Eternal Promise

Eternal Promise
Part 57


__ADS_3

“Mas, bisa kau bantu aku sebentar?” tanya Jessica, ia sibuk masak di dapur, sementara Elia terus menangis di kamar. Elia kurang sehat, dari kemarin ia rewel. Jessica sudah membawanya ke dokter namun ia tak kunjung pulih.


“Kenapa kau buru-buru, sayang?” tanya Valen, ia heran melihat istrinya begitu buru-buru.


Pada hari biasanya, ada pembantu yang membantu ia masak dan membersihkan rumah. Namun jika pada hari libur, ia sengaja meliburkan pembantu-pembantunya itu.


“Ini loh, Mas. Tadi pagi mama telefon, katanya kita di suruh berangkat ke sana siang ini,” sahut Jessica sembari membuka celemek di badannya serta ia berlari kecil menuju kamar Elia.


Valen mengerutkan keningnya karena merasa aneh. “Enggak biasanya mama pinta kita ke sana,” gumam Valen.



Siang harinya, keduanya tiba di rumah Martha. Di luar tampak sepi, hanya Samsul seorang diri yang sedang memberi makan kelinci. Elia segera ikut bermain dengannya, ia suka dengan binatang putih itu.


“Kau sudah datang, Nak?” ujar Martha, ia segera memeluk erat anaknya itu. Perlahan air mata jatuh di pipinya. Jessica semakin bingung, ia mengikuti Martha masuk ke dalam dan duduk di ruang tamu.


“Mama kenapa? Enggak biasanya Mama seperti ini?” tanya Valen kemudian. “Papa mana?” lanjut ia lagi.


“Masuk dan lihatlah di kamar,” sahut Martha sembari membuang pandangannya dari keduanya.


Jessica bangkit dari duduknya, ia menuju kamar Marco dan Valen mengikutinya. Perlahan, Jessica membuka pintu, ia tak ingin mengganggu ayahnya.


“Pa, ini Jessica. Aku masuk, ya?” pinta Jessica sembari terus mengetuk pintu. Namun tidak ada jawaban. Lalu Valen membuka pintunya karena tak sabar.


Saat pintu terbuka, terlihat Marco terbaring lemah, mulut dan tangannya terkulai. Jessica menutup mulut dengan tangannya, air matanya jatuh tak terhenti.


“Papamu jatuh setelah mendengar berita tentang Darwin, Jessi,” ucap Martha yang baru masuk. “Papa stroke,” sambungnya lagi.


“Papa, kenapa jadi seperti ini?” Jessica hanya bisa terdiam dalam tangisnya. Marco bahkan tidak bisa bicara, ia hanya menggelengkan kepalanya dan air mata membanjiri pipinya. Jessica menyeka dengan punggung tangannya.


“Papa tenang, ya? Jessica akan mengurus semuanya,” ucap Jessica, Marco masih saja tak bergeming.


Setelah keluar dari ruangan ayahnya. Jessica masih terdiam, ia tak berkata sepatah kata pun. Suasana menjadi hening. Valen juga tak habis pikir, berita apa lagi yang Marco dengar tentang Darwin sehingga membuatnya seperti itu.


“Kemarin, ada seorang pria datang, mungkin ia sebaya papa. Pria itu mengatakan anaknya sedang mengandung anak Darwin ...” Martha tak mampu melanjutkan lagi kata-katanya. Tangisannya seketika pecah, ia tersedu-sedu di pelukan Jessica.


Jessica segera tahu arah pembicaraan Martha. Wanita yang dimaksud mamanya tak lain adalah Yunita. Wanita yang membuat Asmira pergi jauh, dan kini wanita itu hamil. Lengkap sudah penderita yang Asmira rasakan. Wanita itu benar-benar akan hancur jika mengetahui itu semua.


Wanita licik itu benar-benar telah menghancurkan semuanya. Sekarang Marco pun ikut menerima imbasnya. Valen tak habis pikir, di saat Darwin sedang berada di atas, semuanya ia miliki ia punya istri cantik dan anak yang tampan namun ternyata itu tak cukup untuknya.

__ADS_1


Sebuah kesalahan yang fatal ia sudah memutuskan membawa wanita itu kembali ke dalam rumah tangganya. Sekarang nasi telah menjadi bubur, semuanya telah lenyap dalam keadaan sekejap.


Jessica menghubungi Yun. Namun sudah beberapa kali ia coba tapi tidak tersambung. Jessica tak ingin Asmira mengetahui itu semua, ia tak mau membebani pikiran Asmira yang nantinya akan berpengaruh ke janinnya.


“Bagaimana?” tanya Valen.


“Enggak di angkat, Mas,” sahut Jessica semakin gelisah.


“Kalian telepon siapa? Darwin? percuma, dari kemarin sudah Mama coba tapi tidak tersambung,” ujar Martha dengan wajah lesu.


Jessica menurunkan ponsel yang dari tadi ia letakkan di telinganya. Jessica kembali menguatkan orang tuanya itu, ia usap pelan bahu Martha.


“Mama yang tenang, ya? Jangan sampai hal buruk juga menimpa Mama,” ucap Jessica.


“Bawa Darwin pulang, Jess. Sudah terlalu banyak luka yang ia buat,” pinta Martha.


••


Sudah seharian Darwin mencari keberadaan Asmira namun tak jua ia temui. Setiap rumah yang ia datangi bukan pria yang bernama Yun pemiliknya. Darwin semakin bingung, sementara ia mendapatkan informasi bahwa Yun tinggal di kompleks perumahan yang sekarang ia datangi.


“Pak, saya mau tanya apa benar tidak ada pria yang bernama Yun di perumahan ini?” tanya Darwin pada satpam yang menjaga kompleks.


Darwin menggaruk tengkuknya karena bingung. Setelah berpamitan, ia pergi meninggalkan perumahan tersebut.


“Mungkin informasi yang salah, mana mungkin Yun tinggal di perumahan mewah begini,” gumam Darwin.


Setelah seharian lelah mencari Asmira, Darwin kembali ke rumahnya. Tiba di sana ia telah ditunggu oleh Jessica dan Valen. Darwin turun dari mobilnya setelah terparkir dengan sempurna di garasi.


“Mbak, Mas, lama menunggu?” tanya Darwin sembari menyunggingkan sebuah senyuman.


Namun keduanya tidak menjawab. Jessica menatap tajam pada Darwin. Lalu Darwin mengajak keduanya masuk, ia merasa sedikit canggung karena di perhatikan sedemikian rupa oleh kakaknya.


“Tidak perlu, Win,”


Darwin semakin bingung, wajah Jessica terasa menyeramkan.


“Kalau kau tidak keberatan, ayo kita ke rumah mama,” ajak Valen.


Tanpa menjawab, Darwin mengikuti keduanya. Lidahnya seperti tak bisa ia gerakkan walau hanya untuk mengatakan 'Tidak'.

__ADS_1


Tiba di rumah Marco. Darwin segera menemui Martha. Pikirannya tak tenang sejak dalam perjalanan tadi Jessica diam seribu bahasa.


“Ma!” panggil Darwin.


Martha duduk di ruang tamu dengan pandangan kosong. Entah apa yang sedang ia pikirkan. Begitu ia mendengar suara Darwin, ia bangkit dari duduknya. Darwin memeluk Martha serta menanyakan kabarnya. Namun Martha tidak membalasnya. Darwin menyadari sikap dingin orang tuanya.


“Darwin sibuk, Ma. Maaf enggak sempat kunjungi Mama, papa,” ujar Darwin. Namun lagi-lagi, Martha tidak bergeming.


“Papa mana, Ma?” tanya Darwin kemudian.


“Masuklah, Win. Papa di kamar,” ujar Jessica yang sedari tadi berdiri dari kejauhan menatap ibu dan adiknya.


Darwin segera menuju ke kamar Marco, Martha dan juga Jessica mengikutinya. Setelah mengetuk pintu, ia membuka pintu perlahan.


“Papa!” teriak Darwin kencang begitu matanya terhenti sempurna pada Marco yang terbaring kaku karena lumpuh.


Tiba-tiba Marco bergerak-gerak, ia menggelengkan kepalanya berkali-kali. Martha dan Jessica panik dibuatnya. Suaranya yang parau terdengar seperti menjerit-jerit, Marco tak nyaman dengan kehadiran Darwin di sana.


“Bahkan Papa tidak mau melihat kau, Win,” ucap Jessica.


“Keluarlah dulu, Win,” pinta Martha.


“Tapi, Ma. Aku mau lihat kondisi, Papa.”


“Kau tidak lihat Papa begitu histeris melihat kau di sini!” bentak Martha.


Jessica menarik Darwin keluar dari kamar Marco. Darwin terus menanyakan apa yang terjadi dengan ayahnya. Namun Jessica enggan menjawab semua pertanyaan itu.


“Katakan apa yang terjadi!” Darwin mengguncangkan tubuh Jessica.


“Apa aku akan mempunyai dua cucu sekaligus?” tanya Martha baru keluar.


Deg.


Jantung Darwin berdegup kencang mendengar pertanyaan dari Martha. Jangan sampai papa jatuh stroke karena ulahku. Batin Darwin. Martha menatap tajam pada Darwin, ia menunggu pembelaan seperti apa yang akan diucapkan putranya.


“Maafkan Darwin, Ma.”


Plakkk! Sebuah tamparan mendarat di pipi Darwin.

__ADS_1


Jangan lupa like ya


__ADS_2