
Raka menatap adiknya Ju yang masih fokus dengan alat ciptaanya yang belum jelas apa itu.
"Ju,!" panggil Raka.
"Kakak! kamu disini!?" tanya Ju terlihat senang melihat kakaknya.
"Iya." Raka berjalan disisi tepi kasur untuk merobohkan bokongnya.
"Hmmm, kakak dengar kamu sedang tidak akur dengan semua orang dirumah ini?" tanya Raka.
Ju tertunduk.
"Maafkan Ju, kak. Ju terpaksa melakukan ini, Ju terpaksa menjauhi mereka supaya mereka terbiasa tanpa kehadiran Ju mulai dari saat ini," sahut Ju.
"Memang kamu mau kemana!?" tanya Raka.
"Bukankah kakak akan membantu Ju untuk masuk rumah genius?" tanya Ju mengingatkan Raka.
"Ya ampun... Adik kakak satu ini. Hmmm, tapi kakak tidak janji apakah kamu akan diterima apa tidak, karena sekarang berbeda dengan dulu. Sekarang harus mengikuti beberapa seleksi yang sangat rumit dan baru bisa masuk kesana. Materi juga tidak dapat dibocorkan, meski kakak bisa tetapi kakak tidak mau adik kakak masuk dengan tidak jujur," jelas Raka.
"Apakah kakak meragukan kemampuan ku!?" tanya Ju sedikit tersinggung.
"Bukan begitu Ju, tapi apakah kamu yakin? Setelah masuk kesana, peraturan akan semakin diketatkan, kamu tidak bisa bertemu dengan keluarga selama tiga tahun dan setelah tiga tahun pembelajaran kamu akan langsung bekerjasama dengan negara dan itu bersifat rahasia. Apakah kamu yakin akan meninggalkan keluarga mu demi masuk rumah genius? Ju, kamu bisa belajar dengan kakak, tanyakan saja apa yang ingin kamu pelajari. Kita sudah memiliki cukup banyak harta, kakak sudah mengatur bagian yang akan kalian dapatkan. Apa kamu mengerti maksud kakak?" Raka mencoba untuk membujuk adiknya.
Karena dirumah Genius sekarang tidaklah mudah seperti dulu, segalanya mulai teratur dan ketat.
Ju terdiam, tetapi rasa panas menyelimuti hatinya.
"Ju tetap akan masuk kesana!" sahut dengan keyakinan penuh.
"Kakak tidak izinkan jika ibu tidak mengizinkan mu!" ucap Raka.
"Maka dari itu aku akan menjauhi ibu dari sekarang. Sejak aku berkata kasar pada ibu, aku yakin ibu kini pasti tidak menyukai aku," ujar Ju.
"Apa! KAMU BERKATA KASAR PADA IBU!" bentak Raka terkejut. "Kata-kata kasar apa yang telah kamu lontarkan, Ju!" lanjutnya dengan mata yang berapi-api.
Ju pun tertunduk, dan berkata,"Pelac*r.." jawabnya lirih.
BRUUUAAAAK!" Raka langsung meninju Robot besar buatan Ju.
PRAAANG...!!
BRUUUUGGHH! Raka membanting segala sesuatu yang sudah Ju ciptakan.
"Kakak, apa yang kamu lakukan!?" teriak Ju sangat tidak percaya Raka akan mengamuk sedemikian rupa.
__ADS_1
Raka langsung menatap mata adiknya Ju dengan mata yang sangat memerah dan otot leher yang mengeras.
"Pintar hanya menjadikanmu bodoh! Ikut denganku sekarang dan minta maaflah kepada ibu. Jika ibu tidak memaafkanmu, maka aku akan langsung ngirim mu ke bulan!" tukas Raka terlihat sangat menahan marah.
"Kak, ada apa denganmu!?" tanya Ju yang terlihat gemetar melihat wajah Raka yang sangat mengerikan. Ini adalah pertama kalinya Ju melihat Raka yang benar-benar marah.
Raka tidak berkata apapun, dan dia langsung menyeret Ju keluar kamar.
"Kakak, lepaskan aku, ini sakit kak!?" Ju memohon, tetapi tidak didengar oleh Raka.
Semua orang yang melihat Raka sedang menyeret Ju dengan kasar pun langsung terkejut dan berlari kearahnya. Bahkan Yuda barusan pulang dari kantor pun langsung dikejutkan dengan melihat putranya di kasari oleh Raka.
"HAY! lepaskan anakku!?" ujar Yuda.
Bugh! Raka melempar Ju ke atas sofa.
"Apa yang kamu lakukan kepada putraku!?" tanya Yuda terlihat tidak terima.
"Raka, ada apa ini sayang?" tanya Mumut.
Tapi Raka tidak menggubris ucapan semua orang.
"Ju, cepat kamu sujud dan mintalah maaf kepada ibu!" sentak Raka.
Semua orang yang mendengar itu pun langsung mengerti apa penyebab Raka sangat marah.
"Tidak!" jawab Ju dengan berani melawan Raka.
"Raka, sudah tidak papa sayang, dia sudah meminta maaf kepada ibu," sahut Mumut mencoba untuk menenangkan Raka.
Tetapi pandangan Raka tidak lepas dari anak yang menurutnya sudah kurang telah menghina ibunya yang dia lindungi selama ini.
"Baiklah, bukankah kamu ingin menghilangkan dari keluarga ini? Aku akan mengwujudkan mimpimu. Aku akan memasukan kerumah genius dan meminta mereka untuk mengirimmu ke bulan!" tukas Raka dengan geram.
"Apa! Ju ingin masuk kerumah genius!?" tanya Mumut.
"Itulah alasan dia menghina ibu. Supaya ibu membencinya dan membiarkan dia meninggalkan rumah ini!?" jelas Raka.
"Itu hak dia Raka. Mengapa kamu memarahi anakku!?" tanya Yuda yang masih tidak terima anaknya dimarahi.
"DIA MENGHINA IBUKU!" Sahut Raka dengan suara tinggi.
"Dia juga istriku!" ujar Yuda.
"Anakmu telah berkata kasar kepada istri mu!" ucap Raka menahan suaranya.
__ADS_1
"Dia adalah adikmu juga Raka!"
"Kita tidak se-mani!" sahut Raka.
Tatapan Yuda dan Raka semakin intens membuat situasi semakin memanas.
"Setoooooooop!" teriak Mumut.
"Haarghh... sirahku mumet ngerti ora! Bar jalan-jalan bukane seneng malah do ribut koyo ngene! Mau Yuma, Saiki Ju Karo Raka, Ya allaaah Gusti, dadi wong tuo ora kanggo tenan aku Iki."
-Artinya.
"(Haarggh... kepalaku pusing tau tidak! Habis jalan-jalan bukannya senang malah pada ribut seperti ini! Tadi Yuma, sekarang Ju sama Raka, Ya Allah Gusti, jadi orang tua tidak dipakai (dibutuhkan pendapat) aku ini)" Raung Mumut yang tak tahan dengan segala keributan yang bertubi-tubi.
((Author sangat yakin, jika sampai Mumut tahu soal Yuma, dia akan tambah syok. 😁😁))
Raka memandang ibunya yang terlihat sangat sedih.
"Ibu, maafkan Raka yang telah membuat keributan seperti ini dirumah ibu. Sungguh Raka tidak akan mengampuni mulut mereka yang telah menghina ibu," ucap Raka sambil memeluk ibunya dengan sangat erat.
"Hiks...hiks.. ibu hanya ingin anak-anak ibu selalu akur. Raka, dia itu adik kamu yang masih kecil, mereka pasti belum mengerti apa telah mereka ucapkan, ibu wes ora popo Raka.. Hmm, Raka! ibu minta kamu tidak terlalu ikut campur urusan adik-adik mu. Jika dia memang ingin masuk rumah Genius ya biarkan saja, mengapa kamu malah marah-marah seperti ini," ucap Mumut yang sepertinya belum memahami apa maksud dari kemarahan Raka.
Mendengar jika dirinya dijadikan titik buih-buih keributan yang terjadi dirumah itu, Raka pun memundurkan langkahnya untuk menjauhi semua orang.
"Ibu benar, aku adalah kakak yang tidak berguna. Aku sudah membuat Yuma terpuruk dan juga telah membuat keributan dirumah ini hanya karena Ju ingin masuk rumah genius. Maafkan Raka ibu, sungguh Raka sangat menyayangi ibu. Raka hanya menjaga ibu lahir dan batin, Raka hanya tidak ingin ibu terluka secara fisik maupun batin, Raka hanya ingin membela ibu. Tapi, jika pembelaan Raka membuat Ibu tidak nyaman, maka Raka pergi. Ibu, sungguh maafkanlah Raka. Raka pergi." Setelah mengucapkan itu Raka pun langsung pergi.
"Raka... bukan maksud ibu seperti itu sayang!" teriak Mumut mencoba untuk mengejar anaknya, tetapi dihalangi oleh Yuda.
"Sayang, sudahlah biarkan dia pergi dulu. Kita akan bicarakan ini jika suasana sudah mulai mereda." Yuda mencoba untuk menenangkan istrinya.
Yuda juga sebenernya masih dalam kurang fit, lelah pulang kerja malah melihat keributan.
Yuda menuntun istrinya untuk masuk kedalam kamar. Mereka meninggalkan Ju yang masih tertunduk diatas sofa.
Jay, Jim dan Tini yang melihat dari kejauhan pun akhirnya bernafas lega karena akhirnya keributan itu selesai juga.
"Jay, apakah menurut mu Ju sudah sangat kelewatan.?" tanya Jim.
"Kita akan melakukan sesuatu untuk memberinya pelajaran," jawab Jay tersenyum penuh arti kepada Jim.
"Kamu benar, kita akan memberinya pelajaran!" sahut Jim yang mengerti maksud Jay.
"Kalian ini ngomongin apa to?" tanya Tini yang tak mengerti.
"Sudahlah Tini, otak kamu tidak sampai, tidak usah ikut-ikutan!" sahut Jim.
__ADS_1
.......