FAMILY AMBYAAAR

FAMILY AMBYAAAR
Cemburu (Jay)


__ADS_3

Di sebuah atap gedung sekolahan, 3 siswi berparas bak model berjalan maju berniat untuk menyudutkan Tini yang ketakutan.


"Mbak, ada apa ini?" tanya Tini yang ketakutan.


"Kami dengar, kamu adalah anak pembantu di rumah Triple J ya?" tanya salah satu dari mereka.


"Emmm ..." Tini nampak ragu menjawab. "I..iya mbak," jawabnya.


"Cih, anak pembantu sekarang tidak tahu diri rupanya! berlagak pingsan supaya mendapatkan perhatian dari majikannya," cetus kakak kelas itu.


"Saya beneran jatuh mbak! kalo tidak salah, ya sampean ya mendorong aku," ujar Tini yang ingat jika wanita bak model itulah yang entah sengaja atau tidak telah mendorong Tini.


"Kamu! berani ya menuduh aku!" teriak Fika dengan kesal.


"Aku ndak menuduh mbak! Aku memang ingat kalo sampean yang mendorong aku! Aku ingat bando anak-anak yang sampean pakek," ujar Tini.


"Apa kamu bilang! bando anak-anak!? Heh, anak kampung ya kampung aja. Apa kamu tahu, bando ini lebih mahal dari pada sepatu butut kamu itu!" tukasnya dengan mata yang menyala.


"Sepatu ini mahal kok! Mas Jay yang membelikannya untuk aku. Aku lihat harganya hampir 500 ribu, ini mahal sekali," jelas Tini tidak mau kalah.


"Hahahaha... lihatlah anak kampung ini, harga segitu mahal kata dia! Apa kamu tahu, di sekolah ini sepatu yang di pakai oleh kami paling murah harganya adalah 2 juta. Cih,!"


Tini yang mendengar itu merasa kesal. Karena barang pemberian dari Jay dikatai.


"Mbak! meskipun sepatu ini menurut kalian murah, tapi sepatu ini adalah barang paling spesial dan berharga karena sepatu ini adalah pemberian dari Mas Jay!" teriak Tini membuat tiga siswi centil itu mendelik dan terdiam.


"Kamu! berani ya membentak aku!" teriak Fika kesal. Dengan langkah penuh geram Fika berjalan mendekati Tini sambil membawa kayu di tangannya.

__ADS_1


Tini melangkah mundur ketika Fika mendekat ke arahnya.


"Mbak! A..apa yang mau kamu lakukan!?" Tini nampak ketakutan tapi sambil tangannya mencoba untuk mengaktifkan cincin pemberian Ju untuk berjaga-jaga jika Fika benar-benar akan berbuat sesuatu padanya.


Fika tidak menjawab dan berniat untuk mengayunkan kayu itu untuk memukul Tini. Tapi, seketika tangannya terhenti ketika sebuah tangan mengentikannya.


"Mas Ju!?" Tini nampak senang dan berlari ke sisi Ju.


"Ah! Ju, itukah kamu!?" Fika nampak bergetar.


"Jangan sekali-kali kalian berani untuk menyakitinya atau kalian akan berhadapan denganku!" ucap Ju dengan lirih tetapi mampu membuat ketiga siswi centil itu lari terbirit-birit.


Ketika tiga wanita itu pergi, Ju langsung menatap Tini untuk memastikannya.


"Kamu tidak papa!?" tanya Ju cemas.


"Maafkan aku," ucap Ju dengan tulus. Nampak rasa menyesal menyelimuti hatinya.


"Cie... Mas Ju khawatir ya sama aku!?" ejek Tini tersenyum genit kepada Ju.


Melihat itu, Ju pun langsung tersadar dan berjalan duluan meninggalkan Tini.


"Mas Tunggu! Aku ikuut!" teriak Tini yang berlari mengejar Ju.


Dengan rasa yang sudah akrab, Tini berjalan sambil menggandeng tangan Ju. Bukan maksud apa-apa, Tini hanya tidak mau ketinggalan dan berkahir tersesat lagi di sekolahan super mehong itu. Terlihat juga jika Ju tidak mempermasalahkan sikap manja Tini. Ju tidak merespon ataupun menolaknya membuat Tini sedikit berani kepada Ju.


Ketika sedang menuruni anak tangga, dibawah Jay Jim dan juga Pink sedang terdiam lelah karena tidak juga menemukan Tini. Sampai akhirnya mereka mendengar langkah kaki menuruni anak tangga dari atas atap gedung.

__ADS_1


Jim dan Pink bernafas lega karena akhirnya Ju dapat menemukan Tini. Hanya Jay yang sedikit merasa menciut melihat Tini dengan manja menggandeng tangan Ju, bahkan Ju terlihat biasa saja dengan sikap Tini.


"Oh syukurlah akhirnya kamu ketemu juga! Tini, kamu dari mana aja!?" tanya Pink.


Tini pun menjelaskan jika dia tersesat sampai akhirnya bertemu dengan tiga siswi centil yang membawanya ke atas atap sekolah.


Pink yang mendengar itu pun langsung naik pitam dan berniat untuk memberi pelajaran kepada siswi kurang ajar itu. Meski mereka adalah kakak kelas, tapi itu tidak membuat Pink merasa gentar.


"Kalian tunggu di sini aja, biar aku yang mengurus sisanya," ucap Pink yang langsung berjalan pergi.


"Tini, kamu tidak papakan?" tanya Jim memastikan.


"Alhamdulillah tidak papa Jim. Makasih Karena kalian udah khawatir sama aku," sahut Tini.


"Ayo kita ke kantin, kamu belum makan apa-apa kan Tini?" ucap Jim.


"Hehehe, ho'oh Jim, aku laper banget dari tadi belum makan," jawab Tini.


Jim dan Tini pun jalan duluan ke depan, sedangkan Jay dan Ju berada di belakang mereka sedikit jauh.


"Ju...?" panggil Jay lirih.


"Ada apa?" jawab Ju tanpa menoleh.


"Em, tidak papa. Makasih karena telah menemukan Tini tepat waktu," ucap Jay.


Ju berhenti melangkah dan menatap saudara kembarnya Jay. Sepertinya Ju ingin mengetahui sesuatu dan ingin mengatakan sesuatu, tetapi tertahan ketika Tini berteriak memanggil mereka.

__ADS_1


"Bukan tugas mu untuk berterima kasih karena Tini adalah tanggung jawab kita. Aku hanya menjalankan apa kata ibu," ucap Ju yang langsung berjalan meninggalkan Jay yang terdiam.


__ADS_2