Eternal Promise

Eternal Promise
Part 63


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang, tiada hentinya Asmira menangis. Hatinya sangat sakit melihat wanita penggoda itu. Harusnya ia tidak membiarkan Darwin masuk bersamanya, pasti semua itu tak akan ia dengar dari mulut wanita busuk itu.


“Mira ... sudahlah, nanti kau sakit. Tidak usah kau tangisi lagi,” ujar Yun, ia genggam tangan Asmira.


“Kau mau membantuku, Mas?”


Yun mengerutkan keningnya, selama ini ia juga sudah membantu wanita di sampingnya, lalu kenapa ia bertanya sungkan seperti itu. “Apa yang bisa kubantu?” tanya Yun.


“Begitu setelah aku melahirkan nanti, kau urus perceraian aku dengan Darwin, aku janji aku tidak akan merepotkanmu lagi, ini yang terakhir kalinya,” ucap Asmira.


Yun terkejut mendengar permintaan Asmira. Kata cerai keluar dari mulutnya, sebesar itukah kecewa dirinya pada ayah Evano? Yun menatap Bu Ida, lalu Bu Ida menggelengkan kepalanya tidak mengerti.


“Berjanjilah, Mas ...” lirih Asmira, ia menatap sayu wajah Yun.


“Iya, aku janji,” sahut Yun.



Beberapa hari kemudian.


Hari Minggu tiba, seperti biasa jika hari libur tiba, Evano meminta Yun untuk mengantarnya ke rumah Martha. Pagi-pagi sekali, Yun berangkat menuju kediaman keluarga Marco.


Keadaan Marco semakin parah, semakin hari ia semakin drop. Meski ditangani oleh dokter ahli, namun tidak ada perubahan, bukannya membaik tapi malah semakin buruk.


Tiba di rumah, Yun menceritakan keadaan Marco saat ini. Namun tetap saja Asmira belum mau mengunjungi Marco.


Tapi keesokan harinya. Setelah berhasil dibujuk oleh Bu Ida, akhirnya Asmira mau mengunjungi Marco yang sakit parah. Setelah menjemput Evano sekolah, mereka bertiga berangkat menuju tempat Marco.


Asmira tidak mau ke sana bukan tanpa sebab, ia tak mau mereka bujuk untuk kembali bersama Darwin. Dengan mudah, mereka akan mengaitkan sakit Marco untuk membujuk Asmira, itu yang di takutkan Asmira.


“Nyonya, mari silakan masuk,” pinta Marni, ia gembira melihat kehadiran Asmira di sana.


Rupanya di dalam sedang ada tamu lain, Kelvin serta istrinya sedang mengunjungi Marco, Santi juga ada di sana. Begitu melihat Asmira, Nindy memeluk erat ibunda Evano itu, tanpa terasa air mata menetes di pipinya.


“Kau ke mana saja?” tanya Nindy di sela tangisnya.


“Bagaimana kabarmu, aku mencarimu ke mana-mana,” lanjut Nindy lagi.


“Aku baik Nindy. Maaf merepotkanmu, aku pergi untuk menenangkan diri,” sahut Asmira.

__ADS_1


“Aku turut prihatin dengan persoalan yang menimpamu,” ujar Nindy lagi.


Martha keluar dari kamar Marco, begitu melihat Asmira, ia tersenyum bahagia, tapi air mata ikut serta menetes di pipinya. Martha memeluk erat menantunya itu, ia bangga melihat Asmira di sana. Wanita itu sangat kuat, ia pasti sudah berpikir matang-matang untuk memberanikan diri datang ke rumah keluarga Marco.


“Bagaimana kondisi, Papa?” tanya Asmira.


“Mari kita masuk, entahlah sayang. Papa semakin hari semakin parah,” sahut Martha berlinang air mata.


Asmira sangat syok melihat kondisi Marco, ia menggenggam tangan Marco erat, ia belai pipi mertuanya itu.


“Pa, ini Asmira,” ucapnya.


Namun Marco tak bergeming, ia terbujur kaku di ranjangnya. Asmira meneteskan air mata melihat kondisi mertuanya, ia tak menyangka semua itu akan menimpa mereka. Siapa yang harus disalahkan atas ini semua? batin Asmira.


“Sayang, maafkan Darwin, maaf atas semua kesalahannya yang telah membuat kau terluka,” ucap Martha, ia tak tahu harus berkata apa atas segala kekacauan yang telah di perbuat Darwin.


“Ma, semua sudah terjadi, tak perlu disesali lagi,” sahut Asmira tersenyum manis. Martha lega mendengar jawaban Asmira.


“Sayang, sering-seringlah berkunjung, Mama akan sangat gembira,” ujar Martha saat mereka keluar dari kamar Marco. Asmira hanya membalas dengan senyuman.


Asmira melihat Santi ada di sana, entah kenapa, ia merasa aneh. Tidak seperti biasa, apakah aku cemburu? Asmira bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


“Mbak, aku rindu,” ujar adik Nindy itu sembari memeluk Asmira.


“Aku baik, aku akan segera menikah Mbak,” sahut Santi sangat bergembira. Santi menggenggam erat kedua tangan Asmira sembari tersenyum semringah.


Seketika wajah Asmira berubah. Namun Santi masih meneruskan ceritanya, ia mengatakan dalam waktu dekat ia akan melangsungkan pernikahan di gedung mewah, calon suaminya sangat baik, Santi sangat beruntung mendapatkan pria seperti itu.


“Aku turut bahagia, Santi,” sahut Asmira memaksakan sebuah senyuman di wajahnya.


Dalam perjalanan pulang, Asmira hanya terdiam, ia menatap kosong ke depan. Bu Ida merasa ada yang aneh dengan ibu Evano itu, tapi ia tidak berani menanyakan apa pun.


“Kenapa kau tidak memberitahuku, Mas,” gumam Asmira, ia merasa hatinya sangat sakit, entah kenapa dengan perasaannya akhir-akhir ini, ia tak mengerti. Perlahan air mata menetes di pipinya.


Kebersamaan Asmira dengan Yun sudah berlalu selama 6 bulan lebih. Kedekatan keduanya, kebaikan Yun yang begitu tulus, membuat Asmira mulai jatuh hati pada pria itu. Namun ia masih belum menyadarinya, egonya terlalu besar untuk mengakui bahwa ia mulai mencintai pria itu.


“Apa aku sudah tidak berhak untuk bahagia, lagi?” gumam Asmira, ia menangis tersedu-sedu.


“Mira, kau kenapa?” tanya Bu Ida semakin tak mengerti.

__ADS_1


Asmira benamkan wajahnya di pelukan Bu Ida. “Aku sakit hati, Bu,” sahut Asmira. Bu Ida membelai lembut kepala Asmira, ia tak mengerti.



Malam harinya.


Yun datang membawa makanan kesukaan Evano dan Asmira. Tentunya Evano sangat girang, ia segera melahap semua makanan itu.


“Om, besok beli lagi, ya?” pinta Evano dengan mulut dipenuhi makanan.


“Sip, bos,” sahut Yun terkekeh-kekeh.


Sementara Asmira, ia tak menyentuh makanan itu. Bu Ida melihat Asmira dengan tatapan bingung, Asmira tidak seperti biasanya.


“Kau tidak suka makanannya?” tanya Yun.


“Aku kenyang,” sahut Asmira singkat.


Melihat keadaan kurang baik, Bu Ida mengajak Evano ke kamarnya, ia meninggalkan dua insan lawan jenis itu untuk menyelesaikan persoalannya.


“Mau aku belikan makanan yang lain?” tanya Yun lagi, ia belai pipi Asmira dengan ibu jarinya.


“Jangan sentuh aku!” bentak Asmira, ia menatap tajam Yun.


“Kau kenapa, ada masalah apa sebenarnya?”


“Apa pedulimu?” tanya Asmira membuang pandangannya ke bawah.


“Tentu aku peduli, katakan!” sahut Yun tak mau kalah.


“Sudahlah, aku ingin istirahat, kau pulanglah!” Asmira bangun dari duduknya, ia ingin melangkah pergi, namun Yun menarik tangannya, lalu memeluknya erat. Untuk pertama kalinya, selama mereka berdua, ia lakukan hal seberani itu.


“Apa yang membuat kau seperti ini? Jangan lakukan ini, aku tidak bisa kau buat seperti ini,” ujar Yun.


Asmira meneteskan air mata mendengar ucapan Yun barusan, lalu ia lepaskan pelukannya.


“Lalu bagaimana denganku, apa aku bisa terima kau buat seperti ini!?” tanya Asmira dengan nada tinggi.


Asmira berlari masuk ke kamarnya. Yun tak mengerti apa yang dikatakan Asmira, ia menggaruk tengkuknya. Lalu ia duduk di sofa ruang tamu, ia menutup wajah dengan kedua tangannya sembari terus mengingat, apa yang telah ia buat sehingga membuat Asmira seperti itu.

__ADS_1


“Apa aku membuat kesalahan? Tapi apa?” gumam Yun dalam hati.


Jangan lupa like ya...


__ADS_2