
...Bab 42. Counter Attack...
Setelah Alina bertemu Juan dan berpamitan, dia pun pergi dengan ke ruang OSIS dengan tatapan yang tajam dan mengusap air matanya.
Lalu, saat tiba di ruang OSIS. Alina membuka pintu dengan keras hingga membuat murid yang ada didalam terkejut termasuk Alex dan Marcella.
"Alex, kita bisa bicara sebentar?" tanya Alina dengan tatapan tajam melihat Alex.
Alex pun melihat wajah kemarahan dari Alina hingga dia memerintahkan semua murid yang ada di ruangan itu untuk pergi dan membiarkan Alex dan Alina berbicara empat mata.
Saat Marcella melewati Alina, dia pun juga menatap tajam Marcella namun, Marcella hanya menunduk dan melewati Alina.
Sesaat kemudian, Alina dan Alex pun berdua saja di ruang OSIS.
"Ada keperluan apa Lin? Mungkinkah, kamu ingin meminta bayaran. Katakan berapa yang kamu inginkan?" ucap Alex yang membuka pembicaraan.
Alina pun duduk di kursi dan menatap dingin Alex.
"Aku tidak butuh uang. Tapi, kamu telah mengingkari janji dengan membiarkan Juan dikeluarkan dari sekolah." ucap dingin Alina.
"Tidak justru itu sudah keringanan untuk Juan," jawab Alex.
"Apa maksudmu?" tanya Alina yang menatap heran.
Alex pun tersenyum lalu, dia mengambil ponselnya dan menunjukkan nya kepada Alina.
"Ini Juan?" tanya Alina.
"Iya, dia Juan. Pelaku percobaan pembunuhan kepada Bu Anita," jawab Alex.
"Apa katamu? percobaan pembunuhan? itu tidak mungkin!" ucap mengelak Alina.
__ADS_1
"Terserah, kamu mau percaya atau tidak. Satu yang jelas, Saya sudah membantu Juan agar dia tidak masuk penjara. Bisa saja aku melaporkan kepada polisi dan memenjarakan Juan hingga dia membusuk disana. Kamu mengerti, Lin?!" ucap Alex.
"Cih! itu hanya rekayasa mu saja."
Seusai mengatakan itu, Alina pun beranjak dari kursinya dan pergi meninggalkan ruangan tersebut. Namun dihentikan oleh Alex.
"Lin, Saya minta maaf karena kurang mampu membantu Juan dan sebagai tanda maaf dari ku. Terima lah ini," ucap Alex yang memberikan segepok uang yang dibungkus oleh amplop coklat.
Langka Alina pun terhenti. Lalu, membalikkan badannya dan berjalan menghampiri Alex. Alex pun tersenyum senang.
"Nah, begitu dong."
Setibanya didekat Alex, Alina mengambil uang itu lalu, melepaskan segel gepokan uang dan melihat tajam dan senyuman sinis kepada Alex,
"Sudah ku katakan sebelumnya, aku tidak butuh uang mu!"
Sesaat mengucapkan itu, Alina melemparkan uang itu ke atas sehingga didalam ruangan OSIS menjadi hujan uang.
Ekpresi Alex pun berubah menjadi kesal sedangkan, Alina tersenyum. Tidak lama kemudian, dia pun meninggalkan ruangan.
"Lin, tunggu!" seru Marcella.
Alina berhenti sejenak dan melirik ke belakang.
"Maaf, aku tidak ingin bicara denganmu," ucap Alina dan dia pun melanjutkan langkahnya.
Setibanya di rumah, Juan pun disambut baik dan tangisan oleh Paman, Tante dan kedua adiknya. Namun, Juan malah yang menenangkan mereka.
Keesokan paginya, Juan melakukan aktifitas seperti biasa dan membuatkan sarapan untuk kedua adiknya dan lainnya seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Hal ini dilakukan Juan agar tidak membuat khawatir keluarganya.
Bahkan sekalipun ditanya tentang sekolahnya, Juan selalu menjawab dengan tenang dan santainya bahwa tahun ajaran baru nanti Juan bisa bersekolah lagi dan kembali ke kelas 12. Selain itu, Juan berhasil menyembunyikan kemarahan dan kesedihan nya berkat Skill [Poker Face] nya.
__ADS_1
Itulah Juan tapi tidak dengan Phantom.
Ditengah malam, Juan masih terjaga. Kali ini, dia ingin tahu bagaimana cara sekolah untuk mengatasi kasus yang akan menerpanya dengan bermodalkan laptop dan skill [Hacking] nya. Juan meretas seluruh seluruh media televisi, website dan sebagainya. Sebuah video yang menampilkan beberapa dokumen penyuapan, pelecehan seksual, nepotisme, kekerasan, pembully an selama bertahun-tahun di Utopia High School. Dokumen itu didapatkan dari dokumen terunduh sebelum nya saat mencari pelaku tabrak lari. Juan pun memberikan nama video itu Dark Side Elite School. Tentu hal itu membuat heboh seluruh media dan netizen.
Keesokan harinya, beberapa wartawan berkumpul di depan pagar sekolah. Ada pun beberapa wali murid ber demo untuk menuntut keadilan dan kesetaraan.
Bu Maya dan guru lainnya menjadi panik dibuatnya.
"Bu Maya, bagaimana ini?" tanya wakil kepala sekolah.
Bu Maya tidak bisa menjawabnya dan terdiam.
Diruang OSIS, Alex pun melempar semua barang-barang yang ada disana.
"Bjingan! ini pasti ulah Juan. Njing! bgst!" seru kesal dan ngamuk Alex yang mengacak-acak seluruh barang di ruang tersebut.
Marcella yang ada disana hanya bisa menundukan kepala dan terdiam.
Ditempat yang berbeda, Alina melihat beberapa wartawan itu dengan wajah yang serius.
"Mungkin kah ... Juan," batin Alina.
Sesaat mengambil kesimpulan itu, Alina pun membalikan badannya dan terpikir sebuah rencana.
"Phantom tidak satu orang," batin Alina yang terus melangkah ke luar.
Ditengah sarapan, Juan dan keluarganya juga menyaksikan berita heboh tersebut.
"Juan untuk kamu sudah keluar dari sana," ucap Paman Ferdi.
"Sekolah kaya gitu, pergi ke laut aja!" seru kesal Rania.
__ADS_1
Juan tidak merespon komentar keluarganya dan hanya memberikan senyuman.
...# Extraordinary System #...