
Malam ini semua keluarga berkumpul di kediaman Yuda dan Mumut. Acara ijab kabul akan di selenggarakan di kediaman Yuda atas musyarawah keluarga. Pangeran tidak mempermasalahkan jika putrinya memilih untuk menikah di rumah itu sebab, itu adalah rumah dimana dia tumbuh besar. Walaupun Pangeran adalah ayah biologis Yuma, tetapi tidak dapat kita lupakan jika Yuda adalah sosok Ayah yang telah membesarkan Yuma.
Malam ini terlihat Yuma begitu sangat gugup di depan cermin. Laras dengan perlahan memoles wajah Yuma agar terlihat lebih fresh dan cantik.
"Ah, aku benar-benar tidak percaya jika bayi besarku ini akan menikah. Tapi mengapa sangat mendadak? padahal kamu baru saja pulang dari Sidney, kuliahnya juga belum selesai. Ah, aku tau! apa karena kamu takut kalo Alone aku rebut!? tanya Laras sembari bergurau.
"Laras, bukan begitu. Em, aku hanya sudah bosen belajar dan ingin terus berada di dekat Alone. Soal kamu dan Alone aku tidak lagi memikirkannya, aku sangat percaya dengan kalian tidak akan mengkhianati aku."
Laras tersenyum dan mengangguk.
"Uuu.. manisnya, tapi bagaimana jika aku berkhianat!?"
"Em.. Mungkin aku akan membeli pistol dan menembak kepala kalian!" sahut Yuma dengan ekspresi bercanda.
"Hii... Takut..!" ledek Laras.
"Laras. Emm, apakah kamu masih belum ada pacar?" tanya Yuma yang kini sambil memakai kebaya pengantinnya.
"Aku lagi nyaman sendiri. Lagi pula aku lagi fokus membantu kak Raka untuk mengurus perusahaan."
"Kamu memang bisa diandalkan, tidak kaya aku yang hanya bisa membuat kak Raka pusing. Hehehee...!"
"Makanya aku ada di sini."
Yuma pun menatap dirinya sendiri di cermin. Dia benar-benar merasa tidak percaya melihat dirinya sendiri di cermin.
"Laras, apakah aku sudah cantik?" tanya Yuma merasa tidak percaya diri.
"Kamu adalah bayiku tercantik di dunia. Kamu tunggu di sini dulu ya, aku mau bantuin yang lain di bawah," sahut Laras.
"Em, suruh Baby J datang kesini ya!?"
"Oke!"
Laras keluar dari kamar Yuma dan meninggalkan Yuma yang terlihat sangat gugup.
Laras melihat Jay, Jim dan Ju yang sedang membantu menyiapkan tempat untuk ijab kabul.
Karena hanya keluarga saja, jadi mereka menghias dan mendekor rumah sendiri.
"Jay, Jim, Ju! Kalian di panggil sama Yuma suruh naik ke atas!" panggil Laras.
__ADS_1
"Oh, oke kak!" sahut Jim.
Laras pun berjalan ke dapur untuk membantu Mumut dan Sarah yang sedang menyiapkan kue.
"Mama, ibu, Laras bantu ya?"
"Apa Yuma udah pakai kebayanya?" tanya Mumut.
"Sudah, Buk! sahut Laras.
"Mut, aku masih gak ngerti kenapa Paula seperti menghindari aku. Bahkan dia seperti ingin menjodohkan aku sama Pangeran," bisik Sarah kepada Mumut. Laras pun diam-diam mendengarkan pembicaraan Sarah dan Mumut.
"Aku juga gak ngerti, Mbak! Apa mungkin itu efek dari kehamilannya ya? Hem, apa Mas Pangeran sama mbak Paula berantem? padahal mereka sudah lama banget menunggu kehamilan mbak Paula."
"Aku benar-benar kaget pas tau Paula hamil. Usia kita sudah gak muda lagi loh, ini sih bener-bener anugerah. Aku berharap Paula dan Pangeran bisa bahagia dan hidup tenang di sisa usia kita. Aku akan kembali ke Prancis setelah acara resepsi pernikahan Yuma. Aku tidak enak kalo lama-lama ada di sini, takut nanti di kira mau ngerebut suami orang." bisik Sarah.
"Hem, mbak Sarah jangan ambil hati ucapan Paula ya. Siapa tau itu semua hanya karena efek kehamilannya. Biasalah, ibu hamil hormonnya suka naik turun gak jelas," balas Mumut mencoba menghibur Sarah.
Sarah dan Mumut hanya tersenyum bercanda bergurau bersama. Laras, dia hanya bisa menahan kekesalan di dalam hati ketika mendengar ibunya pura-pura bahagia dan tegar.
Mereka semua mengira bahwa Sarah sudah benar-benar melupakan Pangeran. Hanya Laras yang tau pasti bagaimana perasaan sang ibu yang selama ini menyimpan duka di dalam hatinya.
Pangeran, ini adalah pertama kalinya dia akan menikahkan sang putri. Dia sangat gugup sampai-sampai dia terus-menerus meminta Yuda jadi menggantikannya menjadi walinya.
"Pangeran, kamu harus tenang dan tarik nafas dalam-dalam. Kamu pasti bisa, ini adalah momen yang paling berharga untuk Yuma." Yuda mencoba menyemangati Pangeran.
"Aku beneran gugup, Yud! atau Raka saja ya? Raka...!?" Pangeran memanggil Raka yang sedang bertelponan dengan pihak lelaki.
"Iya ayah?" tanya Raka.
"Em, kamu jadi wali adik kamu ya?" Pangeran terlihat memohon.
"Loh, Ayah memang kenapa? apa Ayah sakit?" tanya Raka.
Pangeran pun terlihat gugup menjelaskan kepada Raka.
"Ayah kamu grogi. Bujuk dia dan beri dia semangat!" sahut Yuda.
Raka pun menghela nafas dan menarik Pangeran untuk duduk bersamanya.
"Ayah, Raka tahu Ayah sangat gugup. Tapi Raka sangat yakin kalo Ayah pasti bisa. Pikirkan jika Ayah sedang menyerahkan sebuah berlian kepada calon menantu Ayah. Beri dia tatapan yang tegas untuk menjaga berlian itu. Ayah, hari ini hari yang paling berarti untuk Yuma. Kita harus kompak demi Yuma."
__ADS_1
Pangeran mengangguk mengerti. Ia pun memeluk sang putra dengan haru. Waktu berlalu begitu cepat, tanpa sadar kini Yuma manja mereka telah beranjak dewasa. Pangeran seperti malu pada dirinya sendiri.
Saat seusia Raka, bahkan dia masih belum mapan terhadap perasaanya dan malah membuat onar sana-sani.
Kini putra yang sangat ia cintai telah menjadi panutannya dimasa tuanya.
......................
Di dalam kamarnya, Yuma terlihat sedang bergurau dengan ketiga adik kembarnya.
"Mumpung kakak kalian ini terlihat sangat cantik bagaimana jika mengambil Poto!" antusias Yuma.
"Tidak! kak Yuma sama sekali gak berubah. Tetap jelek seperti biasanya!" ejek Jay.
"Ho'oh! kak Yuma malah kelihatan aneh pakai lipstik merah dan rambut di sanggul. Kaya nenek-nenek!" timpal Jim.
Yuma terlihat memburu naik-turun mendengar gurau sang adik.
"Ju, apakah yang di katakan dua iblis itu benar!?" tanya Yuma ke Ju yang terlihat diam sedari tadi.
"Tidak, kak Yuma tidak perlu mendengarkan mereka." jawaban Jay mampu membuat amarah Yuma mereda.
"Kamu benar, dua bocil ini memang perusuh yang harus segera di basmi!" Yuma terlihat membawa roket nyamuk dan mengarahkannya ke arah Jay dan Jim.
"Hehehe.. kami hanya bercanda kok kak. Kak Yuma benar-benar terlihat sangat cantik!" Jay mencoba untuk menenangkan sang kakak.
"Tidak terdengar tulus!" Yuma semakin mendelik ke arah Jay dan Jim.
"Kak, gimana kalo kita foto aja. Mumpung bedak kak Yuma belum luntur!" Jim dengan buru-buru mengeluarkan ponselnya untuk berfoto.
"Hay Semua!" terlihat Pink dan Tini masuk ke dalam kamar Yuma.
"Kalian! kebetulan sekali, ayo kita foto bareng sama kak Yuma. Kasian, dia dari tadi pingin di foto sama kita-kita!" ujar Jay.
PLAK!
Yuma dengan semangat memukul kepala Jay.
"Kakak! sakit!" pekik Jay.
"Ayo-ayok! aku juga mau foto sama kak Yuma!" antusias Pink yang tidak ingin melihat adik kakak itu ribut kembali.
__ADS_1
Ketika Yuma sedang asyik berselfi dengan adik-adiknya. Di bawah semua orang terlihat sangat tercengang ketika Raka mendapatkan telpon dari seseorang.