
Mumut tersendu-sendu dibatu pinggir kali. Ia membayangkan kenangan lama dimana semua bermulai.
Di kali ini, Mumut melihat semua kenangan dengan sangat jelas bagaimana hidupnya benar-benar berubah pada saat itu.
"Sayang, maafkan perkataan anakku. Sungguh aku menyesal karena Ju bisa berkata seperti itu," ucap Yuda yang langsung memeluk Mumut dari belakang.
"Mas, aku pantas disebut seperti apa yang dikatakan Ju," jawab Mumut sembari menyeka air matanya sendiri.
"Tidak ada yang boleh mengataimu seperti itu. Kamu adalah istriku yang sangat aku cintai. Kamu adalah wanita murni pernah aku temui. Tak ada satupun lisan yang pantas menghina mu. Aku akan memotong lidah anak kurang ajar itu jika kamu mau!"
"Maaass...?" Mumut tak percaya.
"Hehe, aku hanya bercanda. Tapi akan terwujud jika memang kamu menginginkannya," lanjutnya.
"Tidak, mas! Mereka adalah anak-anak kita. Aku tidak akan membiarkan siapapun melukainya. Dia masih labil dan aku paham pasti ada sesuatu yang dia inginkan, makannya dia berani berkata begitu padaku. Kita tahu bagaimana Ju, mas!" ucap Mumut mencoba untuk meluruskan masalah itu.
"Kamu benar. Tapi aku akan tetap memberinya hukuman. Selama ini kita terlalu lembut Kepada mereka sampai Ju yang kita kenal anak patuh pun berani berkata kurang ajar seperti itu!"
Mumut menatap wajah pria nya yang mulai sudah ada rambut putih disana.
"Mas, sudah tidak papa. Aku sungguh tidak papa. Oya, kita berendam disini yuk? air disini segera tenan loh, mas!" ucap Mumut yang langsung menarik tangan suaminya untuk berenang di sungai yang airnya masih nampak bersih nan jernih.
"Sayang, batu disini licin nanti kalo jatuh bagaimana! ingat umur!" ucap Yuda menasehati.
"Ndak papa ndak, ayok sini!" ucap Mumut mencoba untuk meyakinkan suaminya.
Akhirnya yuda pun mengikuti keinginan istri tercinta untuk bermain air layaknya anak-anak.
Menua tidak merubah apapun, bahkan rasa cinta semakin tumbuh nan rimbun.
Kebahagiaan Mumut adalah hal yang ingin selalu Yuda pertahankan.
.....
Singkat cerita, kini Yuma telah sampai kekota dengan selamat. Siang itu dia langsung bergegas kekantor.
"Dimana klien kita?" tanya Yuma yang terlihat buru-buru memasang bulu mata palsu.
"Ada diruang meeting, Buk!"
__ADS_1
"Baiklah, kamu lihat aku! Apakah aku sudah terlihat seperti ondel-ondel?" tanya Yuma yang enggan memuji dirinya sendiri, tetapi berharap pujian itu keluar dari mulut seseorang.
"Tidak buk. Anda sangat cantik sekali. Ini sudah sempurna."
"Bagus, aku tahu itu. Sekarang ayo antar saya!"
"Baik, buk."
Yuma berjalan berlenggak-lenggok dengan gaya centilnya yang sangat khas dan natural.
Wajah yang sangat menggemaskan mampu membuat karyawan pria tak dapat memalingkan wajah mereka.
"Huuuuffft!" Yuma mengambil nafas dalam-dalam ketika dia sudah berada di depan pintu ruangan dimana klien penting dari Amerika itu menunggunya.
Ceklek... Yuma membuka pintu.
Pria dengan badan tinggi semampai berdiri membelakangi pintu dan menatap pemandangan kota dari jendela.
Yuma membungkukkan badannya untuk memberi hormat.
"Good afternoon, Sir. Sorry for my inappropriate actions the other day. Really we have done the wrong schedule so that this unpleasant thing happened."
Tetapi, sampai beberapa saat Yuma menunggu, pria itu masih tak bergeming membuat Yuma salah tingkah dibuatnya.
"Sir, are You oke?
(Tuan, apakah Anda baik-baik saja?)" tanya Yuma kembali. Tapi, lagi dan lagi pria itu masih tidak menggubris Yuma.
"Ya tuhan! apakah orang ini tuli !" batin Yuma mengumpat.
"Iiisst, orang ini benar-benar ya! apakah aku harus melemparkan sepatu ku supaya dia sadar jika ada seorang wanita cantik sedang berdiri disini!" umpat Yuma mengomel. Yuma sangat yakin jika pria itu tidak akan mengerti bahasanya makanya dia berani untuk berbicara di belakang.
Tetapi, sesaat kemudian jantung Yuma ingin lompat dari tempatnya ketika pria itu menunjukan wajahnya.
"Apakah begitu cara anda menyapa klien anda!?" tanya Pria itu dengan logat bulenya.
"oh..my...God..... apakah ini mimpi...."
"Ka...kamu!" Yuma masih ternganga tak percaya.
__ADS_1
pria itu berjalan mendekati Yuma dan menutup mulut Yuma dengan tangannya.
"Awas nanti ada serangga masuk, Nona!" ucap pria itu sambil mengedipkan matanya.
DEG...
Wajah Yuma langsung memerah bak kulit terbakar oleh api.
Menyadari jika dirinya dalam keadaan fase tidak baik-baik saja, Yuma langsung mundur dan mencari cermin di tasnya untuk melihat kondisi wajahnya.
"Apakah wajah ku baik-baik saja!?" batin Yuma.
Melihat tingkah konyol Yuma membuat Jack tertawa tak tahan.
"Hahahahaha..... Yuma..yumaa... kamu tidak pernah berubah ya.!? inilah alasan datang kesini, sungguh saya sangat rindu wajah manismu," ucap Jack yang langsung mencubit hidung Yuma.
Yuma masih ternganga tidak percaya jika pria didepannya adalah Jack, cinta pertamanya ketika dia berada di Amerika.
"Jack, sungguh inikah kamu!?" tanya Yuma memastikan.
"Yes, ini adalah aku. Apakah kamu tidak suka?"
"Oh, tidak! hanya saja ini sangat mendadak sekali. Sungguh aku merasa sangat syok. Ah, mungkin aku masih mimpi, yah ini pasti mimpi!" ucap Yuma meyakinkan dirinya.
"Jack, bisakah kamu tampar aku. Aku ingin membuktikan sesuatu," ucap Yuma yang masih meragukan kedatangan Jack.
Jack berjalan perlahan mendekati Yuma.
Daaaan....
Emmmmuuaacch.....!
Jack mencium kening Yuma dengan sangat lembut.
Deg...
Yuma pun seketika pingsan ketika Jack mencium dirinya. Desir darah panas menjalar pada tubuhnya membuat keseimbangan jiwanya tidak setabil.
"Aaaaaahhhhh... ini hanyalah mimpi....!" batin Yuma terbang melayang jauh menembus awang-awang kayangan.
__ADS_1