FAMILY AMBYAAAR

FAMILY AMBYAAAR
Romantis part Raka'Asih


__ADS_3

"Siapa bilang aku tidak mencintai, Asih!?" ucap Raka mampu membuat semua orang tercengang.


Mumut, Asih, Paula dan Yasmin sama-sama melihat ke arah pintu.


Ternyata, ketika di dalam mobil, karena saking gugupnya, Asih tidak sengaja mengotak-ngatik hp nya dan akhirnya menelfon Raka.


Raka yang sebenarnya sedang meeting, entah mengapa dia merasa harus untuk menerima telpon dari Asih.


Ketika di angkat, Raka tidak mendengar suara Asih, dia hanya mendengar suara ibunya yang sedang mengomel-ngomel dan memarahi Asih.


Sontak Raka pun langsung sangat terkejut. Dia merasa jika ibunya pasti sudah salah faham.


"Tuan, kita lanjutkan meetingnya?" sapa Laras menegur Raka. Laras mengerutkan dua alisnya menandakan rasa penasaran.


"Maaf Laras, kakak serahkan semuanya kepadamu, kakak ada urusan yang lebih penting," bisik Raka kepada Laras.


Raka pun langsung meninggalkan meja meeting dan langsung bergegas pulang ke rumah.


Laras hanya bisa tersenyum dan menjelaskan kepada semuanya orang dan mencari alasan yang tepat untuk menjaga nama baik Raka. Karena, hal seperti ini tidak pernah Raka lakukan. Klien adalah hal yang paling penting baginya. Tapi kali ini, Asih mampu membuat Raka memecahkan pendiriannya.


....


Semua orang mendelik ketika Raka bisa menyusul Asih dan mengetahui keberadaan mereka.


Asih nampak mengembangkan senyumnya samar-samar. Dia merasa senang ketika melihat Raka.


"Raka! apa yang kamu katakan, Nak?" tanya Mumut.


"Ibu, Raka minta ibu tenangkan diri ibu. Antara Raka dan Asih tidak ada pemaksaan. Semua memang Raka mencintai Asih,", ucap Raka sambil berdiri di samping Asih. Raka tersenyum ke arah Asih membuat Asih merasa tercengang.


Sontak semua orang pun benar-benar di buat kaget dengan ucapan Raka.


"Apakah kamu yakin, Raka? Tapi, Aunty kamu Yasmin sudah...-!"


"Justru Raka mungkin harus berterima kasih kepada Aunty Yasmin, Bu," ucap Raka sambil mengedipkan mata kepada Yasmin membuat yasmin auto meleleh.

__ADS_1


"Syukurlah jika begitu. Ibu pikir kamu akan tertekan karena keterpaksaan. Tapi yakin, kamu tidak papa, nak?" tanya Mumut memastikan.


"Iya ibu, ibu tenang saja. Kali ini Raka akan benar-benar menjaga dan lebih memperhatikan Asih," ujar Raka yang kembali menatap Asih. Nampak Asih tersenyum haru mendengar semua pengakuan manis dari Raka.


Raka pun langsung merangkul pinggul Asih dan mengusap pipinya. Raka sama sekali tidak ingin melihat air mata jatuh dari kata Asih.


"Kamu tidak perlu bersedih. Maafkan aku, karena ketidak kepekaan ku membuat mu harus melakukan hal itu dan berakhir seperti ini," ucap Raka menatap Asih dengan lekat.


Raka benar-benar tidak perduli dengan wajah Yasmin dan Paula ini sudah memerah karena keromantisan Raka dan Asih. Mumut hanya bisa tercengang dan tersenyum. Dia tidak percaya jika Raka benar-benar bisa bersikap semanis ini dari sekian lama menghilang bersamaan hilangnya Angel.


Tiba-tiba, Raka mengecup kening Asih di depan semua orang membuat jiwa lebay Yasmin dan Paula pun meronta-ronta. Mereka terpaku sembari menyadarkan kepala mereka di bahu Mumut sisi kanan dan kiri.


"Pulang denganku, ya?" ucap Raka kepada Asih.


Asih hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Ibu, Mama Paula, Aunty Yasmin. Raka pamit dulu. Ibu tidak papakan pulang sendiri?" tanya Raka.


"Ah. Iya...iya.. tidak papa. Ibu tidak papa, nak. Kalian pulanglah dulu. Eh, saran ibu jangan pulang, berjalan-jala lah sejenak keliling kota. Ibu pikir kalian juga harus melakukan bulan madu," ujar Mumut sedikit gugup tetapi masih mampu beri saran kepada anaknya.


"Mamah akan checkout kan hotel untuk kalian!" sahut Paula yang juga ikut antusias.


Raka dan Asih hanya bisa tersenyum melihat tingkah ketiga wanita setengah baya itu.


"Terima kasih," ucap Raka sopan dan berbalik masih dengan merangkul pinggul Asih. Entah mengapa, Raka masih enggan untuk melepaskan rangkulannya.


Ketiga wanita itu pun hanya bisa tersenyum bahagia melihat kebahagiaan Raka yang terlihat sangat natural dan asli tanpa tekanan dan paksaan.


Di dalam mobil, Asih hanya bisa menundukkan kepalanya karena malu. Bagaimana dia bisa di cintai oleh majikannya sendiri. Asih sebenernya tidak sebodoh itu, justru Asih sangat sadar diri.


Tugas dia menikah dengan Raka hanyalah untuk mendapatkan uang. Dia juga di tuntut melahirkan anak hanya karena demi uang. Karena demi uang, bahkan Asih menyampingkan rasa malunya dan rela menggoda Raka sesuai instruksi dari Aunty Yasmin.


Asih sangat memikirkan nasib neneknya yang sakit-sakitan. Hanya pekerjaan ini, dia bisa mendapatkan uang banyak. Asih sangat sadar, di luar sana tidak akan mungkin ada yang mau menerima dirinya bekerja apa lagi membayarnya dengan harga yang sangat fantastis baginya.


"Asih, kenapa kamu diam saja. Apakah kamu masih memikirkan perkataan ibu? maafkan ibu ya. Dia sebenernya tidak bermaksud berkata kasar, dia hanya khawatir kepadaku," ucap Raka menjelaskan.

__ADS_1


Asih mengambil nafas dalam-dalam dan akhirnya memberikan diri untuk menatap Raka.


"Mas, apa yang mas Raka ucapakan itu bener? Mas Raka pasti bilang cinta ke aku karena takut ibu marah Yo? Hem, maaf Yo mas, gara-gara aku ndak bisa jaga mulutku, ibu jadi tau semuanya," ujar Asih tertunduk.


Melihat keseriusan Asih, Raka pun memilih meminggirkan mobilnya.


Raka menatap Asih dengan lekat-lekat.


"Jujur, aku suka padamu ketika pandangan pertama. Aku suka padamu ketika aku melihat mu di restoran itu," jelas Raka.


Deg...


Jantung Asih pun langsung berdebar-debar mendengar pengakuan Raka.


"Tapi.. tapi mas. Aku di sini, berada di sini, aku jadi istri mu, semua hanya pura-pura to!?. Kamu adalah majikanku, Mas. Aku di sini di bayar untuk melahirkan anak untuk mu. Bisa jadi, setelah aku melahirkan anak, maka aunty Yasmin akan memecat aku," ucap Asih sendu. Asih tidak sepolos untuk tidak mengerti keadaan saat ini.


Meski semua orang tidak ada yang mengatakan jika setelah melahirkan anak dia akan di pecat, tetapi Asih sangat sadar diri untuk berfikir demikian.


Mendengar sesuatu yang di pikirkan Asih, Raka pun langsung mengecup bibir Asih.


Sontak Asih pun langsung mendelik.


Sesaat kemudian, Raka menatap wajah Asih dengan lekat.


"Kamu adalah istriku, bukan pelayan ataupun wanita bayaran. Selamanya, kamu akan tetap menjadi Nyonya Raka," ucap Raka penuh dengan keyakinan.


Asih sangat senang mendengar pengakuan Raka. Tetapi, dalam hatinya masih ada sesuatu yang mengganjal membuat Asih tidak dapat melepaskan senyumnya.


"Apa? apakah kamu tidak bahagia? Hem, sepertinya aku harus lebih bekerja keras untuk membuat istriku ini bahagia," gurau Raka mencoba memecahkan kekikukan


"Ndak, mas. Bukan itu. Aku sangat bahagia, siapa ndak bahagia di cintai oleh laki-laki yang baik hati kaya mas Raka. Tapi..."


"Tapi apa?"


"Bagaimana dengan Angel?" tanya Asih.

__ADS_1


Raka sontak terkejut mendengar Asih mengucapakan nama Angel.


__ADS_2