FAMILY AMBYAAAR

FAMILY AMBYAAAR
tragedi 2


__ADS_3

Di rumah sakit, terlihat Raka sedang mendorong roda untuk Asih.


Bukan karena sakit ataupun terluka. Tetapi Raka tidak ingin isterinya terlalu lelah berjalan. Raka sangat takut jika sampai Asih kelelahan, itu akan berdampak dengan janinnya.


"Mas, aku jalan aja, ya? Aku benar-benar gak kenapa-kenapa kok, aku gak kerasa capek," ucap Asih yang merasa malu.


"Apakah kamu mau di gendong saja supaya gak malu?" tanya Raka.


"Ah, ndak mas! Maksudnya aku mau jalan kaki sendiri."


"Tidak! Pilihannya, antara tetap duduk kursi roda tau aku gendong!?" ujar Raka jelas. Sungguh Raka tidak mau mengambil resiko.


Dia ingin mengecek kandungan anaknya dan berharap akan menemukan sesuatu yang tidak salah dan fatal.


"Yo wes lah, aku duduk di kursi roda aja," ucap Asih pasrah.


Namun tiba-tiba Raka malah mengangkat tubuh Asih.


"Loh, mas! Aku tadi bilang biar duduk di kursi roda aja!" ucap Asih terkejut.


"Aku tau kamu ingin aku gendong, hanya saja kamu malu untuk mengatakannya," jawab Raka terlihat cuek saja. Dia berjalan ke arah excavator menuju lantai dua.


"Ndak, mas. Aku malah malu kalo kaya gini," ujar Asih.


"Malu sama siapa?" tanya Raka menatap wajah Asih.


"Mas...." Asih seperti sudah kehabisan kata-kata.


"Iya, sayang?" jawab Raka lembut membuat Asih tambah meleleh.


Asih pun hanya bisa membenamkan kepalanya di dada bidang Raka. Sungguh Asih sangat malu untuk mengahadapi dunia tentang keromantisan sang suami.


Raka pun hanya tersenyum melihat wajah isterinya yang memerah hanya karena dia panggil sayang. Raka belum mengeluarkan jurus sweet dengan sempurna tetapi Asih sudah seperti ini. Raka tidak bisa membayangkan bagaimana wajah Asih jika dirinya terus menggombalinya.


Raka pun langsung masuk ke ruangan VVIP. Dia menidurkan sang isteri dengan lembut.


"Loh, kok kita kesini mas? Orang-orang pada ngantri to tadi pas mau periksa kandungan?" tanya Asih heran.


Raka pun tersenyum.


"Rumah sakit ini adalah milik keluarga besar kita. Kita tidak perlu ngantri, lagi pula aku sendiri yang akan memeriksa kandungan mu. Aku tidak akan membiarkan orang lain menyentuh perutmu," ucap Raka sambil menatap mata sang istri dengan hangat.


Asih benar-benar harus tepuk tangan. Bagaimana dia bisa lupa jika suaminya ini adalah seorang genius yang sudah menjadi dosen di usianya yang baru 10 tahun.


Tidak lama, para perawat datang dengan membawa alat-alat untuk memeriksa kandungan Asih.


Setelah semua persiapan selesai. Raka meminta semua perawat untuk keluar.


"Terima kasih, kalian keluarlah. Aku hanya ingin berdua dengan istriku," ucap Raka.

__ADS_1


"Baik, Tuan!"


Raka dengan perlahan menaikan baju sang istri ke atas. Terlihat wajah Asih yang memerah.


"Apakah kamu malu?" tanya Raka yang melihat wajah Asih yang terlihat seperti kepiting rebus.


Asih pun hanya mengangguk.


"Ckck..!" Raka pun terkikik.


"Bukankah malam pertama kamu sudah berani menggodaku," ujar Raka mengingatkan sikap Asih ketika mereka baru menikah.


"Aaaa... Mas Raka. Jangan di bahas lagi, aku malu sekarang," ucap Asih yang langsung menutup wajahnya. Sungguh jika mengingat ulahnya sendiri, Asih tidak mampu untuk sanggup untuk melihat Raka.


"Kenapa, aku suka kok. Sering-seringlah pakai baju seperti itu ya. Dimana kamu membelinya?" tanya Raka sambil mengeluarkan sebuah crem untuk di oleskan ke perut istirnya.


"Ndak tau mas, itu Aunty Yasmin yang belikan," jawab Asih.


"Hem.. di belanja online ada gak ya? Aku akan memesan satu kodi untuk mu," ucap Raka.


"Apa mas! Satu kodi!? Mas Raka pingin aku jualan?" tanya Asih.


"Bukan untuk di jual sayang. Ya untuk ganti-ganti setiap malam," jawab Raka tersenyum lalu mengedipkan matanya.


"Ndak mas! Aku bisa mati kedinginan kalo terus-terusan pakai baju kaya saringan tahu!" tolak Asih.


"Nanti aku peluk biar gak kedinginan," jawab Raka.


"Hehhee... Kita mulai ya?"


"Iya, mas!"


Raka pun mulai serius dan mengarahkan alat USG itu ke perut Asih. Wajah Raka benar-benar sangat serius.


Asih melihat ekspresi wajah suaminya yang sangat serius. Sepertinya ada sesuatu.


"Ada apa mas? Apakah bayinya kenapa-kenapa?" tanya Asih.


Raka pun langsung tersadar dan tersenyum ke arah sang istri.


"Oh, nggak kok, sayang. Semua baik-baik aja. Tapi ya janji kamu harus meminum obat aku resep kan untuk mu. Jangan telat meski sejam apa lagi sehari. Itu supaya calon anak kita sehat dan kuat,' ucap Raka tersenyum.


Raka duduk di samping Asih dan membelai rambut Asih dengan lembut.


"Sayang, jika aku harus memilih, aku akan memilih kamu apapun pilihannya. Jika suatu saat akan ada pilihan, jangan kamu paksa aku untuk memilih yang lain," ucap Raka dengan tersenyum hangat ke arah Asih.


Tapi asih mengerutkan keningnya. Dia merasa jika suaminya ini bersikap sangat aneh. Tapi Asih tidak tau harus berkata apa.


Tidak lama, dokter Jaka pun datang.

__ADS_1


"Raka, Ayah kamu ada di sini," ucap Dokter Jaka.


" Ayah, ngapain ?" tanya Raka.


"Ayo ikut aku,!" Jawab Dokter Jaka.


"Iya, paman duluan lah," jawab Raka.


Raka menatap Asih.


"Kamu di sini dulu ya sayang. Janji aku gak akan lama," ucap Raka kepada Asih.


"Aku ikut, mas?"


"Tidak, di sini aja dulu. Emuach!" Raka pun mencium kening sang isteri lalu pergi.


Di ruangan sebelah, terlihat Pangeran yang sedang gusar.


"Ayah!?" sapa Raka.


"Raka, kamu di sini?", tanya Pangeran.


"Iya, Ayah. Raka sedang memeriksakan kandungan Asih."


"Istri kamu hamil.? Syukurlah, selamat untuk mu, nak!"


"Terima kasih banyak, Ayah. Ayah, ada apa dengan mama Paula? Apakah dia sakit?" tanya Raka yang melihat Mama tirinya sedang terbaring lemas di atas ranjang.


Pangeran pun terdiam. Dokter Jaka maju dan menjelaskan.


"Mama kamu hamil," jawab Jaka.


"Apa!? Ini benar-benar keajaiban. Mama Paula sudah tidak muda lagi. Aku pikir dia sudah tidak bisa hamil lagi. Tapi tunggu, kenapa wajah kalian di tekuk seperti itu?" tanya Raka.


"Dia mengalami kanker di rahimnya. Itu sangat berpengaruh pada janinnya. Kita harus menyelamatkan Paula dengan cara mengangkat janinnya dan juga mengoperasi kankernya," jelas Jaka.


Deg...


Bagai di samber petir siang bolong. Raka benar-benar sangat terkejut. Dia bahkan sampai terkulai dan jatuh di atas sofa.


`Bagaimana Mama Paula dan Asih bisa mengalami ini secara bersamaan?` batin Raka.


Jadi, sebenarnya Asih juga mengalami hal yang sama. Asih memiliki kanker di perutnya dan itu harus segera di operasi. Tapi, untuk melakukan operasi, maka janin yang ada harus di angkat.


Raka benar-benar tidak sanggup membuat hati Asih sedih sehingga dia akan mencoba untuk membuat obat untuk menguatkan janinya. Dari fisik Asih, sepertinya dia akan kuat sampai anaknya di lahirkan.


Tapi, andai itu tidak berhasil. Maka operasi adalah jalan satu-satunya.


Sedangkan Mama Paula. Di sisi lain dia sudah tidak muda lagi untuk mengandung di tambah dengan penyakit yang menyerang rahimnya. Tapi, ini adalah kehamilan yang sudah bertahun-tahun dia nantikan. Ini adalah kehamilan pertamanya. Mana sanggup Raka melihat ibu tirinya menderita secara bertubi-tubi.

__ADS_1


Ini benar-benar membuat otak seorang Raka harus bekerja sengat keras. Dua wanita penting, kini mengalami luka yang sama dengan waktu yang bersamaan.


__ADS_2