
Malam pukul 10, Raka baru saja pulang. Dia membuka pintu kamar dengan perlahan takut jika dirinya akan membangunkan Asih yang dia kira sudah tertidur.
Lampu kamar sangat gelap membuat Raka heran.
"Kenapa gelap sekali, apakah Asih tidak tahu cara menyalakan lampu?" gumam Raka.
Tapi setelah Raka membuka menghidupkan lampu kamar, betapa terkejutnya Raka ketika dia melihat Asih yang duduk di kasur dengan pakaian terbuka dan ekspresi menggoda.
"Astaga! Asih, kamu belum tidur?" tanya Raka yang terkejut.
"Hehe.. mas, aku sedang menunggumu," jawab Asih cengengesan.
"Em.. kamu tidak harus menunggu ku lain kali Asih. Tidurlah saja duluan jika aku pulang terlambat," ucap Raka sambil melepaskan dasi dan juga jasnya.
Asih melihat reaksi Raka yang datar kepada dirinya. Dia terlihat tidak tergoda dengan pakaian dinasnya yang dia gunakan. Untuk menerjang aksinya, Asih pun berinisiatif untuk berdiri dan menggoda dan Raka.
Sontak Raka pun terkejut ketika Asih memeluknya dari belakang.
"Em .. mas, maap Yo. Aku salah," ucap Asih.
Raka mengerutkan keningnya.
"Salah!? Kamu salah apa Asih?" tanya Raka.
"Nganu, soal kemarin malam. Ternyata, kata Aunty bukan begitu cara kerjanya. Katanya kita berdua harus saling menyatu, memeluk dan mencium,. Tidak hanya uget-uget saja," jelas Asih memasang wajah sendu.
Raka menghela, dia merasa Aunty Yasmin benar-benar telah mengikuti campuri urusan rumah tangganya. Bahkan dia telah mencuci otak istirnya.
Raka memutarkan tubuhnya dan menatap Asih. Raka tersenyum dan berkata, "asih, jika sudah saatnya aku akan mengajari kamu bagaimana cara membuat anak. Tapi untuk sekarang aku minta, tolong jangan dengarkan apapun yang di katakan oleh aunty Yasmin. Ini adalah urusan rumah tangga kita, membuat anak adalah hal yang intip, kita tidak boleh membicarakannya kepada siapapun karena itu adalah aib . Apa kamu mengerti?"
__ADS_1
Asih mengangguk. Sebenarnya dia juga merasa jika itu adalah salah. Tapi entah mengapa dia sendiri tidak bisa untuk tidak bercerita kepada Aunty Yasmin.
"Amet yo, mas. Tapi aku gimana lagi, aku kan di sini kerja sebagai istrimu, dan aunty yang Yasmin yang membayar aku. Jadi, mau ndak mau aku ya harus mengikuti perintah aunty Yasmin. Kalo ndak, nanti aku di pecat lagi bagaimana?" ujar Asih terlihat bingung. Sungguh dia benar-benar berfikir jika dia menikah dengan Raka hanyalah sebatas pekerjaan.
"Asih, apa kamu lupa dengan apa yang aku katakan kemarin malam. Jangan dengarkan aunty Yasmin. Kamu juga tidak perlu khawatir akan di pecat. Kamu akan menjadi istriku selamanya. Soal gaji, kamu tidak perlu takut juga karena aku yang akan memberimu nafkah. Apa kamu mengerti? Lain kali, jangan terima uang dari aunty Yasmin," ujar Raka.
Entah mengapa, mendengar itu Asih merasa sangat tersentuh. Dia merasa jika dirinya telah di perhatikan dan di beri kasih sayang. Selama bekerja di mana-mana, Asih selalu mendapatkan cacian dan maki dari sang majikan. Asih lagi-lagi berfikir jika Raka adalah majikan yang baik.
"Iya, mas!" sahut Asih menundukkan kepalanya.
"Ya sudah, kamu tidurlah dan gunakan pakaian mu yang benar. Aku akan mandi dulu," ucap Raka dengan sabar.
"Em, mas Raka sudah maem?" tanya Asih.
"Sudah, sekarang tidurlah."
Asih pun berjalan ke dekat lemarinya dan mengambil baju tidurnya yang tebal. Dia sendiri sebenarnya sudah merasa akan mati membeku karena menggunakan baju dinas yang di belikan aunty Yasmin.
Raka masih terdiam di bawah guyuran shower. Air dingin tidak lagi Raka rasakan. Dia benar-benar merasa sangat bertanggung jawab atas Asih. Tetapi, dalam pikirannya masih terus terbayang-bayang oleh Angel.
Kematian adik perempuannya dan juga menikahnya Raka, Angel masih tidak juga menunjukkan batang hidungnya.
"Kemana sebenarnya kamu, Angel?"
.....
Usai mandi dan membersihkan diri, Raka langsung merebahkan tubuhnya dan tidak lupa meminum segelas air yang ada di meja kamar.
Setelah minum air putih, Raka pun memutuskan tidur di samping istrinya. Raka hanya mendengus ringan ketika melihat Istrinya yang sudah terlelap.
__ADS_1
Ketika merebahkan tubuhnya, tiba-tiba tubuh Raka merasakan sesuatu yang aneh. Dia merasakan tubuhnya panas dan bergairah.
Raka mengingat air yang sudah dia minum lalu mendelik dan melirik Asih.
"Apa! Apa sudah dia lakukan?" batin Raka bertanya-tanya. "apakah ini ulah dari aunty Yasmin!?" lanjutnya.
Asih yang membuka matanya sedikit tidak sengaja melihat Raka yang terlihat sangat gelisah.
"Mas, ada apa? Opo mas Raka sakit?" tanya Asih.
"Ah, tidak Asih!" jawab Raka sambil mencengkram selimut dengan kuat. Sungguh Raka mencoba untuk menahan efek dari obat itu.
"Mas, tapi wajah kamu kaya orang kesakitan?" tanya Asih cemas dan langsung duduk untuk memeriksa kening Raka apakah panas atau tidak.
Ketika itu, Raka melihat kancing baju Asih yang sedikit terbuka bagian atas, dan itu benar-benar membuatnya semakin merasa gila.
"Gak panas kok!" ucap Asih.
"Asih, apa kamu masukan ke dalam air minum ku?" tanya Raka.
"Aouh, kata aunty Yasmin itu vitamin supaya mas Raka lebih kuat dan sehat. Enak ndak mas? Aku masukan 3 sekaligus, mas. Soalnya pilnya kecil-kecil, takut gak ngefek jadi aku masukan tiga," jelas Asih.
Tanpa Asih sadari, Raka selalu menatap bibir manis Asih ketika dia sedang berceloteh. Raka bener-bener di buat gila oleh obat-obatan kebangkitan yang di berikan oleh Asih.
Ketika Asih sadar, dia pun menatap heran ke arah Raka.
"Mas, sampean kenapa?" tanya Asih heran.
Karena sudah tidak tahan, Akhirnya Raka pun langsung menerkam Asih dan menjatuhkannya.
__ADS_1
Sontak Asih pun di buat terkejut dengan sikap Raka.
"Mas .... Kamu kena.....?" ucapan pun terpotong ketika Raka langsung mengecup bibirnya... .