
Ini adalah ruangan Raka. Raka dan Yuma dengan fokus mencoba untuk berdiskusi mengenai penjualan yang akan mereka perluas.
Raka sangat bersyukur karena dahulu adiknya memiliki hubungan dengan keluarga Samon, pengusaha terpandang dan berpengaruh di AS. Jika sampai kerja sama dengan keluarga Samon berhasil, maka kemungkinan besar perusahaan di negara-negara lainnya pun dengan mudah diajak kerja sama.
Itulah mengapa Raka rela terbang dari Kalimantan demi untuk menghukum Yuma dan menekannya kembali kekota. Tanpa Yuma sadari, sedari awal sebenarnya dia sudah dimanfaatkan oleh Raka. Tetapi semua yang Raka lakukan bukanlah untuk keegoisannya sendiri, melainkan untuk kebaikan perusahaan dan bersama.
"Apakah Jack sudah mau menandatangani kontrak?" tanya Raka kepada Yuma.
"Semua beres, kak!" sahut Yuma merasa bangga kepada dirinya sendiri.
"Apakah ada kesulitan ketika membujuk dan meyakinkannya?" tanya Raka mengetes.
Yuma menunduk dan tersipu malu.
"Kakak, apakah kamu tahu. Sebenarnya, dia adalah pacar aku waktu kita masih di AS. Dia adalah Jack kak! Ya tuhaaan, aku benar-benar tidak percaya jika aku akan bertemu lagi dengannya," ucap Yuma dengan ekspresi sehalu mungkin.
Yuma masih tidak tahu, jika sebenarnya semua memang sudah Raka atur.
"Oh, benarkah? jika begitu, pepet terus di supaya dia mau bekerja sama dengan kita," ucap Raka yang berpura-pura tidak tahu mengenai siapa Jack sebenernya.
"Kamu tenang saja kak, yang penting kakak cukup merestui kami saja."
"Apa! merestui!? merestui untuk apa!?"
"Ah, tidak kak! bukan apa-apa! Emm, Yuma sedang ada janji dengan Jack. Kita akan mulai membahas kerjasama kita, Yuma permisi dulu kak," ucap Yuma gugup dan langsung pergi keluar dari ruangan Raka. Yuma sangat takut jika Raka marah.
Melihat adiknya yang sangat menggemaskan, Raka hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Tetapi, ketika Raka ingat sesuatu dia langsung terdiam.
"Bagaimana jika Yuma tahu alasan Alon mengacuhkannya!? Siapa yang akan kamu pilih adikku. Alon atau Jacklin?" gumam Raka.
******
Disisi lain, Mumut, suami dan anak-anak akhirnya usai berliburan. Mereka mempercepat kepulangan karena ada banyak urusan yang masih harus Yuda selesaikan. Tidak lupa juga, Tini akhirnya ikut dengan mereka ke kota.
Sesuai janji, Mumut akan menyekolahkan Tini dan merawatnya.
"Tini, apakah kamu sudah siap, nak? jika sudah sampai di kota, kamu harus sekolah dengan baik. Kamu harus tunjukan kepada ibu dan bapak kamu jika kamu bisa menjadi anak yang sukses," ucap Mumut menyemangati Tini.
"Njeh Bulek. Tini bakal belajar dengan giat, Tini bakal tunjukan kaleh(sama) bapak ibu jika Tini bisa. Di rumah, bagaimana Tini bisa belajar jika bentar-bentar dikongkon(disuruh) ini itu, ini itu! hmmm..." Tini mendengus sabar.
"Tini, kamu jangan cemas. Nanti, jika kamu tidak tahu soal apa, kamu bisa tanya kepadaku," ucap Jay mencoba untuk menghibur Tini. Sungguh, jauh dari lubuk hati Jay dia sangat senang mengetahui jika Tini akan ikut bersama mereka untuk sekolah di kota.
"Wah, seng bener Jim! Aku mau diajari sama Ju!" sahut Tini antusias.
Ju yang menjadi pembicaraan hanya menatap dingin kearah jendela membuat Tini salah tingkah dan merasa terasingkan oleh Ju.
Sejak kejadian itu, bahkan hubungan antara Ju dan Mumut masih belum membaik. Ju masih mendiamkan semua orang. Mumut yang sudah tidak tahu lagi bagaimana membujuk anaknya untuk bicara akhirnya memilih untuk diam juga.
"Tini, dia sedang datang bulan, jadi jangan diambil hati ya?" bisik Jay kepada Tini.
"Emang anak laki-laki bisa datang bulan juga Yo?" tanya Tini membalas bisikan Jay.
"Hanya berlaku untuk Ju, karena dia pria yang unik," sahut Jay.
__ADS_1
Tini pun hanya mengangguk seolah-olah paham"apa" padahal dia sebenarnya tidak tahu"apa-apa".
"Kalian membisikan apa sih!?" tanya Jim penasaran.
"Ada deh...!" sahut Jay menahan tawa bersama dengan Tini.
Mumut melihat dari kaca mobil tiga anak sedang asyik tertawa dan bercanda, hanya Ju yang masih diam memalingkan wajahnya. Ingin Mumut menegur Ju tetapi dihalangi oleh Yuda, dia seolah berkata"biarkan saja dulu".
Mumut pun akhirnya memilih untuk diam. Dia mencoba untuk menunggu waktu yang tepat untuk berbicara baik-baik dengan Anaknya Ju.
****
Kita dikembalikan untuk melihat keadaan Raka. Dia nampak lesu memandang wajah wanita cantik yang ada dibingkai kecil.
Seragam dokter yang dikenakan sangat pas dengan paras cantiknya.
"Angel, haruskah aku menunggu mu? apa sebenarnya yang kamu inginkan? mengapa menjadi rumit seperti ini? apa, apa alasan kamu pergi tanpa alasan dan tanpa jejak? kemana kamu sebenarnya? mengapa kamu menghilang begitu saja dimalam dimana aku akan melamarmu?" gumam Raka yang terlihat nampak gusar.
Segala cara sudah dia lakukan untuk menemukan hilangnya Angel. Bahkan dia telah mengerahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan Angel. Beberapa tahun telah berlalu, tetapi semua nihil, Angel seperti hilang ditelan bumi.
..
..
..
jangan lupa like...
__ADS_1