FAMILY AMBYAAAR

FAMILY AMBYAAAR
Satu paket


__ADS_3

"Kakaaaaaak! Aku tidak lihat, sumpah aku tidak lihaaaat!" teriak Yuma menutup wajahnya tetapi jari-jarinya sedikit terbuka membuat mata itu tetap dapat melihat.


Asih terlihat sangat gugup melihat kedatangan Yuma yang tiba-tiba. Ternyata adik iparnya ini tidak hanya somplak didunia online. Di dunia nyata juga dia benar-benar orang sangat luar biasa aktif.


Raka mendekat ke arah Yuma dan menjewer kuping adiknya yang menggemaskan itu.


"Aaaauuu... Auw.. auw! Ampun kak, sudah ku bilang aku tidak melihat!" teriak Yuma meminta ampun.


"Memang apa yang kamu lihat?" tanya Raka.


"Itu, kakak mencium kakak ipar sambil tangannya meraba-raba!" ucap Yuma yang langsung menutup mulutnya.


"Ouh, gitu ya... Jadi ini oleh-oleh adik kakak setelah belajar di luar negeri. Masuk ke dalam rumah orang tanpa ketuk pintu dan permisi, habis itu malah mengintip kakaknya yang bermesraan!"


"Hehehe.. maaf kak, udah kebiasaan soalnya," jawab Yuma sambil cengengesan.


"Ubah kebiasaan itu!"


"Siap, komandan. Laksanakan!" sahut Yuma sembari meniru gaya tentara.


"Emm.. kakak kangen banget sama anak ceriwis satu ini. Maaf kakak belum sempat mengunjungi mu," ucap Raka sambil memeluk Yuma erat.


"Aaa... Yuma juga kangen kakak. Hp kakak kenapa gak bisa di hubungi. Kenapa kakak gak jemput Yuma di bandara?" tanya Yuma manja.


"Kakak tadi sedang membawa kakak ipar kamu periksa ke rumah sakit."


"Oh, iya!" Yuma teringat sesuatu.


"Hay, kakak ipaaaaar!" lanjutnya sambil berlari ke arah Asih yang masih terdiam. "Selamat untuk mu ya kak. Aaah, kamu ternyata lebih cantik aslinya dari pada di Vidocall. O iya, hidung kita sama!" tambah Yuma antusias.


"Makasih Yo. Ah, kamu juga cantik banget. Kamu lebih tua dari aku tapi wajah kita kaya seumuran."


"Banyak yang bilang gitu, aku seperti anak SMP. Hahaa.. tapi aku suka!"


"Kalian lanjutkan obrolan. Kakak akan masak buat kalian," ucap Raka memotong obrolan dua wanita itu yang terlihat sangat asyik.


"Siap kak. Kak buatkan aku jus buah naga ya. Haus. Hehehe...!"


"Tamu manja!" Ledek Raka.


"Tamu kan Raja. Wek...!"


"Raja kan laki-laki!"


"Berarti aku Ratu. Hahay!"

__ADS_1


Raka hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Kamu bawa ini?" tanya Asih melihat Yuma yang membawa bungkusan sedang.


"Aaa... Ini adalah kaca mata yang lagi trend saat ini..!" sahut Yuma yang langsung membukanya


Asih pun terkejut ketika melihat kaca mata berbentuk bintang dengan pola yang cukup besar.


"Ya ampuuun... Ini kaca mata anak-anak Yuma!" sahut Asih. Karena waktu kecil dua sering dapet lotre dengan hadiahnya kaca mata berbentuk bintang.


"Hahaha... Enak saja, ini adalah kaca limited edition, kakak. Kamu tau harga satu kaca mata ini. 10 juta dan aku membeli banyak sekali. Ini akan kita pakai ketika aku menikah. Aaaaa.. pasti akan gokil habis kalo di acara pernikahan aku kita serempak pakai ini!" jelas Yuma antusias.


"Opo! 10 juta!? Yuma, di warung kalo kita menang lotre, paling cuma habis 2 ribu. Kalo beli di toko anak-anak, paling cuma 10 sampe 15 ribuan aja kaca mata kaya gini ..!" ujar Asih yang tidak percaya hanya untuk harga kaca harus mengeluarkan biaya sebanyak itu.


"Oh my God kakak ipaaaaar. Masak iya kaca mata bermerk kamu samain kaya kaca mata mainan anak-anak! Fix, kakak harus jalan-jalan keluar negeri supaya paham," ujar Yuma bertekad akan mengajak kakak iparnya untuk Keliling dunia.


"Benar, ya? Kamu akan ajak aku jalan-jalan ke luar negeri. Tapi pakek duit kamu ya, kalo pakek duit mas Raka nanti habis. Belum lagi nanti buat persalinan. Pasti butuh biaya banyak," ujar Asih.


Mata Yuma pun langsung mendelik.


"Oh, yaa ampun, apakah kak Raka kini bangkrut dan jatuh miskin?"


Plak...! Raka memukul kepala Yuma menggunakan koran.


"Aw kakak!" pekik Yuma. "Kakak, apakah kakak kini telah kehabisan uang? Kakak bangkrut? Baru Yuma tinggal 3 bulan belum ada kakak udah bangkrut!?"


Mata Yuma pun langsung hijau meski warna kartu itu hitam.


Ketika Yuma akan mengambilnya, Raka langsung menyautnya kembali.


"Nanti setelah istriku melahirkan," lanjutnya sambil tersenyum Joker ke arah Yuma.


"Huuuu... Reseh!" sahut Yuma cemberut.


"Minum tuh jusnya. Asih, yang jus jambu merah buat kamu."


"Makasih, mas."


"Kok masih Mas sih manggilnya!?"


"Harusnya apa?" tanya Asih.


"Ayang, beb, darling, misua, cinta, sweety, Ah.. masih banyak lagi...!"


"Asih, kamu jangan dengarkan dia. Ketika soundnya rusak, maka suaranya bisa merusak gendang telinga," sahut Raka mencoba untuk memperingati istrinya.

__ADS_1


"Tapi kayaknya bagus. Bisa di coba, apa ya, Ayang? Eh, gimana kalo beb aja?" sahut Asih meminta persetujuan dari Yuma.


"Hahahaha.... Kakak, kamu liat kakak ipar, dia saja sangat setuju dengan ku. Sudah sana kakak masak aja yang banyak, aku kangen masakan kakak," ujar Yuma meledek Raka.


Raka pun hanya bisa menepuk jidatnya melihat bagaimana adik dan istrinya bisa satu paket seperti itu.


Raka hanya berharap istirnya tidak lagi membicarakan soal hubungan intim mereka.


......


Di sisi lain, terlihat Sarah yang datang ke kediaman Pangeran dan juga Paula. Sarah memasuki rumah yang pernah jadi kenangannya. Ketika Sarah masuk, sudah banyak hal yang berubah. Dari dekor, cat, juga lainnya. Bener-bener sangat berbeda ketika terkahir kali dia meninggal rumah itu.


"Siapa ya?" tanya seorang wanita tua.


Tidak terasa air mata pun menetes dengan deras.


"Mama, ini Sarah, Ma? Mama apa kabar?"tanya Sarah yang langsung mendekati mantan mertuanya itu.


Nenek Ratu pun langsung memakai kaca matanya untuk memastikan apa yang dia dengar.


"Sarah? Ya Allah Sarah, ini kamu nak?"


"Iya, mah. Ini Sarah, hiks... hiks..." sahut Sarah yang langsung bersujud di kaki Nenek Ratu.


"Ya Allah anakku. Sini nak, Mama kangen banget sama kamu. Kamu baik-baik saja kan?" tanya Nenek Ratu meminta Sarah untuk bangkit dan memeluknya.


"Alhamdulillah Sarah baik, Mah."


"Siapa, Mah?" Suara di tangga membuyarkan kesedihan dua wanita itu.


"Sarah?" gumam Pangeran.


"Pangeran, ini saya. Kedatangan saya kesini karena saya ingin meminta maaf kepada Paula tentang apa yang terjadi di bandara."


"Memang ada apa ini?" tanya Nenek Ratu.


"Di bandara Paula melihat aku dan Pangeran jalan bersama. Dia pikir kami ingin rujuk kembali. Padahal kami hanya tidak sengaja bertemu di pesawat," jelas Sarah. "Saya juga sudah punya suami, mah. Tidak mungkin kalo saya rujuk lagi sama Pangeran. Apalagi Pangeran masih ada Paula," lanjutnya memperjelas.


Pangeran terdiam dan berekspresi tidak jelas. Sepertinya dia mengetahui sesuatu tentang Sarah.


"Ow ya..ya.. Mama mengerti perasaan kalian. Ya semoga kalian selalu baik-baik saja dan berdamai. Sarah, mama senang dengan sikap kamu yang mulai dewasa. Kamu akan lama di sini?" tanya Nenek Ratu


"Oh, tidak mah. Minggu depan Sarah udah akan kembali ke Prancis," jawab Sarah.


....

__ADS_1


Di balik pintu, Paula mencoba untuk menguatkan dirinya sendiri tentang takdir yang harus dia jalani.


__ADS_2