FAMILY AMBYAAAR

FAMILY AMBYAAAR
takdir Tak terduga 6


__ADS_3

Ceklek... Raka tiba-tiba membuka pintu membuat semua orang melihat ke arahnya.


"Asih, masuklah!" ucap Raka meminta Asih untuk masuk ke dalam.


DOAAR....


Semua orang pun tercengang ketika Raka tiba-tiba meminta Asih untuk masuk.


"Sayang, bolehkah kami ikut masuk?" tanya Mumut.


"Iya kak, aku sangat ingin melihat Kak Angel untuk yang terkahir kalinya!" sahut Laras antusias.


Raka hanya berdiri tegap dan memasukan satu tangannya ke kantong celana. Terlihat wajah arogan Pangeran menurun kepada Raka saat ini.


Bahkan mumut sebagai ibu tidak pernah melihat ketegasan Raka di barengi dengan wajah arogan nan dingin.


Siapapun yang melihat mimik Arogan Raka saat ini. Pastilah semua orang akan takut meksi mereka tidak bersalah.


Tubuh Asih bergetar hebat. Bahkan rasanya dia seperti ingin lumpuh merasakan aura yang Raka keluarkan.


"Asih, masuklah!" ucap Raka penuh dengan penuh dengan penekanan. Dia tidak menjawab semua orang dan hanya fokus untuk menatap Asih.


"Sayang, ibu mohon kamu bujuk Raka ya?" bisik Mumut.


Asih pun hanya mengangguk pasrah. Saat berjalan, terlihat kaki Asih ngewel (apa ya arti ngewel? Mungkin bergetar. Jika salah tolong artikan)


Raka melebarkan pintu dan mempersilahkan Asih masuk. Lalu dia menutup pintu tanpa berkata sepatah katapun kepada Mumut dan Yuda. Entahlah, Raka mungkin mengira jika semua orang sudah bekerja sama dengan Jaka untuk menyembunyikan Angel darinya.


Di dalam ruangan. Asih di suruh rebahan di ranjang lain yang sudah sejajar dengan Angel. Sungguh, Asih sangat takut saat ini.


Suami baik dan hangat, kini dia terlihat sangat dingin dan seperti akan mengeksekusinya dengan sadis. Itu lah di pikirkan Asih saat ini.


"Tidurlah di sini," ucap Raka meminta Asih untuk segera.

__ADS_1


"Ma..mau ngapain, mas?" tanya Asih.


"Turuti saja sebelum aku akan memaksamu. Itu tidak akan baik jika sampai terjadi," tegas Raka membuat Asih seketika kehilangan udara pernafasannya.


Dadanya terasa sesak tetapi Asih tidak berani untuk berkata apa. Asih melihat jasad Angel yang terlihat sangat menakutkan bagi Asih saat ini. Rebahan sejajar dengan mayat, itu membuat jiwa penakut Asih meronta-ronta.


Raka mengambil sebuah suntikan yang entah apa itu, membuat Asih semakin ingin berteriak untuk meminta tolong. Tetapi dia tertahan ketika melihat wajah dingin Raka yang sedang sibuk memasukan beberapa obat kedalam suntikan.


Raka memang terlihat sangat keren saat ini di mata Asih. Semakin Arogan, maka semakin keluar aura kegagahan Raka. Tapi, entah mengapa untuk saat ini kekerenan Raka membuat Asih sangat takut untuk melihat suaminya sendiri. Asih tidak ingin melihat melihat suaminya seperti ini, asih hanya ingin suaminya yang hangat dengan tatapan penuh kasih dan sayang.


Raka melepaskan jasnya lalu menggulung lengan kemejanya. Bahkan dia sedikit melonggarkan kancing bajunya.


Usai membenahi diri sendiri, Raka lalu membawa suntikan itu ke sisi Asih membuat Asih semakin ketakutan.


"Mas, apa itu?" tanya Asih dengan bibir bergetar. Bahkan tidak sadar Asih sudah mengeluarkan air matanya.


Raka pun langsung tertunduk dan menurunkan suntikan yang sudah siap. Awalnya Raka merasa tidak perlu izin, tetapi setelah melihat mata Asih, Raka berfikir jika dia harus sedikit menghargai dia yang akan menjadi korban.


"Asih, sebelumnya aku ingin mengatakan terima kasih. Aku akan membayar kamu dengan semua harta yang aku punya. Kamu tahu berapa banyak harta yang aku punya. Itu cukup untuk membeli apapun yang kamu inginkan di dunia ini. Tetapi untuk mendapatkan harta ini, aku mohon sama kamu untuk bersedia melakukan transplantasi wajah," ucap Raka halus dengan menundukkan kepalanya. Sungguh Raka tidak bisa untuk menatap mata bening Asih.


"A..apa itu mas tranpaltasi?" tanya Asih yang sangat kesulitan untuk meniru kata-kata itu.


"Transplantasi wajah. Aku ingin memindahkan wajah Angel ke wajah kamu. Kamu tidak perlu khawatir, aku akan melakukannya sangat hati-hati, aku sendiri yang akan melakukan ini. Aku jamin ini tidak akan membuat mu sakit apa lagi kehilangan nyawa. Semakin cepat akan semakin baik. Aku minta supaya kamu bersedia?"


Deg... Meski Asih bodoh, tetapi dia tidak sebodoh itu untuk tidak mengerti apa yang akan terjadi. Asih pun menggelengkan kepalanya dengan kuat. Air mata semakin deras keluar. Bahkan ingin sekali Asih lari dan pergi dari sisi Raka yang sangat mengerikan saat ini.


"Tidak, Mas! Aku gak mau! Gimana sampean melakukan itu sama saya. Hiks...hiks... Aku ndak mau Mas!!! Aku ndak Mau!" tolak Asih mentah-mentah.


Mendengar Asih berteriak membuat Raka langsung emosi.


PRANK..!!!! Raka menyepar semua peralatan medis yang ada di sampingnya membuat kamar itu langsung terdengar bising.


Mumut dan Yuda yang mendengar itu pun langsung merasa sangat khawatir. Yuda mencoba untuk mendobrak pintu tapi sepertinya pintu sudah di ganjal dengan sesuatu dari dalam.

__ADS_1


"Mas, apa ada CCTV di kamar ini?" tanya Mumut.


"Ah, kamu benar sayang. Ayo kita ruang CCTV!" sahut Yuda yang baru ingat.


Bersamaan dengan itu, Dokter Jaka baru selesai melakukan tugasnya dan bertemu dengan Yuda dan Mumut yang terlihat sangat gugup dan cemas.


"Mbak! Mas! Kalian mau kemana?" tanya Jaka yang belum tahu betapa seriusnya kasus ini.


"Ponakan kamu Raka, dia mengunci Asih di dalam kamar Angel. Kita mau dari CCTV apa sebenarnya yang terjadi!" ucap Yuda.


Jaka baru ingat.


"Mbak, CCTV udah di lepas, waktu Angel minta untuk cctv di kamarnya di lepas, jadi sekarang udah gak ada," jelas Jaka membuat Mumut dan Yuda semakin tambah kalut.


"Ya tuhan! Bagaimana kamu bisa ceroboh itu Jaka!" teriak Yuda kesal.


"Ju..! Kita panggil Ju, kita minta tolong sama dia saja!" ucap Mumut memberi ide. Karena yang mewarisi kecerdasan Raka adalah Ju.


Yasmin tiba-tiba datang dan bertanya.


"Ada apa ini, kok pada tegang?" tanya Yasmin.


"Sudah jangan banyak tanya. Situasi sedang tegang. Raka mengunci Asih di dalam kamar!" ucap Yuda panik sambil mencoba menghubungi Ju.


Yasmin yang masih tidak tahu seberapa serius masalah ini hanya mengumpat kesal kepada kakaknya Yuda Yang sudah sewot dengannya. Padahal dia bertanya baik-baik.


"Aku akan coba menggunakan akses kartu untuk membuka pintu," ucap Jaka mencoba mencari cara.


"Ayok!" ucap Mumut tidak ingin membuang-buang waktu. Mumut sangat takut jika Raka akan melukai Asih. Selembut-lembutnya Raka, dia juga mewarisi Gen ayah kandungnya Pangeran yang sangat kasar dan keras jika sedang mengamuk.


Ketika beberapa kali, pintu tidak juga bisa di buka. Meksi kunci berhasil, tetapi sepertinya Raka memang sudah mengganjal pintu dari dalam sehingga tidak dapat didobrak.


"Raka! Ibu mohon buka pintunya sayaaang!" teriak Mumut histeris.

__ADS_1


Di dalam kamar, terlihat Raka menatap tajam ke arah Asih yang kini benar-benar merasa sudah tidak ada keberanian meski hanya sekedar untuk menarik nafasnya.


__ADS_2