
Hari ini, Ju akhirnya dapat mengikuti tes pertama dirumah Genius.
Peraturan memang sangat ketat disini.
Peserta yang boleh ikut hanya mereka yang telah terpilih ketika berhasil mengisi formulir dengan benar.
Dari 100 anak Genius, hanya 20 anak yang berhasil masuk tes pertama.
Bisa kita bayangkan betapa sulitnya. Hanya untuk mengisi formulir saja, mereka harus menguras otak mereka.
Mereka yang lolos, langsung memasuki ruang khusus tes dengan sidik jari mereka yang sudah terkonfirmasi.
Ju dengan sangat bangga memasuki ruang tes yang sangat menakjubkan.
Beruntung usia Ju masih bisa terdaftar, karena hanya anak dibawah 15 dan di atas lima tahun yang dapat mendaftarkan diri mereka. Setelah mereka lolos, mereka akan langsung direngkuh oleh pihak rumah genius untuk bekerjasama dengan agen rahasia kepemerintahan. Bahkan tidak hanya kepemerintahan didalam negeri, mereka juga bisa dikirim ke negara-negara lain yang telah bekerja sama dengan agen rahasia dalam negeri.
Inilah yang membuat semua keluarga tidak setuju jika Ju harus masuk kerumah genius. Tapi, berkat Mumut akhirnya Ju mendapatkan izin dari keluarga besar.
Singkat cerita, akhirnya Ju pulang dengan perasaan yakin jika dia akan lolos ke babak berikutnya.
Hasil akan dikirim setelah satu Minggu. Tidak diberi tahu akan dikirim lewat apa, yang jelas pemberitahuan dikirim selama satu Minggu.
Didepan gerbang, Raka sudah menunggu kedatangan Ju.
"Hay, kak!" sapa Ju dengan wajah yang sangat sumringah.
"Hay adik kakak, bagaimana? apakah sulit?" tanya Raka.
"Sangat menantang, kak! Tapi insyaallah Ju siap untuk masuk ke babak selanjutnya!" sahut Ju antusias.
"Memang ada berapa tes?" tanya Raka.
"Tidak tahu, kak! Belum diumumkan," jawab Ju.
"Semoga kamu dapat meraih cita-citamu, Ju."
"Amiin.. Terima kasih banyak, kak."
Raka pun menancapkan pedal gas mobil dengan perlahan.
"Oya, kak. Apakah kak Raka sudah memilih wanita yang dipilih Aunty Yasmin. Hmm,, mereka sangat menggelikan," ucap Ju dengan ekspresi begidik.
"Hahaha... Kakak tidak tahu, Dek. Kakak pasrah saja mana yang akan ibu pilih," jawab Raka.
"Ulang tahun kami dus hari lagi, mengapa kak Raka tidak menyewa seorang wanita saja."
"Hahaha... dapat ide darimana kamu, ada-ada saja kamu ini. Sudah, urusan jodoh biarlah mereka pikirkan, kamu cukup belajar saja."
Dreet... Dreeet... Handphone Raka berbunyi.
"Hallo, Laras! bagaimana?"
__ADS_1
"Pak, siang ini kita ada jadwal makan siang bersama dengan bapak Jojo dari perusahaan XXX."
"Laras ayolah, jangan terlalu formal kepadaku!"
"Maaf, pak! ini masih jam kantor!" sahut Laras.
"Baiklah, aku akan datang segera." Raka mematikan telpon sambil tersenyum menggelengkan kepalanya.
Laras benar-benar sangat profesioanl dan bertanggung jawab. Sikapnya benar-benar menunjukan jika dialah karyawan kantor. Bahkan, karena sikapnya yang sangat tegas membuat karyawan lain masih tidak menyadari jika Laras adalah adik dari Raka.
Setelah mengantarkan Ju pulang, Raka langsung menancapkan gas mobilnya ke restoran dimana Laras telah menunggunya.
"Ju, titip salam kepada ibu. Maaf kakak tidak bisa mampir," ujar Raka.
"Siap, kak! terima kasih banyak ya..."
...
Singkat cerita, Raka telah sampai ditempat tujuan. Dia bergegas bergegas masuk ke restoran dan mencari keberadaan Laras dan juga kliennya.
Karena tidak fokus, Raka tidak sengaja menabrak seorang wanita pelayan yang lewat didepannya.
Bugh...
Dengan kecepatan kilat Raka langsung mengambil respon untuk menyaut pinggang wanita itu supaya tidak terjatuh.
BYUUUURRR!!!!
PRANG ..!!
Mata pelayan itu langsung mendelik dan mata melotot ketika melihat mangkok yang ia bawa jatuh ditubuh seseorang yang sedang memegang pinggulnya.
Semua orang yang melihat itu juga sontak langsung tercengang melihat seorang pria tampan nan kaya harus tertumpah air shop buah.
Namun, entah mengapa meski tubuhnya telah basah kuyup, mata Raka masih tidak lepas dari pesona pelayan manis itu.
Tatapannya seperti seolah Raka telah mengenalnya sejak lama. Raka terdiam dan menatap pelayan itu dengan intens, membuat Pelayan itu berfikir jika Raka adalah seorang pria cabul.
BUGH!" tiba-tiba pelayan itu meninju hidung Raka membuat Raka terdangak.
"AAHHK!" pekik Raka yang langsung melepaskan pegangannya pada pelayan itu.
"Aaaaahhh...!" pelayan itu pun terjatuh.
Beberapa orang yang melihat adegan itu, dengan cepat mengambil ponsel mereka untuk merekam kejadian memalukan itu.
"Sheeett! Apa anda lakukan, Nona!?" tanya Raka mengelap hidungnya yang berdarah.
"Nona.. Nona... Nama saya adalah Asih, Supriasih! sampean ini jangan...jangan... Apa itu istirahatlah nya ya!?" Pelayan sedikit berfikir. "Ah, jangan mengambil kesempitan dalam kesempatan,!" lanjutannya dengan tatapan seolah-olah telah ternodai oleh Raka.
ketika Raka akan menjawab, suara tepuk tangan yang bertahap membuat Raka terdiam.
__ADS_1
Prok.
Prok.
Prok.
Laras berjalan dengan santai sambil menepukan tangannya, seketika entah dari mana datangnya orang-orang berbaju hitam langsung datang dan menyergap semua orang yang mencoba untuk merekam kejadian yang menimpa Raka .
Mereka langsung meminta orang-orang itu untuk menghapus apa yang sudah mereka rekam.
Laras berjalan kearah Raka sambil membawa tisu.
"Pak, apakah anda baik-baik saja?" tanya Laras bersikap sangat tenang mengelap hidung Raka yang berdarah. Padahal, jauh dari lubuk hatinya dia sangat khawatir dan ingin sekali menjambak pelayan wanita itu.
"Laras, apa yang kamu lakukan?" tanya Raka.
"Saya akan menuntut restoran ini karena mereka memiliki karyawan yang sangat kurang ajar kepada bapak!"
"ya tuhan, apakah orang ini adalah bos besar. mati aku !" batin Asih terlihat sangat kikuk sekarang.
"Maaf, Tuan. Saya mendengar jika karyawan baru saya ini telah membuat keributan. Tanpa mengurangi rasa hormat saya, saya mohon maafkan saya Tuan. Saya janji, saya akan langsung memecat karyawan saya yang tidak berguna ini," sahut sang manager restoran.
Mendengar dirinya akan di pecat, Asih langsung bersujud di kaki managernya.
"Pak bos! ampuni saya pak bos. Ini salah saya meski om-om itu yang sudah kegenitan dengan saya. Saya mohon jangan pecat saya!" ucap Asih menyatukan kedua tangannya.
Tetapi, siapalah Asih ini. Manager restoran pun enggan untuk mendengarkan kekonyolan. Mengaku bersalah tetapi masih sempat menyalahkan orang lain.
Raka yang mendengar jika dirinya dipanggil om-om pun langsung memegang brewoknya yang sudah beberapa bulan ini tidak ia cukur.
"Apakah aku sudah terlihat seperti om-om?" batin Raka merasa tak terima.
"Kamu sudah salah tapi masih sempat-sempatnya menyalahkan orang lain. Apakah kamu tidak kenal beliau! beliau adalah orang penting di negara ini, apa kamu mengerti!" bentak manager.
"Apakah om-om ini adalah presiden baru? ya Allah, kapan pemilihan pemilunya? kenapa aku tidak tahu! Padahal tahun ini aku mau ikut milih karena umur aku sudah bisa ikut mencoblos!" cerocos Asih membuat semua orang menahan tawa, termasuk Laras.
"Pak, sebaiknya kita pergi dari sini." Laras menarik tangan Raka pelan. Raka yang ditarik perlahan, meski berat akhirnya ia memutuskan untuk ikut pergi bersama dengan Laras.
Sedangkan Asih, karena kekonyolan yang telah dia buat, akhirnya sang manager tetap memecatnya tanpa pengecualian.
"Kamu! cepat pergi dari ini. Jika bukan karena keponakan kamu, aku tidak sudi menerima kamu bekerja disini. Bagaimana ada orang sebodoh ini di zaman canggih seperti ini!" tukas Manager menghina Asih didepan semua orang.
Bahkan sang manager menyiram tubuh Asih dengan air es supaya Asih lekas pergi.
...
Asih yang tak mengerti mengapa semua orang menyalahkan dirinya secara sepihak, hanya bisa mendengus kesal sambil keluar dari restoran yang baru ia lakoni selama dua hari.
"Huh, dasar wong-wong segleng! sopo seng salah sopo seng disalahke. Huh!" umpat Asih berjanji dalam hati. "Sok aku bakal dadi wong sugeh gek mangan neng restoran Iki. Heh, entenono...!"
artinya...
__ADS_1
"(Huh, dasar orang-orang gila! siapa yang salah siapa yang disalahkan. Huh!" umpat Asih berjanji dalam hati. "suatu saat aku bakal jadi orang kaya lalu aku akan makan di restoran ini, heh, tunggu saja...!)"
Asih pergi dengan rambut kepang yang dibelah menjadi dua. Sungguh tekat yang sangat membara didalam hati untuk balas dendam kepada sang manager yang sudah memperlakukannya dengan tidak manusiawi.