
Paula menatap Pangeran dengan tatapan memohon.
"Aku mohon, biarkan aku membesarkan bayiku dan aku mohon, jangan katakan kepada siapapun tentang penyakitku ini. Izinkan aku mengandungnya sampai dia lahir. Jika memang harus mati, biarlah aku mati bersama dengan anakku. Dari pada harus hidup dalam pengelasan," ujarnya sambil menatap sendu ke arah Pangeran.
Jaka, Raka dan juga Pangeran pun tidak bisa berbuat banyak. Ini benar-benar di luar kuasa mereka. Hanya keajaiban yang mereka harapkan.
*****
Asih terdiam di dalam kamarnya. Tidak lama Raka pun datang. Entah mengapa, melihat suaminya itu membuat mood Asih kembali lagi. Sepertinya Raka adalah obat baginya. Ah, siapa juga yang tidak akan meleleh jika memiliki suami baik, pintar luar biasa dan juga ganteng kebule-bulean. Asih merasa dirinya hanyalah serpihan sampah yang di olah dan di daur ulang menjadi sesuatu yang berharga di tangan Raka.
"Hey, kenapa? Kok senyum-senyum sendiri?" tanya Raka menghampiri sang istri.
"Hehehe.. ndak papa mas, mas Raka kok bisa guantenge pol Yo?" ucap Asih cengengesan.
Raka pun tersenyum.
"Apa kamu baru sadar?" ledeknya sambil mencubit hidung Asih.
"Auh, sakit mas! Nanti kalo aku mancung gimana. Aku gak mau hidung menggemaskan aku ini nanti ilang," sahut Asih sambil memencet hidungnya ke dalam supaya gak mancung.
Melihat sikap Asih, Raka pun langsung teringat dengan Yuma. Dahulu, waktu Yuma masih kecil, dia juga bersikap dan berkata seperti Asih ketika dirinya memencet hidungnya.
"Mas Raka kok diam aja?" tanya Asih.
"Ngk, aku cuma kangen aja sama Yuma," jawab Raka.
"Oh, iya. Hari ini Yuma pulang kan?"
"Apa, iya? Kamu kata siapa,?" tanya Raka terkejut. Karena dia tidak tau.
"Ih mas Raka ini gak percaya, loh. Tanyalah sana kalo gak percaya."
"Iya nanti aja. Oya, kamu mau pulang apa mau tetap di sini?" tanya Raka.
"Ngapain mas di sini. Baru berapa jam di sini aja rasanya aku udah bosen banget!"
"Hehehe, ya udah kita pulang yuk?"
Raka pun langsung membopong Asih.
Asih Asih pun diam dan melingkarkan tangannya di leher Raka.
Raka tersenyum melihat tidak ada penolakan sang istri lagi.
Asih menyadari keadaannya yang pasti tidak baik-baik aja. Jadi Asih menyerahkan segalanya kepada sang suami. Asih hanya akan menuruti apa yang suaminya katakan.
"Umur kamu berapa, sayang?" tanya Raka sambil berjalan ke arah excavator.
"Em, baru 19 tahun, mas."
"Masih muda ya? Kamu gak papa nikah sama om-om ganteng kaya aku?"
"Emang mas Raka umurnya sampe berapa?"
"Coba tebak?"
__ADS_1
"25 ya?"
"No..!"
"24..!"
"Em, no!"
"Berapa geh?"
"30 lebih."
"Ah, masak iya mas?"
"Gen kami memang awet muda ya? Hehe... Ayah aja udah 50 tahun lebih dia, Tapi masih keliatan muda ya?"
"Iya, mas. Nenek sama kakek juga mereka terlihat sangat sehat."
"Nenek Ratu, kakek Suroto(orang tua Pangeran), nenek Lauren, kakek Aska(orang tua Yuda), Mbah Item sama Mbah Alim(orang tua Mumut) nenek Zi, dan kakek Zu(sebutan untuk orang tua Paula). Mereka akan melakukan umroh bersama. Umroh untuk kakek dan nenek-nenek," ujar Raka.
"Banyak mas keluarga kita?" tanya Asih.
"Jika kita menjalin hubungan dengan seseorang dengan baik, maka akan lebih banyak kita memiliki saudara. Semua ini karena ibu Mumut. Dia seseorang yang baik yang juga pemaaf."
Asih hanya mengangguk mengerti meski dia sendiri tidak tau bagaimana masa lalu Keluarga yang sangat rumit itu.
Asih gak kepikiran bagaimana, Raka menjadi anak Pangeran, dan Laras jadi anak Pangeran tetapi beda ibu sama Raka dan kini Pangeran memiliki Istri yang baru akan punya anak.
Karena kesomplakkan Pangeran lah membuat keluarga itu menjadi besar.
"Mas, pegang setir mobil aja loh," ucap Asih.
"Memang kenapa?"
"Ya gak papa, tapi mas kan lagi nyetir, nanti oleng kaya mana?"
"Gak papa, sayang. Nggak-nggak kalo oleng. Hem, aku makin hari makin gemes deh banget sama kamu. Rasanya pingin cepet-cepet tak makan!"
"Ya janganlah kalo di makan. Nanti kalo habis kayak mana?"
"Makannya pakai perasaan sayang."
"Pakai perasaan apa nggak kalo tetap di makan ya tetap aja bakalan habis!"
Raka hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat ketidak mudengan Asih.
"Ya..ya.. kalo gitu mendingan kita makan aja ya, makan membuat perut kenyang."
"Mau...mau...!" sahut Asih antusias. Jujur asih pun sudah sangat lapar.
"Kita makan di rumah. Biar aku yang masak, kurang baik kalo kita makan di luar," jawab Raka.
"Mas Raka bisa masak juga?" tanya Asih.
"E'em.. Apa sih yang suami mu ini gak bisa," jawab Raka tersenyum ke arah Asih.
__ADS_1
"Uuuu... Makin cinta deh sama mas, Raka!" sahut Asih yang langsung memeluk lengan Raka.
"Memang kamu cinta aku, tah?"
"He'em...!"
"Sejak kapan?"
"Sejak mas Raka bilang kalo mas Raka hancur kalo aku pergi," jawab Asih.
Deg..
Asih mengatakan itu membuat Raka jadi teringat kejadian memalukan yang pernah dia perbuat kepada Asih.
"Maafkan aku ya Asih. Aku benar-benar kurang waras pada saat itu."
"Nggak papa kok mas, yang penting sekarang mas Raka baik sama Asih."
"Jadi itu alasan kamu tetap ingin sama aku? Padahal aku udah jahat sama kamu."
"Iya mas, Asih tau kok kalo sebenernya mas Raka ini orangnya baik."
Raka tersenyum dan mengelus rambut istrinya yang terlihat manja.
"Nanti kalo usia kandungan kamu udah besar, ya minimal 6 bukanlah, aku akan mengajak kamu berkunjung ke kantor. Sekalian peresmian penyerahan saham ke Laras dan Yuma," ucap Raka.
"Wah, pasti seru ya mas jalan-jalan di gedung tinggi. Jadi gak sabar."
"Asih, kalo disuruh milih, kamu milih hidup di desa dengan sederhana atau di kota seperti ini?"
"Em... Asih mah ikut aja di mana mas Raka tinggal," jawab Asih.
"Benar?"
"Iya mas!"
"Aku berniat, setelah menyerahkan saham ke Yuma dan Laras, aku akan mengundurkan diri dan tinggal ke desanya ibu Mumut. Aku akan bertani di sana dan menjalankan ladang milik Mbah. Bagaimana?"
"Asih mau-mau aja mas. Tapi nenek Asih bagaimana?"
" Di ajak dong. Nenek kamu adalah nenek ku juga, dia adalah tanggung jawab kita."
"Alhamdulillah. Yo pokoke aku manut wae mas. Kemana pun mah hayuk lah. Hehehe..."
.....
Akhirnya mereka pun sampai ke rumah idaman. Raka masih memanjakan Asih dan membopongnya lalu meletakkannya di sofa.
Dua mata saling menatap dengan dekat. Raka yang sudah tidak tahan pun akhirnya memakan bibir Asih dengan lembut.
Kiss sweet pun berlangsung sangat hangat. Raka benar-benar ingin memakan Asih saat ini juga, tetapi dia teringat soal kandungannya.
Sampai akhirnya..
"Kakaaaak, aku dataaaang....Aaaaaaaaaa.......! Aku tidak lihat! Aku tidak lihaaaaaat....!" teriak Yuma menganggetkan Asih dan Raka yang sedang bercumbu.
__ADS_1