
Terlihat Yuma dan Alone telah sampai ke rumah Raka.
Yuma dengan tidak sabarnya berlarian ke dalam rumah dan langsung menuju kamar Raka dan Asih. Yuma benar-benar tidak sabar untuk menunjukan jika dirinya telah sampai.
Sedangkan di kamar. Terlihat Raka yang sedang adu bibir dengan sang istri. Dalam rangka malam sebelum keberangkatan Raka, mereka akan melakukan ritual membantu membukakan jalan untuk bayi mereka.
Mereka tidak menyadari seorang perusuh sedang menuju ke arah mereka.
Ketika Raka dan Asih sudah berada di atas hasrat yang menggebu-gebu, ketika pisang dan tahu akan bergulat menjadi satu.
Ceklek!
"SURPRISEEEE!"
Ada 6 pasang mata mendelik dengan perasaan tidak karuan.
"AAAAAAAA.....!" Yuma pun langsung menutup mata dengan jari-jarinya yang masih longgar.
Beruntung kebiasaan Raka dan Asih menggunakan selimut ketika sedang berhubungan. Jadi hubungan intim itu tidak terlalu terekspos.
Yuma pun berlari keluar sambil berseru ,"KAKAK! AKU TIDAK MELIHATNYA, LANJUTKAN SAJAAAA..!" Yuma dengan panik langsung masuk ke dalam kamarnya dan menguncinya. Dia sangat takut jika kakaknya akan menyeretnya dan menghukumnya.
Raka yang benar-benar kesal dengan tingkah adiknya pun langsung mengenakan kaos dan celana boxer.
Alone baru saja masuk rumah dengan membawa setumpuk tas di badannya dan dua koper di tangannya.
"Di mana Yuma!?" tanya Raka kepada Alone dengan nafas yang sudah memburu.
Alone yang tidak tahu apa-apa pun hanya mengangkat bahunya tanda tidak tahu.
"Bukankah dia sudah masuk?" tanya Alone.
"Iya, bahkan dia sudah masuk kedalam zona warning. Anak itu benar-benar tidak berubah. Selalu bersikap kekanak-kanakan dan selalu mengira jika aku ini kakak single." Raka mengusap wajahnya dengan kasar lalu menuju dapur untuk mengambil air minum.
Alone pun mengerti apa maksud dari kakak iparnya.
"Kak, dia hanya anak periang. Dia selalu menganggap dunianya adalah miliknya, seolah-olah tidak ada batasan untuk berfantasi dengan pikirannya sendiri."
"Hem, aku harap kamu dapat benar-benar mengerti dia."
"Aku selalu akan mengerti Yuma. Perlahan aku akan mencoba untuk memberinya pengertian. Meski itu akan membutuhkan waktu." Alone dengan gerakan mengambil minuman kaleng yang di berikan oleh Raka.
Kini dua pria dewasa duduk ruang TV untuk sekedar mengobrol banyak hal. Dari masalah Yuma sampai ke perkejaan. Bahkan Raka menanyakan bagaimana Aline yang akhirnya ikut dengan suaminya ke AS.
Yuma terlihat mati kutu di dalam kamar sendirian. Dia bolak-balik menatap pintu menunggu sang suami datang.
Tetapi sampai jiwanya lelah, Alone masih tidak juga kunjung datang.
__ADS_1
"Iiiih ... kemana sih suami!? kenapa lama banget!?" gumam Yuma.
Dia sangat ingin keluar dan mencari Alone. Tetapi Yuma sangat takut jika sampai tertangkap oleh Raka.
"Tunggu!" sepertinya Yuma memiliki pikirannya saat ini. " Kenapa aku harus takut? kak Raka adalah kakak aku. Apa masalahnya aku takut? dia tidak akan marah kepadaku dan tidak boleh marah juga. Aku kan gak tau kalo mereka sedang.." Yuma menyatukan kedua jari untuk mengekpresikan apa yang ingin dia ucapkan, karena bibirnya terlalu geli untuk menyebutkannya.
Akhirnya Yuma ragu-ragu membuka pintu kamarnya. Dia berjalan keluar badan perlahan berjalan ke arah ruang tv. Seperti dugaannya, Raka dan suaminya sedang duduk bersama.
Yuma terlihat maju mundur ragu-ragu untuk menghampiri sang kakak dan suami.
Sampai suara dari belakangnya menganggetkannya.
"Yuma!?" Asih memergokinya.
"Oh, ya ampun! kakak ipar menganggetkan aku saja!?" Yuma mengelus dadanya.
Kebisingan mereka membuat Raka dan Alone teralihkan.
"Asih, kamu belum tidur?".tanya Raka.
"Belum, mas. Aku pingin ambil minum. Air minum di dalam udah habis," jawab Asih yang berjalan ke arah Raka dan Alone.
Yuma masih terdiam berdiri mematung. Dia memajukan bibirnya karena kesal namanya tidak di panggil.
Raka, Asih dan Alone hanya menatap Yuma membuat Yuma semakin bingung harus berbuat apa.
"Yuma, kamu kenapa diam aja di sana?" tegur Asih yang melambaikan tangannya supaya Yuma ikut bergabung dengan mereka.
Yuma yang mendapatkan panggilan pun langsung bersemangat berlari ke arah mereka.
Alih-alih bukan memeluk suaminya. Yuma malah berlari memeluk sang kakak, Raka. Membuat semua orang terkejut.
"Kakak, maafkan Yuma?" ucapnya sambil duduk di pangkuan Raka dan memeluknya dengan erat.
Raka mencoba untuk melepaskan sang adik, tetapi semakin dia akan melepaskannya, maka semakin kuat Yuma berpegang pada tubuhnya.
Asih memberi kode kepada Raka supaya membiarkan Yuma memeluknya. Mungkin karena Yuma sudah merasa sangat bersalah.
"Hem, lain kali jangan lakukan itu, mengerti!?" tanya Raka.
Yuma hanya mengangguk sambil membenamkan kepalanya ke dada Raka. Bahkan dia semakin erat memeluk sang kakak.
Yuma masih belum mengerti apa yang dia lakukan. Beruntung Alone sudah mengenal Yuma sedari kecil. Dia sangat memaklumi kemanjaan Yuma kepada Raka. Meski Raka selalu bersikap tegas, tetapi itu tidak membuat Yuma sadar akan kekanakan.
"Yuma, apakah kamu tidak ingin memeluk suami?" tanya Alone mencoba memancing Yuma supaya mau melepaskan Raka.
Dan benar saja, mendengar suara Alone, Yuma pun langsung beralih duduk di pangkuan Alone dan memeluknya dengan erat. Yuma masih menyembunyikan wajahnya karena dia masih sangat malu.
__ADS_1
"Duduk di samping ku ya? tidak enak di lihat kakak ipar?" bisik Alone kepada Yuma.
Yuma hanya menggelengkan kepalanya.
"Alone, bawa dia ke kamar. Ini sudah malam, biarkan dia istirahat," ucap Raka.
"Baik kak, kami pamit dulu," ucap Alone sembari menggendong Yuma yang nemplok di dadanya.
Yuma masih tidak mengatakan apapun dan semakin membenamkan kepalanya di pundak sang suami.
Raka dan Asih hanya bisa menggelengkan kepalanya mereka melihat kelakuan Yuma yang masih tidak berubah. Mereka pikir, dengan menikah Yuma akan mengurangi sifat manjanya. Tapi nyatanya dia hanya menambahkan seseorang untuk di jadikannya tempat bermanja.
"Asih, sebaiknya kita istirahat juga, ini sudah malam," ucap Raka memeluk sang istri dan merangkulnya berjalan menuju kamar.
"Iya mas. Mas, aku minta sama kamu jangan marah lagi sama Yuma. Kasihan dia," ucap Asih mencoba untuk membela Yuma.
"Kita lihat saja besok," jawab Raka.
"Mas, dia itu adik kamu!"
"Justru karena dia adik aku. Aku tidak ingin dia terus-menerus seperti ini. Sikapnya bisa saja melukai hati suaminya," jelas Raka.
"Hem ..!" Asih hanya bisa menghela nafas.
Di dalam kamar, terlihat Alone mencoba merebahkan Yuma.
"Uh, bayi besarku berat sekali. Tidur yang nyenyak ya?" Alone mencoba untuk meletakan Yuma. Tetapi Yuma masih menempel pada tubuh Alone.
"Sayang?" Alone mencoba untuk meminta pengertian sang istri. Tetapi Yuma masih enggan melepaskan pegangannya.
"Kak Raka masih marah?" ucap Yuma yang masih membenamkan kepalanya di pelukan Alone.
"Dia sudah tidak marah," jawab Alone.
"Dia tidak mengatakan apa-apa. Itu tandanya dia masih marah!? besok dia pasti akan meluapkan segalanya. Habislah aku!" lanjutnya.
Alone pun mencoba merebahkan tubuhnya supaya Yuma dapat rebahan juga. Karena lama-lama menggendong bayi besar membuat pinggangnya terasa linu.
Meskipun sudah rebahan, tetapi Yuma masih nemplok. Dia sangat ketakutan seperti anak kecil yang habis melihat hantu.
"Sudah tidak papa. Besok ada aku yang akan menemani mu. Sekarang tidurlah," ucap Alone sembari mengelus lembut rambut istrinya.
Setelah beberapa saat Alone merasakan pelukan Yuma mulai merenggang. Itu tandanya dia sudah mulai terlelap.
kecupan akhir sebelum akhirnya Alone ikut menyusul untuk tidur.
"Selamat malam bayi besarku. Mimpi indah ya? emuach!
__ADS_1
......