Extraordinary System

Extraordinary System
Extraordinary System Bab 57


__ADS_3

...Season 2 - Bab 07. Sambutan hangat di makam....


Keesokan paginya di Bandara Soekarno Hatta, sebuah pesawat dari Imperial Japan turun yang mana pesawat itulah yang Jin tumpangi. Lalu, Jin pun turun dan melangkah keluar bandara. Yang mana, Jin melihat pesan dari Fox bahwasannya perlengkapan senjata dan sebagainya ada di loker Bandara.


Melihat pesan itu, Jin pun teringat sewaktu dirinya di pelabuhan yang mana dia sedang membuang jasad dilaut.


Saat itu, Fox datang mendatangi Jin tanpa ada peringatan dari sistem.


"Key, kamu memang monster atau pesulap. Bagaimana bisa membawa empat jasad dengan mengunakan Motor."


Jin pun tersenyum lalu, dia pun menyalakan gelembung.


Kling!


[ Sistem: ada yang bisa saya bantu?]


"Aktifkan unik Skill [Mind Reading] !" batin Jin.


Sesaat kemudian, layar udara baru pun muncul.


Jin pun berbalik badan dan tersenyum melihat Fox.


"Fox, apakah kamu ingin membunuhku disini?" tanya Jin.


Fox pun tersenyum, "Itu tidak perlu. Oiya, aku belum memperkenalkan diriku sebenarnya. Namaku Rawles Kylie. CIA," ucap Rawles yang memberikan tangannya.


Jin pun menerima tangan itu dan berkenalan dengan nya. "Juan Prakoso, Bukan. Jin Kazuma. seperti yang kamu ketahui. Lalu, apa maksudmu dengan mengucapkan jati dirimu."


Rawles pun melepaskan tangan Jin dan melangkah lalu, berdiri disamping Jin. Rawles pun mulai bercerita dirinya yang mana Rawles mendapatkan misi dari CIA untuk membunuh Sloan serta menghancurkan organisasi nya.


".... Monster yang lebih kuat harus membunuh monster lainnya," kalimat yang mengakhiri cerita Rawles.


Melihat dari layar [Mind Reading] cerita itu benar adanya.


"Baiklah. Tapi, ada satu hal yang kutekan kan!"


"Apa?" tanya Jin.


"Aku sudah muak di manfaatkan dan dibohongi bertahun-tahun ini. Maka dari itu, aku membunuh Sloan bukan atas perintah dari mu atau pun CIA. Ini adalah keputusan ku sendiri."


"Aku tidak peduli. Selama kamu ingin membunuh Sloan. Maka aku bantu!" ucap Rawles.


"Terserah saja," ucap Jin sambil melangkah ke motor nya dan melajukan motornya.


Lamunan pun terlepas saat melihat sebuah tas jinjing panjang yang mana saat Jin membuka tas itu berisi senjata Laras panjang, Submachine gun, pistol beserta pelurunya. Jin pun menaruhnya di dalam fitur [Gudang] dan melanjutkan langkahnya keluar lalu, mengunakan taksi untuk sampai kota yang mana Jin bernostalgia melihat pemandangan pagi di Metropolis Jakarta.


"Satu setengah tahun kah?" gumam pelan Jin seraya mengingat kebersamaan dirinya bersama dengan kedua adiknya.


Saat itulah, Jin terbesit untuk mampir ke sebuah tempat.

__ADS_1


"Pak, kita ubah arah ke pemakaman umum Casablanca!" seru Jin.


"Baik, pak." jawab supir.


Supir itu pun merubah arahnya.


Setibanya disana, Jin pun membayar ongkos dan keluar dari taksi. Lalu, Jin pun melangkah masuk ke pemakaman dan saat berada di pintu masuk, Jin melihat ada penjual bunga lalu, dia pun membelinya.


"Pak, ingin membeli bunga untuk jiarah?" ucap wanita paruh baya yang menjual bunga.


"Iya, saya sudah lama tidak mengunjungi makam kelurga saya dan saya beli yang ini sama yang ini," jawab Jin sambil memilih bunga yang akan dibelinya.


"Oh, begitu. Kamu yang kuat ya nak," ucap motifasi penjual bunga sambil mengemas bunga yang dipilih Jin."


"Terimakasih nek," jawab Jin yang tersenyum lebar.


Disaat itu juga Jin menyadari ada beberapa orang yang sedang mengintai nya memakai pakaian biasa. Tidak hanya itu saja, sistem memberikan laporan nya dengan layar yang berbuka otomatis.


Kling!


[ Ada yang tiga mengintai di sekitar anda.]


Jin pun tersenyum lantaran fitur [Intel ] yang baru ditukarnya dengan 50 kupon pada saat di pesawat sangatlah berguna.


"Nak, ini bunga nya!" ucap nenek penjual bunga yang memberikan bunga yang sudah dikemas nya.


Saat mendengar itu, pandangan Jin kembali kepada nenek penjual bunga dan tersenyum.


"50 ribu semuanya, nak," jawab nenek penjual bunga.


Jin pun melirik ke sekeliling nya lalu mengambil semua uang yang telah ditukarnya menjadi rupiah sekitar 2 juta rupiah lebih. Lalu, Jin memberikan uang itu kepada nenek itu.


Nenek itu pun terkejut, "Nak, apa maksud ini? saya tidak bisa menerima nya."


"Nek, ini permintaan dari saya. Nenek untuk hari ini pulanglah secepatnya dan menikmati rezeki ini untuk keluarga nenek hari ini. Saya minta tolong!" bujuk Jin.


Nenek itu pun menangis sambil menerima uang itu, "Baik, nak. Terimakasih. God memberkati mu dan memberikan pahala yang berlimpah."


"Amin," jawab Jin.


Sesaat kemudian, nenek itu pun mengemasi barang dagangan nya dan pergi meninggalkan pemakaman. Di depan pemakaman memang hanya nenek itu yang berjualan jadi Jin bisa bernafas lega. Sekalipun ada pertarungan, orang tidak bersalah tidak akan menjadi korbannya.


Sesudah melihat nenek itu benar-benar pergi, Jin pun masuk kedalam pemakaman dengan membawa bunga dan terus melangkah hingga di makam seluruh keluarga nya. Jin pun menaruh serta menabur bunga lalu memberikan air sesudah itu memanjatkan doa disana.


Jin meminta maaf lantaran baru bisa mengunjungi makam setelah sekian lama.


Sesudah itu, Jin pun merapihkan makam yang dimana ada beberapa orang disana yang dimana sedang menatap Jin.


Sistem pun memberikan laporan nya.

__ADS_1


Kling!


[Enam pengintai dengan bersenjata pistol.]


Jin pun memasukan tangan ke jaket dan berpura-pura mengambil pistol dari jaketnya namun yang sebenarnya Jin mengambil dari fitur [Gudang].


Pengintai Jin itu tahu bahwa Jin sedang mengambil pistol dan kedua pengintai sontak juga mengeluarkan pistol dan melesat kan tembakan.


Ciung!


Jin pun sontak menghindar hingga membuat tembakan meleset ke makam. Jin pun juga membalas tembakan dan mengenai satu pengintai. Lalu, Jin berguling ke depan dan melanjutkan tembakan yang mengenai pengintai yang lain.


Sesudah itu, Jin berlari dan bersembunyi pohon besar. Keempat pengintai lainnya melangkah pelan mendekati Jin.


Jin pun mengambil satu lagi pistol kedap suaranya hingga kedua tangannya dilengkapi dengan pistol kedap suara.


Lalu, Jin pun menarik nafas dalam-dalam dan keluar dari persembunyian nya dengan menodongkan kedua pistol kedap suaranya dan melesatkan nya.


Ciung! Ciung! Ciung!


Dalam sekejap, Jin berhasil melumpuhkan keempat pengintai meski, ada tembakan di perut Jin namun itu tidak menjadi masalah lantaran sistem dengan cepat mengaktifkan ultimate skill [Restoration] nya hingga luka langsung sembuh.


Pertarungan pun usai, Jin merampas senjata mereka. Selain itu, Jin merampas ponsel mereka untuk mencari sosok yang memerintah kan mereka dan Jin pun melihat seseorang yang dikenalnya.


"Bullet?!"


Sesaat itu juga Bullet menelepon dan Jin pun mengangkat nya.


"Laporan!" suara bullet dari balik telepon.


"Lama tidak berjumpa, Bullet!" sapa Jin.


"Key, ternyata kamu sudah membunuh mereka."


"Entahlah. Tapi, ini sambutan yang cukup hangat."


"Bagaimana rasanya kembali ke kampung halaman?" tanya Bullet.


"Sedikit panas tapi nyaman. Oiya, aku akan datang mampir malam ini," ucap Jin.


"Oh, begitu kah. Aku akan menyiapkan hidangan terbaik," jawab Bullet.


"Wua, aku tidak sabar untuk mengicipinya dan titip salam pada Sloan, aku merindukan nya."


"Saya pikir, dia juga merindukan mu," jawab Bullet.


"Baiklah, sampai bertemu di rumah."


"Oke, kami tunggu," jawab Bullet.

__ADS_1


Jin pun menutup telepon lalu dengan tatapan dingin, dia menembaki ponsel itu. Setelah itu, Jin meninggalkan makam.


...# Extraordinary System #...


__ADS_2