
...Season 4: Bab 07. D - Day Tabrak Lari....
Dimalam hari, muncul percikan listrik di sudut kota Metropolis Jakarta. Yang mana lama kemudian, percikan itu berubah menjadi gumpalan listrik dan berbentuk portal lalu, muncul wanita berwajah dingin tanpa busana turun dari portal dan posisi berlutut satu kaki.
Sesudah percikan listrik itu menghilang, wanita itu pun berdiri lalu, berjalan menghampiri pria yang sedang duduk bersantai didalam mobil.
Pria itu melirik kesamping dan tersenyum melihat ada wanita tanpa busana menghampiri nya.
Wanita itu dengan ekspresi dingin dan datar berhenti tepat di hadapan pria itu.
"Ciuu ... hei, nona. Kamu butuh kehangatan?" ucap pria dengan tatapan msum.
"Aku butuh pakaian dan mobil mu!" ucap dingin wanita.
"Apa?!" jawab kaget pria.
Sesaat pria itu merespon, wanita itu memukulnya dengan keras hingga darah keluar dari hidungnya lalu, mencekik leher pria itu.
Meski, pria itu berontak namun pria itu tidak bisa melepaskan cekikan dari wanita itu. Setelah pria itu mati, wanita itu melucuti semua pakaiannya, mengambil mobilnya dan melempar pria itu yang sudah tidak berpakaian.
Ditengah perjalanan, wanita itu tersadar. "Seperti nya aku salah." Meski berkata itu, wanita itu tetap melajukan mobil curian nya.
Tidak hanya wanita itu, di tempat yang berbeda percikan listrik muncul dan memunculkan sosok Automata milik Juan, Key. Yang tanpa busana sehelai pun.
Lalu, Key pun menghampiri gang motor yang sedang nongkrong tidak jauh dari nya.
Keesokan paginya yang juga merupakan hari Sabtu. Juan bangun lebih pagi lantaran teringat akan hari ini merupakan hari tabrak lari.
Juan yang merebahkan diri, dia melihat keatas. "Aku harus merubah takdir ini."
Tak lama, Juan pun bangun. Dia mempersiapkan sarapan untuk kedua adiknya lalu, saat sarapan bersama Juan berbincang-bincang dengan kedua adiknya.
"Kakak, hari ini ingin memutuskan pindah rumah? Kalian ingin tinggal dimana?" tanya Juan.
"Benaran kita akan pindah?!" tanya senang Yuri.
"Tapi, Kakak. Bukan kah pindahan itu membutuhkan biaya besar?" sambung tanya Yuda.
Juan tersenyum, "Hal itu tidak perlu di pikirkan. Kakak akan menunjukkan sedikit trik sihir."
Seusai berkata itu, Juan pun berdiri dan menghampiri televisi kecil berukuran 14 inci dirumahnya. Lalu, Juan menempelkan tangan di televisi tersebut.
"Ciel, aktifkan Delta 22 - Storage!"
Dalam sekejap televisi itu menghilang. Lalu, Juan mengarah kearah perabotan lemari yang berantakan dan lemari itu juga menghilangkan. Juan memasukan semuanya hingga tersisa meja kecil beserta piring sarapan mereka.
Yuda dan Yuri yang melihat itu terkagum-kagum.
"Kakak luar biasa!" ucap kagum Yuri.
"Keren!" ucap kagum Yuda.
Juan berbangga hati dan tersenyum, "Kalian sudah siap untuk berangkat?!"
"Tapi, kak. Kami belum berganti baju dan baju nya sudah didalam sihirnya kakak," ucap keluh Yuda.
"Ah, iya. Maaf," jawab Juan.
Juan pun membelikan pakaian yang cocok untuk Yuda dan Yuri di Extraordinary Market. Baru lah mereka pergi untuk mencari rumah dengan mengunakan ojek car online.
Sebenarnya bisa saja Juan membeli mobil namun, dia mengabaikan nya dahulu juga menaiki kendaraan umum itu lebih aman.
Lalu, Juan bersama kedua adiknya berkeliling mencari rumah yang cocok. Namun, tidak ada yang cocok sampai pada akhir nya mereka memutuskan untuk makan siang dahulu di restoran buffet.
Daging diambil sendiri dan dibakar sendiri. Juan bersama dengan kedua adiknya bersuka cita makan bersama disana.
__ADS_1
Ditengah makan, Yuri bertanya sesuatu.
"Kak Juan, kak Alina kok gak ikut?" tanya Yuri.
"Iya kan sekarang malam Minggu, apa kakak gak jalan-jalan?" sambung Yuda.
Juan tersenyum, "Kak Alina nya sibuk membantu ibunya bekerja di rumah. Lagi, kakak ingin bersama-sama dengan kalian menikmati weekend."
Beberapa saat kemudian, Yuda terpikir sesuatu.
"Kak, kenapa kita tidak kembali ke rumah ayah dan ibu?"
"Rumah ayah dan Ibu sudah laku dijual," jawab pelan Juan.
"Tapi kan, kakak bisa beli kembali, bukan?!" sambung Yuri.
Juan menghela nafas panjang, "Baiklah, kakak akan mencobanya," jawab Juan.
Setelah makan, Juan pun memutuskan untuk menginap dahulu di hotel untuk menikmati fasilitas yang belum pernah Yuda dan Yuri rasakan.
Namun, ditengah perjalanan tiba-tiba dari samping sebuah mobil melaju dengan kencang hingga Ciel memberikan peringatan.
Kling!
[Terdeteksi hawa pembunuh.]
Melihat informasi itu, Juan sontak menoleh kesamping dan Juan melihat mobil yang melaju cepat kearah mobil mereka. Juan yang melihat itu sontak merapalkan pelindungan.
"Ciel, Aktifkan Delta 12- Wall!"
Dalam sekejap muncul tembok raksasa transparan dan mobil itu pun tertabrak tembok dengan suara yang seperti bom.
Kejadian itu membuat supir online menghentikan laju mobilnya.
"Ada apa?" tanya panik Supir.
"Pak supir tunggu disini!" Juan mengalihkan pandangannya ke arah kedua adiknya. "Yuda, Yuri! kalian juga!" seru Juan.
Kedua adiknya itu menganggukkan kepalanya. Setelah itu, Juan keluar dari mobil untuk melihat sosok yang ingin menabrak nya namun, seorang wanita keluar dari mobil itu dengan menendang pintu mobil dan keluar.
Juan yang melihat wanita itu, dia mengerutkan keningnya lantaran luka yang dialaminya bukanlah berdarah melainkan ada nya kabel dan besi yang terlihat.
"Magic Doll- Automata. Kalian juga berada di dunia ini," ucap Juan.
Automata itu tidak mempedulikan ucapan Juan, dia pun merenggangkan leher dan tangannya lalu, berlari menyerang Juan.
"Datanglah!" seru tantang Juan.
Namun, sebelum serangan itu sampai pada Juan. Ada seseorang yang menembak wanita automata itu secara terus menerus meski wanita automata mampu menahan nya namun, lambat laun dia tidak bisa bergerak dan terjatuh ke tanah.
Juan yang melihat serangan itu sontak mencari sumbernya yang ternyata sosok yang menembak robot Automata tidaklah asing.
"Key?!" seru senang Juan.
Key pun melangkah mendekati Juan. Lalu, saat sudah didepannya Key membungkukkan badannya.
"Master, anda baik-baik saja?"
Juan tersenyum senang dan memegang kedua bahu Key. Terimakasih, Key. Kamu sudah berhasil menyusul ku."
"Saya pasti menyusul master sesulit apapun," jawab Key.
"Tegak lah, Key!" seru Juan.
"Baik, master," ucap Key seraya menegakkan kepalanya kembali. "Lalu, Master." Key mengalihkan pandangannya ke arah wanita automata.
__ADS_1
Juan pun mengikuti pandangan nya kearah wanita automata. "Aku akan simpan di dungeon."
"Dimengerti!" jawab Key.
Sesudah perbincangan itu, Juan menghadap kearah wanita automata lalu, meluruskan tangan dan memerintahkan Ciel.
"Ciel, Aktifkan Delta 111- Dungeon!"
Sesaat kemudian, wanita automata tengelam oleh kolam bulat dengan hujan data Matrix.
Setelah semua selesai, Juan dan Key masuk ke mobil. Kedua adiknya awalnya takut namun, Juan menjelaskan bahwa Key adalah robot secanggih Jarvis. Yuda dan Yuri pun terkagum-kagum.
Lalu, mereka pergi ke hotel. Sedangkan, setibanya di hotel. Juan memberikan uang lebih untuk supir agar menutup mulut tentang semua yang dilihatnya.
Supir itu dengan senang hati menerima nya.
Malam harinya, Alina video call kepada Juan dan memarahinya lantaran Juan diam saja tentang rencana kepindahan nya.
"Tega kamu tidak memberitahu ku!" ucap ngambek Alina.
"Maaf. Maaf. Aku pikir kamu sibuk jadi, aku tidak ingin menganggu," jawab Juan.
"Meski, begitu. Tetap saja! kamu harus memberitahu ku!" sambung Alina.
"Iya, maaf. Jangan marah lagi ya, Alina!" bujuk Juan.
"Hm!" jawab kesal Alina dan dia pun dengan cepat merubah ekpresi nya. "Jadi, kalian pindah kemana?"
"Belum tahu namun, Yuda dan Yuri ingin pindah kembali ke Istimewa Yogyakarta. Di sana lah, kampung halaman kami."
"Oh, begitu. Kalau begitu aku ikut!"
"Eh? tapi, itu kan jauh," jawab Juan.
"Cih ... kamu punya sihir teleportasi masih bicara jarak. Yaa ... andai saja aku memiliki ring, detik ini aku bisa mendatangimu dan menghajar bokong mu," ucap bangga Alina.
Juan yang mendengar itu dia pun tertawa kecil. Tidak lama kemudian, Juan memiliki panggilan masuk yang lain.
"Maaf, Alina. Ada telepon masuk dari Om Ferdi."
"Oke, sampai besok lagi. Awas ya kalo sampai telepon ku gak diangkat!"
"Iya. Ya!" jawab Juan.
Tidak lama panggilan Alina terputus dan Juan terhubung pada Om Ferdi.
"Bagaimana Om?" tanya Juan.
"Seperti nya memang sudah dijual lagi rumah mu, Juan," jawab Om Ferdi dari balik telepon.
"Syukurlah, Om Ferdi. Tolong berikan aku nomor yang jual rumah itu!" seru Juan.
"Iya, nanti aku kirimkan kontak nya."
"Terimakasih, Om Ferdi."
Juan pun menutup teleponnya dan melihat kearah Yuri dan Yuda yang sudah tertidur lelap dengan wajah yang tersenyum.
"Syukurlah, aku berhasil merubah Absolute Points!"
...# Extraordinary System #...
Hei, guys. Sorry banget hari ini aku hanya update satu bab saja. Hehehe.
Terimakasih semuanya yang tetap stay tune membaca novel ku ini juga terima kasih atas like, gift dan vote nya.
__ADS_1
See ya..