
Tengah malam Yuma tersadar dari mimpi buruknya. Dia memegangi kepalanya yang terasa sedikit pusing. Dia menatap dirinya sendiri dan melihat dirinya yang sudah tidak menggunakan baju kebaya.
"Mamah!?" Yuma memanggil Mumut yang sedang tertidur di sofa kamar Yuma.
"Ah sayang, kamu sudah bangun?" Mumut langsung beranjak dan mendekati Yuma.
"Mah, di mana kebaya aku? di mana Alone? Jam berapa ini!? kenapa dia tidak datang!? Apakah ... Apakah yang aku mimpikan itu jadi kenyataan!?" Yuma mulai kembali histeria ketika mengingat apa yang terjadi dengan calon suaminya.
"Sayang dengerin ibu nak, Alone tidak papa, dia baik-baik saja."
"Yuma mau ke rumah sakit!" ujar Yuma dengan nekat.
"Sayang sebaiknya kita kerumah sakit besok pagi aja ya!? ini udah tengah malam, nak!"
"Nggak, Mah! Yuma mau ke rumah sakit sekarang!" sentak Yuma yang langsung bergegas keluar rumah.
Yasmin dan Laras yang masih terjaga di ruang tengah langsung terkejut ketika melihat Yuma yang berlari kencang menuruni anak tangga.
"Yuma sayang pelan-pelan!" Yasmin memperingati Yuma.
__ADS_1
"Aunty, bawa Yuma ke rumah sakit!" ujar Yuma memohon.
"Baiklah, Aunty akan bawa kamu." Sudah dapat di duga, jika Yasmin tidak akan mungkin menolak permintaan Yuma.
"Yasmin, tapi sudah tengah malam!" Mumut mencoba menahannya.
"Kakak ipar, biar aku yang membawa mobilnya. Mata aku masih sehat untuk berkendara malam-malam!" sahut Yasmin.
"Biar aku yang membawa mobilnya." Laras maju untuk mengambil kunci mobil.
"Kak, kamu di sini jagain Asih, ya!?" ucap Yasmin.
"Ya sudah, kalian hati-hati ya?" Mumut pun hanya pasrah membiarkan mereka berkendaraan di tengah malam.
"Apakah mobil ini sudah kehilangan kekuatannya!? kalo iya, besok aku akan membelikan mobil keluaran terbaru!" sindir Yuma kesal.
"Yuma, kita harus pelan-pelan biar selamat sampai tujuan." Laras mencoba menjelaskan.
"Kalo gak bisa cepat biar aku aja sini yang bawa!" sentak Yuma semakin kesal..
__ADS_1
Yasmin pun mencoba melirik Laras dari kaca spion. Dia mengedipkan mata supaya menuruti kemauan Yuma.
Akhirnya, Laras pun hanya bisa menghela nafas dan mulai menekan pegal gak dengan kekuatan penuh.
Sampai akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Yuma langsung turun dari mobil dan meninggalkan Yasmin dan Laras begitu saja.
Pukul 01:23 dini hari, Yuma melihat di koridor rumah sakit yang panjang 3 pria sedang duduk tertunduk.
Alone, Yuda dan Pangeran sedang menunggu operasi kedua orang tua Alone yang sedang berlangsung.
"Alone, papah!?" suara Yuma membuat tiga pria itu langsung terjaga kembali.
"Yuma!?" Alone pun langsung berdiri dan memeluk Yuma dengan sangat erat.
"Ka-kamu baik-baik aja!? hiks ... hiks... aku pikir kamu sedang sekarat atau kamu telah.. huaaa ... aaaa ... Aku takut sekali Alone, aku bermimpi sangat mengerikan, makannya aku langsung datang ke sini!" Yuma tak tahan untuk tidak melupakan isi hatinya, betapa takutnya dia jika sampai Alone benar-benar pergi.
Ketika Alone akan menjawab, dokter Jaka akhirnya keluar dari ruang operasi. Semua orang pun langsung tertuju pada Jaka.
"Jaka, bagaimana keadaan kedua orang tua Alone?" tanya Yuda.
__ADS_1
Jaka menundukkan kepalanya dan berkata dengan lemas. "Kami sudah melakukan yang terbaik, tapi tuhan berkata lain. Kami nyatakan jika operasi panjang ini telah gagal. Pukul 1:10 papahnya Alone menghembuskan nafas terakhir, dan pukul 1:30 ini Ibunya menyusul," jelas Jaka.
Mendengar kedua orang tuanya telah wafat, Alone pun langsung terkulai lemas tak berdaya. Ingin sekali dia meraung-raung tetapi dia harus terlihat kuat di depan semua orang terutama di depan Yuma.