
Di tengah malam, Raka akhirnya membuka matanya. Dia melihat ke sekelilingnya dan mendapati jika tangan dan tubuhnya di ikat.
Raka tidak bisa menggerakkan tubuhnya.
Raka melihat ibunya Mumut sedang tertidur di samping Yuda. Tidur di sofa, Raka membayangkan jika itu pasti tidak nyaman..
Sedetik, Raka teringat dengan Asih. Kini, rasa pun menyesal menyelimuti hatinya.
Bukan Raka namanya jika tidak dapat melepas ikatan yang mengikat tubuhnya.
Setelah ikatan di terlepas. Raka langsung keluar dari kamar inapnya dan berniat untuk mencari keberadaan Asih.
Sampai akhirnya, Raka menemukan kamar Asih dan terlihat Asih yang sedang terlelap dengan sangat damai.
Kini, hati Raka benar-benar hancur. Dia hampir saja melukai seseorang yang tidak bersalah. Hanya untuk menuntaskan kegilaannya.
Raka membelai rambut Asih dengan sangat lembut.
"Maafkan aku," ucapnya lirih.
Raka pun langsung bergegas untuk keluar dari kamar. Tapi ternyata di sana Asih sudah terjaga.
"Mas?" panggil Asih. Meski terlihat jika Asih sangat takut dan trauma dengan Raka, tapi dia mencoba untuk menahannya.
Raka pun terhenti tanpa mau membalikan tubuhnya untuk menatap Asih.
"Mau kemana, mas?" tanya Asih.
"Aku akan pulang. Aku sedang tidak ingin di ganggu. Aku minta sama kamu untuk jaga diri baik-baik bersama dengan ibu," jawab Raka yang masih membelakangi Asih.
"Aku ikut, mas!" sahut Asih.
Deg.
Raka pun terkejut dengan ucapan Asih. Raka pikir, Asih akan membencinya dan tidak ingin lagi melihat wajahnya yang sangat menjijikkan itu.
Raka pun berbalik dan menatap Asih. Dari sana Raka pun hanya tersenyum kecut. Karena dia dapat melihat bahwa sebenarnya Asih masih takut kepada dirinya, itu terlihat dari ekspresi wajahnya yang tidak kontraks.
"Terserah jika kamu mau ikut. Tetapi aku sedang tidak ingin di ganggu. Aku tidak yakin jika aku akan bersikap baik padamu karena telah mengusik ku," tutur Raka mencoba untuk menakuti Asih.
Asih, meski dia terlihat sangat ketakutan. Tetapi dia mencoba untuk menahannya lagi.
"Mas, aku adalah istrimu. Aku yang akan mengurus mas Raka. Kalo mas Raka ndak suka lihat muka aku, aku janji gak akan muncul di depan mas Raka. Aku akan bubuk di kamar lain dan janji ndak akan mengusik menganggu mas Raka," ucap Asih dengan yakin.
"Emang apa yang mau kamu lakukan jika kita tidak saling bertemu di satu atap?"
"Ya aku hanya akan memasak dan mencuci baju mas Raka. Aku juga akan membersihkan rumah. Aku janji aku akan melakukan itu ketika mas Raka sudah berangkat kerja. Jadi kita ndak akan ketemu."
"Akhir pekan aku selalu di rumah."
"Nah, aku akan pulang kerumah nenek setiap akhir pekan."
Raka mengerut keningnya. Dia benar-benar tidak percaya bagaimana Asih sangat antusias untuk tetap berada di dekatnya.
"Terserah kamu saja,' jawab Raka yang merasa tidak ada hak untuk melarang Asih.
Asih pun tersenyum senang dan mengikuti Raka dari belakang.
Di dalam mobil, Asih dan Rakan hanya terdiam dan fokus menatap jalan.
Mumut yang merasakan haus berniat untuk minum, tapi ketika dia melirik ranjang Raka, matanya pun langsung terbelalak ketika dia mendapati Raka sudah tidak ada di ranjangnya.
"Sayang! Raka...Raka hilang!" teriak Mumut khawatir.
__ADS_1
Yuda pun mencoba untuk membuka matanya. Dia juga ikut terjingkat ketika melihat Raka memang sudah hilang dari pengawasan mereka.
Tapi Mumut langsung mendapati surat di atas meja. Perlahan, Mumut pun membukanya dan membacanya.
Ternyata itu adalah surat dari Raka untuk Mumut.
Karena takut jika ada apa-apa, Mumut pun mencoba untuk menelpon Asih.
Di jalan, Raka melihat Asih yang menatap handphone.
"Siapa!" tanya Raka.
"Oh, ini ibu mas," jawab Asih.
"Angkat saja."
"Njeh, mas!"
...
"Hallo, ibu?"
"Asih, apakah kamu baik-baik saja? Apakah Raka melakukan yang tidak-tidak lagi sama kamu?"
"Em, ndak kok buk. Asih cuma ingin ikut mas Raka pulang. Mas ndak gila dan udah sembuh kok buk," jawab Asih yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Raka. Sungguh Raka pun sangat terkejut ketika dirinya di Katai gila.
Tapi Asih gak sadar jika Raka di sebelahnya sudah mulai kesal, karena dia hanya fokus menelpon sambil menatap jalan.
"Syukuran jika begitu. Tapi Asih, jika ada apa-apa, tolong kamu langsung hubungi ibu ya? Ibu sangat takut jika Raka seperti tadi lagi."
"Iya ibu, insyaallah mas Raka akan jinak sama Asih. Asih pernah ketemu anjing gila, dan Alhamdulillah setelah Asih rawat, anjing gila jadi jinak dan baik. Tapi sekarang Anjingnya udah mati, gara-gara dia makan kucing yang mati karena makan tikus mati yang di racun," jelas Asih panjang lebar.
Raka yang di sampingnya pun mulai merasa kurang nyaman sama obrolan Asih. Bagaimana dia bisa menyamakan dirinya dengan anjing gila.
Mumut hanya bisa memijat kepalanya mendengar ucapan Asih. Mumut hanya berdoa supaya Raka tidak terpancing dengan ucapan Asih. Karena Mumut sadar jika maksud Asih bukan untuk menyamai Raka dengan Anjing gila.
Di perjalanan terdengar suara perut Asih yang keroncongan.
Raka melihat Asih yang hanya diam sambil memegangi perutnya.
"Apa kamu lapar?" tanya Raka.
"Oh, em iya sih mas. Tapi aku masih bisa tahan kok."
"Kita cari makanan di pinggir jalan ya?"
"Asih mah ikut aja, soalnya aku ndak punya uang. Hehhee..."
Raka hanya diam. Sampai akhirnya mereka berhenti di tukang sate di pinggir jalan..
"Mau di bungkus apa makan di sini?" tanya Raka.
"Em, baseng mas. Aku manut saja."
"Makan di mobil aja, ya?" tanya Raka.
"Aku manut Maas...!"
"Kamu tunggu di sini!"
"Siap, Mas tuan muda. Hehehe."
Raka mengerutkan keningnya melihat sikap Asih yang mulai terlihat biasa saja di depannya. Seolah-oleh tidak terjadi apa-apa di antara mereka.
__ADS_1
Setelah beberapa menit, Raka datang membawa satu piring sate lalu memberikannya kepada Asih.
"Nih,!"
"Loh, kok sama piringnya?"
"Gak papa, udah aku bayar sama piringannya," jawab Raka.
Asih pun makan dengan nikmat di dalam mobil. Takut jika Asih akan terganggu ketika makan, Raka pun memperlambat kecepatan mobil.
"Mas Raka kenapa ndak makan juga?" tanya Asih sambil mengunyah sate Madura.
"Aku gak laper!"
"Aku suapin ya?"
"Gak, perlu!"
"Hem, Yo wes tak maem sendiri kalo gitu."
Raka sesekali melirik Asih. Ada rasa penasaran mengapa Asih terlihat sama sekali tidak marah kepadanya. Padahal apa yang sudah dia lakukan, itu sudah sangat kebangetan.
"Asih?" panggil Raka lirih.
"Iya, mas?" jawab Asih lembut.
"Apakah kamu gak marah sama aku? Apakah kamu gak meras takut sama aku? Apakah kamu gak takut jika aku akan kembali gila seperti tadi siang?" tanya Raka.
"Mas Raka tau gak. Mas Raka tadi siang itu terlihat sangat kereeeen banget. Aku gak tau kalo mas Raka juga bisa jadi dokter. Hebat tenan mas Raka iki, hehehe.." jawab Asih sembari tersenyum ringan. Asih benar-benar belum tau bagaimana geniusnyan suaminya itu. Bahkan Asih belum tau jika suaminya pernah jadi dosen di usianya yang baru 10 tahun.
Dan, Yang Raka tidak tahu adalah. Sebenarnya Asih pun kini masih merasa sangat takut. Dia masih sangat takut untuk berdekatan dengan Raka. Tetapi Asih mencoba untuk menahannya sekuat mungkin karena dia sangat yakin jika sebenarnya suaminya sangat baik.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa kasih dukungan supaya Aku tetap semangat berkarya ya teman-teman.
Maaf apabila aku belum bisa memberikan karya yang terbaik untuk kalian, tetapi aku selalu berusaha untuk menampilkan karya sesuai dengan alurnya 😁😁🙈
__ADS_1
Oke, selamat membaca dan jangan lupa DUKUNGNYA YA 😃😃😃😃
LIKE, KOMEN DAN JUGA VOTE 🥰🥰🥰🥰