Eternal Promise

Eternal Promise
Part 62


__ADS_3

“Masuk!” teriak Darwin dari dalam. Pratiwi melangkah masuk ke ruang bosnya.


“Ada apa, Pak?” tanya Pratiwi.


“Bagaimana laporan keuangan kita bulan ini?”


“Masih stabil, Pak.”


Tentunya tidak mudah untuk menjatuhkan perusahaan Darwin. Walau rivalnya berusaha sekeras apa pun itu, nyatanya tetap tidak membuahkan hasil. Perusahaan keluarga Darwin, tidak hanya bergerak di satu bidang saja, dan juga tersebar cabang di berbagai kota.


“Orang baru yang kau rekrut sudah mulai bekerja?” tanya Darwin lagi.


“Pertengahan bulan, Pak.”


Darwin menganggukkan kepalanya, lalu ia bangkit dari duduknya. "Sebenarnya, bukan itu saja alasan kenapa aku panggil kau kemari."


“Lalu apa lagi, Pak. Apa yang bisa saya bantu?” tanya Pratiwi penasaran.


Darwin mondar-mandir di depan Pratiwi, sekali-kali ia mendekati jendela lalu kedua tangannya ia lipat di dadanya. Cukup lama ia terdiam, Pratiwi sabar menunggu bosnya buka suara.


“Aku semakin penasaran dengan Yun,” ucap ia kemudian.


“Aku rasa, Yun bukan pria sembarangan,” lanjutnya lagi.


“Apa Anda memintaku mencari tahu identitas Yun?” tanya Pratiwi, ia tahu ke mana arah pembicaraan bosnya.


“Aku rasa, itu cara terbaik, agar aku tak curiga berkepanjangan,” sahut Darwin.


“Baiklah, Pak. Kalau begitu, saya permisi dulu.”


Darwin kembali meneruskan pekerjaannya setelah Pratiwi berlalu dari ruangannya. Setelah keguguran Yunita, entah kenapa ia merasa sedikit lebih tenang. Bukan berarti persoalan yang terjadi padanya sudah usai, tapi setidaknya ia sudah bisa bernafas lega. Darwin tidak perlu repot-repot memikirkan bagaimana jalan keluarnya.


Berbeda dengan Yunita, wanita itu masih belum berhenti mengusik Darwin. Yunita tidak terima diperlakukan begitu saja oleh suami Asmira itu, ia baru saja kehilangan bayinya, tapi Darwin sama sekali tidak peduli, ia seperti senang itu semua terjadi.


Sembari menunggu informasi dari Pratiwi, Darwin menghubungi kediaman Asmira. Sudah beberapa hari ini ia tak bertemu dengan anaknya, ia rindu Evano.


“Halo, ada yang bisa saya bantu?” terdengar suara Bu Ida di seberang.


“Bu, ini saya Darwin. Bisa saya bicara dengan Vano, sebentar?”


“Oh, Nak Darwin. Sebentar Ibu panggilkan, ya?”


“Halo, Papi,” sapa Evano tidak lama kemudian.

__ADS_1


"Hai, sayang. Apa kabar, besok Papi datang ke sana, ya?”


Darwin tersenyum, terdengar suara Evano berteriak kegirangan di telepon. Setelah berbincang-bincang sesaat lalu ia mengakhiri panggilan singkat itu.


Baru saja panggilan ia dan Evano berakhir, kemudian ponsel Darwin kembali berdering. Pratiwi menghubunginya.


“Maaf, Pak. Sepertinya Anda harus mencari orang yang bisa mendeteksi wajah, karena pencarian tidak berhasil. Banyak nama Yun, tapi bukan Yun yang kita maksud.”


Darwin menggaruk tengkuknya. “Coba kau cari tahu dari perusahaan di mana ia bekerja dulu sebelum menjadi sopir pribadi Asmira,” pinta Darwin lagi.


Pratiwi kembali mencari tahu informasi mengenai Yun. Darwin sangat penasaran dengan Yun, melihat rumah besar yang didiami istrinya membuat ia semakin tak mengerti, tidak mungkin seorang sopir bisa menyewa rumah besar itu. penasaran Darwin semakin bertambah kala ia melihat mobil mewah yang dikendarai Yun.


Jauh dari lubuk hatinya, sebenarnya ia mulai merasakan cemburu, pengorbanan Yun untuk Asmira sudah terlalu banyak, ia takut Asmira tersentuh dengan kebaikan pria itu. Namun di sisi lain, ia mencoba berpikir negatif, ia percaya Asmira hanya sedang menghukumnya saja.


Namun saat Pratiwi menghubunginya lagi dan mengatakan bahwa semua identitas tentang Yun tidak ada di perusahaan itu lagi. Darwin kembali kecewa, ia tak berhasil mengetahui latar belakang Yun.


“Saya jadi teringat pemilik perusahaan Jepang, Pak. Kedua orang ini sama misteriusnya,” ucap Pratiwi kemudian.


Darwin tersenyum kecut, antara tak percaya dan ada rasa takut, ia merasa tersaingi oleh Yun. “Tidak mungkin mereka sama, Tiwi,” sahut ia kemudian.


“Bagaimana perkembangan perusahaan mereka sekarang?” tanya Darwin lagi.


“Maju pesat, Pak. Posisi kita sedikit tergeser sahut Pratiwi. Darwin kembali menelan ludahnya.



Keesokan harinya.


Setelah mengantar Evano sekolah, Asmira segera meluncur ke klinik. Hari ini jadwal pemeriksaan kandungnya. Klinik yang didatangi Asmira ini merupakan tempat terbaik yang dipilih oleh Yun.


“Kau yakin pergi ditemani Bu Ida?” tanya Yun pada Asmira tadi malam.


“Ya, Mas, aku yakin,” sahut Asmira.


Tidak lama kemudian, mobil yang membawa mereka tiba di klinik. Saat Asmira turun, terlihat mobil hitam juga berhenti tepat di depannya. Darwin keluar dari mobilnya. Asmira kaget mengetahui siapa yang mengikutinya.


“Biarkan aku masuk, aku ayah dari bayi yang kau kandung,” ucap Darwin. Asmira baru saja ingin menolaknya, namun ia mengurungkan niatnya. Asmira membiarkan Darwin masuk dengannya walau sedikit terpaksa.


“Jangan harap lebih, aku hanya sedang berbaik hati saja,” ucap Asmira menatap tajam pada Darwin. Lalu ia bergegas masuk, diikuti Darwin dan Bu Ida di belakangnya.


Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Asmira di periksa oleh dokter ahli kandungan. Dokter mulai berbincang-bincang hangat dengan Asmira, selaku pasien barunya. Lalu ia mulai meraba perut Asmira. Kandungan Asmira sudah menginjak usia 7 bulanan. Namun ia tak berniat mengetahui jenis kelamin anaknya itu.


“Anda yakin tidak ingin mengetahui hasil USG?” tanya dokter lagi.

__ADS_1


“Bagaimana bayi saya, dok?” tanya Asmira.


“Bayi Anda sehat, posisinya juga bagus, detak jantungnya normal,” sahut dokter.


Darwin tersenyum mendengar anaknya baik-baik saja. Akan tetapi ia sangat penasaran dengan jenis kelamin anak keduanya itu, namun Asmira tidak ingin mengetahuinya. Darwin menahan dirinya, ia mengikuti kemauan Asmira.


Setelah selesai, dokter memberi vitamin untuk Asmira serta mengingatkannya agar tidak lupa minum susu serta buah yang banyak. Lalu mereka segera keluar dari ruangan dokter yang bernama Pevita itu.


Tiba di luar, mereka bertiga cukup dibuat kaget dengan kehadiran Yunita di sana. Sama halnya dengan Yunita, terlihat wajahnya merah padam, ia tak percaya Darwin menemani Asmira ke dokter kandungan.


“Wow, hebat, ya!” teriak Yunita penuh amarah sembari bertepuk tangan.


“Aku baru saja keguguran anakmu, tapi kau lebih memilih menemaninya dari padaku!” lanjut Yunita lagi.


Semua orang yang berada di ruang tunggu menatap pada mereka. Asmira sangat malu dengan tatapan semua mata tertuju padanya. Darwin menarik tangan Yunita dengan kasar, lalu menyeretnya keluar.


“Aku korban dari perselingkuhan mereka berdua, tapi kenapa seolah-olah seperti aku yang merebutnya, Bu,” lirih Asmira pelan, Bu Ida memapahnya keluar dari klinik tersebut.


Melihat Asmira keluar, Darwin mengejarnya namun Yunita tak tinggal diam, ia mengikuti ke mana saja Darwin pergi.


“Sayang, aku antar pulang, ya?” pinta Darwin.


“Win, temani aku dulu, kau jangan pergi begitu saja, aku baru kehilangan anak kita, Win!” teriak Yunita histeris.


Asmira sangat kesal dengan drama yang sedang mereka pertontonkan, ia menghubungi Yun, ia pinta Yun untuk menjemputnya di sana.


“Tidak perlu. Kau selesaikan dulu masalah kalian berdua!” Kesabaran Asmira tinggal seujung kuku.


“Kau bisa diam tidak!?” teriak Darwin geram, ia menatap Yunita seperti ingin menelannya hidup-hidup.


“Kau membentakku di depannya! Kau melupakan begitu saja malam-malam indah yang kita lewati bersama?” tanya Yunita mulai tersedu-sedu.


Asmira tak habis pikir, kenapa Yunita sampai hati mengatakan itu di depannya. Wanita itu sengaja mengaduk-aduk perasaannya, Asmira menutup mulut dengan tangannya. Lututnya terasa lemas, kali ini ia mendengar langsung dari wanita yang telah menghancurkan rumah tangganya.


Asmira hampir saja terjatuh, tapi Yun dengan sigap menangkap tubuh mungil Asmira yang sedang hamil besar itu. Mata Darwin terbuka sempurna melihat kehadiran Yun di sana, di mana saja Asmira berada, pria itu pasti siaga. Darwin mengepalkan tangannya.


“Mas, aku mau pulang,” lirih Asmira.


“Ya, kita pulang sekarang, ya?” sahut Yun, ia usap kepala Asmira penuh kasih sayang. Darwin hanya bisa mematung melihat istrinya dibawa pria lain pergi.


Jangan lupa like, ya...


Baca A BIG MISTAKE juga ya. Up 2 episode sekaligus, loh.

__ADS_1


__ADS_2