Extraordinary System

Extraordinary System
Extraordinary System Bab 109


__ADS_3

...Season 4: Bab 09. Membeli rumah dan Tantangan Paul....


Juan saat ini bersama dengan sanak saudara nya mengunjungi rumah kakek mereka.


"Jadi, ini rumah warisan kakek ke ayah?" tanya Juan.


"Iya, Kakek memiliki tanah seluas 1.000 meter persegi dengan kandang sapi dan kandang ayam yang cukup besar," jawab Om Ferdi.


Rania yang sedang berdiri dengan kedua tangannya di swater memotong pembicaraan, "Iya, meski begitu ini seperti rumah hantu saja."


Beberapa saat kemudian, seseorang datang menghampiri Juan dan lainnya. "Maaf, jika boleh tahu kalian siapa?"


Om Ferdi yang mendengar itu, dia pun menghampiri pria tersebut.


"Saya Ferdi. Kami berniat untuk membeli rumah dan tanah ini kembali," ucap Om Ferdi.


"Saya pikir lebih baik anda menghubungi pak lurah karena dia yang memegang kunci rumah ini," ucap pria.


"Maaf, dengan siapa saya bicara?" potong Juan.


"Saya Joko, peternakan sapi yang tidak jauh dari desa ini."


"Aku Juan. Cucu dari Kakek Suryo Prakoso," ucap Juan seraya memberikan tangan nya.


"Oh, begitu. Senang bertemu dengan anda," ucap Joko yang menerima tangan Juan.


Seusai perkenalan itu, Joko pun mengantarkan Juan dan lainnya untuk menemui kepala lurah.


Desa Murni, itulah nama kampung halaman Juan yang mana berlokasi di perbatasan antara Istimewa Yogyakarta dengan Solo.


Selama perjalanan ke kelurahan, Juan teringat akan kenangan masa kecilnya mana sewaktu dirinya sedang libur sekolah ayah dan ibunya mengajak Juan untuk bertamasya ke Desa Murni.


Di tempat itu, Juan sering bermain bersama ayam-ayam milik kakeknya juga menaiki sapi yang juga milik kakek nya. Mengingat itu semua membuat Juan menitihkan air matanya namun, dia segera bergegas agar tidak terlihat.


"Aku sudah melupakan masa lalu yang damai dan selalu memikirkan hanya balas dendam. Sungguh bodoh!" maki batin Juan.


Beberapa saat kemudian, Juan pun menemui kepala lurah bernama Sutiyoso. Lalu, Juan dan lainnya membahas tentang pembelian rumah yang secara kebetulan pemilik rumah itu bertempat tinggal di Desa Murni juga bernama Shu Cahyo.


Maka pada hari itu juga, Juan membeli rumahnya kembali seharga 3 Milliar rumah dengan pembayaran mobil banking. Sedangkan, Juan meminta tolong pak Sutiyoso untuk mengurus dokumennya.


Pak Sutiyoso pun dengan senang hati membantu Juan.

__ADS_1


Sesudah itu, Juan dan lainnya kembali. Karena kondisi rumah yang belum layak huni maka Om Ferdi menawarkan diri untuk Juan beserta kedua adiknya tinggal di rumahnya.


Juan dan kedua adiknya tidak masalah akan hal itu begitu pun Tante Lia, Rania dan Andy dengan senang mereka menerima Juan dan kedua adiknya untuk tinggal bersama.


Sesaat Juan teringat akan peristiwa masa lalu sebelum nya dimana saat kedua adiknya sadar kembali dan memutuskan untuk tinggal di rumah Om Ferdi.


Hari Senin pun tiba yang mana Juan kembali ke sekolah. Pada hari itu, Juan melihat papan spanduk tentang pendaftaran di Utopia High School dan banyak murid yang melihat papan tersebut.


Juan sesaat mengingat semua kejadian di Utopia High School. Yang mana, inilah awal langkah Juan untuk balas dendam.


"Aku sudah tidak ada urusan lagi dengan sekolah ini, apakah aku harus tetap mengikuti ujian?" batin Juan.


Sesaat kemudian, Nabila datang menghampiri Juan. "Juan, kamu mau ikut tes masuk?"


"Aku tidak tertarik," jawab dingin Juan seraya membalikan badannya dan meninggalkan Nabila.


Nabila hanya tersenyum memandangi Juan dari belakang.


Saat melangkah, ditengah perjalanan nya Juan berpapasan dengan Siska.


"Hei, Juan!" sapa ramah Siska.


Sapaan itu membuat langkah Juan terhenti dan berdiri didekat nya.


"Sudah lebih baik. Terimakasih, Juan," ucap Siska dengan senyuman lebar.


Juan juga membalasnya senyuman hingga Paul merasa kesal dan menghampiri Juan.


"Juan, urusan kita belum selesai!" seru kesal Paul yang menunjukkan jarinya kearah Juan.


Siska yang mendengar itu, dia berusaha untuk menghentikan nya. "Paul, kamu ngapain sih?! Norak tahu gak!" ucap Siska.


Saat Siska mengatakan itu, Paul mengalihkan pandangannya kearah Siska. "Ini bukan urusanmu! ngerti!"


"Kak Paul, kamu pria bukan! jangan sesekali kamu mengasari wanita!" ucap Juan dengan tatapan tajam.


Paul dengan kesalnya melihat kearah Juan lagi, "Bcot! Malam ini, aku tunggu di gedung belakang sekolah!"


"Baiklah, aku akan datang." jawab Juan.


Malam pun tiba, Juan datang dengan motor besarnya di tempat yang dijanjikan. Setibanya disana, Juan pikir akan bertarung satu lawan satu akan tetapi Paul membawa banyak teman-teman nya yang membawa tongkat baseball atau tongkat kayu.

__ADS_1


Melihat itu, Juan hanya tersenyum kecil. Dia dengan santai turun dari motor dan membuka helmnya.


"Terimakasih, Juan karena kamu telah datang," ucap Paul.


"Aku pikir kita akan bertarung satu lawan satu," ucap Juan yang mengusap kepala belakang nya.


"Juan, kamu pikir jaman apa sekarang masih bertarung satu lawan satu," ucap remeh Paul sambil tertawa.


Teman-teman nya pun ikut tertawa.


Juan juga menjadi tersenyum mendengar nya, "Lalu, apa pertaruhan nya? Aku tidak ingin bertarung tanpa ada nya keuntungan," ucap Juan.


"Menarik! bagaimana jika yang kalah maka dia akan menjadi budak yang menang?" ucap remeh Paul.


"Baiklah, tidak masalah jika aku kalah, aku akan menjadi budak mu namun jika kamu kalah, putusin Siska dan biarkan dia bebas dan." Juan melihat kearah mobil BMW M4 milik Paul. "Mobil itu akan menjadi milik ku. Bagaimana?"


"Baik, tidak masalah dan kesombongan mu akan berakhir." Paul melihat teman sekitarnya, "Semua serang dia!"


Sekitar 20 orang menyerang Juan dengan perintah dari Paul. Meski begitu, kemampuan mereka sangatlah lemah sehingga Juan dengan mudah mengalahkan mereka tanpa mengunakan satu fitur pun.


Dan 5 menit berlalu, kedua puluh teman Paul terkapar dan meringis kesakitan dilantai.


"Tidak mungkin, bagaimana bisa? siapa kamu sebenarnya?" ucap Paul yang mundur beberapa langkah lantaran dia ketakutan.


"Aku Juan, murid yang biasa-biasa saja dan apakah pertarungan masih berlangsung?" ucap Juan.


Paul yang mendengar itu, dia pun menjadi kesal karena diremehkan oleh Juan. Lalu, tanpa pikir panjang Paul melesatkan serangan nya kearah Juan akan tetapi serangannya tidak membuahkan hasil dan Juan pun melakukan serangan balik yang membuat Paul kalah telak.


"Dasar Monster! kamu menang!" ucap Paul yang memaksa diri untuk bangun dan dia pun duduk dilantai.


Seusai mengatakan itu, Paul melemparkan kunci mobilnya kepada Juan. "Janji adalah Janji. Mobil ini milikmu."


Juan menangkap kunci, "Terimakasih."


"Dan, bagaimana kamu membawanya?" tanya Paul.


"Ah, itu teman ku yang akan membawanya." Juan menoleh kebelakang yang diikuti oleh Paul yang mana mereka melihat Key.


"Key, bawa motorku!" ucap Juan yang melemparkan kunci.


"Oke, kak Paul. Aku pamit dulu," ucap Juan yang menghampiri mobil Paul dan masuk ke mobil itu lalu, meninggalkan Paul.

__ADS_1


Sedangkan, Key membawa motornya Juan.


...# Extraordinary System #...


__ADS_2