Eternal Promise

Eternal Promise
Part 66


__ADS_3

Asmira menemani Evano mengerjakan tugas sekolahnya. Sementara Bu Ida sedang membereskan dapur, mereka baru saja siap makan malam bersama.


Teng tong!


Bel pintu berbunyi.


“Bu, tolong buka pintu sebentar,” pinta Asmira pada Bu Ida.


Bu Ida segera menuju pintu depan, bel terus berbunyi. Ternyata tamu malam itu adalah ayah Evano.


“Mari masuk, Nak Darwin.” Bu Ida mempersilahkan Darwin masuk, lalu ia segera mengunci pintu setelah ayah Evano itu masuk.


“Papi!!” teriak Vano girang saat mengetahui siapa yang datang.


“Hai sayang, sudah selesai tugasnya?” Darwin memeluk erat Evano sembari menggendongnya sebentar.


Setelah beberapa saat Evano bermain-main dengan papinya, Bu Ida mengajaknya masuk, waktu tidurnya telah tiba. Tinggallah Darwin berdua dengan Asmira di ruang tengah.


“Kau apa kabar?” tanya Darwin canggung, ia tidak berhenti menatap istrinya itu.


“Aku baik,” sahut Asmira singkat, ia menggaruk tengkuknya. Entah kenapa, untuk pertama kalinya, setelah mereka terpisah sementara waktu. Asmira kembali merasa salah tingkah di perhatikan sedemikian rupa oleh suaminya itu.


“Syukurlah, aku harap kau sehat sampai hari lahiran nanti,” ujar Darwin, ia buang pandangannya ke samping.


Keduanya kembali terdiam. Sebenarnya, ada banyak hal yang ingin dibicarakan Darwin, tapi Asmira sepertinya belum ingin membahas apapun, waktu telah membuat segalanya berubah.


“Kau tahu, aku sedang tidak baik-baik saja,” ujar Darwin kemudian.


Asmira menatap Darwin, ia mengerutkan keningnya melihat pria yang masih sah suaminya itu, ia tidak mengerti mengapa Darwin mengatakan itu.


“Aku sedang tidak percaya diri, Lestariku,” ujar Darwin lagi, kali ini ia membalas tatapan Asmira.


Asmira terdiam, ia merindukan panggilan itu. Ingatannya seketika kembali ke masa-masa awal perjumpaan mereka di sebuah club malam. Semuanya berawal dari sana, seketika itu pula, ia memejamkan matanya sembari bibirnya menyunggingkan senyuman.


“Kau kenapa?” tanya Darwin.


Asmira tersadar dari bayangan masa lalunya. Seketika itu jua, bayang-bayang perselingkuhan Darwin dengan Yunita kembali muncul.


“Aku tahu, aku telah menyakitimu, tapi percayalah. Aku sama sekali tidak melakukan itu dengan sadar, aku di bawah pengaruh seseorang yang telah merencanakan ini semua,” ujar Darwin panjang lebar.

__ADS_1


“Sudahlah, Mas. Lupakan, aku sedang tidak ingin membahasnya.” Asmira menyela ucapan Darwin yang terdengar sedang membela diri setelah melakukan banyak kesalahan.


Darwin terdiam, lalu ia bangkit dari duduknya. Malam semakin larut, meski keduanya mempunyai hubungan yang sah, namun sedikit canggung. Darwin berpamitan, lalu Asmira mengantarnya ke teras.


“Lestari,” panggil Darwin saat ia menuruni tangga teras.


“Aku harap, kau hati-hati dengan Yun,” lanjut Darwin.


“Hati-hati kau bilang, Mas? Memangnya ada apa dengannya?” tanya Asmira penasaran.


Darwin tersenyum, ia tak ingin mengatakan kecurigaannya terhadap pria yang sudah banyak membantu keluarga kecilnya. Toh, Asmira juga tidak akan mempercayai ucapannya.


“Tidak, aku hanya berharap kau baik-baik saja. Berhati-hatilah,” ujar Darwin.


Setelah Darwin pergi, Asmira masih penasaran kenapa suaminya mengatakan seperti itu.


“Apa jangan-jangan Mas Marcell tahu sesuatu tentang Mas Yun?” Asmira bertanya-tanya.



Keesokan harinya, Yun menjemput Evano sekolah. Keduanya pulang saat Bu Ida dan Asmira sedang menyiapkan makan siang.


“Wah, kebetulan lagi lapar, nih,” ujar Yun.


“Aku tidak suka melihat kau berhasil sementara aku gagal!” ucap seseorang di balik telepon dengan nada tinggi.


“Aku tidak sebodoh kau, jika itu terjadi jangan salahkan aku, salahkan strategi kau yang tidak ampuh,” sahut Yun setengah berbisik. Lalu ia menekan tombol merah.


Asmira menatap Yun dengan wajah tidak bersahabat, ia kembali terngiang-ngiang akan kata-kata Darwin yang menyuruh hati-hati.


“Ah, tidak mungkin," gumam Asmira dalam hati.


Setelah makan siang selesai, Asmira mengantar Yun ke mobil, karena pria itu harus segera kembali ke kantor. Jika bukan karena menjemput Evano, mungkin ia tak akan datang siang itu.


“Mas, ada yang ingin kau katakan padaku?” tanya Asmira.


Langkah Yun terhenti, ia berpaling pada Asmira, lalu mendekatinya. Antara bingung dan bertanya-tanya, ia tak mengerti maksud pertanyaan Asmira.


“Kalau ada apa-apa segera hubungi aku, ya?” pinta Yun saat mobilnya keluar dari are rumah megah yang didiami Asmira.

__ADS_1



3 hari berlalu, sejak Darwin mengatakan Asmira harus hati pada Yun. Rasanya, pikiran Asmira sedikit terganggu, entah kenapa ia mulai meragukan Yun.


Asmira mulai bertanya-tanya, dari mana semua uang yang didapatkan pria itu. Bukankah ia hanya seorang sopir pribadi dahulunya? Lalu jika bukan sebagai sopir, apa latar belakang pekerjaan yang dilakukannya sehingga ia begitu mudah membantu Asmira dalam segala hal?


Asmira menghubungi Darwin menggunakan telepon rumah. Namun sayangnya, panggilan darinya tak terjawab. Asmira ingin menanyakan dengan jelas perihal kata-kata Darwin yang menggantung itu.


Asmira mondar-mandir di kamarnya, lalu tiba-tiba bel pintu berbunyi. Bu Ida segera membukakan pintu, ternyata Yun. Sudah tiga hari ia tidak datang. Maksud tujuan kedatangannya hanyalah untuk mengajak Asmira makan malam di luar.


Setelah tampil cantik, mereka berangkat menuju sebuah restoran. Asmira mengiyakan untuk pergi bukan tanpa tujuan, ia ingin mencari tahu sesuatu tentang Yun. Dalam perjalanan, Asmira terlihat gelisah.


“Mira, kau baik-baik saja?” tanya Yun.


Asmira gelagapan, ia memaksakan sebuah senyuman di wajahnya sembari menggelengkan kepalanya tanda bahwa ia baik-baik saja.


Tiba di sebuah restoran, mereka dijamu cukup baik, bak seorang pejabat negara. Rasa penasaran Asmira semakin bertambah.


Setelah makan malam itu usai, mereka berdua segera pulang. Tiba di mobil, Asmira melirik dompet Yun yang tergeletak begitu saja. Tiba-tiba, ia berpikiran untuk mengecek identitas Yun serta pekerjaannya.


“Mas, makanannya enak, aku mau bawa pulang boleh?” tanya Asmira.


“Boleh, tunggu sebentar, ya?” Yun segera turun dari mobilnya.


Tanpa menunggu lama, Asmira segera membuka dompet Yun. Hal pertama yang ia lihat adalah identitasnya. Mata Asmira terbuka sempurna saat foto Yun terpampang di sana namun bukan dengan nama yang ia kenal. Tidak berhenti di situ saja, secarik foto gadis cantik pun ada di sana. Asmira melihat foto tersebut tanpa berkedip.


Tidak lama kemudian Yun kembali, ia membawa bungkusan makanan sesuai permintaan Asmira.


“Terima kasih, Mas,” ucap Asmira dingin. Lalu mereka segera pulang.


Yun merasa ada yang aneh dengan sikap Asmira belakangan. Wanita itu seperti sedang menjaga jarak dengannya. Namun ia tidak berani menanyakan apa pun.


Tiba di rumah, Asmira melihat mobil Darwin terparkir di depan. Bu Ida sedang menemaninya mengobrol di teras. Saat Yun dan Asmira masuk terlihat wajah Darwin tidak bersahabat, ia terbakar api cemburu, namun ia menahan rasa itu semua.


Yun dan Bu Ida masuk, mereka membiarkan Asmira dan Darwin mengobrol dengan tenang.


Darwin tersenyum kecut, lalu ia menyodorkan sebungkus batagor pinggir jalan yang ada di dekat kantornya untuk Asmira. Dulu, saat kembali dari kantor, ia selalu mendapatkan pesanan untuk membelikan sebungkus batagor tersebut.


“Aku membelinya untukmu, dulu kau sangat menyukainya. Tapi kau sudah makan, ini juga sudah keburu dingin, sudahlah,” ujar Darwin lesu, ia membuang pandangannya ke samping.

__ADS_1


Asmira meraih bungkusan tersebut dari tangan Darwin, lalu ia mulai membuka serta menyantapnya, kuah kacangnya masih sangat nikmat di lidahnya. Darwin tersenyum bahagia melihat Asmira menyantap makanan bawaannya.


Jangan lupa like ya


__ADS_2