
Mumut dengan gesit mengabari Jaka dan Yasmin, tidak lupa dia juga menghubungi rumah sakit jiwa untuk datang ke kediaman Raka.
Di dalam mobil, Yasmin terus mendesak Jaka supaya dia bisa menyetir lebih kencang.
"Daddy, ayo dong cepetan sedikit. Bagaimana jika terlambat, aku takut jika Raka akan bertindak yang tidak-tidak kepada Asih!" tukas Yasmin.
"Iya sayang, ini juga udah cepat. Kamu gak liat jalanan macet!" sahut Jaka yang ikutan panik.
Tiba-tiba ponsel Yasmin berdering. Itu ternyata dari Paula.
"Hallo Paula!?"
"Kamu di mana? Aku ada di rumah kamu!" ucap Paula.
"Aku sedang menuju rumah Raka. Dia kumat dan mengurung Asih di dalam kamarnya!" sahut Yasmin.
" Ya tuhan anakku. Kenapa dia bisa kumat lagi!?" tanya Paula.
"Aku juga tidak tau, cepet kamu susul kami!" seru Yasmin.
"Oke.. oke..!"
Paula pun bergegas menuju ke kediaman Raka. Sedangkan Mumut dan mobil ambulan sudah tiba duluan di rumah Raka.
Tapi mereka tidak langsung masuk. Mumut masih menunggu kedatangan Jaka. Karena Mumut tidak ingin gegabah dan malah akan mencelakai Asih.
Tidak lama, Jaka dan Yasmin pun datang.
"Mbak, Bagaimana?" tanya Jaka.
"Mbak belum masuk, dek. Mbak takut salah langkah, makannya mbak menunggu kamu," jawab Mumut.
Jaka pun sedikit berfikir.
"Bagaimana jika mbak Mumut pura-pura bertamu dan kami akan bersembunyi dulu. Nanti pas Raka keluar, baru kita akan sergap dia bersama-sama," ucap Jaka memberi ide.
"Oh, iya. Ya udah sana kalian sembunyi dulu!" perintah Mumut.
Setelah mengatur nafas, akhirnya Mumut mencoba menekan bel.
TING .. TONG ... TING ... TONG ...
__ADS_1
Raka yang sedang mengiris buah naga pun langsung berhenti dan mencoba untuk melihat siapa tamu yang datang.
Tapi Raka tanpa sadar malah membawa pisau dapur yang terlihat seperti ada noda darah di sana.
Ceklek...
Deg...
Jantung Mumut pun langsung berdetak sangat kuat ketika pintu di buka.
Raka melihat ibunya pun langsung tersenyum.
"Ibu, assalamualaikum, buk? Ibu sama siapa ke sini?" sapa Raka ramah.
"Walaikum salam, Ibu.. ibu baik, nak. Kamu bagaima...." Mumut pun langsung menutup mulutnya ketika dia melihat pisau di tangan Raka yang nampak seperti ada berdecak darah di sana.
Spontan Mumut pun langsung berteriak histeris.
"Aaaaaaaaaaaaa...........!" teriak Mumut membuat Raka terkejut.
Ketika Raka ingin menenangkan ibunya. Jaka dan para kawanan pun datang dan langsung menyergap Raka.
PLAK!"
Mumut pun langsung menampar anak kesayangannya itu.
"Apa yang sudah kamu lakukan kepada Asih, RAKA! APAKAH KAMU SUDAH MEMBUNUH ASIH!? DASAR ANAK GILA!" teriak Mumut frustasi melihat kelakuan anaknya.
Raka yang mendengar itu pun langsung merasa sakit hati. Tetapi Raka mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri supaya tidak terpancing emosi.
"Raka, kamu apakan Asih, nak!? Kenapa kamu bisa benar-benar menjadi pria gila, Raka...!?" ucap Paula sembari sesegukan. Tidak tau bagaimana reaksi Pangeran jika dia mengetahui jika anaknya telah gila dan membunuh isterinya sendiri.
Raka pun akhirnya sedikit mengerti. Pasti ini adalah ulah Asih yang mengira jika dirinya gila. Noda di pisau, pasti mereka mengira jika itu adalah darah. batin Raka. Raka pun langsung merasa geli dan ingin tertawa terbahak-bahak.
"HAHAHAHA......HAHAHAHA.....HAHAHAHA....!" tawa Raka membuat semua orang langsung merasa merinding.
Asih yang mendengar keributan pun mencoba untuk melihat dan turun ke bawah.
Ketika semua orang mengira jika Raka memang sudah gila. Mereka pun sangat tercengang ketika melihat Asih yang turun dari anak tangga terlihat baik-baik saja.
Dari sana, Raka pun langsung berhenti tertawa dan menjelaskan.
__ADS_1
"Aku memang sudah berbuat sesuatu kepada Asih. Yaitu menghamilinya," ucap Raka membuat semua langsung ingin pingsan saat itu juga.
Jaka dan para perawat pun langsung melepaskan cengkeraman mereka kepada Raka.
Asih terhenti dan diam melihat heran mengapa semua orang menatapnya dengan aneh dan mengapa mereka melepaskan Raka.
Singkat cerita, akhirnya kini mereka semua duduk bersama di ruang tamu.
Raka menjelaskan apa yang terjadi di antara dirinya dan juga Asih.
"Jadi, ketika aku memegang tangannya, aku dapat merasakan ada yang aneh dengan denyut nadinya. Setelah aku periksa, ternyata aku mendapati Asih sedang hamil. Aku mintanya tetap di kamar itu karena aku merasakan jika janin yang ada di kandungan Asih sangat lemah. Aku hanya tidak ingin terjadi apa-apa dengan calon anakku. Noda di pisau, itu hanya buah naga yang sedang aku iris. Aku ingin Asih lebih banyak mengkonsumsi buah-buahan. Dari awal Asih memang meragukan kemampuan ku, jadi aku menyuruhnya untuk menelpon ibu dan menanyakan soal betapa pintarnya diriku ini," Jelas Raka.
"Ooooooooooooo......!" semua orang pun serentak mengatakan o di depan Raka tanpa merasa berdosa. Meraka telah salah paham kepada Raka dan menghinanya, bahkan Mumut sampai membawa orang dari rumah sakit jiwa untuk menangkap Raka.
Asih, dia hanya bisa bisa menundukkan kepalanya karena dia sangat malu.
"Asih, asal kamu tau, nak. Raka ini adalah anak yang paling genius di keluarga kami. Bahkan bisa di kata dia ini anak paling genius di kota kita. Kamu tau, Raka bahkan sudah menjadi dosen di usianya yang baru menginjak 10 tahun. Jadi jelas Raka bisa saja mendiagnosa tanpa harus menggunakan alat-alat canggih," jelas Mumut.
Asih yang mendengar jika suaminya sudah pernah menjadi dosen di usianya 10 tahun tidak kuasa untuk tidak ternganga. Asih benar-benar merasa sangat beruntung karena telah di nikahi oleh pria macam Raka.
Tapi terlihat jika Asih masih meragukan Raka, dan itu sangat jelas terlihat di mata semua orang.
"Paman, sepertinya Asih masih meragukan aku. Coba paman cek dan periksa. Mungkin jika paman yang memeriksa, dia akan percaya," tutur Raka kepada Jaka.
Jaka pun maju dan memeriksa Asih. Seperti halnya Raka, Jaka pun mendiagnosa jika Asih memang hamil. Dan seperti yang Raka katakan, memang kandungan Asih ini sedikit lemah. Sangat di sarankan supaya Asih lebih banyak istirahat.
"Hahaha.. Asih.. Asih.. kamu ini sudah membuat kami semua khawatir tau gak. Ah, ternyata kabar baik yang sebenernya sedang terjadi," tutur Yasmin dan mendapatkan anggukan dari semua orang.
Asih pun merasa sangat bersalah kepada suaminya. Dia sampai menetaskan air mata karena saking merasa sangat bersalah.
Raka yang melihat itu pun langsung duduk di sisi Asih.
"Hay, cup cup cup. Sudah tidak papa. Kamu tidak perlu merasa bersalah. Aku pantas mendapatkan ini. Mungkin ini adalah pelajaran buat aku karena memang sempat gila dan hampir melukaimu. Maafkan aku, ya?" ucap Raka dengan sangat manis membuat semua mata yang melihatnya pun merasa sangat baper.
Asih Benar-benar merasa tidak tahan dan langsung memeluk Raka.
"Maapin aku ya mas Raka. Hiks..hiks... Maapin aku...!?"
"Maafin aku juga, ya? Mulai saat ini, dan seterusnya, aku hanya selalu memperhatikan kamu. Izinkan aku untuk melanjutkan janji yang pernah aku buat. Yaitu untuk menjaga dan mencintaimu selamanya."
Prok... prok... prok.... Semua orang pun bertepuk tangan untuk dua pasangan yang baru saja melewati masa-masa sulit pernikahan mereka.
__ADS_1