FAMILY AMBYAAAR

FAMILY AMBYAAAR
Ambyaaar( tanpa judul)


__ADS_3

Sebuah mata menatap takjub dengan bangunan super besar yang ada didepannya.


"Ya ampun, rumah bulek Mumut besar sekali..!"ucap Tini memandang penuh ketakjuban.


"Tini, sekarang ini juga adalah rumah kamu. Semoga kamu betah ya tinggal disini?" ujar Mumut.


"Njeh, bulek. Tini bakalan betah disini. Tapi,?"


"Tapi kenapa, Tini?"


"Ndak papa bulek. Tini bakal bangun lebih pagi supaya sekolahnya nanti ngak terlambat," jawab Tini tersenyum antusias.


Semua orang mengerutkan kening mereka.


"Memang kenapa kamu harus bangun sangat pagi?" tanya Jay.


"Kata mamak, aku harus membantu beres-beres dirumah bulek Mumut. Aku harus membantu menyapu, mengepel dan mencuci piring sebelum berangkat sekolah. Di rumah juga aku kayak gitu. Tapi rumah aku kecil berbeda dengan rumah kamu, Jay. Rumah kamu sangat besar, sepertinya butuh satu jam untuk aku menyapu seluruh rumah kamu," jelas Tini.


Semua orang tersenyum mendengar penjelasan Tini.


Tapi seketika senyum mereka memudar ketika Ju mulai mengeluarkan suaranya.


"Ide bagus, bangunlah lebih awal untuk melakukan itu. Hidup menumpang pasti tidak enak rasanya jika hanya makan tidur saja!" cetus Ju yang langsung pergi meninggalkan semua orang yang terlihat kecewa dengan apa yang Ju ucapkan.


"Tini... maafkan Ju ya, nak-!"


Tini tersenyum.


"Tidak papa bulek. Apa yang dikatakan Ju benar. Aku pasti merasa tidak enak jika hanya menumpang tanpa melakukan apapun. Bulek, izinkan Tini untuk membantu pekerjaan rumah, ya?" Tini terlihat sangat tegar dan sama sekali tidak tersinggung dengan ucapan Ju. Tini merasa, apa yang dikatakan Ju adalah benar.


"Tidak perlu Tini! Di rumah ini sudah ada Bibik yang membersihkan rumah!" ucap Jay yang tak terima jika teman baiknya dijadikan pembantu dirumahnya.


"Ngak papa Jay. Aku akan tetap membantu!" sahut Tini yang memaksakan diri.


"Sudah-sudah, bicarakan lagi ini nanti didalam," ujar Yuda.


"Tini, ayok kita masuk sayang,," ajak Mumut.

__ADS_1


"Iya, bulek."


Mereka masuk kerumah rumah dengan rasa lelah karena perjalanan jauh pulang dari kampung.


"Tini, ini adalah kamar kamu." Mumut mengantarkan Tini kekamar yang sudah disiapkan untuk Tini.


"Waaah,, ini bagus sekali bulek! terimakasih?" Tini terpukau melihat ada banyak boneka dan juga kasur yang besar dan empuk. Sungguh Tini sangat terharu. Dia terpikirkan oleh adiknya.


"Andai adik ada disini, dia pasti sangat senang,"batin Tini.


"Tini, kamu kenapa? apakah ada yang kurang?" tanya Mumut.


"Ah tidak bulek. Tini hanya sangat senang saja. Terima kasih banyak ya bulek. Bulek baik banget sama Tini?"


"Ibu kamu juga dulu baik sama aku, Tini. Jadi aku hanya ingin membalas kebaikannya dulu," jawab Mumut.


"Bulek, insyaallah suatu saat Tini juga bakal membalas budi pada bulek dan keluarga ini."


"Tini, kamu tidak perlu memikirkan itu. Saat ini kamu cukup belajar dengan benar supaya bisa menjadi anak sukses dan membahagiakan ibu dan bapak kamu."


"Njeh, bulek!"


"Njeh, bulek!"


.....


Ketika akan turun kebawah, Mumut melihat kamar Ju yang sedikit terbuka. Melihat perubahan sikap Ju yang tiba-tiba membuat hati Mumut merasa sangat sakit.


Mumut mencoba untuk memberanikan diri untuk menemui anaknya.


Terlihat Ju yang sedang duduk dimeja belajarnya. Ju terlihat sangat serius membuat sebuah alat yang Mumut sendiri tidak tahu apa yang sedang ingin Ju buat.


"Sayang..?" Mumut menyapa Ju.


"Bu, Ju sedang sibuk," sahut Ju tanpa menoleh kearah Ibunya.


"Ada apa sayang? katakanlah kepada ibu jika memang ada sesuatu yang ingin kamu katakan?"

__ADS_1


Ju menghentikan tangannya yang sedang mengerjakan sesuatu.


"Bu, maafkan atas sikap Ju. Tidak ada yang harus Ju jelaskan kepada ibu," jawab Ju yang kembali menyibukkan diri.


Melihat sikap acuh Ju sungguh membuat Mumut sakit hati. Ini adalah pertama kalinya Ju berbicara tanpa mau menoleh kearahnya.


"Ju, apapun yang lakukan kepada ibu, ibu akan tetap menyayangi mu, nak. Ibu tidak marah kepadamu, jadi lebih baik kamu jujur kepada ibu!?"


"Tidak ada yang perlu dijelaskan, Bu.!"


"Bu, Ju sedang sibuk. Setelah liburan panjang kini Ju akan kembali menyelesaikan pekerjaan Ju. Maaf Bu, Ju sedang tidak ingin diganggu," lanjutnya yang tanpa tidak langsung meminta Mumut untuk keluar.


Mumut pun berjalan mendekati Ju dan mencium keningnya dengan hangat. Setelah itu Mumut keluar tanpa berkata apapun kepada Ju.


"Maafkan Ju ibu? Ju melakukan ini supaya ibu terbiasa tanpa kehadiran Ju lagi. Ketika Ju pergi kerumah genius, ibu tidak akan merindukan Ju lagi karena ibu pasti sudah membenci Ju. Maafkan, Ju ibu?" batin Ju yang juga sebenarnya merasa sakit harus melakukan ini kepada ibunya.


Ju hanya ingin membiasakan diri untuk menjauh dari Mumut. Selain itu juga, Ju sengaja membuat Mumut tidak menyukai dirinya supaya dia bisa diizinkan untuk keluar dari rumah dan menetap dirumah genius.


.....


Disisi lain, Yuma sedang tertunduk didepan meja kerja Raka. Aura wajah Raka terlihat sangat geram.


"Apakah kamu masih sanggup untuk menjadi sekertaris Saya!?" tanya Raka menekankan suara.


"Kak, tadi aku harus mengantar Jack ke apartemen aku. Aku menyuruhnya untuk tinggal disana supaya dia tidak harus menyewa di hotel," jelas Yuma sedikit berbohong. Karena sebenarnya dia telah menghabiskan waktu dengan sia-sia dikamar mandi hanya untuk meratapi nasib percintaannya yang rumit.


"10 menit, persiapkan materinya!" ucap Raka mencoba untuk mengendalikan dirinya.


"Apa! Tapi, kak!?"


"Bukankah kamu menganggap jika dirimu pintar sehingga kamu suka mengabaikan waktu kerjamu untuk mengurus hal-hal pribadi kamu yang tidak penting!?" sentaknya.


"Meeting dilakukan jam 2:30, masih ada waktu 15 menit dari sekarang. Jika sampai ada kesalahan!" lanjut Raka tanpa pengecualian langsung pergi meninggalkan Yuma.


Raka pergi untuk menemui dan menyapa klien yang sudah hadir.


..

__ADS_1


__ADS_2