FAMILY AMBYAAAR

FAMILY AMBYAAAR
Tragedi 3


__ADS_3

Raka melihat ke arah Ayah dan Pamannya Jaka.


"Biarkan aku memeriksa mama Paula. Aku ingin tahu seberapa parah kankernya?" ucap Raka.


Paula pun di dorong menuju kamar Asih yang ada di sebelahnya. Karena di kamar Asih semua alat sudah ada.


Asih pun sedikit terkejut melihat ada mama Paula di atas ranjang dengan mata yang masih terpejam.


"Mas, Mama Paula kenapa?" tanya Asih.


"Tidak papa sayang Mama Paula hanya sedang hamil seperti kamu," jawab Raka.


"Asih,?" sapa Pangeran.


"Eh, Ayah mertua?"


", Selamat ya untuk kamu. Ayah dengar kamu sedang hamil?" tanya Pangeran.


"Iya ayah mertua. Selamat juga untuk Ayah mertua, karena sebentar lagi akan jadi seorang Ayah. Eh-!" Asih pun langsung menutup mulutnya. Karena Pangeran memang sudah menjadi seorang Ayah.


"Maksudnya, Ayah mertua akan segera memiliki anak lagi, hehhee..." lanjut asih memperalat ucapannya.


"Iya tidak papa Asih. Ini adalah kejadian langka karena aku akan mendapatkan Anak dan Cucu secara bersamaan," jawab Pangeran.


Asih pun hanya tersenyum sambil melirik Raka yang terlihat tersenyum mengejek ke arahnya. Asih pun hanya berdecak kesal karena malu.


Raka lalu mulai serius untuk memeriksa Mama Paula. Wajahnya nampak tidak suka dengan apa yang dia temukan. Raka sampai harus membuang nafas dengan kasar.


Asih melihat, dia pun merasa sangat penasaran.


"Ada mas?" tanya Asih.


"Em, gak papa sayang," jawab Raka yang langsung tersenyum ke arah Asih.


"Mama Paula kenapa tidur terus ya?" tanya Asih.


"Dia pingsan karena kelelahan," jawab Pangeran.


"Ouh, iya. Berarti kalo sedang hamil gak boleh kelelahan ya? Nanti pingsan kaya mama Paula?" tanya Asih.

__ADS_1


"Bener sayang. Makannya aku gak mau kamu kelelahan."


"Iya, mas!" jawab Asih.


Raka masih belum mengatakan kepada siapapun tentang Asih yang mengalami hal yang sama seperti Paula.


Hanya saja ksusnya sedikit berbeda. Jika penyakitnya Asih masih ringan, berbeda dengan Paula. Penyakit ini harus segera di angkat. Jika tidak, bukan hanya kandungannya bermasalah, nyawa Paula pun bisa saja melayang.


Raka, Jaka dan Pangeran. Kini mereka duduk di ruang kerja Jaka untuk membahas tentang Paula. Apa tindakan yang akan mereka lakukan untuk menyelamatkan Paula dan juga janinnya.


"Tidak ada cara lain. Ayah, maafkan Raka, tapi menurut Raka, Mama Paula harus segera di operasi. Hem, harusnya sedari dulu mama Paula bersedia di periksa kesehatannya, bisa saja hal seperti ini tidak akan terjadi," ucap Raka yang sangat menyayangkan musibah ini..


"Benar, kak. Mumpung Mbak Paula belum tahu jika dirinya sedang hamil, kita lakukan saja operasi," tambah Jaka memberi saran..


Pangeran terdiam dengan seribu keputusan di kepalanya.


Di sisi lain, Paula mulai tersadar dari pingsannya. Dia sangat terkejut ketika mendapati dirinya berada di rumah sakit.


"Mama Paula udah bangun?" sapa Asih yang terlihat jenuh sedari tadi hanya rebahan sendiri.


"Asih? Kamu ngapain disini? Kamu sakit?" tanya Paula yang langsung beranjak dari tempat tidurnya untuk menghampiri Asih.


"Apa! Janin? Apa maksud kamu Asih,?" tanya Paula yang masih tidak mengerti ucapan Asih.


"Mama Paula belum tau? Mama Paula sedang hamil, sama kaya asih juga," jawab Asih. "Selamat ya mama Paula, akhirnya mama Paula hamil juga," lanjutnya.


Deg...


Paula bukannya tersenyum senang tetapi dia malah terlihat sangat khawatir.


`Apa! Aku hamil? Bagaimana bisa aku hamil?`batin Paula terlihat sangat cemas.


"Dimana Ayah sama yang Raka?" tanya Paula tiba-tiba.


"Em, mereka lagi ke ruangan Paman Jaka. Katanya mereka mau buat resep obat buat kita," jawab Asih.


Paula pun langsung bergegas ke ruangan Jaka. Paula benar-benar sangat panik saat ini. Dia tersenyum sambil meneteskan air mata.


Di sisi lain dia senang, tetapi dia juga khawatir tentang sesuatu.

__ADS_1


Asih, dia melihat Paula terlihat sangat aneh pun mencoba untuk mengikutinya. Asih sangat takut jika Paula kenapa-kenapa.


Di dalam ruangan Jaka, Pangeran nampak menghela nafas setelah berfikir matang-matang.


"Baiklah, kita lakukan operasi. Aku minta tolong dengan kalian, tolong selamatkan nyawa istri saya. Aku tidak papa jika janinnya memang harus di angkat. Mungkin ini jalan yang terbaik untuk kita," jawab Pangeran dengan keputusan yang sangat berat.


"TIDAK!" sahut Paula dari pintu.


"Aku tidak ingin membunuh janinku. Aku tidak akan pernah membiarkan kalian melakukan itu!?" lanjutnya dengan emosional.


"Paula..?" semua orang terkejut dengan kedatangan Paula yang tiba-tiba.


"Sayang, dengarkan baik-baik. Kondisinya memang tidak memungkinkan untuk kamu hamil sayang," ucap Pangeran mencoba untuk menenangkan istrinya.


"Kamu tahu, sudah berapa lama aku menunggu keajaiban ini. Sudah berapa aku menantikan kehidupan di dalam perutku. Sudah berapa lama aku menahan derita ini. Jika kamu memang ingin kembali bersama dengan mantan istri kamu silahkan. Tapi tolong lepaskan aku dan juga calon anakku. Biarkan aku membesarkannya," ucap Paula dengan nada bergetar.


"Sayang, bukan itu yang terjadi. Bukan maksud aku menggugurkan janinmu karena aku ingin kembali bersama Sarah. Tapi karena kamu...-"


"Iya, kak. Aku tahu, aku tau jika aku ini penyakitan. Aku tau semuanya. Selama ini aku diam-diam mengobati kanker yang ada di rahimku. Aku tau tapi bukan berarti aku diam saja. Diam-diam, aku telah memeriksakan kanker yang ada rahimku. Aku diam, itu Karana aku tidak ingin membuat kalian semua cemas dan khawatir. Hiks....hiks...!" jelas Paula tersedu-sedu.


"Apa!" semua orang pun terkejut dengan pernyataan Paula.


"Mama, kenapa mama tidak pernah mengatakan ini kepada Raka?" tanya Raka kecewa.


" Sudah mama bilang, mama tidak ingin membuat kalian cemas dan khawatir. Lagi pula, dokter yang menangani Mama berkata jika kanker ini sudah tidak bisa di sembuhkan total," jawab Paula.


Pangeran yang baru mengetahui penderitaan sang istri pun tak kuasa untuk tidak menetaskan air mata.


Selama ini dia sangat kurang memperhatikan Istrinya dan selalu sibuk dengan pekerjaannya. Dia benar-benar menelantarkan sang istri dalam belenggu yang sangat pedih.


Jelas, Pangeran sangat menyalahkan dirinya sendiri untuk semua yang menimpa sang istri.


Di balik pintu, Asih terpaku dan terdiam. Dia juga sangat syok ketika mendengar hal itu.


Tiba-tiba, Asih teringat dengan ucapan Raka. Yang mana dia akan tetap memilih dirinya jika memang ada pilihan.


Jantung Asih pun langsung terasa sangat sakit. Dia langsung menetapkan bahwa dirinya juga kemungkinan besar sama seperti Paula. Di tambah raut wajah Raka yang terlihat sangat aneh ketika pertama kali melihat janin di dalam perutnya.


Tanpa sadar, Asih pun meneteskan air mata. Dia hampir saja kehilangan kesadaran tetapi Asih mencoba untuk tetap kuat dan kembali ke dalam kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2