
Setelah Tiwi memberitahukan keberadaan Asmira, keesokan harinya Darwin segera mendatangi kediaman di mana Asmira bersembunyi. Darwin datang seorang diri, pagi-pagi sekali ia sudah berpakaian rapi dan bersih. Setelah sarapan dan memanaskan mesin mobil Pratiwi yang ia pinjam, ia segera berangkat. Semenjak pulang dari pulau B dan semua kejadian itu bermula, Darwin masih belum mendatangi kediaman kedua orang tuanya. Semua mobilnya di sana, setiap hari ia menggunakan mobil kantor, dan untuk hari ini ia tampil gagah dengan kendaraan mewah Pratiwi khusus untuk bertemu dengan sang pujaan hatinya.
Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, akhirnya Darwin tiba di desa yang berada tepat di lereng gunung itu. Sebuah desa yang cukup indah dengan pandangan yang memukau, kiri kanan terbentang hamparan sawah yang bertingkat-tingkat, udaranya sangat sejuk. Tidak lama kemudian, Darwin tiba di alamat yang di berikan Pratiwi. Di sana ada beberapa rumah yang berjejer di sepanjang jalan. Darwin menepikan mobilnya. Lalu ia turun, ia lihat seorang kakek tua sedang duduk di muka rumahnya.
“Cari siapa, Nak?” tanya kakek tersebut begitu melihat Darwin mendekat.
“Saya cari istri dan anak saya, Kek. Saya dapat informasi di sekitar sini,” sahut Darwin.
“Aisyah!” panggil kakek tersebut, seorang wanita berusia seusia Jessica keluar.
“Coba kau tanya anakku, barang kali ia tahu,” ucap kakek tersebut pada Darwin.
“Saya cari orang yang ada di foto ini, Mbak.” Darwin mengeluarkan foto Asmira dan Evano di dompetnya, lalu ia perlihatkan pada anak kakek tersebut.
“Oh, ini wanita yang dibawa Bu Ida seminggu yang lalu, Dik. Tapi mereka sudah tidak di sana lagi sekarang,” ujar wanita yang bernama Aisyah itu.
“Pergi? Ke mana?” tanya Darwin, raut wajahnya berubah.
“Maaf, Dik. Saya kurang tahu, seorang pemuda tampan membawa mereka pergi seminggu yang lalu,” ujar wanita itu lagi.
Darwin memaksakan sebuah senyuman di wajahnya, ia sangat kesal mendengar berita tersebut. Tiba-tiba Darwin kembali terngiang-ngiang akan kata-kata pria yang bersama Yunita kemarin, ia juga melihat Asmira di bawa oleh seorang pria tampan. Ah, tidak mungkin. Toh, Yunita membohongiku, pikir Darwin lagi.
__ADS_1
“Kalau begitu saya permisi dulu, Mbak.”
Dalam perjalanan pulang, Darwin menghubungi Pratiwi, ia mengatakan Asmira sudah tidak di sana lagi. Darwin sangat kecewa, suaranya terdengar parau. Pratiwi mengerti bagaimana perasaan Darwin.
“Siapa pria yang bersama istriku, Tiwi?” tanya Darwin.
Pratiwi terdiam, ia memutar otaknya. Jika rumah yang di datangi Darwin adalah rumah Bu Ida, bisa jadi pria yang bersamanya adalah Yun. Namun ia tak segera memberitahukan pada Darwin, ia tunggu bosnya tiba kembali ke kota A.
Setelah panggilan dengan Darwin terputus. Kemudian Pratiwi menyuruh Aldi mencari informasi tentang keberadaan Yun. Ia juga penasaran dengan ucapan Darwin. Rasanya ia tak percaya jika Yun adalah pria yang di maksud Darwin.
Setelah menunggu beberapa menit akhirnya Pratiwi mendapatkan kabar dari Aldi. Pria tersebut mengatakan, keberadaan Yun tidak bisa di deteksi, bahkan segala sesuatu informasi yang menyangkut dengannya juga tidak bisa di akses.
“Kenapa bisa begitu, Aldi?” tanya Tiwi heran. Pasalnya, saat ia mencari sopir yang Handal untuk Asmira, ia juga tidak mengetahui informasi apa pun. Hanya sertifikat sah mengemudi saja.
“Oke, tunggu bentar.”
Aldi meminta rekannya yang lain untuk mendeteksi wajah Yun serta informasi lainnya yang menyangkut pria itu. Aldi juga penasaran kenapa semua informasi mengena pria itu di tutup. Namun tetap saja gagal, tidak ada informasi apa pun.
“Sepertinya pria ini bukan orang sembarangan, Mbak,” ujar Aldi.
Informasi tentang Yun sengaja di tutup sejak seminggu yang lalu. Pratiwi merasa tidak tenang setelah mengetahui berita itu. Ia takut terjadi sesuatu dengan Asmira. Namun ia tak memberitahu Darwin, ia menyuruh Aldi terus memantau Yun, dan informasi apa pun yang berhubungan dengannya.
__ADS_1
•
Kondisi Darwin kembali kacau. Baru saja kemarin ia sangat bersemangat, kini semangat itu kembali hilang dari hidupnya. Semua itu karena ia tidak menemukan Asmira dan Evano. Ia merasa sangat kehilangan, hidupnya terasa hampa, bagaimana mungkin ia baik-baik saja setelah separuh nyawanya pergi. Darwin merasa kehilangan arah, ia tak tahu apa yang harus ia lakukan, ia seperti orang kehilangan akal. Setiap hari ia hanya menghabiskan hari-harinya dengan duduk melamun di ruang kerjanya, berangkat pagi pulang malam. Begitu setiap hari. Bahkan kini ia tak menyentuh pekerjaannya sedikit pun, semuanya ia limpahkan pada Pratiwi.
Asmira bagaikan di telan bumi, ia menghilang tanpa jejak. Tidak ada celah untuk Darwin menemuinya sedikit pun, Darwin sangat gelisah, ia tak sanggup membayangkan jika ia harus berpisah dengan wanita yang sangat ia cintai itu. Ia teringat bagaimana dulu ia mengejar-ngejar wanita itu, kepolosan dan keluguannya menjadi daya tarik bagi Darwin. Asmira merupakan cinta pertama Darwin, berawal dari desakan Martha yang menjodohkannya dengan Ritha, hingga ia benar-benar jatuh ke pelukan ibu dari anak-anaknya itu.
Darwin merasa sangat bersalah dengan Asmira, ia rindu canda tawa mereka, ia rindu bagaimana setiap hari Asmira mengantarnya sampai teras saat ia berangkat kerja, ia juga rindu bagaimana lelahnya Asmira menyiapkan semua keperluan ia dan Evano. Ia rindu semuanya yang berhubungan dengan istrinya. Dadanya semakin sesak ketika semua ingatan itu penuh di otaknya.
“Tuhan, jangan pisahkan aku dengan anak dan istriku, beri aku satu kesempatan lagi, aku mohon ....” lirih Darwin. Tanpa terasa air mata jatuh membasahi pipinya, ia sangat rindu dengan kehangatan rumah tangganya.
Darwin kembali berpikir, semua itu tak akan terjadi apabila ia tak pergi berlibur dengan Yunita. Darwin baru menyadari itu saat semuanya telah pergi dari sisinya, kini hanya ratapan penyesalan yang tersisa. Semua sudah terlambat, nasi telah menjadi bubur, apalagi yang hendak di kata.
“Aku terlalu naif, aku gagal menjadi suami dan ayah yang baik, aku gagal!!!!” teriak Darwin kencang, ia jambak rambutnya sendiri, kepalanya seperti ingin pecah. Semua berkumpul menjadi satu yang membuat ia frustrasi.
Jessica masuk ke ruangan Darwin setelah beberapa kali ia mengetuk pintu namun tidak digubris adiknya itu. Putri Marco Antonio itu sangat histeris melihat adiknya seperti itu.
“Darwin, apa yang kau lakukan, jangan seperti ini.” Jessica memeluk erat Darwin, ia tenangkan adiknya itu. Ia tahu bagaimana rasa bersalah Darwin kini, apalagi ia tidak tahu harus mengadu ke siapa.
“Aku gagal menjadi seorang suami dan ayah yang baik, Mbak. Aku bodoh, aku suami yang tidak bertanggung jawab, Asmira sedang menghukum aku, Mbak!”
Jessica tidak sampai hati melihat adiknya seperti itu. Darwin merasa sangat bersalah, 2 Minggu telah berlalu tapi tidak ada kabar sama sekali tentang istri dan anaknya. Jessica menarik nafasnya dalam, ia pejamkan matanya, rasanya begitu berat untuk memahami perasaan adiknya kini.
__ADS_1
“Kau tenanglah, kita akan menemukan Asmira,” ucap Jessica menghibur.
Jangan lupa like yaa....