Eternal Promise

Eternal Promise
Part 14


__ADS_3

Setelah mandi dan berpakaian rapi Darwin segera meluncur ke rumah Jessica, ia tak sabar ingin bertemu dengan Evano dan istrinya.


Darwin mengetuk pintu serta memberi salam, terdengar suara langkah kaki dari dalam kemudian pintu terbuka.


“Win, ayo masuk?” ajak Valen ketika mengetahui siap yang datang.


Tanpa menjawab, Darwin hanya menurut saja. Begitu mengetahui siapa yang datang wajah Evano langsung tersenyum semringah.


Jessica melirik Darwin tak suka dengan ujung matanya, ia sedang menyiapkan makan malam. “Aku berharap kamu enggak datang sekarang,” ujarnya dingin.


“Kenapa?” tanya Darwin setengah berbisik agar Evano dan Elia tak mendengar.


“Kamu bisa buat mood kami memburuk,” sahut Jessica. Maksudnya adalah mood ia dan Asmira.


“Stttt!” Valen meletakkan jari telunjuk di bibirnya.


“Jangan macam-macam di depan anak-anak.” Valen menatap Jessica dan membulatkan matanya.


Jessica dan Darwin sama-sama terdiam. Setelah semuanya selesai, Jessica menyuruh Evano memanggil maminya di kamar.


Langkah Asmira terhenti ketika melihat kehadiran Darwin di meja makan. Namun Evano tidak mau melepaskan tangan Asmira, ia memaksanya untuk ikut makan bersama.


“Sayang, mau aku ambilkan apa?” tanya Darwin.


“Aku bisa sendiri,” lirih Asmira.


Darwin terdiam, ia tidak mungkin memaksakan kehendaknya terlebih di depan anak-anak. Suasana sangat canggung, Valen beberapa kali mencoba mencairkan suasana. Namun tetap saja ia tak bisa memecahkan keheningan saat makan malam itu berlangsung.


Selesai makan, Valen mengajak anak-anak naik ke lantai dua, ia biarkan mereka menyelesaikan masalahnya di lantai bawah.


Suasana semakin hening, Darwin menggenggam tangan Asmira. Asmira berusaha menarik tangannya dari genggaman Darwin, tapi tidak bisa ia tidak sekuat itu.


“Maafkan aku.” Hanya itu yang keluar dari mulut Darwin.


Asmira terpaku, ia ingin meluapkan semua emosi yang bergejolak di hatinya. Ia tidak puas hanya mendapatkan permintaan maaf saja. Ia ingin mengetahui kesibukan apa yang suaminya lakukan dua Minggu belakangan sehingga tak ada sedikit waktu pun untuk dirinya dan Evano.


Tapi Asmira tetaplah Asmira yang dulu, ia memilih bungkam seribu bahasa dari pada marah-marah dan teriak-teriak dengan segala kekesalan yang ia pendam.


“Sudahlah, Mas.”

__ADS_1


Darwin menatap Asmira dalam, ia tidak tahu apa maksud istrinya itu. Kata 'Sudah' yang Asmira ucapkan terlalu banyak makna jika ia jabarkan.


“Aku enggak akan mencari-cari alasan untuk membenarkan diri. Aku mengaku salah, maafkan aku. Terlepas dari semua yang aku lakukan yang sudah membuatmu sakit, aku mohon maafkan aku.”


“Kamu pikir semudah itu, Mas.” Asmira menatap manik mata coklat suaminya. Setetes demi tetes air mata membanjiri pelupuk mata Asmira.


“Apa aku enggak berarti bagi kamu, Mas?” tanya Asmira dingin, ia membuang pandangannya ke samping.


“Enggak sayang, aku hanya terlalu sibuk.”


Keduanya kembali sama-sama terdiam. Asmira bangun dari duduknya, Darwin menarik tangan sang istri namun ditepis olehnya.


“Pulanglah, Mas. Aku ingin istirahat, tubuhku enggak fit, bahkan untuk menanyakan kondisiku saja Mas lupa, kan?”


“Ya Tuhan, maafkan aku sayang, bagaimana kondisimu sekarang, sebenarnya kamu sakit apa?” tanya Darwin. Bukan tidak perhatian, ia benar-benar lupa, tujuan utamanya hanya ingin membujuk Asmira dan mengajaknya kembali ke rumah.


Asmira tersenyum kecut. “Lupakanlah, Mas. Jika Mas sudah bosan, teruslah dengan sikap seperti ini, aku akan memilih jalanku sendiri.” Bagaikan tersayat pisau perihnya hati Asmira ketika kata-kata itu lolos begitu saja dari mulutnya, ia tak bisa lagi membendung tangisnya.


Dari Minggu pertama ia mengetahui kehamilannya ia ingin sekali berbagi kebahagiaan dengan suaminya, namun ia tidak mendapatkan kesempatan itu. Hari ke hari sikap Darwin semakin membuatnya merasa terabaikan.


“Sumpah demi apa pun sayang, aku sama sekali tidak bosan denganmu dan Evano. Aku hanya tidak sadar, aku terlalu terlena dengan proyek yang keuntungannya triliunan. Dari Minggu pertama aku bekerja sama dengan perusahaan K tersebut, aku ingin sesegera mungkin menyelesaikannya. Aku ingin kita berlibur di hari Anniversary kita setelah proyek itu selesai.”


“Aku tidak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini, percayalah, semua ini untukmu dan Evano.” Darwin kembali melanjutkan kata-katanya.


Jessica dan Valen yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka hanya terdiam mendengar pengakuan Darwin. Kemudian Jessica mendekati mereka berdua.


“Sudahlah Win, biarkan malam ini Asmira istirahat dulu, ia masih belum pulih kembali.” Jessica merangkul bahu adiknya itu.


“Istirahatlah, aku akan menjemputmu besok.” Darwin mengecup kening Asmira dan membelai lembut pipinya.


Jessica mengantar Asmira ke kamarnya sementara Darwin masih berada di sana bersama Valen. Ia menatap punggung istrinya dari belakang dengan tatapan sayu.


“Apa ini ada hubungannya dengan wanita yang di Cafe bersamamu?” tanya Valen memecahkan keheningan.


“Kamu melihatnya, Mas?” tanya balik Darwin. Valen mengangguk.


“Ya, Yunita namanya.”


“Sepertinya ada yang tidak beres, Win.”

__ADS_1


Darwin menatap serius wajah Valen. “Maksud, Mas?”


“Setelah kamu pergi, aku melihatnya menghubungi seseorang dan ia marah-marah. Aku tidak tahu lebih tepatnya apa yang ia bicarakan,” ujar Valen.


Darwin terdiam, dari awal Pratiwi sudah memperingatkan bahwa ada maksud terselubung yang Yunita sembunyikan. Namun ia sama sekali tidak percaya, ia seperti disugesti oleh Yunita dengan masalah keuangan sehingga yang ia pikirkan hanya tentang uang saja. Tapi apa aku sebodoh itu? Darwin bertanya-tanya.


“Berhati-hatilah, Win.” Valen menepuk-nepuk bahu adiknya itu.


“Terima kasih, Mas. Aku pulang dulu.”


Valen mengangguk, ia mengantarkan Darwin sampai gerbang pintu rumahnya. Kemudian terdengar suara Jessica memanggilnya ia bergegas masuk ke dalam.


“Darwin sudah pergi, Mas?” tanya Jessica. Valen mengangguk.


“Apa Asmira sudah tidur?”


“Sudah, Mas. Apa semuanya baik-baik saja?”


“Hanya salah paham saja, aku rasa Darwin tidak berbohong sayang.”


“Harapanku juga begitu Mas.”


Sementara Darwin tidak langsung pulang, ia menghubungi Kelvin dan mengajaknya keluar bersama, ada hal yang perlu ia ceritakan pada sahabatnya itu.


Mereka berada di Cafe milik keluarga Darwin, Kelvin baru saja tiba. Melihat wajah Darwin yang tidak fresh ia segera mengetahui apa yang terjadi pada sahabatnya itu.


“Ada apa?” tanya Kelvin langsung ke arah pembicaraan.


“Kamu ingat Yunita anak pemilik yayasan sekolah SMA ku dulu?” tanya Darwin.


Kelvin memutar otaknya mencoba mengingat kejadian yang sudah cukup lama itu. Maklum usia mereka tidak muda lagi.


"Yunita jelek dan bertubuh besar itu yang sering mengejar-ngejar mu?" tanya Kelvin dengan nada sedikit terkejut setelah mengingatnya. Umur Darwin dan Kelvin terpaut dua tahun, mereka juga tidak sekolah di tempat yang sama, namun Darwin sering menceritakan tentang Yunita padanya.


Darwin mengangguk pelan. Kelvin menyipitkan matanya setelah mendapat jawaban dari Darwin.


“Apa hubungannya dengan wanita itu?” tanya Kelvin.


Jangan lupa like ya?

__ADS_1


__ADS_2