
...Season 2 - Bab 24. Reuni In Tragedi...
Pada hari itu, Jin juga Alice ditangkap dan diborgol oleh Rania namun, Rania tidak membawanya ke kantor polisi melainkan ke suatu tempat yang Jin juga Alice tidak ketahui. Awalnya mereka saling berdiam tapi Rania pun tidak bisa menahan kekesalannya.
Rania pun memberhentikan mobilnya di sisi jalan.
"Apakah kalian dari awal memang tidak mati?!" ucap ketus sambil melihat belakang dengan spion dalam.
"Maaf, Rania. Itu harus kami lakukan," jawab Alice.
"Aku bisa paham dengan kak Alina, bukan. Kak Alice. Lalu, bagaimana dengan mu?" Rania menatap tajam Jin dari spion. "Akhirnya, terjawab. Kenapa ada uang ratusan juta masuk ke rekening ku?! apa maksudmu sebenarnya?" ucap ketus Rania.
Jin membalas tatapan tajam Rania dengan tatapan yang sama.
"Aku ingin membalas segala perbuatan mereka yang telah membunuh keluargaku," jawab Jin.
Mendengar itu, Alice dan Rania melihat Jin. "Siapa?"
"Haruto Masamune, ketua dari Masamune Clan."
"Apa katamu?! kenapa tidak lapor polisi saja?" ucap Rania.
"Aku tidak percaya siapapun, kecuali ..." Jin melihat kearah Alice dengan senyuman begitu pun Alice juga memberikan senyuman. "Dia," ucap Jin.
"Ahh ... iya, ya. Semakin yakin dengan kalian dan hentikan romansa kalian," ucap Rania kesal.
Sesaat kemudian Jin melihat pesan peringatan.
Kling!
[Deteksi pembunuh diarah Utara.]
Melihat itu, Jin sontak melihat kearah Utara yang mana di arah dari Rania. Maka dari itu, Jin sontak beranjak kedepan dan memasang badan untuk melindungi Rania.
Tidak lama, beberapa peluru melesat dengan cepat.
"Rania!" teriak khawatir Alice melihat Rania tertembak.
Jin yang merasakan adanya tembakan di tubuhnya sontak Jin mengalihkan pandangannya ke kearah sumbernya tembakan namun, Jin tidak melihat siapapun.
Jin pun mengabaikan itu dan melihat kondisi Rania.
"Rania, kamu baik-baik saja?"
Saat Jin mempertanyakan itu, dia melihat Rania sedang terluka tembak di bahu tangan kanannya.
"Jin, Ayo kita bawa Rania ke rumah sakit!" seru Alice.
"Jangan! Jika kerumah sakit, kalian akan dalam bahaya," saran Rania sambil menahan rasa sakit nya.
Jin melihat kearah Alice dan dia pun terdiam dengan wajah yang cemas dan Jin terpikir sesuatu.
__ADS_1
Rania pun menyambung ucapan nya, "Kita tidak jauh dari golden city. Kak Juan pergilah ke bar Mutiara dan temui Bu Ayu disana!" ucap Rania yang memberikan kunci borgolnya.
"Baiklah, Ayo!" jawab Jin.
Jin pun sontak membuka borgol dirinya juga Alice lalu mengeluarkan Rania dari mobil dan menggendong di punggung Jin. Sedangkan, Alice membantu mencari bar itu.
Jin yang mengendong Rania dilihat dan diperbincangkan oleh banyak orang lantaran darah yang menetes di baju Jin dan Rania semakin lama semakin lemas. Jin pun tidak mempedulikan nya dan terus melangkah.
Beberapa saat kemudian, Jin dan Alice tiba di gedung bertingkat tiga yang mana pada lantai dua nya merupakan bar Mutiara.
"Jin, disini! Ayo bergegas!" seru Alice.
"Iya," jawab Jin.
Lalu, mereka pun masuk ke lift dan pergi ke bar Mutiara. Setibanya disana, Jin dan Alice melihat seorang wanita dewasa yang sedang membersihkan bar nya.
"Maaf, Bar masih tutup! Datanglah beberapa jam lagi!" ucap wanita dewasa sambil terus fokus membersihkan bar nya.
"Maaf, apakah anda Bu Ayu? kami membutuhkan bantuan Anda!" ucap Alice.
Bu Ayu pun menghentikan aktifitasnya dan melihat kearah Jin dan Alice. Disaat melihat mereka, Bu Ayu terkejut melihat Rania yang berada di punggung Jin dengan berlumuran darah, "Rania, apa yang terjadi kepada nya?" ucap ceman Bu Ayu yang sontak menghampiri Jin.
"Bu Ayu, yang lebih penting izinkan saya untuk meminjam sofa!" ucap Jin.
"Ya, Ya ... silahkan!" jawab Bu Ayu.
Setelah mendapat kan izin, Jin pun merebahkan Rania. Lalu, mengeluarkan semua peralatan pengobatan dan Operasi kecil dari fitur [ gudang].
Bu Ayu yang melihat itu, dia pun terheran. "Darimana asal peralatan ini?"
"Tunggu sebentar!" jawab Bu Ayu yang sontak pergi mengambil alkohol dan air panas.
Jin membuka blazer dan kemeja putihnya sehingga pakaian dalam Rania terlihat, "Kak Juan msum!" gumam Rania sambil meringis.
Alice pun melirik Jin dengan tatapan tajam, "Memang msum!"
"Aish ... bisakah kalian diam?!" ucap Jin sambil melakukan mengobatan.
Rania dan Alice tersenyum lebar.
Tidak lama, Bu Ayu datang membawa alkohol dan air panas. Lalu, Jin pun melakukan operasi kecil untuk mengeluarkan pelurunya yang membuat Rania kesakitan tapi masih bisa ditahan nya. Sesudah peluru dikeluarkan, Jin pun menjahit luka nya dan membalut.
Dengan ini, Jin berhasil menyelamatkan nyawa Rania. Tidak lagi seperti dulu yang ceroboh tanpa membawa peralatan dan tidak bisa menyembuhkan Alice secara manual. Saat mengingat itu, Jin melihat Alice.
Alice pun menatap heran dengan tatapan Jin, "Ada apa?"
"Bukan, apa-apa," jawab Jin dengan senyuman.
Beberapa saat kemudian, Rania pun bangun dari rebahan nya dan duduk.
"Terimakasih, kak Juan."
__ADS_1
Jin menjawab dengan merapihkan barang- barang nya, "Tidak perlu sungkan dan jangan panggil aku Juan! Dia sudah mati bersama kedua orang tuamu."
"Begitu kah, apa aku harus juga merubah identitas ku," ucap Rania yang menundukkan kepalanya.
Alice yang mendengar itu, dia memegang bahu kanan Rania, "Rania, siapapun identitas mu? kamu adalah kamu tidak akan ada yang berubah karena Identitas sesungguhnya ada." Alice mengalihkan tangan ke dada Rania, "Di hati mu dan jiwa mu," ucap Alice yang diakhiri dengan senyuman.
Rania melihat kearah Alice dan tersenyum, "Terima kasih kak Alice."
Rania dan Alice pun saling bertukar senyum begitu juga Jin dan Bu Ayu yang mendengar nya dari balik meja bar.
Sesudah itu, Rania mengalihkan pandangannya kearah Jin, "Kak Jin, sekarang apa rencana mu?"
Jin pun menatap tajam Rania, "I'dont have Friends, I got Family. Sepenting apapun tugas ku. Aku akan mencari pelaku yang ingin membunuhmu."
Rania pun tersenyum, "Kakak memang tidak berubah. Selalu mementing orang lain dari pada diri sendiri."
Alice pun terpikir sesuatu. Lalu, dia mengambil peluru yang dikeluarkan oleh Jin.
"Satu petunjuk nya ialah peluru ini," ucap Alice yang menunjukan peluru yang dipegangnya.
"Peluru?" tanya Rania.
"Iya, setiap pembunuh sniper memiliki ciri khas pelurunya sendiri," jawab Jin.
"Lalu, bagaimana cara mengetahuinya?" tanya Rania.
"Sepengetahuan ku, ada seorang informan di Golden City ini," jawab Jin.
"Siapa?" tanya Alice.
"Long Zhi," jawab Jin.
Mendengar itu, Rania mengetahui sosok itu. "Long Zhi dari Triad Black Mantis?"
"Iya, kamu mengenal nya?" tanya Jin.
Sesaat kemudian, Bu Ayu datang memotong pembicaraan sambil memberikan beberapa kue diatas meja.
"Dia membuka usaha mahjong disini dan kamu bisa menemui nya disana."
"Baiklah, aku akan segera kesana dan Alice, kamu tunggu disini saja menjaga Rania. Takutnya mereka akan datang kesini!" ucap Jin.
"Oke, serahkan kepadaku!" jawab Alice.
Sesudah itu, Jin pun beranjak dari kursi dan pergi meninggalkan bar Mutiara.
...# Extraordinary System #...
Hei, sahabat Jin semuanya. Terimakasih kepada teman-teman sekalian yang masih mengikuti update nya novel ini serta like, vote, gift juga komen-komen nya.
Sorry banget guys, beberapa hari kedepan aku update nya satu bab saja lantaran kesibukan di tahun baru dan istirahat sejenak. hehehe
__ADS_1
Terimakasih atas pengertiannya ...
See Ya ...