
Terlihat Mumut, Asih, Yasmin dan Yuma sedang menunggu di depan ruang operasi di mana Paula sedang melakukan perjuangan panjang.
Sedangkan Pangeran, dia kekeh ingin ikut masuk ke dalam ruang operasi untuk melihat semua proses operasi istrinya. Pangeran berada di sisi sang istri untuk menguatkannya meski Paula sepenuhnya tidak sadar karena bius.
Raka dan Jaka terlihat sangat kompak dan sangat hati-hati ketika mengeluarkan bayi mungil itu.
Karena bayi itu lahir prematur. Dia membutuhkan banyak peraturan intensif untuk membantunya bernafas dan bertahan hidup.
Setelah Bayi berhasil di ambil. Kini Jaka dan Raka langsung mengangkat rahim Paula untuk membuang kanker yang ada di rahimnya.
Proses ini sedikit lebih sulit dan lama dari pada mengambil bayi yang ada di dalam perut.
Meski bayi itu kini sudah mendapatkan perawatan medis yang sangat memadai. Tetapi keadaanya masih terus di pantau oleh dokter anak.
Melihat raut wajah Raka dan Jaka yang menegang. Pangeran yang awalnya sedikit lega setelah melihat anaknya lahir, langsung kembali merasakan desiran rasa cemas.
Pangeran mengambil posisi berdiri di sebelah inkubator dan memejamkan matanya untuk berdoa untuk keberhasilan dan kesuksesan operasi.
Di luar operasi. Mumut dan yang lainnya dapat bernafas lega ketika ada seorang perawat yang keluar untuk mengambil sesuatu.
"Sus, bagaimana dengan operasinya?" tanya Mumut.
"Bayinya sudah lahir. Tetapi ibunya masih sedang melakukan operasi lanjut untuk mengangkat penyakitnya," jelas perawat itu yang langsung pergi karena buru-buru.
Mumut dan yang lain langsung bernafas lega dan berdoa semoga Paula dapat selamat..
Tetapi tidak ada memperhatikan bagaimana Asih yang terlihat pucat dan tubuhnya bergetar hebat. Semua ini karena efek cemas dan khawatir yang berlebihan.
"Kakak ipar!" Yuma melihat Asih mulai terlihat tidak terkendali dan akhirnya.
__ADS_1
Yuma langsung berdiri di samping Asih yang mulai pingsan.
"Mamah! Aunty!" teriak Yuma memanggil Mumut dan Yasmin yang sedang membelakangi mereka.
"Asih!?" Mumut pun langsung ikut membantu Yuma untuk menopang tubuh Asih.
Meraka membawa Asih untuk di rawat.
Beberapa jam kemudian. Setelah Raka dan Jaka berhasil melakukan operasi kepada Paula. Raka langsung berlarian seperti orang gila ke tempat Asih di rawat.
Ketika Raka mendapatkan kabar jika Asih pingsan. Raka terlihat sangat khawatir dan cemas. Pikirannya langsung kalut dan sangat takut jika hal-hal yang tidak di inginkan terjadi pada Asih.
"Asih!?" Raka membuka pintu kamar dengan tergesa-gesa.
Asih yang masih makan apel dengan Ibu mertua dan adik iparnya langsung menatap sang suami.
"Mas Raka?" Asih pun tersenyum melihat suaminya telah kembali.
"Asih tidak papa, Nak! dia hanya sedikit syok dan cemas berlebihan," jawab Mumut.
Raka berjalan ke sisi Asih dan langsung memegangi tangannya.
"Apa yang kamu pikirkan? bukankah ada aku disini.?" tanya Raka.
"Uuuu... So sweet!" Yuma terlihat mengigit jarinya melihat kakaknya sangat perhatian dan perduli dengan istrinya.
"Yuma! ikut dengan ibu sekarang!" ucap Mumut yang langsung menarik tangan putrinya.
"Mamah! Yuma masih pingin di sini?" Yuma terlihat ingin menolak tetapi Mumut sudah dengan sedikit tenaga menarik Yuma.
__ADS_1
Raka dan Asih hanya bisa tersenyum menggelengkan kepalanya melihat sikap Yuma yang masih saja jahil.
"Mas?" panggil Asih lirih.
"Iya?" Raka mulai menatap sang istri hangat.
"Apakah operasi mama Paula berhasil?" tanyanya.
Raka hanya memejamkan matanya dan tersenyum mengangguk.
"Apakah kamu cemas memikirkan itu?" tanya Raka.
Asih mengangguk.
"Bagaimana jika nanti aku berada di posisi mama Paula. Siapa yang akan mas Raka selamatkan? Duh, kenapa aku bertanya seperti ini Yo, hehehe. Jelas Mas Raka pasti menyelamatkan anak kita. Karena dari awal mas Raka hanya menginginkan bayi ini," ucap Asih dengan wajah tertunduk.
Raka terdiam mendengar ucapan Asih. Dia merasa tidak percaya dengan apa yang keluar dari bibir Istrinya.
"Mas, aku juga sangat setuju kalo kamu memilih menyelamatkan bayi ini. Terus, kalo sampe aku meninggal, mas Raka jangan tolong jaga nenek Asih ya? kasihan dia, dia cuma punya Asih di dunia ini," lanjut Asih yang kini di barengi air mata.
"Sudah?" ucap Raka membuat Asih mengerutkan keningnya.
"I-iya mas. Cuma itu pesan Asih. Oya satu lagi, tolong mas Raka jaga baik-baik anak kita ya. Sayangi dan cintai dia. Kalo mas Raka mau menikah lagi, pastiin kalo ibu tiri buat anak kita itu orang yang baik. Aku ndak mau anakku tersiksa oleh ibu tiri." celoteh Asih yang terus bergumam memikirkan nasibnya sendiri.
Raka hanya tersenyum melihat ekspresi wajah sang istri yang sangat menggemaskan.
Bagaimana Asih bisa berfikir begitu jauh membuat Raka tidak tahan untuk ...
Raka pun langsung mencium bibir Asih dengan hangat. Dia tidak akan menjawab ucapan konyol sang istri.
__ADS_1
"Ini adalah hukuman karena kamu sudah berani berkata yang tidak-tidak. Kita akan membesarkan anak kita bersama-sama. Kamu tidak perlu memikirkan apapun. Pikirkan saja kita akan menua bersama dan melihat anak-anak kita tumbuh dengan sehat dan bahagia."
Asih pun memeluk sang suami dengan erat. Dia meneteskan air mata haru. Asih merasa sangat beruntung, karena wanita biasa seperti dirinya bisa menikah dengan pria baik dan tampan seperti Raka, plus bonus tajir dan pintar. Siapa wanita yang tidak akan merasa ketika memiliki suami seperti Raka.