedang menenangkan Evano, tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi perempuan dari ruang operasi. Tanpa terasa air mata meleleh di pipinya, penantian mereka selama 9 bulan, kini telah tiba. Darwin menggendong Evano serta menciumi keningnya bertubi-tubi.
“Terima kasih ya Tuhan Engkau telah mengabulkan doaku,” gumam Darwin dalam hati.
“Papi, itu suara adik Vano?” tanya Evano, Darwin hanya mengangguk sambil mencoba tersenyum.
Tidak lama kemudian, dokter keluar, wajahnya tersenyum semringah, ia lepaskan masker yang melekat di wajahnya.
“Selamat, Pak. Bayi Anda kembar, dua-duanya perempuan,” beritahu dokter pada Darwin.
Sekali lagi tangisan Darwin pecah, tidak lupa ia sujud syukur kepada Tuhan atas nikmat yang diberikan untuknya.
__ADS_1
“Istri saya bagaimana, Dok?” tanya Darwin.
“Nyonya Asmira baik-baik saja, akan segera kita pindahkan ke ruang rawatan.” Dokter kemudian meninggalkan Darwin dan keluarga yang terlihat sangat gembira.
Asmira telah dipindahkan ke ruang rawatan Darwin menggendong kedua putri kembarnya dengan air mata tak berhenti menetes. Evano sangat gembira, kedua adiknya itu sangat menggemaskan.
“Evano mau satu saja yang cantik, tapi Tuhan memberikan Evano sekaligus dua-dua,” ujar Evano polos, Jessica mengusap kepala Evano dengan lembut.
Air mata berlinang di pipi Asmira, ia tak menyangka selama ini mengandung bayi kembar. Perutnya juga terlihat normal. Namun tidak ada yang tidak mungkin bila Tuhan telah berkehendak. Berulang kali ia mengucapkan puji syukur di bibirnya. Tuhan telah menganugerahkan Rahmat terbesar untuknya. Tuhan percayakan kembali amanah untuknya, dengan dikaruniai dua orang putri cantik.
“Mas, siapa nama kedua putri kita?” tanya Asmira, ia menyeka air mata dengan tangannya.
Darwin mendekati Asmira, ia belai lembut wajah istrinya yang telah mengandung 9 bulan, betapa lelahnya Asmira, dengan berbagai derita yang ia berikan, Darwin sangat menyesal, ia kecup kening Asmira perlahan.
“Coba kau yang pilih, sayang?” pinta Darwin.
“Bagaimana kalau Vina dan Vani, Mas?” tanya Asmira, ia mencoba tersenyum di sela tangisnya.
“Baiklah, sekarang nama Putri kita adalah Vina dan Vani,” sahut Darwin mengiyakan permintaan istri dan anaknya.
•••
Sementara di luar Yun terlihat gelisah, ia tak tenang sebelum bertemu Asmira dan meminta maaf padanya. Dari awal, ia sudah yakin, jika Asmira tahu ia tidak akan menerima ia begitu saja. Dan kini terbukti, Asmira marah padanya.
“Bu, bantu aku, katakan padanya aku benar-benar mencintainya,” pinta Yun, ia menggoyangkan tubuh Bu Ida.
“Yun, tenanglah, sekarang bukan waktunya, kau bersabarlah,” pinta Bu Ida, ia mengusap-usap pundak Yun.
Yun tidak bisa membayangkan jika penantian ia selama ini tidak membuahkan hasil. Yun benar-benar mencintai Asmira, ia takut Asmira benar-benar marah dan tak mau menemuinya lagi, wanita itu pasti kecewa karena merasa telah dibohongi.
__ADS_1
“Aku tidak bermaksud untuk membohongimu,” gumam Yun dalam hati, ia menutup wajah dengan kedua tangannya, ia terus menyesali perbuatannya, ia telah menghancurkan kepercayaan yang Asmira berikan untuknya.
Bu Ida kemudian masuk ke ruang rawatan Asmira. Keluarga Darwin satu persatu mulai berpamitan, hanya tersisa Darwin di sana, Evano juga telah pulang bersama Jessica.
“Bu, ke mana saja?” tanya Asmira begitu melihat siapa yang datang.
“Ada di luar, bagaimana keadaanmu sekarang?” tanya Bu Ida, ia menatap kedua bayi kembar Asmira.
“Aku baik, Bu. Lihatlah kedua bayiku, Bu,” pinta Asmira lagi, ia tersenyum ramah. Bu Ida hanya mengusap kedua pipi bayi kembar tersebut secara bergantian, ia tidak menggendongnya. Darwin tidak berkomentar apa pun.
••
Empat hari sudah berlalu mereka berada di rumah sakit. Hari ini, dokter obgyn yang menangani Asmira memperbolehkan ia pulang. Kondisi ibu dan bayi juga sudah membaik, dokter akhirnya memperbolehkan mereka kembali ke rumah.
Namun Asmira tidak tahu harus kembali ke mana, ia tidak mau kembali ke rumah Yun, ia masih kesal dengan pria yang telah membohonginya itu. Bu Ida mengetahui kegelisahan Asmira.
“Ikutlah bersamaku, kalau kau masih tidak mau serumah denganku, kita pulang ke apartemen,” ujar Darwin serius, Asmira menatap suaminya itu.
“Jangan takut, aku tidak berharap apa pun, aku hargai apa pun keputusanmu, aku hanya mau kedua putriku tumbuh dengan baik,” lanjut Darwin lagi.
Asmira terdiam, ia mempertimbangkan permintaan Darwin. Walau bagaimanapun pria itu ayah dari anak-anaknya, ia tak akan bisa memisahkan mereka darinya.
Setelah mengiyakan keputusan Darwin, akhirnya mereka kembali ke apartemen. Tiba di sana, tak bisa dibohongi, walau bagaimana pun Asmira tidak bisa melupakan kenangannya dengan suami begitu saja. Dulu ia mulai hidup nyaman dan bahagia setelah bertemu dengan pria yang kini masih sah menjadi suaminya itu. Apartemen yang ia datangi kini menjadi saksi awal perjalanan cinta mereka berdua.
Saat mereka masuk ke apartemen tersebut, tiap sudut seakan masih tergambar jelas di ingatan Asmira, apa saja aktivitas mereka berdua dulu masih sangat terasa, terlebih balkonnya, setiap malam mereka menghabiskan waktu berjam-jam di sana, hingga dinginnya angin malam menusuk hingga ke tulang.
“Kalau ada apa-apa segera hubungi aku,” pinta Darwin, ia letakkan ponsel Asmira di nakas.
“Kau mau ke mana, Mas?" tanya Asmira, pandangannya tak berkedip dari kedua putrinya yang sudah terlelap.
__ADS_1
“Aku mau ke kantor, nanti malam aku ke sini lagi,” sahut Darwin tersenyum. Sebelum pergi, ia kecup kening mereka bertiga. Asmira diam saja mendapatkan perlakuan seperti itu dari suaminya.
Jangan lupa like ya ...