
Sebuah tangan menggenggam erat untuk menguatkan kekasihnya yang terlihat seperti akan berakhir untuk bernafas.
"Angel..! Angel..! aku mohon bertahanlah! bertahanlah.. Hiks... hiks.. aku di sini sayang, aku mohon kuatlah!" seru Raka terlihat sangat takut jika sampai Angel benar-benar akan meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.
Angel tersenyum di sela-sela sesaknya.
"Raka, ma ma maafkan aku. Sepertinya, ini sudah saatnya aku menyusul ibu dan adikku," ujarnya terbata-bata.
"Apa yang kamu katakan, sayang! mengapa kamu tidak pernah mengatakan jika selama ini kamu sakit! Mengapa kamu tidak membiarkan aku untuk ikut mengobati mu. Mengapa kamu lebih menahan semua ini dari pada berjuang denganku!?" hardik Raka terlihat sangat emosional.
Angel lagi-lagi tersenyum.
"Sayang, aku dan dokter Jaka sudah melakukan yang terbaik untuk penyakit ku ini, tapi segalanya sudah menjadi ke hendak tuhan. Aku sudah berusaha untuk tidak membuat mu khawatir. Aku bahagia mendengar mu sudah menikah. Jagalah Asih dengan baik, dia adalah wanita yang baik."
Raka hanya bisa tersimpuh air mata. Segala yang terjadi saat ini adalah di luar dari kemampuannya. Tapi sungguh dia tidak bisa melihat wanita yang dia cintai menderita seperti ini.
"Aku akan membawamu ke Amerika, kita akan berobat di sana. Aku ikut adil untuk melakukan pengobatan untuk mu. Aku akan belajar untuk menangani kasus penyakit mu ini!" Terlihat Raka sangat serius ketika berucap.
Dokter Jaka dan asih setia menunggu di depan pintu. Sesekali, dokter Jaka memegang bahu asih untuk sekedar menguatkannya ketika melihat adegan dimana Raka yang sangat mencemaskan keadaan Angel.
Angel tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Lalu dia melihat ke pintu dan menatap Asih. Sontak Asih pun merasa sangat kikuk ketika dirinya di tatap dan di minta untuk menghampiri Angel.
"Dia ingin bicara denganmu," ujar Dokter Jaka memberi tahu Asih.
__ADS_1
"Tapi, om?"
"Sudah tidak papa. Waktunya sudah tidak lama lagi. Dengarkan apa yang ingin dia sampaikan,"ucap Dokter Jaka yang mencoba untuk meyakinkan asih jika semua akan baik-baik saja.
Asih pun dengan ragu-ragu masu menghampiri Raka dan Angel. Terlihat jika Raka sama sekali tidak melirik Asih membuat Asih merasa sangat serba salah. Di sisi lain Angel memanggilnya, tetapi di sisi lain terlihat jika Raka tidak suka jika Asih ada di antara mereka.
Mata Raka hanya tertuju pada wajah Angel yang pucat. Mata memerah dengan rahang yang mengeras, terlihat jika Raka sedang menahan amarah karena selama ini dia tidak diberi tau tentang penyakit yang sedang di alami oleh Angel.
Angel tersenyum kepada Asih.
"Kamu cantik," ucapnya kepada Asih.
"Mbaknya juga cantik. Em, semoga lekas sembuh yo mbak. Kasihan mas Raka," ujar Asih yang tidak tau harus berkata apa untuk basa-basi menyapa Angel.
Melihat jika Raka masih enggan untuk melirik Asih. Asih pun merasa jika dirinya bukanlah apa-apa bagi Raka. Hanya seorang pekerja yang harus melahirkan anak untuk majikannya.
"Mbak, mas Raka adalah majikan saya. Saya menikah hanya untuk di bayar. Saya juga akan mendapatkan bonus besar jika saya sudah melahirkan anak untuk mas Raka. Setelah itu, bisa saja saya di pecat. Belum apa-apa saja sepertinya saya akan sudah di pecat," ucap Asih dengan bibir bergetar. Sungguh Asih sangat sakit hati ketika Raka masih enggan melirik dirinya meski dia berkata begitu.
Padahal beberapa menit yang lalu, Raka sudah berjanji akan membahagiakan dirinya dan menganggapnya istri sungguhan.
Terlihat Angel tertawa kecil di sela-sela sesaknya. Itu membuat Asih merasa sangat heran.
"Kamu tidak akan pernah bisa di pecat oleh Raka. Sudah aku bilang, dia adalah pria yang baik," ucap Angel sembari menatap Raka yang sedang menatapnya dengan tajam.
__ADS_1
Angel melihat Raka dan Asih bergantian, lalu dia menyatukan kedua tangan suami dan istri itu untuk bersatu.
"Aku mohon, bahagialah bersama," ucap Angel tersenyum lalu kita di perlihatkan mimik wajahnya yang tidak berubah.
Meski matanya masih terbuka dan bibir tersenyum, tapi Raka sudah mengerti jika Angel sudah tiada.
"Mbak, mbak Angel kenapa?" tanya Asih bingung.
Raka melepaskan oksigen Angel.
"Loh mas Raka! Kenapa di lepas!?" tanya Asih heran. Karena mata Angel masih terbuka sayu.
"Dia sudah tiada," ucap Raka sambil menutup mata Angel.
Deg..
Jantung Asih langsung berdebar tidak karuan mendengar itu. Asih melihat Raka yang menangis sembari memeluk jasad Angel. Ingin rasanya Asih menghibur Raka, tetapi Dokter Jaka masuk dan menghentikan niat Asih.
Dia menarik Asih perlahan untuk ikut dengannya keluar. Jaka hanya ingin memberi waktu kepada Raka untuk meratapi kepergian Angel sebelum akhirnya di makamkan. Jaka tau, kejadian ini pasti sangat memukul hati Raka.
Jaka tidak ingin Asih merasa terasingkan oleh Raka. Karena sebenernya bukan maksud Raka untuk mencuekkan Asih, hanya saja keadaan ini pasti sedang membuat hati dan pikiran Raka kalut. Raka hanya membutuhkan waktu untuk mencerna segala apa sedang yang terjadi.
Asih pun dengan ragu ikut keluar bersama dokter Jaka dan meninggalkan Raka yang masih menangis dan meratapi kepergian Angel.
__ADS_1